
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 84
🎈🎈🎈
Menikah itu bukanlah sebuah permainan. Di mana bisa memulai permainan jika siap dan mengakhiri jika sudah mulai bosan. Menikah itu bukan hanya sekedar ikatan janji suci atas kedua belah pihak atara dua orang itu. Tapi ikatan juga terhadap sang pencipta.Â
Banyak yang menyalah gunakan arti dan makna dari pernikahan yang sesungguhnya. Ada segelintir orang yang bilang bahwa pernikahan itu hanya sekedar untuk mendapatkan Buku Nikah, Ijab dan Resepsi. Tapi banyak dari mereka yang tidak memikirkan bagaimana pertanggung jawaban yang harus dilakukan setelah menikah. Mereka tidak berpikir seperti apa likuan dalam rumah tangga, hanya kesenangan semata yang dicari. Akan tetapi memilih berpisah jika kesenangan itu berganti dengan kehidupan yang keras.
Mutiara duduk termenung, memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Ada rasa cemas yang menghinggapi hatinya. Ia seakan takut jika suaminya akan berpindah ke lain hati, mengingat bagaimana situasi saat ini. Mutiara menyadari bahwa semenjak kelahiran si kembar, ia jarang menghabiskan waktu bersama dengan sang suami. Hampir setiap detik waktunya ia habiskan hanya untuk anak-anak saja.
Entah lah Mutiara sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba bisa berpikir seperti itu. Padahal jelas kalau Gilang tak pernah merasa keberatan. Justru sebaliknya, Gilang sangat mendukung keinginan Mutiara yang ingin merawat anak-anaknya sendiri. Tak jarang pula Gilang turut andil dalam menjaga mereka, sering ikut begadang ketika si kembar terbangun di tengah malam.
Tanpa tersadari ada sebuah tangan kokoh melingkar penuh di pinggang hingga perut Mutiara. "Apa.yang sedang dilamunkan oleh istri kecilku ini, sampai-sampai tak tahu kalau suaminya baru saja pulang dari kantor?" ucap orang itu yang tak lain adalah Gilang.
"Apa sekarang aku sudah tak menarik lagi? Apa badanku sekarang telah mengembang menjadi besar? Apa aku terlihat gendut?" Mutiara mulai mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
Gilang memicingkan kedua alisnya, merasa heran kenapa istrinya bisa berkata seperti itu. Apakah ada seseorang yang sudah berani mengatakan sesuatu padanya. Hingga membuat istrinya melamun seperti ini. Gilang mulai melonggarkan pelukannya kemudian memutar tubuh istrinya agar mengahadap dirinya.
"Siapa yang bilang kalau istriku ini sudah tak menarik lagi, kamu bahkan terlihat semakin seksi saja?" ujar Gilang.
"Kalau saja aku tidak ingat bahwa kamu baru melakukan operasi besar karena melahirkan si kembar, mungkin aku sudah melahap mu habis di atas ranjang kita saat ini!" bisik Gilang hingga menimbulkan rona merah di wajah Mutiara.
"Dasar mesum!" Mutiara mencubit perut six pack suaminya. Sedangkan Gilang hanya bisa meringis sambil berusaha menghindar dari cubitan istrinya, hingga terjadi saling berkejaran satu sama lainnya.
Tok...tok...tok...
Mutiara berhenti mengejar Gilang dan membiarkan suaminya membuka pintu.
"Maaf tuan, di bawah ada nona Elvina dan nona Shinta?" ucap Laras setelah pintu terbuka dan menampilkan sosok Gilang.
"Huhh...dasar pengganggu!" Gilang menggerutu pelan namun masih bisa didengar oleh Laras.
"Suruh mereka menunggu, sebentar lagi kami akan turun ke bawah!" jawab Gilang setengah kesal lantaran memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Gilang yakin Mutiara akan sibuk dengan kedua gadis itu dan ia akan terlantar di ruang kerja.
__ADS_1
***
Apa yang dipikirkan oleh Gilang nyatanya benar. Setelah istrinya bertemu dengan kedua sahabatnya, kini Mutiara tengah asyik bercanda ria dengan mereka sambil bermain dengan anak-anak. Dan Gilang sendiri malah duduk di ruang kerja sambil menunggu email dari Radit masuk ke dalam laptop nya. Sungguh menjengkelkan bukan.
Kalau tahu begini, tentu Gilang akan lebih memilih untuk masuk ke kantor saja. Gilang memang sengaja tidak datang ke kantor karena ingin menghabiskan banyak waktu bersama keluarga kecil nya. Tapi malah ada dua gadis pengganggu yang datang ke rumah tanpa kabar. Gilang menghembuskan nafas nya, berusaha menghilangkan rasa kesal. Bukan tak senang mereka datang, namun waktu nya yang tak tepat.
Selain itu ada pula alasan tertentu yang membuat Gilang merasa tidak senang. Entah kenapa hati nya berkata, ia tidak rela jika istrinya terlalu dekat dengan Shinta.
Gilang merasa Shinta tidak tulus berteman dengan istrinya. Ia bisa melihat dari gerak-gerik yang ditunjukan oleh gadis itu. Seperti memiliki maksud tertentu. Tapi Gilang tidak tahu apa itu, Gilang tidak ingin gegabah karena bersangkutan dengan kebahagian adiknya. Gilang takut kalau Kelvin akan terluka lagi oleh seorang perempuan.
*Ceklek...
Gilang mengarahkan pandangan nya ke arah pintu, melihat siapa yang berani masuk ke ruang kerja nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sementara istri dan para pelayan nya selalu mengetuk pintu jika ingin masuk.
"Kau..." Gilang menatap nyalang pada seseorang yang berdiri di depan pintu. "Berani nya kau masuk ke dalam ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!" bentaknya.
"Maaf...maafkan aku kak, aku mau ke toilet tapi dibawah sedang dipakai? Itu sebabnya aku mencari toilet di lantai atas," cicit Shinta dengan tubuh gemetar.
"Apakah kamu berniat ingin membodohiku hah? Ini rumahku dan aku sudah menyediakan tiga toilet untuk tamu dan para pelayan tidak akan ada yang berani memakai nya karena mereka sudah ada toilet sendiri!" ucap Gilang dengan nada tinggi.
Shinta terkejut tubuhnya semakin bergetar hebat karena merasa takut dengan Gilang.
"Keluar dan jangan pernah datang ke lantai atas rumahku! Kau hanya tamu disini, jadi harus tau batasanmu!" bentak Gilang tidak perduli jika Shinta sudah gemetaran setengah mati.
"Ba-baik kak, se-se-kali la-lagi ma-maaf?" Shinta langsung keluar dari ruang kerja Gilang.
Gilang meremat kertas yang ada di hadapannya. Rasa kesal yang sempat mereda kini muncul lagi. Gilang mengambil ponsel nya, kemudian mencari nama Radit pada daftar kontak nya dan menelpon nya.
"Radit kau cari tahu informasi tentang Shinta, aku merasa dia memiliki niat tidak baik pada keluargaku!" perintah Gilang setelah telephone nya tersambung.
"Baik tuan," jawab Radit.
" Dan kamu harus dapatkan informasinya sebelum pernikahan itu berlangsung!" ucap Gilang lagi.
"Baik tuan, saya pasti akan mendapatkannya sebelum hari itu!"
__ADS_1
Gilang mematikan ponselnya, memijit keningnya secara berulang. Hati nya bimbang harus berbuat apa. Ia tidak mau menyakiti adiknya, namun keselamatan istrinya pun juga sangat penting baginya.
***
Sementara itu Shinta langsung turun ke bawah menemui Mutiara dan Elvina yang masih asyik menimang Arsen dan Asyilla. Sedang Arsha dan Asyifa berada dalam gendongan para baby sister. Mereka sedang berusaha menidurkan keempat bayi kembar tersebut setelah diberikan susu.
"Maaf aku harus segera pulang! Barusan mamaku menelpon dan memintaku untuk segera pulang!" cuit Shinta membuat Mutiara dan Elvina khawatir. Pasal nya wajah Shinta terlihat sangat pucat.
"Apa ada masalah?" tanya Elvina.
"Tidak ada, mama hanya minta aku untuk menemani nya berbelanja kebutuhan sehari-hari! Kalian tahu kan bagaimana kalau emak-emak yang lagi pengen belanja tapi tidak ada yang mengantar?" kilah Shinta berusaha tersenyum manis agar kedua sahabatnya tidak curiga.
Mutiara dan Elvina ber oh ria saja. "Ya sudah kamu hati-hati, jangan ngebut!" pesan Mutiara.
"Iya pasti dan terimakasih untuk makan siangnya? Rasanya sangat enak sekali," ujar Shinta yang kemudian berlalu meninggalkan rumah Mutiara. Berharap Gilang tidak akan mengatakan apapun pada kedua sahabatnya atas apa yang terjadi barusan.
Setelah kepergian Shinta, Mutiara dan Elvina menidurkan si kembar di kamar mereka. Lalu mengobrol sambil menonton TV. Keduanya tampak serius menyaksikan drama thailand sampai-sampai tidak menyadari kalau Gilang sudah ada di belakang mereka.
"Kamu tak ikut pulang bersama teman mu itu, dasar pengganggu!" ujar Gilang dengan sinis.
Elvina menoleh, merasa kesal dengan raut kakaknya yang sudah terlihat sangat menyebalkan itu. "Kakak mengusirku?" cicitnya.
"Kalau iya kenapa, ada masalah? Ini rumahku dan aku bisa mengusir siapa pun yang aku mau!" tukas Gilang.
Elvina melotot. Tak percaya dengan kelakuan sang kakak yang suka semena-mena kepada orang lain. Namun akan lembut pada istrinya.
"Iya aku pulang sekarang, dasar kakak pelit!!" maki Elvina pada Gilang. "Tiara, aku pulang ya? Dan tolong elo jinakin nih singa jantan ini!" ucapnya pada Mutiara.
Elvina pergi dengan kesal. Memaki kakaknya dengan perkataan yang tidak enak untuk didengar. Mutiara menghela nafas dengan kasar, menatap tajam suaminya.
Gilang meringis sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia baru sadar bahwa perbuatannya sudah membangunkan macan betina nya.
"Sayang, aku tidak bermaksud mengusir Elvina! Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu dan anak-anak. Tapi kalau Elvina masih ada disini, bagaimana bisa aku menghabiskan waktu bersama kalian?" jelas Gilang.
Mutiara memutar bola matanya dengan jengah. Suami nya masih saja suka menaruh rasa cemburu tidak pada tempat nya. "Hari ini sampai besok pagi jangan dekat-dekat denganku dulu!" cuit Mutiara.
__ADS_1
Gilang membulatkan kedua matanya. Mulai panik dengan keadaan yang akan menimpanya dalam beberapa jam ke depan. "Yank, jangan begitu dong! Aku tahu aku salah, tolong ampuni suami mu ini?" Gilang mengejar istrinya yang tengah berjalan menaiki tangga. Ia terus merengek seperti anak kecil agar Mutiara membatalkan niatnya untuk berjauhan dengan dirinya sampai besok pagi.
"Sepertinya malam ini aku benar-benar akan tidur di luar," guman Gilang setelah Mutiara masuk ke dalam kamar dan menguncinya.