
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 72
***
Gilang menunduk. Ia sadar sudah melakukan sebuah kesalahan karena telah menyembunyikan perihal penyakit Azka. Apalagi sekarang semua orang tampak kecewa dengan sikapnya dan sedih meratapi nasib Azka yang malang. Sungguh Gilang tidak bermaksud untuk itu. Ia hanya tidak ingin membuat keluarganya cemas. Terutama sang istri. Dokter sudah menyarankan agar Mutiara tetap rileks diusia kehamilannya yang sudah mulai mendekati persalinan.
"Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud menyembunyikan perihal sakitnya Azka? Aku hanya ingin kalian fokus dengan pernikahan Kelvin dan aku juga tidak ingin membuat Mutiara stress." Azka berusaha menjelaskan semua pada kekuarganya. "Kalian sendiri tahu kalau dokter menganjurkan Mutiara agar tetap rileks," lanjut Gilang.
Kelvin menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi. Ia bisa memahami akan kesulitan yang tengah dialami oleh kakaknya. Mungkin jika ia berada di posisi Gilang saat ini, pastinya ia akan juga melakukan hal yang sama dengan sang kakak. "Aku bisa memahaminya, kak. Justru aku malu karena disaat anakku sakit, aku malah asyik dengan persiapan pernikahanku sendiri!" Kini giliran Kelvin yang merasa bersalah.
"Ini lah salah satu alasan kenapa aku lebih memilih merahasiakan tentang sakitnya Azka." Gilang menatap sendu adiknya. Ia juga ingin Kelvin bisa mendapatkan cinta kedua dan hidup bahagia.
"Sudahlah buat apa kita saling menyalahkan diri, lebih baik sekarang kita fokus mencari jalan agar Azka bisa sembuh!" pak Bayu menengahi.
"Kalau masalah itu kalian tidak perlu cemas lagi, dokter sudah memberitahukan bagaimana cara mengobati penyakit Azka."
"Bagaimana caranya?" tanya bu Meisya dengan cepat.
"Dengan cara pengcangkokan sumsum tulang belakang dan aku sudah mendapatkan pendonor yang cocok dengan Azka." Gilang menjawab.
"Hanya saja..." Gilang tidak melanjutkan perkataannya.
"Hanya apa kak?" Kelvin bertanya.
Gilang memandang satu persatu seluruh anggota keluarganya. "Aku hanya bingung mencari cara agar Mutiara tidak mengetahui semua ini, dan apa alasannya pun kalian sudah tahu."
Pak Bayu, bu Meisya, Kelvin dan Elvina mengerti. Mereka akhirnya turut mencari ide agar bisa memisahkan Mutiara dan Azka dalam beberapa hari ke depannya.
"Aku ada usul," ujar Elvina memecah kesunyian. "Itu pun kalau kak Gilang mengizinkan hehehe..."
"Apa itu?" tanya Gilang kemudian.
__ADS_1
"Liburan ke luar kota bersama para alumni SMU Dirgantara dalam rangka menjalin tali silaturahmi," jawab Elvina.
"Tidak!!" tukas Gilang dengan cepat. Mana bisa ia membiarkan istrinya berpergian jauh dalam keadaan hamil tua. Bagaimana kalau nantinya terjadi sesuatu.
"Tuh kan kakak langsung nolak," Elvina mengerucutkan bibirnya.
"Siapa suruh kasih ide tapi idenya ide gila!" Gilang menatap sinis pada adiknya. "Tiara dalam keadaan hamil tua, kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
"Kakak kan bisa ikut atau kalau tidak minta seseorang mengawal Mutiara! Lagi pula nanti kan juga ada aku disana." Elvina mendelik, menjulurkan lidahnya.
Gilang tampak memikirkan ide Elvina. Kemudian memandang Radit yang sejak tadi hanya jadi pendengar dari obrolan mereka. Gilang akhirnya setuju setelah mendapat anggukan dari Radit.
***
Mutiara merasa kesal karena suaminya tak kunjung pulang. Tak biasanya Gilang pulang terlambat tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Hatinya mulai gusar. Berbagai pikiran negatif mulai merasuki hatinya. Namun Mutiara berusaha menampisnya jauh-jauh. Ia percaya kalau suaminya sudah berubah sepenuhnya dan begitu mencintainya. Jadi tidak mungkin Gilang akan berpaling darinya.
Akan tetapi lagi-lagi prasangka buruk menyelinap masuk. Mengompori hati Mutiara yang sedang berperang sendiri. Mutiara bercermin pada kaca rias miliknya. Mengamati tubuhnya yang sudah berisi dengan perut membuncit.
"Tidak Mutiara! Mas Gilang sangat mencintaimu, jadi mana mungkin ia akan berkhianat?" kini giliran bayangan putih yang berbicara.
"Kenapa tidak? Lihat lah badanmu Mutiara! Kau terlihat gendut dan tak menarik lagi!" tukas bayangan hitam.
"Kau sedang hamil Mutiara, jadi wajar kalau tubuhmu lebih berisi." Bayangan putih pun tak mau kalah.
Mutiara bingung. Ia menutup rapat telinganya. Sehingga tanpa sadar ia berteriak kencang sampai terdengar oleh para pelayan. Dan Laras yang sedang menemani Azka di kamar, tergesa keluar untuk menemui nonanya. Ia cemas kalau sampai terjadi sesuatu pada nonanya. "Astagfirllah nona, apa yang terjadi?" tanya nya ketika mendapati nonanya sedang duduk tersungkur di lantai. Menangis sambil menutup telinganya.
Mutiara bergeming. Ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif dari otaknya. Dalam bayangannya, Gilang seakan memiliki sesuatu yang sengaja dirahasiakan darinya. Mutiara takut kalau Gilang akan berpaling dari hatinya.
Laras menghampiri Mutiara, membantunya berdiri lalu memapahnya menuju tempat tidur.
"Ada apa ini?" terdengar suara serak menggema memenuhi seisi kamar. Tampak seurat wajah panik dari sang pemilik suara. Laras mematung tak tahu harus berucap apa. Pasalnya ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Mutiara. Akhirnya Laras hanya bisa menunduk dan pasrah saja.
Gilang segera menghampiri istrinya. Ia berlari menaiki tangga saat mendengar teriakan istrinya. Begitu pula dengan Radit, Heru dan para pelayan lainnya. "Yank, kamu kenapa?" tanya Gilang cemas.
__ADS_1
"Hiks...aku jelek ya, makanya kamu cari wanita lain di luar?" ujar Mutiara membuat semua orang tercengang, khususnya Gilang.
"Maksudmu apa yank? Kamu masih cantik kok dan siapa bilang kalau aku sedang mencari wanita lain?" Gilang berusaha sabar dan lembut.
"Udah deh yank, kamu nggak usah bohong! Bilang aja kamu udah bosan sama aku!" ketus Mutiara.
"Aku nggak bohong, yank. Aku berani sumpah kalau aku tidak sedang mencari wanita lain, dan bagi aku kamu tetap wanita yang paling cantik." Gilang menyakinkan istrinya. "Aku akui kamu sekarang lebih chuby semenjak kehamilanmu membesar..." Gilang tidak melanjutkan kata-katanya, ia merasa horor mendapat tatapan tajam dari istrinya. "Mati lah aku, salah bicarakan!" ujarnya dalam hati.
"Tuan, lihatlah kau sudah membuat jiwa kemacanan nona bangun!" Radit dan Heru ikut membathin.
Seketika suasana menjadi horor lalu pecah dengan suara tangisan Mutiara yang membahana memenuhi ruangan kamar. Semua menjadi kalang kabut. Gilang terus mengumpat dalam hati, kenapa juga harus mengeluarkan kata sensitif. Sekarang Mutiara menangis seperti bocah, akan sulit untuk menenangkannya.
"Dasar suami nggak tahu diri! Kalau bukan karena kamu yang minta jatah tiap malam, perutku juga tidak akan melendung dan badanku nggak akan gendut seperti ini. Dan sekarang...kamu dengan seenaknya mengatakan aku gendut? Dasar suami nggak punya akhlak!!" gerutu Mutiara disela tangisannya. Tangannya terus bergerak memukul bahu suaminya.
Gilang menghela nafas panjang. Ia hanya pasrah menerima perlakuan istrinya. Selain itu, ia juga sudah tidak punya muka. Mutiara membuka aibnya di depan para pelayan. Sebenarnya sih bukan aib, toh mereka juga sudah sah dimata agama dan hukum. Tapi kalau diumbar di depan para pelayannya...Gilang sudah tidak bisa berucap ataupun marah. Ia memaklumi bahwa mood istrinya sedang tidak stabil alias suka berubah-ubah karena kehamilannya. Yang bisa Gilang lakukan saat ini hanya lah mencari tahu penyebab kenapa istrinya bisa berpikiran bahwa ia sedang mencari wanita lain.
Gilang memeluk erat istrinya. Menoleh pada Radit dan Heru seakan memberi kode agar mereka keluar dari kamarnya. Gilang butuh privasi dengan istrinya.
Radit, Heru dan para pelayan pergi meninggalkan kedua majikannya dengan raut wajah yang kebingungan. Mereka juga tidak mengerti kenapa Mutiara berlaku seperti itu. Apa ada wanita lain yang sedang masuk ke dalam rumah tangganya. Tapi siapa...
***
Setelah dirasa cukup tenang, Gilang mulai bertanya pada istrinya kenapa bisa sampai berpikir bahwa ia sedang mencari wanita lain. Gilang takut kalau ada pihak lain yang sengaja mengompori hati istrinya agar rumah tangganya hancur. Tapi lagi-lagi Gilang hanya mendesah pelan. Ia menatap wajah sembab dari istrinya. Rasa bersalah bergulir di hatinya. Tak seharusnya ia pulang terlambat tanpa memberi kabar pada istrinya.
Ini semua juga merupakan kesalahan Radit dan Heru. Mereka sudah mengajari istrinya bagaimana cara melacak keberadaannya melalui gps yang ada di ponselnya. Jadi mau tak mau Gilang terpaksa mematikan ponselnya saat pergi ke rumah orang tuanya. Ia tidak mau kalau Mutiara tahu bahwa ia pergi ke rumah orang tuanya tanpa mengajak Mutiara. Bisa jadi Gilang akan dicuekin selama berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan lamanya.
Dan sekarang imbasnya juga berdampak pada dirinya sendiri. Mutiara menjadi salah paham padanya. Mutiara menyangka Gilang sengaja mematikan ponselnya karena sedang asyik mencari wanita yang lebih cantik darinya.
"Yank, kamu lihat aku!" Gilang mengangkat dagu istrinya. "Lihat mataku!" ujarnya. "Apa mungkin aku bisa mencari wanita lain sedang hatiku sudah penuh dengan cintamu?" lanjutnya.
Mutiara mencari sesuatu di dalam mata suaminya. Ia mencari celah apakah disana ada kebohongan atau tidak. "Maaf...?" ujarnya setelah dirasa tidak menemukan adanya kebohongan. Mutiara bisa merasakan adanya cinta yang tulus terpancar dari mata suaminya.
Gilang tersenyum tipis. Ia mengecup kening, kedua mata dan pipi. Lalu turun ke bibir ranum milik istrinya. Awalnya hanya sebuah kecupan kecil yang kemudian berubah menjadi lebih menuntut. Hingga membuat Gilang dan Mutiara sama-sama melewati malam yang penuh dengan gelora asmara yang indah dan memabukan. ( Nggak perlu dilanjut ya, pembaca pasti tahu kemana arah kelanjutan dari sepasang suami istri ituππ)
__ADS_1