Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_53


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 53


***


Setibanya di restaurant, Gilang langsung menerobos masuk ke dalam toilet wanita. Di sana sudah ada Radit dan beberapa anak buahnya. Saat diperjalanan, Gilang memang sudah meminta Radit datang ke Restaurant tersebut.


"Bagaimana?" tanya Gilang.


"Maaf tuan muda.. nona muda sudah tidak ada di dalam," jawab Radit.


"Apa kalian sudah memeriksanya dengan teliti?" Gilang ingin memastikan. Hatinya mulai gusar.


"Sudah, tuan muda! Tadi juga ada seorang petugas kebersihan yang menemukan nona muda dalam keadaan pingsan. Akan tetapi setelah sadar, nona muda langsung pergi meninggalkan restaurant ini." Radit menerangkan hasil penyelidikannya.


Gilang mengambil ponselnya. Ia menghubungi rumah. Mungkin saja istrinya sudah pulang ke rumah saat ia dan Heru menuju restaurant.


*Akhhh...


Gilang melempar ponselnya ke lantai hingga hancur tak beraturan. Ia mengacak rambutnya karena frustasi. Mutiara belum ada kembali ke rumah. Apa yang sudah dilakukan oleh Clarissa pada istrinya.


Gilang bergegas keluar dari restaurant. Ia akan mendatangi rumah kedua orang tuanya. Gilang harus bisa membuat Clarissa mengatakan dimana istrinya berada. Gilang tidak perduli dengan kemarahan kedua orang tuanya nanti.


"Tuan muda, tunggu!" seru Radit


"Ada apa??"


"Tuan muda mau kemana?" tanya Radit.


"Jelas saja aku akan pulang ke rumah orang tuaku dan membuat wanita j***** itu bicara," jawab Gilang.


"Sebaiknya jangan tuan muda, biarkan wanita itu merasa senang karena mendapat pembelaan dari kedua orang tua tuan muda." Radit memberikan sarannya.


"Apa?? Kamu sudah gila ya?!" bentak Gilang.


"Dimana istriku saja, aku tidak tahu! Dan kamu ingin aku membiarkan wanita j***** itu tetap tinggal di rumah kedua orang tuaku dengan tenang." Gilang merasa kesal dan marah.


Radit menghela nafas panjang kemudian mendekati tuan mudanya. Radit membisikan sesuatu pada Gilang.


Gilang manggut-manggut. Apa yang dikatakan Radit ada benarnya juga.


"Kenapa aku sampai lupa dengan kalung yang pernah aku berikan pada Mutiara ya?" bathin Gilang.


Gilang meminta Radit untuk segera melacak keberadaan istrinya. Ia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu buruk kepada wanita yang sangat ia cintai.


***


Seorang gadis mengerjab-ngerjabkan kedua mata kemudian membukanya secara perlahan. Hal pertama yang ia dapati adalah sebuah ruangan bernuansa putih dengan horden berawarna cream kecoklatan.


Gadis itu beranjak bangun dari tempat pembaringannya. Ia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan kenapa sekarang ia bisa berada di ruangan yang begitu asing baginya.


Gadis itu mulai mengingat sesuatu. Ada seseorang yang membekapnya saat ia baru keluar dari restaurant dan sedang mencari taxi.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya seorang pria yang baru masuk dengan membawa sebuah nampan berisikan makanan dan minuman.

__ADS_1


"Ka-ka-mu..." gadis itu tampak sangat syok.


"Iya, ini aku kekasihmu. Apa kamu sudah melupakannya?" Pria itu menunjukan senyuman yang mengandung makna.


"Aku bukan kekasihmu!! Kamu pasti sudah salah paham!!" cuit gadis itu penuh dengan penekanan.


Pria itu tertawa. Ia menaruh nampan di atas nakas meja samping tempat tidur kemudian mendekati gadis itu. Tentu saja sang gadis menghindar, dia terus melangkah mundur hingga terjerembab jatuh ke sofa.


"Sudah lah Clarissa, kamu tidak usah bercanda lagi! Aku akan mengampunimu jika kamu bersedia kembali ke sisiku lagi," ujar pria tersebut yang tak lain adalah Steve.


"Clarissa? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya, dan aku bukan Clarissa! Aku Mutiara" jelas gadis itu.


Pria itu semakin terbahak. Sungguh wanita yang licik. Dia bahkan berpura-pura tidak mengenali namanya sendiri dan memakai nama orang lain untuk melepaskan diri darinya.


Steve terus saja mendekati Mutiara. Ia ingin membelai wajah cantik gadis yang sudah merebut hatinya. Sayang sekali Mutiara menepisnya.


"Jangan pernah berani menyentuhku! Kalau suamiku sampai tahu, maka dia akan langsung menghabisimu!" Mutiara memberikan peringatan pada Steve.


"Kamu bilang apa? Suami? Kamu sudah menikah dengan pria lain? Siapa dia? Katakan padaku, siapa dia?!!" bentak Steve. Matanya nyalang seolah ingin menghabisi siapa saja yang ada di hadapannya.


"Ya, aku sudah menikah. Nama suamiku adalah Alvian Gilang Dirgantara. Dan aku bukan Clarissa, aku Mutiara!!" jelas Mutiara dengan tegas dan lantang.


Steve tertegun. Ia ingat dengan perkataan seorang wanita tempo hari saat ia sedang makan siang bersama kekasihnya, Clarissa.


"Apa benar dia bukan Clarissa?" bathin Steve bergejolak.


Sekali lagi ia memperhatikan wajah Mutiara yang sangat mirip dengan Clarissa.


"Tidak mungkin! Clarissa pasti hanya membuat alasan saja, supaya aku mau melepaskannya" guman Steve dalam hati.


Mutiara bergedik ngeri. Apalagi saat ia melihat mata pria itu yang sudah tertutup oleh nafsu.


"Apa yang ingin kau lakukan? Menjauhlah dariku!!" seru Mutiara.


Steve tidak mengindahkan kata-kata Mutiara. Ia terus saja memyudutkan gadis itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah memenuhi hasrat kerinduan yang sudah terpendam selama beberapa hari. Jika ia tidak bisa mendapatkannya dengan suka rela, maka ia bisa mendapatkannya dengan cara memaksa.


Mutiara mulai menangis, dalam hati ia berdoa memohon perlindungan Sang Maha Kuasa.


Ketika wajah Steve semakin mendekat, entah dorongan dari mana? Mutiara berani menendang alat vital pria itu. Steve meringis kesakitan.


Mutiara tidak menyia-nyiakan waktu. Ia berlari keluar kamar.


"Clarissa, jangan harap kamu bisa lari dariku!!" teriak Steve berusaha bangun dan mengejarnya.


Mutiara tidak mengindahkan perkataan Steve. Ia tetap saja berlari. Namun saat di depan pintu, Mutiara tidak bisa berkutik lantaran pintu apartementnya terkunci.


Steve tertawa, "Aku sudah mengatakannya bukan, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."


Steve melangkah mendekati Mutiara.


"Menyerahlah sayangku! Aku pastikan akan mengampunimu jika kamu kembali menjadi wanitaku lagi seperti sebelumnya." Steve berusaha menangkap Mutiara, tapi gadis itu juga tak kalah gesit. Mutiara selalu berhasil menghindar dari jangkuan tangan Steve.


*Pyarrr...


Mutiara memecahkan vas bunga yang ada di meja. Ia mengambil pecahan vas bunga tersebut.

__ADS_1


"Berhenti!! Kalau tidak aku akan memotong nadiku sendiri!!" ancam Mutiara kemudian.


"Apa yang kamu lakukan hah? Kamu tidak akan berani menyakiti dirimu sendiri!" Steve tidak mundur. Ia tahu seperti apa watak kekasihnya. Clarissa tidak mungkin berani menyakiti dirinya sendiri.


"Itu menurutmu tuan, tapi tidak bagiku. Aku lebih baik mati jika ada yang menyentuh diriku selain suamiku." Mutiara melakukan ancamannya. Ia menyanyat pergelangan tangannya sendiri.


Steve membulatkan mata. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh gadis itu. Mungkinkah benar dia bukan Clarissa?


"Sekali lagi aku tegaskan pada tuan bahwa aku bukan Clarissa, aku Mutiara. Wanita yang ada maksud Clarissa adalah saudara kembarku dan mungkin sekarang dia sedang berada di rumah suamiku untuk menyamar sebagai diriku." Mutiara menjelaskannya sekali lagi.


Steve mematung. Ia menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh Clarissa.


"Dia benar-benar wanita yang licik!" Steve terkekeh. Ia merasa menjadi sosok orang yang bodoh karena mencintai wanita licik seperti Clarissa.


Tak seharusnya Steve percaya dengan pesan yang ia terima. Bukankah tidak satu pun orang yang tahu bahwa ia sedang mencari kekasihnya selain Clarissa sendiri. Steve sangat yakin kalau pengirim pesan itu tak lain adalah adalah Clarissa.


*BRAKKK


Pintu Apartement terbuka. Beberapa pria berbadan kekar masuk.


Mutiara tersenyum saat mendapati Gilang ada diantara mereka.


"Aku tahu kamu pasti datang, yank..." ucap Mutiara sebelum akhirnya ia tumbang.


"Mutiara..." Gilang menghampiri istrinya.


"Apa yang kamu lakukan?" Gilang melihat darah segar mengalir dari tangan istrinya.


"Berikan pria itu sebuah pelajaran yang tidak akan pernah bisa dia lupakan sampai kapan pun!!" perintah Gilang.


Gilang membopong istrinya. Ia meminta Heru untuk segera menyiapkan mobil.


"Kamu harus bertahan yank, demi aku dan anak kita!" ujar Gilang meninggalkan Steve yang masih berdiri mematung bersama Radit dan anak buahnya.


***


Gilang meminta Heru agar melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi. Ia tidak perduli jika keadaan jalanan cukup ramai. Untung saja Heru sudah mahir dalam menyalip, sehingga ia bisa melakukan perintah tuannya dengan baik.


Lima belas menit, mereka tiba di rumah sakit. Gilang membopong Mutiara, ia terus saja berteriak memanggil dokter. Tiga perawat pun datang membawa sebuah brankar dorong. Gilang membaringkan Mutiara di atas brankar, yang kemudian di dorong oleh dua orang perawat menuju ruang UGD. Sedang seorang perawat lainnya meminta Gilang agar mengisi formulir data pasien.


Usai mengisi formulir, Gilang menuju ruang UGD. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya.


Tak lama kemudian, Kelvin muncul. Ia sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Heru sudah menceritakan semuanya pada Kelvin.


"Kak, bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Kelvin.


Gilang hanya menggeleng. Pandangannya lurus ke depan mengawasi pintu UGD, berharap dokter segera keluar dan mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja.


Kelvin paham. Ia menepuk pundak kakaknya.


"Kakak harus percaya bahwa kakak ipar akan baik-baik saja!" ujar Kelvin memberi dukungan kepada Gilang.


Gilang mengangguk lagi. Mutiara memang harus baik-baik saja, kalau tidak...


Gilang tidak tahu apa yang akan bisa ia lakukan kepada mereka yang sudah membuat istrinya dalam bahaya.

__ADS_1


__ADS_2