
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 55
***
Gilang menatap sendu pada Mutiara. Menyingkap rambut yang menutup keningnya, kemudian mengecupnya singkat. Mutiara sudah sadar dari setengah jam yang lalu. Tapi ia hanya diam saja, pandangan matanya tampak kosong. Ia bahkan tidak menghiraukan kehadiran Gilang yang ada di sampingnya sejak tadi.
Mutiara teringat akan kejadian dimana ia dipertemukan dengan saudari kembarnya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih. Mutiara bahagia kerena pada akhirnya ia bisa melihat saudari kembarnya lagi setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bersua. Namun Mutiara sedih dengan apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya. Ia tidak menyangka jika Intan berniat mengambil posisinya dalam kehidupan Gilang.
Mutiara memang sangat menyanyangi Intan, akan tetapi cintanya untuk sang suami melebihi segalanya. Mutiara tidak bisa kehilangan Gilang. Apalagi sekarang sudah ada hasil buah cintanya dengan Gilang. Mutiara semakin tidak ingin melepaskan suaminya untuk siapa pun dan untuk apa pun.
"Yank, kamu kenapa? Sejak membuka mata, kamu bahkan tidak bicara sedikitpun padaku. Apa kamu marah sama aku?" tanya Gilang.
Mutiara menoleh. Ia melihat adanya raut sedih dari wajah Gilang. Mutiara menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak marah sama kamu yank. Aku hanya memikirkan saudara kembarku saja. Entah apa yang terjadi padanya, sehingga membuat Intan begitu berubah?" Mutiara menjelaskan.
Gilang meraih tangan Mutiara lalu mengecupnya berkali-kali. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan istrinya.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu yank, tapi aku mohon jangan terlalu memikirkannya! Ingat sekarang ini kamu sedang hamil, aku tidak ingin calon anak kita ikut bersedih karena mamanya juga bersedih!" ujar Gilang.
Mutiara menatap wajah Gilang. Tersirat guratan rasa khawatir yang cukup besar. Mutiara menjadi merasa bersalah karenanya. "Maaf..." cuitnya kemudian.
"Kenapa kamu minta maaf yank, ini kan bukan kesalahanmu!" Gilang tersenyum tipis tatkala melihat Mutiara juga tersenyum kepadanya.
"Maaf karena sudah membuat suamiku cemas, aku berjanji akan lebih memikirkan tentang calon anak kita." Mutiara mengusap perutnya yang masih rata. Ia sudah tidak sabar lagi melihat perutnya yang akan segera membuncit.
"Oh jadi hanya calon anak kita saja yang dipikirkan? Lalu bagaimana dengan papanya?" Gilang menggoda Mutiara.
"Kalau papanya jangan ditanya lagi, dia akan selalu ada di hati sekaligus pikiran mamanya" Mutiara mencubit hidung Gilang.
Keduanya saling menatap satu sama lainnya. Mereka berjanji tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke dalam kehidupan mereka dan merusak kebahagiaan yang ada. Termasuk Intan ataupun Clarissa.
***
Gilang datang ke rumah kedua orang-tuanya bersama Kelvin. Mereka ingin mengakhiri drama yang sudah dilakukan oleh Clarissa. Tentunya setelah mendapat persetujuan dari Mutiara.
Gilang tidak ingin Mutiara bersedih lagi atas apa yang menimpa saudarinya, itu sebabnya ia menjelaskan titik permasalahan yang ada. Awalnya Mutiara merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani oleh saudara kembarnya. Namun atas saran Gilang, mereka memang harus melakukan sesuatu agar saudara kembarnya sadar bahwa dia berada di jalan yang salah.
"Berani juga kamu datang kemari, apa kamu menyadari akan kesalahan fatal yang sudah kamu lakukan hah..?" bu Meisya berbicara dengan sinisnya.
Gilang melirik kedua adiknya. Mereka hanya tersenyum tipis. Sementara Clarissa bersembunyi di dapur. Menguping pembicaraan mereka.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Mi! Mami lah yang sudah tertipu oleh wanita j***** itu!" balas Gilang. Ia terlihat sangat santai.
"Jaga ucapanmu Gilang! Mutiara menantu mami, bukan wanita j*****!" protes bu Meisya merasa kesal.
"Mami benar Mutiara adalah menantu Mami, tapi wanita yang ada di rumah ini bukan menantu mami." Gilang menegaskan.
"Apa maksudmu?" Bu Meisya tidak mengerti.
__ADS_1
Gilang mendesah panjang. Ia melirik Elvina seakan memberikan sebuah isyarat. Elvina mengeluarkan ponsel dan mencari beberapa video yang berhasil ia kumpulkan selama memata-matai Clarissa.
"Mami lihat saja ini!" Elvina memperlihatkan video tersebut pada maminya.
Bu Meisya tampak terkejut. "Ini tidak mungkin!!" cuitnya tidak percaya.
Bu Meisya terpukul. Ia tidak menyangka karena sudah tertipu oleh wanita itu.
"Dia Clarissa Mi, mantan pacar kak Gilang sewaktu di AS. Dia juga yang sudah membuat kakak menjadi seorang pria yang dingin dan tidak berperikemanusiaan. Bahkan karena Clarissa pula hubungan kak Gilang dan kak Kelvin sempat renggang." Elvina memberikan penjelasannya.
Bu Meisya semakin naik pitam. Selama ini ia berusaha mencari tahu penyebab dari perubahan sifat putra sulungnya. Dan sekarang ia sendiri malah memasukan orang yang telah membuat putranya menjadi sosok angkuh serta arogant.
"Clarissa..." pekik bu Meisya.
Clarissa yang sedari tadi menguping, sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya saat ingin melarikan diri, tiba-tiba muncul Radit dan Heru.
"Lepasin gue!! Kalau sampai kekasih gue tahu, maka dia akan menghancurkan kalian semua!!" ancam Clarissa.
Radit dan Heru hanya terkekeh saja. Mereka membawa Clarissa ke ruang keluarga.
*PLAK...
Bu Meisya menampar Clarissa. "Dasar wanita rubah!! Bisa-bisanya kau menipuku!" cuitnya kemudian.
Clarissa bergeming. Ia menatap bu Meisya dengan penuh kebencian.
"Itu semua salahmu sendiri karena tidak bisa mengenali siapa menantumu," sindir Clarissa. Ia terus saja mencemooh bu Meisya.
Clarissa tertawa lirih. Ia sama sekali tidak takut pada siapa pun.
"Kau benar-benar sudah gila! Bisa-bisanya kau menyakiti saudara kembarmu sendiri" Kelvin menganggap sikap Clarissa sudah sangat keterlaluan kali ini.
"Kelvin...Kelvin.. Bukankah kamu sudah mengetahui aku bahkan sanggup menjual anakku sendiri, apalagi hanya seorang Mutiara.." Clarissa menertawakan Kelvin.
Semua orang terkejut, kecuali Elvina. Mereka menatap Kelvin.
"Apa maksudmu wanita j*****?" tanya Gilang kemudian.
"Sudah lah kak, jangan hiraukan wanita gila ini! Nanti aku akan menjelaskannya pada kalian sendiri. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita kirim dia ke sel penjara!" Kelvin menyela.
Gilang mengangguk. Ia memerintahkan Radit dan Heru untuk membawa Clarissa ke kantor polisi.
"Ini semua belum berakhir!! Kalian tidak akan bisa menemukan Mutiara, hanya aku yang tahu dimana dia sekarang!!" teriak Clarissa yang tidak mau berhenti meronta meminta agar dilepaskan. Akan tetapi tenaganya terlalu kecil untuk melawan kedua pria yang mencekal kedua tangannya sejak tadi.
Bu Meisya ingat Mutiara. Ia menatap lurus kepada Clarissa yang tengah diseret paksa oleh Radit dan Heru. Hampir saja bu Meisya menghentikan mereka kalau saja Gilang tidak menghalanginya.
"Menantu mami baik-baik saja," ujar Gilang.
"Dimana dia?" tanya bu Meisya.
"Nanti kami akan membawa mami bertemu dengan Mutiara. Tapi sekarang kita harus mendengarkan penjelasan dari Kelvin terlebih dahulu." Gilang menatap adik lelakinya.
__ADS_1
Kelvin terduduk lemas. Ingatannya melayang pada putra kecilnya yang sudah dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.
Kelvin mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
"Jadi kamu sudah memiliki anak dengan wanita rubah itu?" bu Meisya terkejut.
"Iya Mi.." jawab Kelvin menunduk.
"Mi, kak Kelvin tidak sengaja melakukannya. Dia hanya dijebak oleh wanita itu!" Elvina membela Kelvin.
"Elvina benar Mi, Kelvin hanya dijebak." Gilang turut membela Kelvin.
Bu Meisya menghela nafas panjang. "Lalu bagaimana dengan anak itu?" tanya bu Meisya kemudian.
"Aku akan ikhlaskan dia untuk tetap dirawat oleh keluarga angkatnya jika dia baik-baik saja, Mi." Kelvin menjawab.
Bu Meisya memeluk Kelvin. Biar bagaimanapun putranya adalah seorang ayah. Pasti saat ini hatinya merasa berat melihat anaknya diasuh oleh keluarga lain.
"Apa pun yang menjadi keputusanmu, kami akan selalu mendukungmu." Kelvin tersenyum tipis. Ia bahagia karena keluarganya sudah mengetahui tentang keberadaan putranya.
***
Kondisi Mutiara semakin membaik. Dokter pun sudah mengizinkannya pulang. Hanya saja Gilang memaksakan agar Mutiara tetap dirawat sampai dia benar-benar sembuh. Mutiara tidak bisa berbuat banyak. Gilang akan menjadi seorang diktator apabila sudah menyangkut kesehatan Mutiara dan calon anaknya.
"Elo yang sabar ya Mutiara!" Elvina menepuk bahu Mutiara.
"Aku kurang sabar apa coba? Kalau wanita lain, pasti dia sudah kabur!" lirih Mutiara. Bibir Mutiara mencebik karena merasa kesal. Ia bosan jika harus berlama-lama tinggal di rumah sakit.
"Aku masih bisa denger lho yank," seru Gilang.
Mutiara memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak mengindahkan tatapan suaminya.
Bu Meisya tersenyum tipis melihat perilaku anak dan menantunya. Sekarang bu Meisya benar-benar lega. Rasa ketakutannya mengenai perilaku buruk Gilang sudah lenyap. Ia yakin bahwa Mutiara akan aman bersama suaminya. Gilang telah membuktikan bagaimana ia menjaga dan melindungi istrinya.
"Turuti saja kemauan suamimu! Dia hanya ingin melihatmu benar-benar sembuh," bu Meisya memberikan saran pada menantunya.
Mutiara mengangguk. Namun tetap saja ia melotot ke arah suaminya yang tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak usah senyum-senyum begitu! Selama di rumah sakit jangan harap bisa mendekatiku!" ancam Mutiara.
"Hah...kok begitu sih yank?! Nanti siapa yang akan merawatmu?" Gilang mulai panik.
"Kan masih ada Mami, Elvina, perawat dan dokter yang bisa merawatku dengan baik. Kalau tidak aku juga bisa menghubungi Arif, dia pasti dengan suka rela menjaga dan merawatku" jawab Mutiara seasalnya.
Mendengar nama Arif, Gilang semakin panik. Meskipun Mutiara sudah menolak Arif dan mereka memilih menjadi sahabat, tetap saja itu masih membuat Gilang merasa cemburu jika Mutiara dekat-dekat dengan Arif.
"Yank..." Gilang menunjukan wajah memelasnya.
Semua orang merasa geli melihat Gilang seperti itu. Mereka mati-matian berusaha menahan tawa agar tidak terlepas.
Mutiara membuang muka. Menutupi rasa puasnya karena sudah berhasil membuat suaminya seperti cacing kepanasan.
__ADS_1