
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 110
Mutiara hanya duduk termenung di kamar dengan pintu yang tertutup rapat. Telinganya seolah menuli, mengabaikan jerit tangis dari anak-anaknya. Hatinya semakin kacau akibat sikap acuh yang ia dapat dari suaminya. Mutiara mulai berpikir yang tidak-tidak, ia takut jika Gilang akan segera meninggalkan nya dan anak-anak. Mutiara tidak ingin menjadi janda dengan empat bayi kembar sedangkan usianya masih sangat muda.
Tok...tok...tok...
“Ommy...ommy...” Terdengar suara Azka terus berteriak memanggilnya.
Mutiara tak menggubris seolah memang tidak ada suara apapun disana. Pikirannya kosong, mengembara entah kemana. Hanya ada rasa takut yang menyelimuti hatinya saat ini.
Entahlah Mutiara sendiri juga tidak tahu mengapa bisa begitu.
Hatinya menjadi sangat sensitif semenjak hamil dan melahirkan anak-anaknya.
Mutiara saat ini jauh berbeda dari Mutiara yang dulu. Kuat dan tegar dalam menjalani setiap masalah. Selalu bersikap tenang serta dewasa dalam menyingkapi suatu keadaan. Mutiara yang sekarang lebih suka berpikiran negatif ketimbang positif nya.
Tok...tok...tok...
“Nyonya Muda...Nyonya Muda...tolong buka pintunya! Anak-anak sangat membutuhkan Nyonya. Saya mohon tolong buka pintunya, Nyonya!” seru Laras secara berulang. Namun hasilnya tetap nihil.
Azka mulai menangis. Ia sebenarnya tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Hanya saja ia tahu mommy nya sedang bersedih, itu sebabnya tidak mau bertemu dengan siapa pun termasuk dirinya.
Laras berjongkok. Mengusap pelan punggung Azka, berharap anak itu mau berhenti menangis.
“Maafkan bik Laras ya, Den? Ini semua salah bibik” ujar Laras kembali menyalahkan dirinya sendiri.
“Ada apa ini?”
Laras mendongak. Buru-buru ia menyeka air mata yang sempat berjatuhan membasahi pipinya. Dada yang tadinya terasa sesak akibat rasa cemas kini berganti menjadi sebuah perasaan lega.
“Tu-tu-an...”
“Laras, ada apa ini? Kenapa anak-anak menangis dan kamu malah disini bersama Azka?” tanya Gilang dengan nada yang cukup tinggi.
Laras berdiri dan terdiam, apalagi saat merasakan tangan Azka yang mulai menggenggam erat tangannya. Sepertinya bocah itu merasa takut dengan nada suara Daddy nya yang agak tinggi.
Gilang pun bisa melihatnya. Ia kembali merutuki akan kebodohannya yang telah membuat putra sulungnya merasa ketakutan.
Gilang melangkah mendekati Azka lalu menggendongnya.
“Maafkan Daddy ya sayang, sudah membuatmu takut?” ujarnya kemudian.
__ADS_1
Azka yang awalnya sudah terdiam kini kembali menangis seolah ingin meluapkan semua rasa sedihnya.
“Ommy...” ucapnya menunjuk kamar mommy nya.
“Azka mau sama mommy?” tanya Gilang.
“Ommy...”
Gilang melangkah mendekat ke arah pintu. Lalu diputarnya gagang pintu supaya pintu terbuka. Namun sayangnya tidak bisa.
Gilang mengetuk pintu dan mengetuk lagi agar orang yang berada di dalamnya mau membukakan pintu. Tapi hasilnya sama. Pintu terkunci dan istrinya seakan seakan enggan untuk membuka pintu.
Gilang menoleh pada Laras, berharap wanita itu mau menjelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Meskipun sebenarnya ia sudah tahu, tetap saja ia ingin mendengar langsung dari mulut asisten pribadi istrinya.
“Nyonya muda memang sudah mengurung diri sejak beberapa hari ini, Tuan. Beliau bahkan sampai mengabaikan anak-anak yang sedang menangis tiada hentinya.” Laras berusaha menjelaskan semuanya.
Gilang mematung tak percaya. Meskipun ia sudah mendengarkannya dari Heru, sang sopir pribadi. Tetap saja ia merasa sangat syok. Sesedih-sedihnya Mutiara, dia tidak akan pernah sampai hati mengabaikan anak-anaknya. Tapi
Tok...tok...tok...
Tok...tok...tok...
“Sayang, tolong buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu!” Gilang berusaha memanggil istrinya, berharap mau membukakan pintu untuknya.
Azka kembali menangis kencang lantaran mommy nya tak kunjung keluar dari kamar. Gilang nampak frustasi. Rasa bersalah karena telah mengabaikan sang istri kini serempak memasuki hatinya. Ia sangat paham kenapa Mutiara sampai berlaku seperti ini. Dokter telah menyampaikan besar kemungkinan istrinya akan mengalami sindrom baby blouse karena usai melahirkan anak kembarnya diusia yang terbilang masih sangat muda. Tak sepatutnya Gilang mengabaikan istrinya. Mutiara sangat membutuhkan segala bentuk dukungan serta perhatian yang cukup darinya.
“Cup...cup...cup... Azka anak pintar, jangan menangis lagi ya! Sebentar lagi mommy pasti akan membuka pintunya. Sekarang Azka ikut bik Laras dulu ya!?” Gilang berusaha menenangkan putra sulungnya. Ia menyerahkan Azka pada Laras, meminta wanita itu agar membawa putranya menjauh dari tempat tersebut.
Setelah Laras membawa Azka pergi, Gilang langsung mendobrak pintu kamarnya. Secara berulang kali Gilang berusaha menendang dan menubrukan badannya ke pintu hingga akhirnya pintu bisa terbuka dengan sempurna.
Hati Gilang merasa sangat sakit saat melihat bagaimana kondisi istrinya yang tak terawat seperti biasanya. Tampak awut-awutan dan tatapannya begitu kosong.
Gilang tak menyangka jika tindakannya selama sepekan belakangan ini sangat berdampak buruk pada mental istrinya.
Gilang melangkah mendekati Mutiara. Duduk bersimpuh di samping tempat tidur karena posisi Mutiara memang saat ini sedang duduk bersandar di tepian tempat tidurnya.
“Sayang...” panggil Gilang seraya meraih dan menggenggam jemari istrinya.
“Sayang maafkan aku karena sudah mengabaikanmu selama sepekan ini? Sungguh aku tidak berniat melakukan semua ini.” Gilang berusaha menjelaskan keadaan yang sesungguhnya.
“Papi mendadak ingin pensiun dari pekerjaan kantor dan Kelvin juga mengajukan cuti secara tiba-tiba, sedangkan Bayu pun sudah aku tugaskan untuk menangani sebuah masalah. Kerjaan di kantor sangat banyak dan mau tak mau aku harus langsung turun tangan untuk menangani semuanya sendirian. Itu sebabnya aku harus sering lembur, berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan pulang kantor larut malam bahkan sampai membawa pekerjaan kantor ke rumah. Sungguh aku tidak ada niat mengabaikanmu dan juga anak-anak.” Gilang mengusap lembut jemari Mutiara, berharap istrinya itu mau merespon akan penjelasan darinya.
__ADS_1
Benar saja Mutiara menoleh.
“Jadi kak Gilang nggak marah sama aku soal Sri?” tanya Mutiara
Gilang menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mana mungkin ia marah kepada istri tercintanya, sedangkan jelas itu bukan lah kesalahannya. Sri nya saja yang tidak tahu diri. Sudah diberikan pekerjaan tapi malah ngelunjak. Dengan sengaja menggoda suami dari nyonya nya sendiri.
“Sungguh?” Mutiara bertanya lagi seolah ingin memastikan suaminya tak berbohong.
“Sungguh aku tidak bohong. Lagian mana mungkin aku bisa marah sama istriku yang cantik ini, bisa-bisa aku sendiri yang merugi nanti.” Gilang menaik-turunkan kedua alis mata, menggoda sang istri supaya mau kembali tersenyum. Hatinya begitu pedih ketika melihat ada jejak air mata di wajah istrinya. Gilang benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena sudah menjadi sumber kesedihan dari wanita yang sangat ia cintai.
“Maaf...?” ucap Mutiara dengan nada lirih.
“Maaf karena aku terlalu perasa dan kekanak-kanakan. Sebagai seorang istri dari Alvian Gilang Dirgantara seharusnya aku bisa lebih mengerti akan kesibukanmu tapi...”
“Stttsss...” Gilang menaruh jari telunjuknya tepat di bibir mungil Mutiara. Tidak lagi membiarkan sang istri untuk melanjutkan perkataannya.
“Tidak ada yang salah dengan sikap mu sayang, hanya saja keadaan yang membuat semua menjadi seperti ini.” Gilang tidak mau apabila istrinya diliputi rasa bersalah. Gilang tahu jika hati sang istri begitu sensitif saat ini, dan Gilang harus bisa memahami hal tersebut. Mutiara hanya butuh perhatian serta dukungan lebih agar bisa merasa nyaman dengan perubahan yang ada saat ini.
“Terima kasih kak Gilang, aku sangat bersyukur karena telah memiliki suami sepertimu.” Mutiara merosot turun dari tempat tidur. Duduk mensejajari suaminya kemudian berhambur ke dalam pelukannya yang begitu hangat.
Mutiara sangat merindukan Gilang. Sepekan tanpa sang suami terasa begitu hampa baginya. Tidak ada keceriaan ataupun kebahagiaan dalam jiwanya. Hanya rasa takut akan ditinggalkan yang selalu dirasa dalam relung hatinya.
“Sudah, jangan menangis lagi! Kita sudah menjadi orang tua sekarang, apa yang akan dikatakan oleh mereka saat mengetahui bahwa mommy nya masih suka menangis seperti ini?” ucap Gilang ingin sekali menggoda istrinya. Ia pun merasakan hal yang sama. Rindu akan kebersamaan mereka. Bercanda serta tertawa bersama.
“Kak Gilang...” Mutiara memukul pelan dada suaminya. Merasa malu dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.
Maafkan Author yang tak pernah up karena author sendiri masih blank mau dibawa kemana cerita ini. mendadak semuanya ambyar begitu saja
semoga setelah ini bisa lancar kembali🙏🙏
__ADS_1