
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 66
***
Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan istrinya. Rasa cemas yang tadinya membelenggu hatinya kini berubah menjadi rindu. Seakan Gilang sudah lama tidak melihat wajah cantik dari istrinya itu.
Gilang ingin cepat tiba di rumah kedua orang tuanya. Ia harus segera menjelaskan pokok permasalahan yang sebenarnya. Gilang tidak mau jika kemarahan akan membuat Mutiara menjauh darinya. Gilang tidak sanggup harus menjalani hari-hari tanpa istri kecilnya. Mutiara sudah menjadi narkoba untuknya. Sehari tidak melihat, hatinya akan gelisah tak menentu.
Mobil Gilang sudah memasuki rumah besar Dirgantara. Ia meminta satpam agar memasukan mobilnya ke dalam garasi. Gilang merasa bahwa malam ini ia akan menginap di rumah orang tuanya.
*Ting Tong...
Gilang menekan bel rumah secara beruntun. Tapi tidak ada yang membukakan pintu. Gilang akan menggedornya, namun tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya.
"Dasar pelayan ceroboh, sudah larut malam begini kok pintu belum dikunci!" gerutunya. Gilang masuk ke dalam rumah. Semua tampak gelap tanpa ada penerangan sedikitpun.
Gilang semakin mengernyitkan dahi. Pintu belum terkunci, akan tetapi ruangan sudah gelap. Masak iya pelayan lupa mengunci pintu. Gilang melangkahkan kaki perlahan, mencari saklar untuk menyalakan lampu.
*Ceklek...
*Duor...duor...duor...
"Happy birthday..."
Gilang hanya mematung tak percaya. Kemudian menatap semua orang satu persatu dan tersenyum renyah karena perasaan haru. Apalagi setelah melihat wanita yang dicemaskan sejak siang tadi ada bersama diantara mereka dengan membawa sebuah kue berucapkan happy birthday suamiku tercinta. Gilang menghampiri Mutiara, ia langsung memeluk erat istrinya. "Happy birthday ya yank," ucap Mutiara.
Gilang melepaskan pelukannya. "Kamu enggak marah yank?" tanya nya kemudian.
Mutiara menggelengkan kepala. "Aku sangat percaya dengan cinta suamiku, jadi untuk apa aku marah hanya karena perempuan ondel-ondel itu." Mutiara tersenyum, mengusap rahang Gilang.
Gilang kembali memeluk Mutiara. Ia sangat bahagia karenanya. "Makasih ya yang?" ucapnya.
*Eheemmm...
Elvina berdehem. "Kita semua ada di sini lohh..." sindirnya.
Gilang melepas pelukannya. "Berisikk" ujarnya kemudian.
Elvina melotot, merasa kesal dengan kakaknya yang satu ini. Gilang tidak pernah berbicara lembut sedikit pun kepadanya, namun dengan istrinya...Gilang selalu menunjukan sikap yang lembut dan manis.
"Dasar bucin! Baru ditinggal beberapa jam saja oleh Mutiara, sudah kalang kabut kanyak orang gila." Elvina membalas perkataan kakaknya.
"Elo..."
"Eheemmm..." kali ini pak Bayu yang berdehem. Gilang dan Elvina sama-sama meringis kecil melihat papinya menatap mereka sambil bersidekap tangan.
"Ini kejutan ulang tahun apa berantem?" tegur pak Bayu.
Gilang menggaruk tengkuknya. Ia bahkan tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sudah lama Gilang tidak pernah merayakan hari jadinya itu.
"Selamat ulang tahun ya Gilang. Mami doakan semoga kamu selalu berbahagia bersama Mutiara dan anak-anak kalian." bu Meisya memeluk Gilang dengan penuh kasih. Ia bahagia karena pada akhirnya putra sulungnya telah kembali.
"Makasih ya Mi," ucap Gilang setelah bu Meisya melepas pelukannya.
"Happy birthday ya kak?" Kelvin juga memberikan ucapannya.
"Makasih ya Vin," balas Gilang. Keduanya saling berpelukan.
__ADS_1
"Happy birthday ya kakakku sayang, semoga menjadi orang yang lebih baik dan tentunya menjadi orang yang lebih care terhadap keluarganya." Elvina menitikan air matanya. Ia masih tidak bisa mempercayai jika saat ini kakaknya telah kembali menjadi seperti dulu.
Gilang mengusap air mata Elvina. "Maaf karena kakak sudah membuatmu sedih dan khawatir selama ini?" ucapnya kemudian. Elvina mengangguk. Ia menghambur ke dalam dekapan hangat sang kakak.
Malam yang penuh keharuan. Gilang tidak menyangka jika hidupnya akan kembali bermakna seperti dulu, sebelum ia mengenal cinta yang salah.
Gilang bahagia karena memiliki Mutiara sebagai istrinya. Ia menyesal karena pernah menentang perjodohan mereka dulu. Untung kedua orang tuanya sangat gigih. Mereka memiliki banyak cara supaya ia bersedia menerima perjodohan itu. Sekarang Gilang hidup bahagia bersama Mutiara dan sebentar lagi akan ada anggota baru dalam kehidupan rumah tangganya.
Mutiara tersenyum kecil, merasa senang karena pesta kejuatan yang ia berikan untuk suaminya berhasil. Mutiara juga sangat berterima kasih pada orang-orang yang sudah membantunya. Terutama Heru dan Radit. Kalau bukan atas bantuan mereka, mungkin Gilang akan cepat menemukan keberadaannya dan pastinya pesta kejutan untuk Gilang pun tidak akan pernah terwujud.
#Flash back
Mutiara keluar dari ruangan Gilang dengan derai air mata. Ia percaya sepenuhnya pada suaminya. Gilang tidak akan pernah mungkin mengkhianatinya. Akan tetapi tetap saja hatinya sakit melihat ada wanita lain memeluk suaminya. Mutiara terus saja melangkah dengan cepat. Ia tidak perduli dengan semua karyawan yang menantap heran kepadanya.
*BUUGGHH
Mutiara menabrak seseorang dengan badan yang cukup kekar. Hampir saja ia terjatuh kalau orang tersebut tidak menangkapnya.
"Nona muda baik-baik saja?" tanya orang tersebut. Mutiara mendongak lalu tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja pak Radit, dan maaf karena saya jalannya kurang hati-hati?" balas Mutiara.
"Nona menangis karena melihat wanita itu ada di ruangan tuan muda?" Mutiara menatap heran kepada Radit. Bagaimana bisa pak Radit mengetahuinya, sedang dia baru saja dari luar.
"Nona muda tidak usah khawatir! Wanita itu memang sedang mengejar tuan, tapi percayalah kalau tuan muda tidak akan tergoda!" Radit berusaha menyakinkan Mutiara.
Mutiara kembali tersenyum tipis. "Aku percaya kok sama Gilang, tadi aku hanya berpura-pura marah saja padanya."
Radit mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan maksud nona mudanya. "Nanti saya jelaskan, tapi sekarang tolong bantu saya untuk bersembunyi dulu dari suami saya!" pinta Mutiara. Radit memgangguk. Ia mengajak Mutiara ke suatu tempat dimana Gilang paling tidak disukai oleh Gilang. Yakni kantin para karyawan.
"Pak Radit yakin kalau Gilang tidak akan datang kemari?" Mutiara ingin memastikan bahwa tempat bersembunyian nya akan aman dari jangkuan Gilang.
"Nona muda tenang saja, tuan muda paling benci dengan tempat ini!" jawab Radit.
"Kok bisa?" Mutiara penasaran.
"Seperti yang nona ketahui selain tuan muda suka pilih-pilih tempat untuk makan, dia paling benci lihat wanita yang suka bergosip. Kata tuan muda itu tidak ada faedahnya," jelas Radit. Mutiara mengangguk pelan. Ia paham dengan tabiat suaminya. Selain arogant, dia juga termasuk pria yang sombong dan angkuh. Bagi Gilang menjaga image di hadapan public itu sangat penting.
"Pak Radit mau kan membantu saya? Besok adalah ulang tahun mas Gilang, saya ingin membuat pesta kejutan untuknya pada tengah malam nanti?" Mutiara meminta bantuan pada pak Radit.
Radit membulatkan kedua matanya. Ia tidak sadar jika besok adalah ulang tahun bosnya. Tapi dia juga tidak bersalah. Selama bekerja dengan bosnya itu, Radit tidak pernah melihat Gilang merayakan hari jadinya.
"Saya pasti akan membantu nona, tapi apa yang harus saya lakukan?" tanya Radit.
"Pak Radit tidak perlu melakukan apa-apa, cukup bantu saya agar Gilang tidak bisa menemukan saya hingga tengah malam nanti! Sisanya serahin pada saya," jawab Mutiara merasa senang.
Radit manggut-manggut. Ia menyanggupi permintaan Mutiara. "Maaf nona muda...saran saya sebaiknya nona lepaskan dulu kalung liontin yang nona pakai itu!?" ujar Radit.
Mutiara menaikan sebelah alisnya. Ia tidak mengerti dengan permintaan pak Radit.
"Begini nona muda, kalung liontin yang nona pakai itu sudah terpasang GPS. Jadi selama nona masih mengenakan kalung liontin tersebut, pasti tuan muda akan dapat menemukan keberadaan nona dengan mudah." Radit menjelaskan.
"Apaa..?" Mutiara terkejut. Ia tidak tahu bahwa suaminya sengaja memasang alat GPS pada kalung liontin nya. Pantas saja Gilang selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak lupa mengenakan kalung liontinnya kemanapun ia pergi. Mutiara melepas kalung liontinnya dan menyerahkannya pada pak Radit.
"Baiklah kalau begitu saya akan pergi ke kampus Elvina, karena dia yang akan membantu saya menyiapkan segalanya." Mutiara pamit.
"Nona muda, akan lebih aman jika nona diantarkan oleh anak buah saya." Radit memberikan saran pada Mutiara. Ia juga tidak ingin mengambil resiko. Saat ini ada berbagai pihak tengah mengincar Mutiara untuk menjatuhkan Gilang.
"Baiklah, aku menurut asal itu demi kebaikan." Mutiara tersenyum lalu melangkah meninggalkan Radit.
Radit meraih ponselnya, menghubungi sebagian anak buahnya. Agar mengawal istri dari tuan muda nya kemanapun ia akan pergi.
__ADS_1
Setibanya di kampus Dirgantara, Mutiara disambut hangat oleh Elvina. Mereka langsung menuju kantin, karena di sana sudah ada Arif sedang menunggu. Mutiara merasa sedikit canggung. Banyak mata melihat ke arahnya. Apalagi setelah ia mendengar beberapa orang berbisik-bisik tentang dirinya. Mutiara hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Elvina...Mutiara..." seru Arif.
Elvina dan Mutiara tersenyum. Mereka berdua mempercepat langkahnya, menghampiri Arif.
"Hai Rif, apa kabar?" sapa Mutiara.
"Gue baik kok, elo sendiri gimana?" Arif bertanya balik.
"Tentunya dia baik-baik saja! Kalau tidak, mana mungkin si pria bucin itu akan membiarkannya pergi?" sela Elvina.
Mutiara tersenyum. Elvina tidak pernah berubah. Dia memang suka seenaknya kalau memberikan julukan untuk Gilang.
"Vina, penampilanku aneh ya? Kok orang-orang ngelihatin aku sampai segitunya?" Mutiara semakin tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian.
Elvina melirik Arif, kemudian memperhatikan Mutiara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada yang aneh. Malah Mutiara terlihat cantik dengan balutan dress berwarna merah yang panjangnya selutut tanpa lengan. Rambutnya yang panjang hanya dikuncir kuda. Sederhana tapi cantik.
"Enggak ada yang aneh sayangku, elo terlihat sangat cantik malahan. Mungkin mereka kagum aja sama kecantikan elo?" jawab Elvina.
Mutiara mengangguk pelan. Berusaha untuk bersikap cuek.
"Ehh...gadis itu emang cantik, tapi sayangnya perutnya agak buncit. Apa jangan-jangan dia hamil?" Mutiara mulai mendengar bisikan-bisikan dari beberapa perempuan yang duduk di dekat mereka.
"Iya, kanyaknya dia lagi hamil. Tapikan umurnya masih muda, jangan-jangan hamil di luar nikah?"
"Bisa jadi, anak sekarang kan kalau pacaran suka kelewat batas."
Elvina yang mendengar menjadi geram. Hampir saja ia pergi melabrak mereka kalau tidak dihalangi Mutiara.
Mutiara tidak ingin membuat masalah. Dia jauh-jauh datang ke kampus Dirgantara hanya untuk bertemu Elvina dan membahas rencana pesta kejutan untuk suaminya.
Mutiara, Elvina dan Arif mulai membahas seperti apa pesta kejutan yang akan diberikan pada Gilang nantinya. Mereka begitu berantusias sekali. Mereka ingin membuat pesta kecil tapi berkesan untuk Gilang.
Selama ini Gilang selalu membuat Mutiara bahagia dan kali ini Mutiara juga ingin melakukan sesuatu bagi suaminya.
"Ok, kalau begitu kita sepakat akan memberikan pesta kejutannya di rumah mami saja." Sekali lagi Elvina meminta persetujuan dari Mutiara.
Mutiara mengangguk, ia setuju jika pesta kejutannya dilakukan di rumah mertuanya. Selain banyak orang, kemungkinan Gilang curiga sangat tipis. Mutiara sudah meminta ibu Mertuanya mendatangi suaminya, berpura-pura marah karena sudah membuatnya menghilang.
Sementara itu, Radit sudah meminta Heru mengantarkan Azka pulang. Tak lupa ia meminta Heru meletakan kalung liontin milik Mutiara di kamar mandi. Radit yakin pasti Gilang akan meminta dirinya melacak keberadaan Mutiara.
Sedangkan ia sendiri masih berpura-pura mengikuti Gilang mencari Mutiara di berbagai tempat. Secara diam-diam Radit juga melakukan chat rahasia dengan Mutiara untuk mengetahui seperti apa perkembangan misi mereka.
Di rumah besar Dirgantara, Mutiara yang dibantu oleh semua orang mulai menghias rumah sedemikian rupa. Tak lupa ia pun membuat kue ulang tahun dengan tangannya sendiri karena Gilang sangat menyukai apapun yang ia buat.
Setelah dirasa selesai dan waktu hampir menunjukan tengah malam, Mutiara kembali menghubungi Radit. Ia meminta Radit agar membawa Gilang ke rumah kedua orang tuanya.
🍁🍁🍁🍁
Untuk para reader, maaf ya kalau up nya lama.
Nulis itu butuh ketenangan dan mood yang bagus.
Seperti yang pernah saya sampaikan kalau saya baru saja memiliki bayi yang baru lahir dan sekarang umurnya baru 3 bulan.
Saya nulis itu dicicil, kalau pas nemu alur yang pas dan bayi tidur maka saya lanjutkan nulis.
Tidak mungkin kan saya terus melanjutkan nulis sementara bayi saya nangis.
__ADS_1
Tolong dimaklumi ya, saya pasti akan selesaikan ceritanya. Dan untuk up nya saya usahakan seminggu sekali
Terima kasih karena sudah mau setia jadi pembaca novel saya😘😘🙏🙏