
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 113
⚜⚜⚜
Di dalam mobil yang masih melaju dibawah kendalinya, seorang lelaki terus mengeluarkan kata-kata kasar dan merutuki diri karena telah gagal menjemput wanita pujaan hatinya untuk diantar ke tempat kerjanya.
“Sial, ini gara-gara kak Gilang sih! Kasih kerjaan kok nggak kira-kira! Aku jadinya telatkan jemput Clarissa!” umpatnya lantaran masih merasa kesal ketika harus mengingat bagaimana kakaknya dengan sengaja meminta dirinya untuk memganilis beberapa dokumen penting perusahaan cabang Bandung.
Lelaki yang terus menggerutu dan mengumpat tersebut tak lain adalah Kelvin.
Kelvin memang sengaja sudah membayar seseorang untuk selalu mengawasi Clarissa dan mencari-tahu jam kerja dari wanita tersebut. Sehingga Kelvin bisa dengan mudah mengatur jadwalnya, supaya bisa mengantar jemput Clarissa. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh Kelvin untuk mendekati Clarissa saat ini.
Kelvin terus melajukan mobilnya dengan kekesalan yang teramat. Dia kembali ke kantor lagi setelah memastikan Clarissa benar-benar sudah tiba di tempat kerjanya. Yakni Queen Butik milik kenalan orang tuanya. Tepatnya rekan kerja ibu Meisya.
Sementara itu, Clarissa yang sudah tiba di Queen butik segera berganti pakaian dengan seragam karyawan. Lalu bergabung dengan karyawan lainnya untuk mengawasi butik yang sedikit ramai. Clarissa menata beberapa pakaian yang terlihat berantakan karena ulah customer.
“Ommy...ommy...” seorang bocah laki-laki menarik ujung kemeja milik Clarissa.
*Deg...
Jantung Clarissa berdetak sangat cepat. Bocah itu tak lain adalah Azka, anak yang pernah lahir dari rahimnya kemudian ia tukar dengan sejumlah uang.
“Ommy, Aka au es cim.” Ucap Azka sambil menunjuk-nunjuk kearah kedai eskrim yang ada di depan Queen Butik. Sepertinya bocah itu mengira Clarissa adalah Mommy nya, yakni Mutiara.
Clarissa mematung. Lidahnya terasa kelu tidak tahu harus berbuat apa. Jika Azka bisa berada di Quen Butik, berarti besar kemungkinan Mutiara pun bisa juga berada di Queen Butik pula.
“Azka kamu dima...” Mutiara tak melanjutkan ucapannya dan seketika menghentikan langkahnya. Kedua kakinya mendadak lemas tak bertenaga saat pandangannya beradu dengan padangan wanita yang ada di hadapannya. Yaitu Clarissa.
“In-in-tan...” Mutiara terbata. Masih tak percaya dengan penglihatannya. Benarkah itu saudara kembarnya. Bukankah dia seharusnya masih berada dalam tahanan untuk menebus segala kesalahan yang sudah ia perbuat pada keluarga Dirgantara. Bagaimana dia bisa keluar, apakah ada seseorang yang menjaminnya. Sehingga ia pun bisa keluar dari tahanan lebih cepat dari waktu yang semestinya. Mutiara menelisik penampilan saudara kembarnya yang sangat berbeda dari awal pertemuan mereka. Intan yang dulu suka berpakaian seksi dan menunjukan bagaimana bentuk lekuk tubuhnya. Namun yang dilihatnya sekarang tidak begitu. Intan atau Clarissa memakai pakaian tertutup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Intan memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan berwarna biru dongker yang dipadukan dengan hijab segitiga berwarna senada dengan celana bahannya.
“Intan benarkah ini Intan, kakak kembarku?” Mutiara ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu tidaklah salah.
Clarissa hanya menganggukan kepala. Kedua matanya mulai beembun tanda ia tengah menahan air mata supaya tidak jatuh.
Mutiara dan Clarissa saling berpelukan, melepas rasa rindu yang sudah mengakar di kalbu mereka. Berpisah selama bertahun-tahun lamanya membuat keduanya memupuk rasa rindu yang tak terkira besarnya.
__ADS_1
“Ommy ua... Ommy aka ua...” Azka bersenandung kecil dengan logat kedalnya seraya bertepuk tangan.
Mutiara dan Clarissa melepaskan pelukan mereka. Tertawa kecil melihat aksi lucu dari Azka.
Mereka akhirnya menepi, mencari tempat duduk untuk melepas rasa rindu. Ada banyak hal yang harus diperbincangkan untuk mengisi hari-hari yang telah hilang saat keduanya terpisah. Namun sebelum itu mereka meminta izin terlebih dahulu kepada bos Clarissa.
⚜⚜⚜
Gilang tersenyum kecil, penglihatannya tertuju pada benda pipih berwarna hitam. Sesekali tangannya bergerak licah seperti mengetikan sesuatu. Sedangkan Kelvin, mukanya sudah terlihat masam saat memasuki ruangan sang kakak membawa dokumen-dokumen penting yang harus segera ditanda-tangani degan segera oleh CEO PT. Groub Agung Dirgantara.
“Maaf Tuan CEO yang terhormat, bisakah anda meluangkan waktu barang sejenak untuk segera menanda-tangani berkas-berkas penting ini? Soalnya harus dikirimkan dengan segera ke kantor cabang!” sindir Kelvin. Semakin bertambah kesal lantaran kehadirannya ternyata tak diindahkan oleh sang kakak.
Gilang menatap sinis kepada sang adik, merasa terganggu dengan kahadirannya yang tanpa permisi. Gilang mengambil alih berkas yang ada ditangan Kelvin. Kemudian membubuhkan beberapa tanda-tangan di dalamnya.
“Sudah selesai, sana pergi! Dasar pengganggu!” umpat Gilang.
Kelvin meraih kembali dokumennya kemudian pergi meninggalkan ruangan sang kakak dengan perasaan yang dongkol.
“Gue masih bisa denger, Kelvin!” Gilang berbalik memaki adiknya.
Kelvin langsung kabur menjauh dari ruangan tersebut, sebelum tanduk besar milik kakaknya muncul dari dua sisi kepala.
Gilang terkekeh, merasa lucu pada tingkah laku sang adik. Cinta memang luar biasa adanya. Bisa membuat seaorang seakan berada diatas awan tapi bisa pula menjatuhkan orang itu hingga ke dasar jurang.
Sebenarnya Gilang sengaja membuat Kelvin sibuk agar tidak menjumpai Clarissa hari ini. Gilang telah membulatkan tekadnya untuk mempertemukan kembali dua saudara kembar yang dipaksa berpisah oleh bibi mereka yang saat itu tengah menyamar sebagai ibu kandung mereka.
Clarissa sudah banyak berubah menjadi sosok pribadi yang lebih baik. Jadi apa salahnya jika Gilang sekarang ingin menyatukan kembali keluarga istrinya secara perlahan.
Gilang tahu bahwa sebenarnya Mutiara sangat merindukan Clarissa dan ibunya. Hanya saja selama ini ia berusaha menahannya lantaran ingin menjaga perasaan dari sang suami dan keluarga besar Dirgantara.
Gilang berharap dengan bersatunya kembali keluarga sang istri mampu memberikan kebahagiaan yang utuh bagi Mutiara.
Itu sebabnya Gilang meminta Radit supaya mau mengatur pertemuan Mutiara dan Clarissa terlebih dahulu, baru lah nanti dengan ibu mertuanya. Gilang masih bingung bagaimana cara menjelaskan kepada istrinya bahwa wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandung yang telah dengan tega meninggalkannya demi harta semata bukan lah ibu yang melahirkanya. Melainkan saudara kembar ibunya.
__ADS_1
Sekali lagi Gilang tersenyum mengamati benda pipih yang ada di tangannya. Nampak video sang istri yang tengah berpelukan dengan Clarissa. Wajah haru dan bahagia tergambar jelas di dalamnya.
Gilang keluar dari video tersebut kemudian menekan kontak sebuah nama untuk dihubunginya.
“Kerja yang sangat bagus Radit, terima kasih banyak? Sekarang kembali lah ke kantor, biarkan mereka bersama untuk melepas rasa rindu mereka!” ucap Gilang kemudian mematikan panggilannya.
⚜⚜⚜
Setelah meminta izin kepada sang atasan untuk meliburkan diri hari ini, Clarissa mengajak Mutiara pergi ke taman yang tidak jauh dari tempat ia bekerja. Meskipun siang hari terasa panas, tapi di taman tersebut tetap lah teduh. Banyak pepohonan besar yang bisa dijadikan tempat berteduh. Selain itu taman tersebut juga menyediakan arena permainan untuk anak-anak.
Clarissa dan Mutiara benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama hingga sore hari. Apalagi Gilang sudah memberikan izinnya.
“Intan, bolehkah aku bertanya?” Mutiara membuka suara. Mereka duduk dibawah salah satu pohon yang besar dan rimbun. Sambil mengamati Azka yang asyik bermain dengan mainan yang ia bawa dari rumah.
“Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan padaku, pasti aku akan menjawabnya!”
“Apa kamu masih mencintai suamiku...e maksudku kak Gilang?” Mutiara tampak ragu, takut Clarissa akan merasa tersinggung atas pertanyaan sensitif yang dia ajukan.
Clarissa menggelengkan kepala. “Aku sudah mengiklaskan cinta yang tak mungkin bisa aku miliki dan rasanya sekarang begitu menyenangkan bagiku. Seperti terlepas dari sebuah beban yang cukup besar. Dan aku bisa fokus lagi dalam hal memperbaiki diri supaya menjadi orang yang lebih baik lagi.”
Mutiara tersenyum haru. Hatinya seakan telah menjadi lega sekarang. Setidaknya ia tidak akan lagi merasa sedih karena tanpa sengaja telah menyakiti hati dari saudara kembarnya saat bersama sang suami.
“Aku berdoa semoga kamu bisa menemukan cinta sejatimu dengan segera” ucap Mutiara lagi yang hanya ditanggapi dengan senyuman kecil dari Clarissa.
Clarissa tak ingin Mutiara tahu bahwa sebenarnya ia sudah tak ingin mencari sosok pria dalam kehidupannya. Cukup sudah penderitaan yang ia alami karena makhluk yang bernama laki-laki. Clarissa tidak mau semua akan terulang lagi dan lagi.
__ADS_1