Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_71


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 71


🎈🎈🎈


Usai membersihkan diri, Gilang langsung bergabung bersama istrinya yang memang sudah terlelap sejak ia pulang dari kantor. Gilang tersenyum melihat wajah teduh Mutiara yang memancarkan aura kecantikan tersendiri. Mungkin bisa dibilang, Mutiara tidak memiliki body yang bahenol seperti wanita-wanita idaman lelaki pada umumnya. Tapi bagi Gilang, Mutiara sangat lah berbeda dengan wanita umumnya. Wajahnya cantik dan manis, begitu pula dengan hatinya. Tubuhnya yang mungil dan kini semakin berisi karena kehamilannya yang sudah terlihat, membuat Mutiara semakin cantik dan seksi saja.


Gilang mengusap perut buncit Mutiara. Tidak terasa sudah tujuh bulan lebih usia kandungannya. Fase mengidam Gilang pun juga sudah berangsur menghilang. Hanya saja, emosi Mutiara yang sering naik turun tanpa sebab yang jelas. Terkadang Gilang dibuat kualahan karenanya.


Gilang menyandarkan kepalanya di headboard tempat tidur. Pikirannya kembali melayang pada penyakit Azka. Gilang tidak tahu harus berbuat bagaimana. Ia takut istrinya akan syok, apabila mengetahui bahwa anak angkat mereka menderita sakit yang cukup serius. Gilang tidak mau Mutiara sampai kepikiran dan akhirnya akan berdampak pada kehamilannya.


Clarissa sudah melakukan serangkaian test apakah sumsum tulang belakangnya akan cocok atau tidak. Hasilnya akan segera keluar besok. Gilang harus memikirkan cara, bagaimana Mutiara dan keluarganya yang lain tidak mengetahui hal ini. Sedangkan Azka selalu menempel pada Mutiara akhir-akhir ini.


*Engghh


Mutiara menggeliat kecil lalu mengerjab-ngerjabkan kedua matanya. Gilang mengusap lembut surai Mutiara yang sedikit berantakan ketika Mutiara sudah membuka kedua matanya dengan sempurna.


"Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama, sampai-sampai kamu tertidur di sofa?" cuit Gilang kemudian. Mutiara tersenyum tipis. Menggeser tubuhnya agar lebih mendekat dengan suaminya.


"Aku kan istrimu yank, jadi sudah sewajarnya kalau aku menunggu kepulangan suamiku tercinta." Mutiara mendongak, meminta Gilang supaya mendekatkan wajahnya.


*Cup


Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Gilang. "Aku sangat mencintaimu yank," ucap Mutiara kemudian.

__ADS_1


Gilang menghujani wajah istrinya dengan kecupan lembut. Kemudiran merosot mensejajarkan diri dengan Mutiara. Keduanya saling bertatapan mesra, dan mulai menyatukan bibir masing-masing.


Setelah dirasa pasokan oksigen mulai habis, Gilang melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Mutiara. Membiarkan Mutiara meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Tidur lah lagi, ini sudah larut malam!" Gilang mengecup kening Mutiara.


"Hmmm...tapi bagaimana hasil pemeriksaan Azka, bukankah seharusnya hari sudah keluar?" tanya Mutiara.


Gilang membisu. Ini lah yang ia takutkan sejak tadi. Mutiara menanyakan hasil pemeriksaan putranya. Gilang sengaja pulang larut malam agar bisa menghindari pertanyaan istrinya tentang hasil pemeriksaan Azka. Tapi hasilnya tetap seperti ini. Mutiara terbangun dan tetap menanyakannya. "Hasil pemeriksaannya bagus, hanya saja saat ini imunitas Azka agak melemah. Jadi ia masih perlu melakukan serangkaian chek up ulang." Gilang terpaksa berbohong. Ia tidak ingin istrinya bertambah khawatir. "Maaf yank, aku terpaksa berbohong padamu? Tapi aku berjanji setelah Azka mendapat pendonor yang tepat, aku akan memberitahumu dan begitu juga dengan yang lainnya." Gilang membathin.


***


Dua buah keluarga saling bertemu, bertukar pikiran dalam membahas persiapan pernikahan. Mereka sama-sama ingin tahu sudah sejauh mana persiapan yang telah dilakukan. Keluarga dari pihak wanita, sejak awal memang menginginkan pernikahan yang mewah. Apalagi Shinta adalah putri mereka satu-satunya. Sebagai orang tua tentunya mereka menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Pak Bayu dan bu Meisya sendiri merasa tidak keberatan. Toh mereka masih sangat mampu. Jadi selama pernikahan ini bisa membuat anak-anaknya bahagia, mereka juga tidak akan keberatan.


Sedangkan Kelvin dan Shinta sebenarnya hanya menginginkan pernikahan yang sederhana. Cukup sanak keluarga yang diundang. Namun orang tua sudah memutuskan. Mereka hanya bisa menerima dengan lapang dada. Kelvin dan Shinta menyadari bahwa keputusan orang tua mereka juga demi kebaikan bersama.


Shinta menggelengkan kepala. "Sebenarnya sudah tante, tapi kata mama itu terlalu sederhana." Shinta menunduk ketika mendapatkan tatapan tajam dari mamanya.


"Begini jeng, Shinta anaknya terlalu sederhana dan nggak mau ribet. Jadi dia suka asal kalau memilih sesuatu," mama Shinta menimpali. Ia sedikit geram dengan kepolosan putri semata wayangnya.


Bu Meisya tersenyum tipis. Ia mengerti dengan situasi yang ada. Shinta memang gadis yang sederhana tapi mamanya terlalu menjujung tinggi nama sosialitas. Padahal kalau dilihat-lihat, keluarganya juga tidak terlalu kaya. Hanya saja rasa ego dari mama Shinta terlalu tinggi dan Shinta pun tak berani membantah perkataan mamanya.


"Ya sudah, nanti tante akan membawamu ke butik milik tante. Semoga disana ada gaun yang cocok dan tentunya kamu akan menyukainya." Bu Meisya memberikan solusi terbaik. Ia yakin mamanya Shinta juga tidak akan menolak, apalagi butiknya merupakan butik ternama yang ada di Jakarta.


"Terima kasih banyak tante, maaf kalau sudah merepotkan?" ucap Shinta masih menunduk karena malu dengan ulah mamanya.

__ADS_1


"Untuk apa berterima kasih, kamu itu calon menantu tante. Dan ingat jangan panggil tante lagi, tapi mami!" cicit bu Meisya.


Shinta tersenyum. Ia merasakan adanya suatu kehangatan. Lebih dari kehangatan yang ia dapat dari kedua orang tuanya. "Baik tan...ah...mami maksudnya"


"Berarti semuanya sudah clear dan jelas bukan? Mari sebaiknya kita memesan hidangan penutupnya saja!" seru pak Bayu memecah kekakuan. Meskipun sudah pernah bertemu tetap saja masih ada kecanggungan. Terutama dari papanya Shinta yang terlihat lebih pendiam dari yang lainnya.


Shinta dan Kelvin segera mengambil buku menu. Namun tanpa sengaja tangan mereka saling menyentuh satu sama lainnya. "Maaf...?" ucap Shinta menarik tangannya.


"Iya nggak apa-apa, aku juga minta maaf..." balas Kelvin malu-malu. Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala, melihat pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan masih malu-malu kucing.


Kelvin meratuki kebodohannya yang selalu nampak gugup bila bersama Shinta. Ia seakan kembali pada masa remaja yang baru merasakan getaran cinta. Begitu pula sebaliknya. Shinta pun merasa sedikit malu. Bahkan mungkin saat ini semua orang bisa melihat rona merah diwajahnya.


Dan jangan tanyakan Elvina. Dia malahan sudah terkikik geli menahan tawa karena melihat kelakuan kakaknya dan teman barunya itu.


***


Di tempat lain, Gilang merasa sedikit lega. Hasil pemeriksaan Clarissa menyatakan bahwa wanita itu bisa menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Azka. Hanya saja Gilang bingung bagaimana caranya agar bisa melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang pada Azka tanpa diketahui oleh keluarganya. Itu akan terasa sulit rasanya untuk saat ini. Apalagi Mutiara yang tidak pernah letih senantiasa memdampingi Azka dimana pun berada.


"Tuan muda, kalau boleh saya menyarankan sebaiknya biarkan saja keluarga anda mengetahuinya. Karena ini merupakan operasi dan kemungkinan memiliki sebuah resiko yang berat. Saya takut keluarga anda akan marah jika anda tidak memberitahukan hal ini pada mereka." Radit memberikan sarannya.


Gilang terdiam. Apa yang dikatakan oleh Radit ada benarnya juga. Tapi Gilang takut jika keluarganya tahu siapa yang menjadi pendonor, maka hati keluarganya akan segera luluh. Terutama istrinya. Gilang tidak mau mereka.bisa diperdaya oleh Clarissa sekali lagi.


"Kalau yang ada takutkan adalah Clarissa, kita bisa menyembunyikan identitas pendonornya tuan muda." Radit seolah mengerti kecemasan tuannya.


Gilang menantap Radit, kemudian tersenyum penuh arti. Ia setuju dengan usulan asisten pribadinya. Ia bisa tetap memberitahukan tentang pencangkokan sumsum tulang belakang pada Azka, tapi keluarganya tidak akan tahu siapa yang menjadi pendonornya.

__ADS_1


"Radit, kamu urus segalanya! Dan aku akan memberitahukan hal ini pada keluargaku!"


"Baik, tuan muda." Radit berlalu dari ruangan Gilang. Ia selalu cepat dan tanggap dalam menangani setiap perintah keluar dari mulut tuannya.


__ADS_2