
#PERNIKAHANBEDAUSIA
PART 44
****
PUKUL 19.00 WIB
Gilang melakukan peregangan otot untuk melemaskan tubuhnya yang seakan terasa kaku. Entah sudah berapa lama ia berkutat dengan berkas-berkas yang dibawanya dari kantor. Gilang melihat pada arlojinya. Ini sudah waktunya makan malam.
Gilang memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya. Ia menutup laptop dan merapikan semua berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Gilang meninggalkan balcon dan masuk ke dalam kamarnya.
Gilang tersenyum. Ia menghampiri istrinya yang sedang tertidur dengan TV yang masih menyala. Sepertinya Mutiara habis menonton sesuatu yang membuatnya ikut menangis.
"Sudah tahu sensitif tapi masih saja nonton drama sedih." Gilang mengusap wajah sembab istrinya.
Ughhh...
Mutiara melenguh sambil menggeliat pelan. Ia bisa merasakan adanya sesuatu yang mengganggu tidurnya.
"Yank..." cuit Mutiara. Ia beranjak bangun dan duduk.
"Sudah waktunya makan malam. Kamu cuci muka dulu gih habis itu kita turun buat makan malam!" ucap Gilang kemudian.
Mutiara mengangguk, lalu turun dari tempat tidur dan pergi menuju ke kamar mandi. Ia segera mambasuh mukanya.
Sedangkan Gilang, dia merapikan buku-buku milik Mutiara yang berserakan di atas ranjang. Mutiara memang hobi membaca. Entah sudah ada berapa buku yang ia bacanya hanya untuk mengusir rasa bosannya.
"Maaf ya yank, kamu jadi beresin buku-buku aku? Padahal kan kamu pasti capek udah kerja seharian ini?" Mutiara muncul dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
"Untuk kamu apa sih enggak?" Gilang mengedipkan sebelah matanya.
Mutiara menghampiri Gilang. Ia duduk di pangkuan suaminya.
*Cup
Mutiara mengecup singkat bibir Gilang.
__ADS_1
"Kamu memang suami terbaik buat aku," Mutiara membelai wajah suaminya.
"Itu semua kulakukan karena aku sangat mencintai istri kecilku ini." Gilang melingkarkan kedua tangannya pada perut Mutiara.
"Bagaimana kabar anak kita di dalam? Maaf ya...seharian ini aku terlalu sibuk sampai-sampai mengabaikan kalian." Tangan Gilang menyelinap masuk ke dalam kaos Mutiara. Ia mengusap perut istrinya yang masih datar.
"Hari ini dia sangat baik yank, mungkin dia tahu kalau papanya sedang sibuk dengan masalah pekerjaan," jawab Mutiara.
Gilang tersenyum lagi, ia mengajak Mutiara makan malam. Perutnya sudah bernyanyi meminta untuk segera diisi.
Di ruang makan, para pelayan tampak sibuk menyajikan makan malam untuk Gilang dan Mutiara. Mereka harus tepat waktu dalam melaksanakan tugasnya. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Dan apabila ada yang melakukan kesalahan maka mereka harus menerima konsekuensinya. Itu sudah menjadi perjanjian sejak awal mereka ingin bekerja di rumah Alvian Gilang Dirgantara.
"Wah...sepertinya menu makanan malam ini sangat menggugah selera, yank. Perutku semakin lapar saja." Mutiara menarik kursi dan duduk dengan manis. Begitu pula dengan Gilang.
Keduanya mulai menikmati makanan yang terhidang di meja makan. Tak ada suara, hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar hingga untuk beberapa saat lamanya. Setelah mereka menyudahi acara barulah Gilang mengajak bicara soal kuliah Mutiara.
"Yank, Apa kamu sudah memasukan berkas pendaftaran untuk masuk kampus Dirgantara?" tanya Gilang.
"Belum yank...sepertinya aku akan menunda kuliahku dulu, paling tidak sampai anak kita berumur dua tahun nanti." Putus Mutiara.
"Apa kamu yakin? Itu terlalu lama lho..." tanya Gilang lagi.
Mutiara tidak mau kalau anaknya sampai mengalami nasib yang sama sepertinya. Tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ibu. Mutiara ingin belajar menjadi seperti mami mertuanya, berjuang keras demi kebahagiaan keluarganya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, yank. Aku hanya bisa memberikan dukungan saja," ujar Gilang kemudian.
"Makasih banyak ya yank," Mutiara tersenyum.
****
Clarissa terus mengumpat. Ia merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Kelvin kepada dirinya. Bisa-bisanya pria itu meninggalkan dirinya di tempat yang sangat sepi, jauh dari jalanan tanpa tasnya. Clarissa harus berjalan selama satu jam, barulah ia bisa menemukan angkutan umum berupa metro mini yang pengap dan bau. Selain itu dia pun harus menguras tenaga untuk memohon pada sang kernek lantaran tidak membawa uang sepeser pun. Clarissa benar-benar merasakan bahwa hari ini adalah hari kesialannya.
Clarissa mendaratkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Melepas rasa penat setelah membersihkan diri. Untung saja Mr. Steve belum pulang, kalau tidak...mungkin akan ada banyak pertanyaan yang harus ia jawab saat ini.
Pandangan Clarissa mengarah pada langit-langit atap, pikirannya kini menerawang jauh ke masa lalu. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan pada Kelvin adalah salah, namun apa boleh buat? Saat itu ia sedang membutuhkan uang agar bisa bertahan hidup. Meskipun Kelvin sudah memberikan makan dan tempat tinggal, tapi tetap saja Clarissa memerlukan uang untuk kesenangannya.
#Flashback
__ADS_1
Keinginan Clarissa untuk terbebas dari Gilang akhirnya berhasil. Semenjak pria itu memergoki dirinya telah bercinta dengan sang adik, Gilang sama sekali tidak pernah berusaha mencarinya sedikitpun. Clarissa bisa bernafas dengan lega. Ia bahkan sudah menyusun siasat akan mencari pria kaya yang bisa dijadikan untuk memenuhi segala keinginannya. Namun sebelum ia mendapatkan pria kaya, Clarissa harus bertahan menjadi budak nafsu oleh ayah tirinya. Selain itu ia juga menjajakan diri pada lelaki hidung belang demi mendapatkan uang lebih. Hanya saja belum genap dua bulan ia melakukan hal itu, Clarissa dinyatakan positif hamil. Tentu saja sang ayah tiri sangat murka. Ia merasa kalau anak yang ada dalam kandungan Clarissa bukan-lah anaknya, karena saat melakukan hubungan badan mereka selalu memakai pengaman. Dan lagi pula ayah tiri Clarissa sudah dinyatakan mandul oleh dokter. Akhirnya mereka mengusir Clarissa dari rumah.
Clarissa sangat marah, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia berjanji akan membalaskan rasa sakitnya pada mereka suatu hari nanti.
Clarissa merenung, kenapa bisa hamil. Padahal ia ingat betul saat berhubungan dengan para lelaki, ia selalu menggunakan alat pengaman begitu pula mereka yang sudah menidurinya. Tapi kenapa masih kebobolan? Clarissa hampir frustasi memikirkan siapa ayah dari anaknya.
"Apa mungkin ini adalah anak Kelvin?" lirih Clarissa.
Clarissa berusaha membandingkan usia kehamilannya dengan waktu saat ia tengah melakukan hubungan badan dengan Kelvin. Clarissa membekap mulutnya. Ia ingat bahwa ia tidak memakai alat pengaman apapun saat itu karena memang kurang begitu paham.
"Ya...ini anak Kelvin. Tapi apa yang harus gue lakukan? Kelvin pasti tidak akan sudi menerima gue, apalagi gue sudah merusak hubungannya dengan Gilang." Clarissa memikirkan cara bagaimana untuk melunakan hati Kelvin.
Clarissa memutuskan menemui Kelvin di apartementnya. Ia harus memberitahukan tentang keberadaan anak yang ada di dalam rahimnya. Sebenarnya sih Clarisaa bisa saja menggugurkan kandungannya, tapi ia tidak ingin melakukannya. Clarissa butuh orang yang bisa menampung dan membiayai hidupnya saat ini. Ia akan menggunakan kehamilannya untuk memeras sosok Kelvin.
Awalnya Kelvin tidak percaya jika anak itu adalah anaknya, tapi Clarissa bersedia melakukan test DNA. Kelvin setuju. Mereka sepakat akan melakukan test DNA saat kehamilan Clarissa memasuki usia 12 minggu.
Jika terbukti anak yang ada di dalam kandungan Clarissa adalah anaknya Kelvin, maka Kelvin akan bertanggung jawab. Namun jika tidak, Clarissa harus bersedia membuat pengakuan pada Gilang bahwa saat itu Kelvin hanya dijebak olehnya. Akhirnya kesepakatan pun terjadi.
Setelah 12 minggu berlalu, Kelvin dan Clarisaa melakukan test DNA. Hasilnya ternyata positif.
Meskipun berat, Kelvin akhirnya menerima kehadiran Clarissa. Ia memenuhi janjinya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Clarissa. Keduanya memutuskan hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan. Itupun atas kemauan Clarissa sendiri.
Hari demi hari...bulan demi bulan Kelvin dan Clarissa hidup bersama secara sederhana dan pas-pasan. Kelvin harus menghemat uang karena ia hanya mengandalkan kiriman dari keluarganya. Kelvin harus bisa mengatur setiap pengeluaran untuk biaya hidup dan kuliah. Selain itu, ia pun harus menabung sedikit demi sedikit untuk biaya Clarissa melahirkan nantinya.
Clarissa sedikit menyesal. Ia pikir dengan memilih hidup bersama Kelvin, semua kebutuhannya akan tercukupi. Tapi nyatanya tidak. Kelvin termasuk orang yang teliti dalam mengatur pengeluaran. Dia bukan-lah orang yang royal seperti kakaknya dulu. Setelah melahirkan, Clarissa berniat ingin meninggalkan Kelvin dan anaknya. Ia tidak betah jika harus terus-terusan hidup serba pas-pasan.
Clarissa melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Kelvin sangat bahagia. Ia tidak menyangka kalau dirinya sudah menjadi seorang ayah. Diam-diam Kelvin memberikan nama pada anaknya, yakni Azka Aditya Dirgantara. Ia juga akan segera membawa anaknya bertemu dengan keluarga besarnya. Namun semua itu tidak bisa terjadi karena Clarissa sudah membawa putranya pergi. Kelvin sudah berusaha mencari tapi Clarissa orang yang cerdik. Kelvin tidak bisa menemukan keberadaan mereka.
Rencana Clarissa untuk meninggalkan anaknya pada Kelvin ia urungkan, setelah mendengar bahwa keluarga Adinata sedang mencari bayi yang baru dilahirkan untuk mengantikan bayi mereka yang sudah meninggal. Clarissa tidak ingin membuang kesempatan yang menurutnya sangat bagus. Ia akan mendapatkan uang dan anaknya bisa hidup dengan bahagia.
Clarissa menjual putranya pada keluarga Adinata. Kemudian ia pergi sejauh mungkin dari Kelvin. Clarissa puas karena bisa memperoleh banyak uang dari keluarga Adinata. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa bersenang-senang dengan sepuas hatinya.
Clarissa tidak perlu menahan keinginannya lagi untuk membeli apapun yang ia suka sekarang.
#**Flashoff
Author udah up lagi ya, maaf kemaren sempet berhenti sejenak
__ADS_1
Author sedang merevisi setiap partnya, semoga bisa lolos kontrak ya🙏🙏😘😘😘**