Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_35 (Revisi)


__ADS_3

#PERNIKAHANBEDAUSIA


Part 35


Mutiara mengerjab-ngerjabkan kedua matanya. Ia merasa ada yang aneh dengan sekitarnya. Secara perlahan ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ini bukan kamarnya. Mutiara terperanjat, ia segera bangun dari pembaringannya.


"Dimana aku?" lirihnya.


Mutiara berusaha mengingat kejadian terakhir. Ia sedang duduk bermanja ria bersama Gilang di balcon kamar hingga larut malam.


"Kamu udah bangun yank?" cuit Gilang yang baru keluar dari kamar mandi.


Mutiara menoleh, ia pun menatap suaminya dengan tajam seakan menunggu sebuah penjelasan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Gilang menghampiri istri kecilnya, ia mengecup kilas bibir Mutiara.


"Ini surprise buat kamu yank," cicit Gilang kemudian.


"Suprise?" Mutiara menaikan alisnya.


"Hmmm...bukankah aku udah bilang kalau kita akan pergi honeymoon? Nah sekarang kita sudah berada di tempat dimana kita akan melakukan honeymoon" terang Gilang.


Mutiara membulatkan kedua matanya. Ia beranjak dari tempat tidur. Melihat ke arah luar melalui jendela. Ini bukan negera Indonesia, tapi dimana?


Gilang memeluk istrinya dari belakang, menempelkan dagunya di bahu mungil istrinya.


"Welcome to Paris...." Gilang memberikan kecupan lembut di pipi sang istri.


"Paris?" bibir Mutiara membeo tak percaya.


"Hmmmmm...Apakah kamu menyukainya?"


Gilang membalikan badan istrinya agar supaya berhadapan dengan dirinya. Mutiara masih bingung, tapi dia sangat bahagia. Akhirnya keinginannya untuk bisa berkunjung ke negara Paris bisa terkabul juga. Ia akan bisa menginjakan kakinya di menara eiffel bersama dengan orang yang ia cintai.


"Terima kasih ya yank, aku suka banget sama kejutannya. Kamu memang suami yang paling best buat aku," cuit Mutiara.


Ia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


Mutiara sudah tidak lagi mempermasalahkan bagaimana caranya Gilang bisa membawanya ke negara Paris. Ia tahu bahwa suaminya bisa melakukan apapun dengan mudah.


"Apa kamu tidak ingin memberikan imbalan khusus untuk suaminya karena sudah berhasil membawamu pergi ke negara impianmu?" ucap Gilang dengan smirk yang mengandung arti.


Mutiara tersenyum malu. Ia paham apa yang diinginkan oleh sang suami saat ini. Mutiara sedikit menjinjitkan kaki kemudian mengecup singkat bibir suaminya.


Gilang tersenyum puas, ia menarik tengkuk Mutiara untuk memperdalam ****** mereka. Ia segera mengangkat dan membawa sang istri kembali ke tempat tidur. Keduanya melakukan olah raga pagi hingga mereka terkulai lemas karena merasa lelah. Gilang membaringkan dirinya disamping sang istri. Peluh keringat membasahi seluruh badannya dengan nafas yang masih tak beraturan. Gilang menarik selimut memutupi tubuh mereka yang polos. Lagi-lagi Mutiara membalikan badannya, memunggungi sang suami hanya untuk sekedar menghilangkan rasa malunya. Gilang memeluk Mutiara dari belakang, ia mengecup bahu istrinya berulang-ulang.


"Makasih banyak ya yank," cuit Gilang


Mutiara mengangguk. Berusaha menetralkan degub jantungnya yang masih saja tidak bisa ia kontrol saat bercinta dengan sang suami.


*****


Usai membersihkan diri, Gilang dan Mutiara menghabiskan waktu di balcon hotel sambil menyantap sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Gilang tahu jika istrinya memiliki impian kecil jika mempunyai uang setelah menikah. Ia ingin menjajakan diri bersama orang tercinta ke negara paris yang terkenal sebagai kota paling romantis di dunia. Itu sebabnya Gilang sengaja memilih hotel Pullman Paris Tour Eiffel sebagai tempat untuk mereka menginap selama honeymoon. Selain itu, Gilang juga memilih kamar yang menghadap menara Eiffel untuk manambah suasana romantis mereka.


"Yank, hari ini rencana kita mau kemana?" cuit Mutiara penasaran.

__ADS_1


"Yang jelas kita akan berkunjung ke tempat-tempat yang indah tentunya. Dan kamu pasti akan sangat menyukainya. Karena ada banyak kejutan yang menanti untukmu," terang Gilang.


"Oh...Ya...Apa itu?" Mutiara semakin antusias.


"Kalau dikasih tahu berarti bukan kejutan lagi, yank...." ujar Gilang.


Mutiara menggaruk kepala. Ia merasa sangat senang sampai-sampai tidak sabar untuk mengetahui kejutan apalagi yang akan ia terima dari suaminya.


"Ternyata suamiku romantis sekali," bathin Mutiara senyum-senyum sendiri.


Mutiara langsung menghabiskan makanannya kemudian meminum susu coklat yang masih terasa hangat. Sedangkan Gilang sendiri masih sibuk dengan laptop yang dibawanya dari rumah sambil sesekali menyesap kopi miliknya.


"Yank, kamu lagi apa sih? Katanya liburan tapi masih aja sibuk sama laptop," protes Mutiara mulai mamayunkan bibirnya.


Gilang menghela nafas kecil. Ia segera menutup laptopnya. Takut kalau sang istri ngambek lagi. Bisa-bisa honeymoon yang sudah tersusun rapi jadi berantakan. Gilang berdiri, ia menghampiri istri kecilnya.


"Maaf yank, aku hanya ngecek email laporan keuangan saja kok. Besokkan para karyawan gajian. Jadi mau tak mau aku harus cek sekarang juga agar mereka semua tidak sampai telat dalam menerima uang gaji mereka," terang Gilang penuh kelembutan. Ia duduk disamping istrinya.


Mutiara terdiam saat mendengar gaji karyawan disebutkan oleh sang suami. Ia merasa sangat tidak enak sudah mengganggu pekerjaan suaminya. Biar bagaimanapun juga ia dan ayahnya pernah berada diposisi para karyawan tersebut. Hidup bergantung dari hasil gaji yang diperoleh sang ayah sebagai seorang sopir.


"Emmm...maaf...yank...aku tidak tahu! Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu lagi. Aku tidak akan mengganggumu," cuit Mutiara.


Gilang mengerutkan kening. Heran melihat tingkah istrinya yang mendadak menjadi mellow.


"Kamu kenapa yank, kok jadi mellow begini?" tanya Gilang


Mutiara menggelengkan kepala.


"Aku hanya sedang mengingat ayah saja. Dulu kami juga hidup bergantung dari gaji ayah," lirih Mutiara.


Gilang mengangkat tubuh kecil Mutiara agar duduk dipangkuannya. Ia mendekap erat sang istri dan menyalurkan sedikit ketenangan untuknya. Gilang berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan Mutiara hidup dalam kesengsaraan untuk kesekian kalinya. Ia akan memberikan kebahagiaan bagi sang istri.


Hari ini Gilang mengajak istrinya pergi ke Le Bone Marche, departement store tertua di kota paris. Di dalamnya terdapat toko-toko branded seperti LV, Chanel, Dior dan lainnya.


Mutiara hanya bisa melongo, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Sementara Gilang sudah memintanya untuk membeli apapun yang ia suka.


"Yank, aku bingung harus beli apa? Ini kan barang-barang mahal?" cuit Mutiara.


"Kalau begitu kita bisa beli semuanya," jawab Gilang dengan enteng.


"Itu namanya pemborosan yank, lagi pula aku tidak pernah memakai barang-barang seperti itu! Yang dibeliin mami aja aku masih belum memakainya," cicit Mutiara.


"Kalau buat istri, tidak ada kata pemborosan buat aku yank. Kamu kan tahu itu?" tukas Gilang.


Gaya angkuh dan sombongnya mulai keluar lagi.


Mutiara memutar bola matanya dengan jengah. Percuma juga ia berdebat dengan sang suami. Ia lebih memilih untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Nanti jika ada yang cocok barulah dia akan membelinya.


Gilang hanya tersenyum. Ia tahu bahwa istrinya bukanlah tipe wanita yang menyukai barang-barang branded seperti wanita pada umumnya. Tapi sebagai suami, Gilang wajib mengenalkan pada istrinya tentang barang-barang tersebut. Agar suatu saat nanti jika ada pertemuan besar antar keluarga dengan para kolega perusahaan se-Asia, istrinya tidak akan minder.


"Kenapa? Capek?" tanya Gilang saat istrinya duduk di sebuah bangku yang terletak pada salah satu departement store.


Mutiara hanya mengangguk kecil.


"Tapi kita kan belum membeli apapun juga," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Ya sudah kita istirahat saja dulu disini! Nanti baru kita lanjutin kelilingnya, sekalian cari oleh-oleh untuk orang rumah" Gilang mengusap lembut puncak rambut istrinya.


Mutiara hanya menurut saja. Saking asyiknya berkeliling mengagumi setiap keindahan dari barang-barang branded. Ia bahkan sampai lupa dengan oleh-oleh untuk orang rumah dan teman-temannya.


Pukul 17.00


Gilang dan Mutiara sudah kembali ke hotel. Mereka ingin menghilangkan rasa penat sejenak sebelum melakukan dinner bersama. Gilang memaksa Mutiara untuk membeli ini dan itu sehingga mereka berakhir dengan menenteng begitu banyak barang bawaan. Sebagian untuk oleh-oleh dan sebagian untuk mereka sendiri.


Mutiara menaruh barang-barang tersebut di sofa kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Gilang hanya tersenyum saja. Ia masih teringat dengan perdebatan kecil mereka saat membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Sangat lucu.


"Ngapain senyum-senyum begitu? Awas ya kalau mikir yang aneh-aneh! Aku merasa sangat lelah gara-gara ulahmu!" cuit Mutiara saat menyadari bahwa sang suami tengah memperhatikan dirinya.


"Mikir yang aneh-aneh? Maksudnya?" Gilang memicingkan alisnya.


"Ya...yang aneh-aneh. Kamu kan hobi banget dengan hal yang berbau mesum," terang Mutiara.


"Aku nggak mikir ke situ lho yang, atau jangan-jangan kamu sendiri yang lagi mikir enggak-enggak?" ucap Gilang menaik-turunkan alisnya.


"Tau akh..." Mutiara merasa malu. Ia beranjak dari tempat tidur kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Gilang hanya terkekeh kecil. Ia semakin gemas dengan kelakuan istrinya.


Pukul 18.15


Gilang sudah siap dengan setelan kemeja putih dan jas berwarna hitam. Sedangkan Mutiara tengah memakai drees selutut berwarna merah jambu tanpa lengan. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai panjang. Mereka tengah melakukan dinner romantis di Jules Verne.


Jules Verne merupakan restorant prancis yang modern dan mewah berada di atas ketinggian 125 meter tepatnya di menara eiffel. Restorant tersebut termasuk restorant eksklusif dengan adanya penggunaan lift khusus bagi para pelanggan restorant yang berada di pilar selatan menara Eiffel.


Sebelum jamuan dinner disiapkan Gilang menepukan tangannya dua kali hingga muncul beberapa pemain violinist yang memainkan lagu romantis. Gilang mengulurkan tangan meminta sang istri untuk berdansa dengannya. Mutiara merasa sangat gugup, apalagi ditambah dengan adanya tepuk tangan dari para pengunjung restorant lainnya.


"Yank, aku kan nggak bisa dansa?" cuit Mutiara pelan, takut ada yang mendengar.


"Tenanglah! Ada aku bersamamu yank," jawab Gilang.


Mutiara menerima uluran tangan suaminya. Awalnya terasa sangat kaku karena Mutiara hampir tidak mampu mengimbangi langkah suaminya. Namun Gilang dengan telatennya tetap bersabar serta mengikuti langkah kecil dari sang istri. Mereka mulai berdansa dengan sangat indah. Hanya ada dua kata untuk mereka saat ini. Romantis dan serasi.


Gilang menghentikan dansa mereka. Ia merogoh sesuatu dari balik jasnya. Sebuah kotak persegi panjang berwarna merah.


"Ini untukmu yank" Gilang memberikan kotak tersebut pada istrinya.


"Ini apa yank?" cuit Mutiara.


"Bukalah!"


Mutiara membuka kota tersebut. Mulutnya menganga tak percaya. Sebuah kalung dengan liontin kecil.


"Ini untukku yank?" cuit Mutiara lagi.


"Iya yank ini untukmu, apa kamu suka?" jawab Gilang. Mutiara mengangguk.


"Sini aku pakaiin!" pinta Gilang mengambil kalung tersebut dari kotak dan memakaikannya pada leher sang istri.


Mutiara sangat bahagia. Ia sangat bersyukur memiliki Gilang. Pria itu telah memberikan banyak warna dalam kehidupannya.


"Makasih ya, yank?" Mutiara mencium pipi suaminya.

__ADS_1


"Aku bahagia jika kamu juga bahagia, sayangku." Gilang memeluk erat Mutiara.


"Maaf yank, aku harus melakukan hal ini. Hanya melalui kalung ini aku bisa tetap menjagamu dari jauh," ujar Gilang dalam hati.


__ADS_2