
PERNIKAHAN BEDA USIA
Part 47
***
Di kantor, Gilang kembali disibukan dengan segudang pekerjaan. Banyak berkas penting yang sudah menumpuk di atas meja. Selain itu, hari ini Gilang juga memiliki appointment penting dengan beberapa relasi perusahaan. Gilang menghela nafas panjang, ia bingung bagaimana harus mengatur waktu sebaik mungkin agar bisa tetap menjemput istrinya dari sekolah.
Gilang sedikit memberi pijatan pada keningnya. Ia sadar ini adalah resiko dari profesinya sebagai seorang pembisnis. Mungkin di luar sana ada profesi yang lebih parah dari profesinya, sehingga untuk berkumpul bersama keluarga pun mereka mengalami kesulitan. Gilang bersyukur karena dia masih tetap bisa menghabiskan banyak waktu bersama istrinya. Dan ia juga berjanji akan selalu mengutamakan keberadaan keluarganya ketimbang dengan yang lain.
Tok...tok...tok...
"Masuk!!" seru Gilang.
Risma masuk ke dalam ruangan Gilang.
"Maaf pak...saya hanya ingin memberikan schedule bapak untuk hari ini," ujar Risma.
"Hmm...terima kasih," ucap Gilang seraya mengambil secarik kertas berupa catatan dari Risma.
Gilang membaca kertas tersebut dengan seksama. Ia menghela nafas panjang kemudian tersenyum kecil.
'Ternyata masih ada waktu untuk menjemput Mutiara,' bathin Gilang.
"Tolong kamu siapkan semuanya dan jangan lupa untuk memberitahukan hal ini kepada Kelvin juga!" ucap Gilang pada secretarisnya.
"Baik pak...kalau begitu saya permisi," pamit Risma.
Setelah Risma keluar dari ruangannya, Gilang segera mengirimkan sebuah pesan kepada istrinya terlebih dahulu. Baru lah kemudian ia mulai menyelesaikan satu persatu pekerjaan yang sedari tadi telah menunggunya.
***
Dilain sisi ada seorang wanita yang berusaha memaksa masuk ke dalam perusahaan PT. GAD. Hanya saja para pengawal Gilang selalu menghalanginya. Wanita itu tampak sangat geram. Berkali-kali ia membuat kegaduhan supaya Gilang mengizinkan dirinya masuk. Akan tetapi hasilnya sama saja. Wanita itu tetap tidak bisa masuk, dan malahan dia diseret paksa agar menjauh dari perusahaan PT. GAD oleh para pengawal Gilang.
Wanita itu terus mengumpat. Ia merasa tidak terima diperlakukan seperti ini oleh mereka. Wanita itu bersumpah akan melakukan segala macam cara untuk membuat Gilang bertekuk lutut kepadanya.
Wanita itu tersenyum dengan licik. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka bagian galeri, kemudian memilih beberapa gambar untuk dikirimkan kepada Gilang.
"Permainan baru dimulai sayang," cuitnya.
Wanita itu merasa senang. Ia sangat yakin jika rencananya akan berhasil. Dan tentunya, tak lama lagi Gilang pasti akan segera mendatangi dirinya seperti dulu.
"Renata, selain elo cantik ternyata otak elo cerdas juga." Wanita itu memuji dirinya sendiri.
***
*PING
__ADS_1
Sebuah pesan masuk. Gilang segera membukanya. Ia mengira itu merupakan balasan pesan yang dikirim oleh sang istri.
Gilang mengerutkan kening setelah membuka ponselnya. Pesan tersebut bukan dari Mutiara, melainkan dari Renata. Gilang dengan malas membuka isi pesannya. Kedua matanya membulat dengan sempurna. Gilang merasa sedikit kaget.
"Darimana wanita itu mendapatkan foto ini?" guman Gilang.
Gilang menyenderkan badan pada kursi. Tangannya asyik mempermainkan bolpoin di atas meja. Pikirannya mulai menerawang tentang hal yang kemungkinan akan terjadi setelah ini.
"Dia sudah tahu perihal Mutiara, gue harus lebih berhati-hati sekarang! Jangan sampai wanita itu bisa mendekati atau menyakiti Mutiara!" Gilang bermonolog.
Gilang merasa heran kenapa disaat ia bisa menemukan kebahagiaan, pasti ada aja masalah yang datang merintang. Gilang ingin seperti yang lain. Hidup normal bersama dengan keluarga kecilnya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!!" seru Gilang.
Kelvin masuk.
"Ada apa?" tanya Gilang.
"Hmm...gue hanya sekedar mengingatkan kalau satu jam lagi kita akan ada meeting dengan perusahaan PT. Kencana Abadi," jawab Kelvin.
Gilang melongok pada arlojinya, kemudian bangkit dari kursi kebesarannya.
"Ayo kita berangkat sekarang, takut nanti jalanan macet! Tak baik kalau membuat klien menunggu lama," ujar Gilang kemudian.
Kelvin mengangguk. Ia mengekori kakaknya dari belakang.
***
"Hallo selamat siang, perkenalkan nama saya Tyas Ayu Wulandari. Saya perwakilan dari PT. Kencana Abadi," seorang wanita muda tengah memperkenalkan diri.
Wanita itu memiliki paras wajah yang sangat cantik dan postur tubuh tinggi semampai. Usianya kira-kira hampir sama dengan Kelvin, yakni antara dua puluh empat atau dua puluh lima tahun.
"Dan dia adalah asisten pribadi saya, namanya Vita." Tyas memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.
"Senang bertemu dengan kalian. Nama saya Alvian Gilang Dirgantara dan ini adik saya Aditya Kelvin Dirgantara," balas Gilang.
Mereka berempat duduk. Sebelum memulai meetingnya, Gilang memesan menu special yang ada di restaurant tersebut.
Kelvin diam-diam memperhatikan Tyas, ia seolah pernah melihat wanita itu. Tapi entah dimana?
Sedangkan Tyas yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah. Dia terus saja menundukan kepala, wajahnya merona kemerahan lantaran malu.
Tak lama pesanan mereka datang. Gilang mengajak kedua wanita itu untuk makan terlebih dahulu sebelum memulai meetingnya.
"Terima kasih tuan," ucap Tyas yang masih setia menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Sama-sama," balas Gilang.
Kini giliran Gilang yang dibuat heran dengan sikap malu-malu yang ditunjukan oleh klientnya. Gilang melirik ke arah Kelvin, dan barulah dia mengerti apa yang jadi sebabnya. Gilang menendang pelan kaki adiknya, lalu menatapnya dengan tajam.
Kelvin paham dengan kode yang diberikan oleh sang kakak, dia akhirnya mulai menyantap hidangan yang sudah tersaji di hadapannya.
***
Usai meeting, Gilang dan Kelvin tidak langsung kembali ke kantor. Mereka mampir ke SMU Dirgantara terlebih dahulu untuk menjemput Mutiara.
Gilang tidak ingin jika Mutiara merajuk karena dia telat menjemputnya.
"Kelvin, tolong percepat sedikit laju mobilnya! Kenapa elo lelet sekali sih?!" Gilang menggerutu.
Kelvin hanya menggelengkan kepala.
"Bagaimana bisa cepat? Kak Gilang bisa lihat sendiri kan jalanannya sangat padat," balas Kelvin.
Gilang mendengus kesal. Ia benci dengan kemacetan kota. Selain menguras tenaga dan pikiran, kemacetan juga membuat dirinya menyia-nyiakan waktu saja.
"Tenanglah, kakak ipar pasti bisa memahaminya!" ujar Kelvin.
"Elo nggak tahu sih kalau mood Mutiara sekarang susah ditebak," tukas Gilang.
Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengingat bagaimana sensitifnya Mutiara. Kadang ia merasa sangat bahagia, terkadang pula mendadak sedih. Mutiara juga sering merajuk bahkan menangis tanpa alasan yang pasti. Gilang sendiri hampir dibuat frustasi karenanya.
***
"Kali ini gue harus bisa melihat seperti apa wajah istri Gilang."
Baik Gilang maupun Kelvin terlalu fokus pada jalanan yang padat. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada orang yang mengikuti mereka sejak dari restaurant.
Orang tersebut sedikit heran ketika mobil yang ditumpangi oleh Gilang dan Kelvin berhenti di sebuah sekolah SMU.
"SMU Dirgantara? Apa ini sekolahan milik keluarga Dirgantara? Bukankah adik perempuan mereka juga sekolah di sini? Jangan-jangan Gilang dan Kelvin kesini hanya untuk menjemput adik mereka?" gumannya.
Orang tersebut tampak kecewa. Ia mengira dengan mengikuti Gilang dan Kelvin, maka ia bisa mengetahui seperti apa istri Gilang.
Orang tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi, ia juga tidak ingin jika sampai kepergok oleh Gilang. Bisa-bisa hidupnya akan berada dalam bahaya karena sudah mengusik hidup Gilang.
Namun saat ia mau memutar balik mobilnya, orang tersebut melihat Gilang menggandeng mesra seorang gadis yang kira-kira seumuran dengannya. Orang tersebut mengamati gadis itu dengan seksama.
"Ini tidak mungkin!!" ujarnya kemudian.
"Wajahnya sangat mirip denganku. Itu artinya dia adalah Mutiara, saudara kembarku sendiri." Orang tersebut tak lain adalah Clarissa, ia benar-benar syok dan tak percaya.
Clarissa tidak tahu apakah dia harus bahagia atau tidak? Disatu sisi ia bahagia karena ternyata saudara kembarnya masih hidup. Namun dilain sisi pula, ia merasa marah kenapa harus Mutiara yang menjadi penghalangnya untuk kembali pada Gilang.
__ADS_1
Mungkin kah Gilang menikahi Mutiara lantaran wajahnya sangat mirip dengan dirinya? Kalau benar begitu, berarti Gilang masih sangat mencintainya. Dan Mutiara...bisa jadi ia hanya sebatas pelarian saja. Clarissa merasa bahagia karenanya. Ia semakin yakin bahwa ia bisa kembali bersama dengan mantan kekasihnya itu.
"Maafin gue Mutiara...gue terpaksa merebut Gilang dari sisimu? Dia milikku dan akan selamanya begitu," lirih Clarissa.