
#PERNIKAHANBEDAUSIA
PART 42
****
Mutiara merasa kesal, ia pikir dengan ikut Gilang ke kantor maka rasa bosannya akan menghilang. Namun nyatanya tidak! Ia semakin bertambah bosan. Apalagi sejak tadi Gilang tampak disibukan dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Bibir Mutiara mengerucut sempurna, ingin rasanya ia menangis karena diacuhkan oleh suaminya. Mutiara beranjak dari sofa, menghentakan kaki berjalan menuju sebuah ruangan khusus untuk Gilang beristirahat di kala ia merasa lelah.
BRAKKKK
Mutiara menutup pintu dengan keras supaya Gilang menyadari jika ia merasa kesal. Tapi sayangnya tidak. Gilang sepertinya tidak bisa menyadari akan hal itu. Ia masih saja fokus dengan pekerjaannya. Hingga membuat Mutiara semakin bertambah kesal.
"Dasar suami nggak peka!!" Mutiara terus menggerutu memaki suaminya dengan perkataan yang kasar.
Mutiara akhirnya melangkah mendekati tempat tidur kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang.
Hiks...Hiks...Hiks...
Isak tangis Mutiara mulai terdengar pelan. Ia meringkuk memeluk guling, menumpahkan semua kesedihannya. Mutiara merasa kalau Gilang tidak lagi memperhatikannya. Ia juga berpikiran bahwa suaminya sudah merasa bosan kepada dirinya, karena tidak bisa melayaninya dengan baik.
Setelah puas menangis, akhirnya Mutiara tertidur juga.
Sementara itu, Gilang masih saja disibukan dengan berkas-berkas yang menumpuk saat ia melakukan honeymoon bersama istrinya. Gilang sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi ia telah mengabaikan keberadaan sang istri. Gilang terlalu fokus dengan pekerjaan kantornya.
Tok...Tok...Tok....
"Masuk!!" seru Gilang tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang ada di hadapannya. Radit memasuki ruangan Gilang.
"Maaf tuan muda, ini sudah waktunya untuk jam makan siang. Apa anda dan nona muda mau saya pesankan makanan?" Radit mengingatkan.
Gilang bukannya menjawab. Ia malah celingukan menelusuri setiap ruangan. Dimana istrinya? Bukankah tadi Mutiara duduk di sofa sambil menikmati camilan yang ia beli dari supermaket?
Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Meratuki kebodohan yang sudah ia lakukan.
"Kenapa gue bisa lupa sih kalau gue sudah mengajak Mutiara untuk ikut ke kantor?" Gilang mengacak rambutnya dengan frustasi.
Gilang segera beranjak dari kursi kebesarannya, pergi ke dalam ruangan pribadi miliknya untuk melihat apakah Mutiara ada disana atau tidak? Gilang bernafas lega. Ia melihat Mutiara tengah tertidur. Ia menghampiri Radit dan memintanya segera memesan makanan kesukaan istrinya.
Gilang kembali ke kamar. Ia hanya ingin memastikan apakah istrinya benar-benar tertidur atau tidak? Ia takut jika Mutiara marah karena merasa terabaikan olehnya.
"Yank..." panggil Gilang dengan nada pelan.
Tidak ada pergerakan sama sekali. Gilang melepas sepatunya kemudian ikut berbaring memeluk istrinya dari belakang.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu hari ini," lirihnya.
Ada perasaan bersalah di hatinya. Mutiara pasti sudah merasakan kebosanan sejak dari tadi. Gara-gara banyak berkas yang harus ia pelajari dan segera ditandangani olehnya. Gilang sampai lupa waktu, bahkan ia telah mengacuhkan keberadaan Mutiara.
Gilang mengecup puncak rambut Mutiara. Kemudian melingkarkan tangannya pada perut sang istri. Tiba-tiba saja Gilang merasakan adanya sebuah pergerakan.
Tubuh Mutiara bergetar seakan menahan isak tangis. Gilang segera membalikan tubuh istrinya agar menghadap dirinya.
Gilang terkejut bukan main. Wajah Mutiara terlihat sangat sembab. Sepertinya ia sudah menangis sejak dari tadi.
"Yank... " lirih Gilang tak bisa melanjutkan perkataannya. Ia tahu ini salahnya.
__ADS_1
Mutiara menelungsup masuk ke dalam dada bidang suaminya. Jujur saja ada sebuah perasaan malu di hatinya karena ketahuan menangis oleh suaminya. Dan itu pun hanya masalah sepele saja.
"Maaf yank, aku sudah bikin kamu nangis kanyak gini. Aku bener-bener nggak ada maksud mengabaikan kamu," ucap Gilang
"Tadi banyak banget pekerjaanku, yank. Sampai-sampai aku lupa kalau kamu itu ikut aku ke kantor. Maafin aku ya...?" terang Gilang. Mutiara bergeming. Ia tidak menanggapi perkataan suaminya.
Gilang mendesah. Ia bingung harus berbuat apa untuk membujuk istrinya. Akhir-akhir ini sikap Mutiara memang sangat sensitif. Ia terkesan lebih cengeng dan manja. Salah bertindak sedikit saja bisa membuat Mutiara marah bahkan sampai menangis bombay seperti sekarang.
Apakah mungkin ini sudah menjadi salah satu bagian dari hormon kehamilan pada istrinya. Gilang memang tidak tahu banyak mengenai kehamilan. Tapi dari artikel yang pernah ia baca, wanita hamil akan memiliki perasaan sensitif yang sangat tinggi.
Gilang benar-benar bingung. Ia memeluk Mutiara dalam dekapannya. Membiarkan istrinya menangis, meluapkan semua kekesalan hatinya. Setelah dirasa tenang barulah ia akan mencoba membujuk Mutiara supaya tidak marah lagi kepada dirinya.
Tiga puluh menit Mutiara menangis sesunggukan di dalam dekapan Gilang. Kali ini dia sudah merasa lebih baik. Apalagi ada Gilang yang masih setia dalam menemani dirinya. Mutiara mendongak, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kacaunya sang suami karena perbuatannya.
Ada sedikit penyesalan di hati Mutiara. Tak seharusnya ia menjadi seperti ini. Ia pun menyadari jika sifatnya terkesan kekanak-kanakan belakangan ini. Mutiara ingin meminta maaf tapi tidak tahu harus mulai dari mana? Ia memainkan jarinya di atas dada bidang Gilang yang masih terbalut oleh kemeja birunya.
"Yank..." lirihnya.
"Hmm... " sahut Gilang.
"Maaf...?" lirih Mutiara lagi.
Gilang meraih dagu istrinya.
"Maaf...? Untuk?" Gilang memicingkan alisnya.
Mutiara menatap suaminya, ia bingung harus memulai darimana.
"Em...em...itu...itu...gara-gara aku sekarang kemejamu jadi basah kuyub," ujar Mutiara.
Gilang meraba kemejanya. Memang sangat basah. Entah berapa banyak air mata yang sudah dikeluarkan oleh mata istrinya sehingga mampu membuat pakaiannya basah seperti ini. Gilang terkekeh. Meskipun sering menangis, tapi kenapa ya air mata pada wanita tak pernah habis ya?
"Pakaian basah masih bisa diganti yank, tapi kalau lihat kamu sering nangis begini aku bisa jantungan nantinnya." Gilang mengecup kening Mutiara.
"Maaf ya, sudah bikin kamu kesal sampai nangis begini?" lanjut Gilang.
Mutiara mengangguk.
"Aku juga minta maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan," cuit Mutiara.
Keduanya saling bertatapan satu sama lainnya. Cukup lama, hingga tanpa sadar mereka sudah menyatukan ***** mereka dan kian bertambah instens berusaha memberikan kepuasan satu sama lainnya. Mutiara yang awalnya pasif sekarang menjadi lebih agresif. Mungkin efek dari hormon kehamilan. Entahlah....
Akan tetapi yang jelas, ini merupakan kali pertamanya bagi mereka melakukan hubungan suami istri di kantor. Dan tentunya dibubuhi dengan sikap Mutiara yang mulai aktif. Gilang hanya bisa tersenyum. Ia tidak paham ada apa dengan istrinya, tapi ia sangat yakin ini adalah pembawaan dari hormon wanita hamil.
*PING
Sebuah notif masuk ke dalam ponsel Gilang.
**Maaf Tuan, pesanan makanan siang anda dan nona muda sudah saya siapkan di ruangan kerja Anda. Maaf kalau saya harus memberi tahu tuan melalui pesan. Saya tidak ingin menggangu waktu istirahat tuan dan nona muda.
Radit**
Gilang tersenyum kecil. Radit memang seorang asisten yang bisa diandalkan. Berkat dia pula, Gilang bisa mengetahui tentang kebenaran dari istrinya dan Clarissa.
"Kok senyum-senyum? Pesan dari siapa?" tanya Mutiara.
__ADS_1
Gilang menyerahkan ponselnya pada Mutiara agar ia bisa membaca sendiri isi pesan tersebut. Wajah Mutiara merona. Apa mungkin pak Radit tahu perihal percintaan yang sudah ia lakukan bersama suaminya? Kalau memang iya, pastinya itu akan sangat memalukan.
"Yank, kenapa kamu nggak bilang kalau udah nyuruh pak Radit buat memesan makanan?" protes Mutiara.
"Memangnya kenapa yank? Apa kamu ingin makan di luar kantor?" tanya Gilang.
Mutiara menggelengkan kepala.
"Aku malu yank," lirih Mutiara.
"Malu? Malu kenapa?" Gilang pura-pura tidak mengerti. Ia ingin menggoda istrinya.
Wajah Mutiara semakin merona menahan rasa malunya.
"Pak Radit pasti tahu apa yang sedang kita lakukan, makanya ia hanya mengirimkan pesan untuk memberitahukan bahwa makanan kita sudah siap." Mutiara memainkan jari-jarinya pada dada bidang suaminya.
Gilang hanya terkekeh kecil. Makin hari Mutiara semakin menggemaskan baginya. Ia pun mengajak Mutiara untuk mandi bersama. Awalnya Mutiara menolak. Namun setelah Gilang membujuk dengan segala rayuan, akhirnya Mutiara hanya menuruti keinginan dari suaminya.
Seperti yang Mutiara duga, di kamar mandi mereka tidak hanya sekedar mandi saja. Melainkan melakukan hubungan panas untuk kedua kalinya. Setelah puas baru lah mereka membersihkan diri kemudian makan siang bersama di kantor. Mereka enggan keluar karena masih merasakan lelah.
Di luar gedung PT. GAD, Clarissa berusaha keras menemui Gilang di kantornya. Ia hanya ingin memastikan apakah benar bahwa istri Gilang memiliki rupa yang sama seperti dirinya? Clarissa ingin tahu apakah gadis itu adalah Mutiara saudara, saudara kembarnya. atau bukan. Akan tetapi usahanya gagal lantaran ia sudah dihadang terlebih dahulu oleh orang-orang suruhan Gilang. Terutama oleh Radit dan Heru. Mereka sama sekali tidak memberikan celah baginya untuk bisa memasuki kantor Gilang.
Clarissa menjadi sangat geram. Ia tidak pernah menyangka jika bertemu dengan Gilang akan sesulit ini. Clarissa sudah mencoba berbagai cara agar bisa menyelinap masuk ke dalam perusahaan PT. GAD, tapi lagi-lagi berhasil digagalkan oleh kedua pria tersebut.
"Clarissa..." seru seorang pria.
Clarissa menoleh. Ia terkejut saat mengetahui siapa pria itu. Clarissa ingin melarikan diri, tapi mendadak kakinya kesleo karena hak sepatunya patah.
"Elo sudah nggak bisa lari lagi, Clarissa! Sebaiknya elo menyerah saja!!" ujar pria tersebut dengan nada sinis.
Clarissa tidak menggubris. Ia berusaha bangun dan ingin segera melarikan diri dari Kelvin.
"Akh... S***!!" Clarissa mengumpat.
Ia merasa kesal. Kenapa disaat-saat seperti ini kakinya harus terkilir.
Kelvin tertawa kecil. Ia mendekati Clarissa.
"Dimana dia?" tanya Kelvin to the poin.
Ia sudah malas berbasa-basi dengan wanita macam Clarissa.
"Maksud elo apaan? Gue nggak ngerti!" jawab Clarissa.
Kelvin mencengkeram lengan Clarissa dengan kuat. Memaksa gadis itu berdiri.
"Jangan berpura-pura seperti itu!!! Elo tahu apa yang gue maksud kan?" Kelvin menatap tajam pada Clarissa. Matanya sudah memerah karena menahan amarah yang tinggi.
"Kelvin, lepasin tangan gue! Ini sakit sekali." Clarissa meringis. Ia benar-benar kesakitan.
Akan tetapi bukannya dilepas, Kelvin malah semakin menguatkan cengkeramannya.
"Katakan atau gue buat elo merasakan sakit yang lebih!!" ancam Kelvin.
Clarissa bergedik ngeri. Ia belum pernah melihat Kelvin bisa semarah ini.
__ADS_1
"Baiklah gue akan kasih tahu dimana dia, tapi tidak disini!" pasrah Clarissa. Ia tidak ingin mati sia-sia sebelum mendapatkan apa yang keinginannya.