
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 90
πππ
Mutiara duduk di tepi kasur, menunggu Gilang yang masih membersihkan dirinya. Hatinya resah memikirkan apa yang sudah terjadi di dalam rumah tangganya belakangan ini. Mutiara sangat menyesal karena sudah meragukan cinta dan kesetiaan dari suaminya. Tanpa terasa air mata Mutiara mengalir deras dari setiap ufuk kedua matanya. Mutiara takut jika Gilang tidak akan memaafkan kesalahan yang telah ia lakukan.
Mutiara kembali mengingat permintaannya dulu untuk saling terbuka satu sama lainnya baik dalam keadaan suka mau pun duka. Tapi apa yang sudah ia perbuat. Mutiara malah mencurigai kesetiaan suaminya tanpa bertanya atau mencari tahu kebenaran tentang hal tersebut. Mutiara juga percaya dengan setiap pesan gambar atau video yang diterimanya, hingga membuat dirinya mengacuhkan sang suami. Mutiara benar-benar menyesal, merasa bersalah akan setiap perilaku yang sudah ia tunjukan pada suami tercintanya.
*Ceklek...
Mutiara segera menghapus air matanya, tidak ingin suaminya tahu bahwa ia habis menangis. Mutiara segera berdiri menghampiri Gilang, mengambil handuk kecil yang ada di tangan suaminya itu.
"Duduk lah yank, biar aku yang akan mengeringkan rambutmu!" cuit Mutiara tanpa berani menatap wajah tampan suaminya.
Gilang tersenyum tipis, merasa bahagia karena perhatian istrinya mulai kembali.
"Aku merindukan hari ini, dimana istriku selalu memanjakanku dengan tidakan kecilnya."
Mutiara berhenti sejenak, merasa sedikit tertohok dengan ucapan suaminya. Memang benar setelah beberapa kali mendapat pesan dari nomor asing, sikap Mutiara berubah. Memilih menjauh dari suaminya itu.
"Maaf...?" lirihnya sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
"Maaf karena sudah meragukanmu?" ucapnya lagi.
Gilang tersenyum tipis, menarik Mutiara ke atas pangkuannya. Membelai lembut puncak kepalanya. "Ini bukan salahmu sayang, siapa pun yang melihat video itu pasti akan salah paham! Tapi seperti yang pernah kau ucapkan dulu...jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, tolong kau langsung tanyakan saja padaku!?" ujar Gilang meminta pada istrinya.
Mutiara mengangguk pasti, ia berjanji di dalam hati tidak akan pernah sekalipun meragukan kesetiaan suaminya. Meskipun dulu, Gilang telah memiliki masa lalu yang buruk. Namun saat ini suaminya sudah berubah. Gilang adalah sosok suami serta ayah yang baik untuknya dan juga anak-anaknya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu..." bisik Gilang yang langsung dipahami oleh Mutiara. "Apakah boleh aku memintanya malam ini?"
__ADS_1
Mutiara menganggukan kepalanya, wajahnya sudah merona seperti tomat. Meskipun sering melakukan tetap saja ini ia merasa malu. Apalagi mereka sudah berpuasa semenjak Mutiara melahirkan si kembar.
Bibir Gilang merekah bahagia, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu lagi. Mumpung si kembar sedang berada dalam pengasuhan nenek mereka. Gilang segera mengangkat tubuh Mutiara dan membaringkan istrinya ke tengah ranjang. Mengungkungnya di bawah tubuhnya yang kekar.
Mutiara memalingkan wajah, tak berani menatap mata suaminya yang sudah terlihat bergairah. Sebenarnya Mutiara pun sudah merindukan setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya, hanya saja ia merasa enggan jika harus meminta terlebih dahulu karena malu. Mungkin dulu saat hamil, ia memiliki alasan karena hormon kehamilan. Tapi saat ini, ia tidak tahu harus memakai alasan apa. Itu sebabnya Mutiara hanya bisa diam saat ingin mendapatkan sentuhan dari suaminya. Dan ia mulai berpikir negatif karena Gilang tak pernah meminta haknya. Padahal yang sebenarnya, Gilang takut jika ia meminta haknya maka ia akan menyakiti istrinya yang baru saja melahirkan ke empat anaknya itu.
Gilang dan Mutiara menghabiskan malam yang panjang bersama, melepas setiap kerinduan yang menyelinap masuk hingga ke relung hati. Masalah yang dihadapi oleh mereka telah mampu menguras emosi di dalamnya hingga membuat mereka saling menyadari betapa pentingnya peran masing-masing di dalam kehidupan mereka. Baik Gilang maupun Mutiara tidak bisa hidup satu sama lainnya.
###
Tak ada kata yang pantas mewakili bagaimana kondisi sepasang suami istri yang baru saja melakukan pergulatan yang sangat panjang selain kata lelah, namun sangat bahagia. Gilang benar-benar mencurahkan seluruh rasa rindunya malam ini. Entah sudah berapa kali ia melakukannya hingga membuat tubuh Mutiara terkapar tak berdaya dengan mata yang terpejam, menuju ke alam mimpi. Ya benar...Mutiara sudah tertidur sejak satu jam yang lalu setelah pergulatan mereka selesai. Namun tidak dengan Gilang.
Gilang masih terjaga, hatinya belum bisa tenang sebelum dapat memecahkan teka-teki mengenai Shinta dan keluarganya. Jika dilihat dari segi pandangannya, mereka bukan lah dari keluarga yang memiliki pengaruh besar sehingga bisa membuat rencana seapik itu. Pasti ada sosok yang cukup berpengaruh sehingga mampu melindungi mereka. Gilang beranjak dari tempat tidur, memunguti pakaiannya yang sudah berserakan di lantai dan memakainya kembali.
Setelah selesai, Gilang berjalan menuju balcon guna menenangkan hati dan pikirannya. Namun setibanya di balcon, Gilang malah melihat Heru yang sedang memapah Kelvin. Sepertinya Kelvin dalam keadaan mabuk berat. Gilang bisa melihatnya dari cara Heru yang sedikit menyeret adiknya.
"Aku memahami bagaimana perasaanmu Kelvin, karena dulu aku pun pernah merasakan apa yang kamu alami saat ini! Semoga saja kamu tidak akan mengikuti jejakku yang sempat membenci kaum wanita..." guman Gilang dalam hati.
Gilang memutuskan keluar dari kamar untuk membantu Heru membawa adiknya ke dalam kamarnya. Gilang tak ingin sampai kedua orang tuanya melihat kondisi Kelvin saat ini. Akan tetapi ketika berada di ambang pintu, Gilang sudah melihat sosok wanita yang sudah melahirkannya.
"Kenapa nasib percintaan anak-anak mami begitu buruk, dulu kamu dan sekarang adikmu?" lirih bu Meisya tapi masih bisa di dengar oleh Gilang.
Gilang tidak tahu harus berkata apa, toh pada kenyataannya memang benar bahwa nasib percintaannya dan sang adik tidak berjalan dengan mulus di awal. Namun Gilang tidak pernah menyesali itu. Karena pada akhirnya ia dapat menemukan cinta sejatinya dan ia pun bahagia bersama sang istri sekarang.
Gilang hanya bisa berharap suatu saat nanti Kelvin juga bisa menemukan cinta sejatinya dan hidup bahagia pula bersama dengan keluarga kecilnya.
Gilang segera membantu Heru membawa Kelvin masuk ke dalam kamarnya, lalu membiarkan sang Ibu merawat adiknya.
Gilang dan Heru keluar dari kamar Kelvin.
"Terima kasih Heru, karena kamu sudah menjaga adikku dengan baik?" ucap Gilang.
__ADS_1
"Sama-sama tuan, ini sudah menjadi bagian tanggung jawab saya"
"Sekarang istirahat lah karena besok akan ada banyak hal yang harus kita lakukan!" ucap Gilang lagi.
"Baik tuan, kalau begitu saya pamit undur diri?"
Gilang mengangguk merasa bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang setia terhadap keluarganya.
###
Di lain tempat, kedua orang tua Shinta tengah berusaha membujuk seseorang agar mau memaafkan mereka karena sudah gagal dalam menjalankan rencana. Mereka bahkan sampai tega menyuruh putrinya untuk memuaskan orang tersebut.
Shinta tak berdaya selain menuruti kemauan dari kedua orang tuanya itu. Karena posisinya memang sedang tidak berpihak kepadanya saat ini. Ada sedikit perasaan sesal di hati Shinta. Andai saja waktu itu ia tidak tergoda dengan bujukan kedua orang tuanya, mungkin ia tidak akan bernasib malang seperti ini.
Shinta tau ini sudah sangat terlambat, tidak ada jalan baginya untuk kembali. Pastinya saat ini Kelvin sangat marah kepadanya, bahkan merasa jijik terhadap dirinya nya yang sudah memiliki niat buruk terhadap keluarga kakaknya.
Shinta menangis dalam hati. Membiarkan tubuhnya dinikmati oleh pria yang memiliki kelebihan hormon dalam melakukan hubungan badan. Tidak ada kata lelah sebelum lawan mainnya terkapar pingsan karena kelelahan.
"Kau memang tidak secantik Mutiara, pantas saja Gilang tidak tergoda sama sekali kepadamu!" oceh pria itu disela aktivitasnya. Mulai bosan dengan sikap pasrah yang ditunjukan oleh Shinta. Hasrat dan gairah yang sempat menggebu mulai berangsur redup.
Shinta diam, semakin sesak mendengar perkataan yang membandingkan dirinya dengan Mutiara.
Jelas tidak sepadan. Meskipun Mutiara terlahir dari anak seorang sopir tapi hatinya seperti berlian. Dia baik dan tidak serakah. Sangat berbeda dengannya. Meskipun terlahir dari keluarga yang berada akan tetapi tetap saja keluarganya serakah akan uang.
Pria itu akhirnya mengakhiri permainannya, merasa kurang puas dengan apa yang diberikan oleh Shinta. Menganggap wanita itu tidak becus dalam memuaskannya.
###
Jeng jeng makin penasaran atau sudah bosan?
Ini adalah puncak masalah keluaga Gilang, akan menguak rahasia besar keluarga Mutiara
__ADS_1
Dan jika ada yang bertanya tentang ibu Mutiara, nanti akan ada jawabannya yang mengejutkan pastinya
salam sayang dari authorπππ