
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 83
🎈🎈🎈
Rombongan Mutiara sudah tiba di rumah milik Gilang. Mereka disambut hangat oleh Azka, pak Bayu, Kelvin, Shinta dan para pelayan serta baby sister. Mutiara tersenyum bahagia, apalagi setelah melihat wajah tampan anak angkatnya. Seketika saja Mutiara langsung berlari kecil hanya untuk memeluk erat Azka. Gilang bahkan sempat berteriak mengingatkan istrinya supaya berhati-hati, namun seolah tak didengar oleh Mutiara. Gilang hanya bisa mendengus lalu menggelengkan kepalanya.
"Yank, kamu harus tetap hati-hati! Masih ingat kan semua pesan yang diberikan sama dokter? Kamu mau perutmu sampai dijahit ulang?" Gilang memggerutu karena merasa sedikit kesal dengan Mutiara yang mengabaikan dirinya.
"Hehehe...maaf yank aku terbawa suasana?" Mutiara tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih.
Mutiara dan Gilang menyalami pak Bayu kemudian berpindah pada Kelvin dan Shinta. Mereka saling berpelukan melepas rasa rindu. Begitu pula dengan bu Meisya, Elvina dan Arif.
"Addy..." Azka berlari ke dalam gendongan Daddy nya.
"Apa kabar jagoan daddy, sehatkan?" tanya Gilang sambil mengecup pipi Azka yang sudah berisi. Sangat berbeda dengan awal pertemuan mereka. Kurus dan tak terurus.
"Ehat ong," jawab Azka sambil mengacungkan jempolnya.
Sedangkan pak Bayu dan Kelvin langsung menghampiri si kembar. Mengambil salah satu si kembar dari perawat yang menggendongnya.
"Aduh tampannya cucu opa," puji pak Bayu.
"Yang perempuan juga cantik pi, mirip dengan kak Mutiara!" timpal Kelvin.
"Tentu saja mereka sangat tampan dan cantik, mereka kan mewarisinya dari kami sebagai orang tuanya!" tukas Gilang menyombongkan diri, hingga membuat semua orang mendengus kesal kecuali para pelayan, perawat dan baby sister.
"Opa, Azca au iat!" seru Azka, berlonjak turun dari gendongan Gilang untuk melihat adik-adiknya. "Azca oyeh ium?" tanyanya.
"Tentu boleh dong sayang, mereka kan adik-adik Azka!" jawab Mutiara dengan lembut.
Azka bersorak gembira, meminta pak Bayu, Kelvin dan dua orang perawat lainnya berjongkok. Agar Azka dapat mencium si kembar secara bergantian. Semua orang menjadi tertawa, merasa lucu dengan tingkah bocah yang baru jalan tiga tahun tersebut.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam saja, Mutiara pasti merasa lelah karena habis melakukan perjalanan yang cukup jauh!" pak Bayu memberikan intruksinya.
__ADS_1
Semua orang akhirnya masuk ke dalam rumah. Mereka mendapatkan sebuah kejutan kecil dari Azka berupa spanduk dengan hiasan aneka balon yang warna-warni. Tak lupa ada beberapa rangkaian bunga serta pita.
SELAMAT DATANG KEMBALI MOMMY & DADDY
DAN SELAMAT DATANG JUGA UNTUK FOUR TWINS
Gilang dan Mutiara saling menatap, merasa haru dengan kejutan kecil dari putra angkatnya.
"Terima kasih sayang? Daddy sama mommy sangat sayang sekali sama Azka," ucap Mutiara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Azka mengusap air mata Mutiara. "Ommy angan ais, Azca adi edih!" Mutiara mengangguk kecil. Berulang kali menciumi wajah anaknya itu.
"Kalian," tunjuk Gilang pada keempat perawat yang masih berdiri sambil mengagumi rumahnya. "Bawa si kembar ke kamarnya! Dan kamu Laras, tolong tunjukan dimana tempatnya!" ucapnya kemudian.
"Baik tuan," jawab Laras membukukan badannya.
"Azca icut," rengek Azka.
"Boleh, tapi jangan ganggu adek yang lagi tidur ya!" pesan Gilang. Azka mengangguk kemudian merangkul tangan Laras, berjalan menuju kamar di lantai atas.
Gilang, Mutiara dan yang lainnya kini berada di ruang keluarga. Duduk sambil bercerita satu sama lainnya. Suasana menjadi hangat, apalagi sekarang mereka ada pasangan masing-masing. Bu Meisya dan pak Bayu merasa senang melihat keakraban yang terjadi pada anak-anaknya, menantunya dan calon menantunya. Mereka berdua masih tak bisa mempercayai jika nyatanya sekarang anak-anaknya sudah tumbuh besar dan bahkan sekarang mereka sudah memiliki lima orang cucu yang menggemaskan.
💤💤💤
Meskipun berulang kali Shinta sudah mengatakan bahwa ia merasa tidak keberatan. Namun Kelvin masih bisa melihat adanya perasaan kecewa di hati Shinta dari sorot matanya.
Kelvin sangat memahaminya. Apalagi kedua orang tua Shinta terus saja menggerutu, merasa malu jadi bahan omongan para tetangga. Shinta pasti merasa tertekan. Dan itu sebabnya Kelvin ingin membuat Shinta melupakan sejenak tentang kesedihannya.
"Kelvin, kita mau kemana?" tanya Shinta menatap heran oada calon suaminya.
"Kita akan pergi nonton kemudian lanjut dinner! Malam ini aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama perempuan yang aku cintai!" jawab Kelvin dengan lembut.
"Apaa? Kamu serius?" tanya Shinta lagi.
Kelvin mengerutkan dahi, merasa aneh dengan reaksi yang diberikan oleh Shinta. Bukan kah biasa nya wanita akan merasa senang jika diajak nonton dan dinner bersama kekasihnya. Tapi Shinta malah seolah seperti tak suka.
"Kenapa, kamu tak mau?" tanya Kelvin.
__ADS_1
"Bu-bukan tak suka tapi aku merasa lelah sekali hari ini," Shinta beralasan. " Maaf aku ingin langsung pulang, bisa kah antarkan aku pulang sekarang?" pinta Shinta.
Kelvin mendesah kecil, ada sedikit rasa kecewa di hatinya. Kejutan yang sudah ia siapkan sejak pagi tadi mau tak mau harus dibatalkan.
"Baik lah kalau itu mau mu," Kelvin langsung memutar haluan. Menuju rumah sang calon istrinya.
Suasana menjadi hening. Kelvin memilih untuk fokus dengan jalanan yang tidak terlalu ramai. Sedangkan Shinta mengalihkan pandangan nya keluar jendela kaca mobil. "Maafkan aku kak, tak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu?" guman Shinta dalam hatinya. Pikirannya terus melayang dengan perkataan yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya. "Akh...haruskah aku melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tuaku? Bagaimana kalau kalau semuanya gagal, hidupku pasti akan dipertaruhkan?" Shinta mulai frustasi. Keinginan orang tuanya benar-benar sedikit gila, namun jika usahanya berhasil maka hidupnya pun akan terjamin sampai tujuh turunan.
"Kita sudah sampai," Kelvin membuyarkan angan indah yang baru melintas di benak Shinta.
"Akh...i-iya, aku turun dulu." Shinta membuka pintu mobil dan hendak turun, tapi dicegah oleh Kelvin.
"Sekali lagi maafkan aku? Gara-gara permasalahan keluargaku, pernikahan kita terpaksa diundur?" ujar Kelvin.
Shinta tersenyum, "Bukankah aku sudah mengatakan tak apa, aku bisa mengerti kok akan kesulitan yang sedang dialami oleh keluarga kak Kelvin!" jawabnya kemudian.
"Terima kasih?"
Shinta turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumahnya. Kelvin hanya bisa menghela nafas. Entah kenapa ia seakan merasakan adanya perubahan sikap yang ditunjukan oleh Shinta. Kelvin merasa sikap Shinta menjadi dingin kepadanya. Tidak seperti saat sebelum pertunangan diberlangsungkan.
💤💤💤
Mutiara tengah menikmati hari pertamanya menjadi seorang ibu dari lima orang anak setelah kepulangannya dari Bali. Hampir setiap detik ia harus direpotkan dengan rengekan Azka yang ingin bermanja ria dengannya kerena masih rindu setelah berpisah cukup lama dan tangisan dari keempat bayi kembarnya yang meminta jatah susu mereka. Meskipun agak kualahan namun tetap saja Mutiara menjalaninya dengan telaten tanpa ada yang harus dikesampingkan. Gilang dan bu Meisya merasa kagum akan kesabaran hati Mutiara, mereka pun bergabung untuk membantunya.
"Mami masih disini?" tanya Mutiara yang masih sibuk memberikan susu pada Arsya, sedang Syifa dan Shilla sudah tertidur karena kenyang setelah minum susu. Dan Arsen, dia masih asyik diajak bermain oleh kakaknya Azka.
"Belum sayang, mami takut kalau kamu nantinya akan kerepotan sendiri mengurus mereka! Dan ternyata benar kan? Suami kamu malah asyik dengan berkas kantornya dan kamu repot memberikan susu untuk mereka!" jawab bu Meisya menyindir Gilang.
"Ini berkas penting Mi dan harus segera ditanda-tangani! Lagi pula kan aku sudah menyiapkan empat baby sister untuk membantu Mutiara dan lihat lah, istriku itu membiarkan mereka menjadi patung!" tukas Gilang dengan cepat, merasa tidak terima karena dianggap sebagai suami yang membiarkan istrinya mengurus anak-anaknya sendirian.
Bu Meisya memutar bola matanya dengan jengah. Putra sulungnya itu memang tak mau disalahkan. Dia selalu merasa benar dalam segala hal.
"Mi, ini memang bukan salahnya mas Gilang kok! Mutiara sendiri yang ingin turun tangan langsung dalam merawat anak-anak," timpal Mutiara.
Bu Meisya tersenyum kecil. Rasa kagumnya pada sang menantu semakin besar. Di usianya yang masih sangat muda, Mutiara sudah memiliki keberanian dalam menentukan langkah. Menyingkirkan segala ego dan keinginan nya untuk meraih segala cita-cita. Dan memilih menjadi seorang ibu serta istri yang siaga bagi anak dan suaminya.
__ADS_1