Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_60


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 60


***


Usai melakukan pendaftaran, Arif dan Elvina tidak langsung pulang. Mereka ingin berkeliling mengitari kampus. Setidaknya untuk melihat seperti apa kampus yang mereka pilih sebagai tempat menuntut ilmu.


Elvina memang putri dari pemilik kampus Dirgantara, namun dia belum pernah sekalipun datang berkunjung ke kampus Dirgantara. Itu sebabnya ia juga ingin sekali melihat seperti apa situasi kampus barunya.


"Sayang gimana menurutmu? Apa kamu suka dengan kampusnya?" tanya Arif.


"Aku akan menyukai semua tempat, selama itu ada kamu sayang" jujur Elvina.


Elvina sadar betul dengan keinginannya. Sejak awal dia memang sudah berniat tidak ingin melanjutkan kuliah, karena otaknya yang sangat sulit dipakai untuk belajar. Namun berkat dorongan semangat yang diberikan oleh Arif, Elvina ingin mencoba belajar tentang desain.


Arif tersenyum tipis. Dalam hati ia berharap bisa menjadi sosok yang memotivasi kekasihnya untuk terus berjuang dalam menggapai semua mimpinya.


"Kamu pasti haus, kita cari kantin untuk beristirahat sejenak yuk!" ajak Arif kemudian.


Elvina mengangguk. Tenggorokannya memang sudah terasa kering dan kakinya pun pegal. Ia merangkul lengan Arif, terus berjalan melangkahkan kaki mencari letak kantin kampus. Baik Elvina maupun Arif sama-sama tidak perduli dengan pandangan mata yang ada di sekitarnya. Justru mereka ingin menunjukan ke semua orang bahwa mereka merupakan pasangan kekasih. Dengan begitu tidak akan laki-laki ataupun perempuan lain yang akan mendekati keduanya.


***


Gilang dan Mutiara sudah berada di bandara. Ada Azka, Kelvin, bu Meisya dan pak Bayu yang turut mengantarkan kepergian mereka. Mutiara berkali-kali mengecup kening Azka seakan enggan meninggalkan bocah itu. Mutiara terlanjur menyanyangi Azka yang tak lain adalah darah daging dari saudari kembarnya sendiri.


"Yank, kita harus segera masuk ke dalam pesawat. Kalau tidak nanti kita akan ketinggalan!" ujar Gilang.


"Iya sayang, apa yang dikatakan Gilang benar! Kalian bisa tertinggal nanti kalau tidak segera masuk ke dalam pesawat. Kalau masalah Azka, kamu tidak perlu cemas! Kami semua pasti menjaganya dengan baik" bu Meisya mengusap lembut bahu Mutiara.


"Makasih ya Mi, aku titip Azka ya?" Mutiara menyerahkan Azka kepada ibu mertuanya. Bu Meisya hanya menganggukan kepala lalu mengulas senyum kecil.


"Kalian harus bersenang-senang di sana! Dan kamu Gilang...jaga menantu mami dengan baik!"


"Pasti Mi, Gilang pasti akan menjaga Mutiara dan kandungannya dengan baik" jawab Gilang merangkul bahu Mutiara.


"Pi, Kami pamit ya?" ucap Gilang kepada papinya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di sana dan tetap kasih kabar pada kami!" pak Bayu memeluk putranya.


"Kelvin, gue titip masalah perusahaan sama elo. Jika ada masalah, elo bisa kirim email ke gue!" pesan Gilang pada Kelvin.


"Kakak tenang saja, aku akan urus masalah perusahaan. Jadi kakak bisa liburan dengan tenang!" jawab Kelvin.


Gilang tersenyum. Ia tahu Kelvin bisa diandalkan. Kelvin sudah banyak belajar tentang bisnis yang dijalankan oleh keluarga besarnya. Gilang percaya adiknya pun bisa menjadi pengusaha sukses seperti dirinya dan sang papi.


Setelah berpamitan, Gilang dan Mutiara pergi menuju pintu pemberangkatan. Mereka hanya ingin pergi berlibur selama dua minggu tapi rasa-rasanya begitu sulit untuk pergi. Mutiara menengok ke belakang sekali lagi lalu melambai-lambaikan tangan. Hatinya sedikit teriris ketika melihat Azka menangis dalam gendongan ibu mertuanya.


"Yank, Azka akan berhenti menangis nanti. Kamu tidak perlu risau ya, lagi pula kita perginya juga hanya dua minggu saja?" Gilang mengerti akan kegamangan istrinya. Meskipun baru sebentar hidup bersama Azka, tapi ikatan keduanya sudah menjadi sangat dekat lanyaknya anak dan ibu kandung.


***


Gilang dan Mutiara sudah tiba di Kokomo Resort yang terletak di Gili Trawangan Lombok pada pukul sembilan malam jika di Jakarta dan pukul sepuluh malam jika di Lombok. Keduanya terlihat begitu letih setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dari Bandara Jakarta-Lombok kemudian kurang lebih dua jam pula dari Bandara Lombok menuju Kokomo Resort.


Setibanya di kamar, Mutiara langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk hingga bisa merasakan sebuah kenyamanan yang luar biasa. Mutiara mulai memejamkan kedua matanya, ia sama sekali tidak memperdulikan jika seluruh anggota tubuhnya sudah terasa lengket semua.


Gilang hanya tersenyum tipis. Ia mengerti bahwa istrinya benar-benar kelelahan. Sejak pasca kehamilannya, Mutiara memang sering mengeluh merasakan capek. Bahkan hampir tiap malam Mutiara juga sering meminta Gilang agar mau memijit punggung ataupun kakinya.


Gilang menghampiri Mutiara.


"Aku capek yank, malas kalau harus bangun dan jalan lagi!" ujar Mutiara tanpa membuka matanya.


"Mau aku gendong?" tawar Gilang.


Mutiara mengangguk. Badannya memang sudah sangat letih tapi ia tetap harus mandi. Jika tidak, bisa-bisa ia akan terbangun ditengah malam karena merasa kegerahan. Gilang segera membopong Mutiara dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga puluh menit mereka sudah selesai membersihkan diri. Gilang dengan telaten mengeringkan rambut istrinya lalu membawanya kembali ke tempat tidur. Membiarkan Mutiara segera menyambut alam mimpinya.


"Good Night and have a nice dream istriku sayang," lirih Gilang mencium kening Mutiara kemudian menyelimutinya.


Lagi-lagi Mutiara hanya mengangguk tanpa menjawab. Rasa katuk sudah menyerbu kedua matanya, ia bahkan mulai tertidur sejak suaminya mulai mengeringkan rambutnya.


Gilang melangkahkan kaki menuju balcon kamar. Ia juga merasa letih namun belum mengantuk. Gilang ingin menikmati keindahan malam Kota Lombok barang sekejab. Setidaknya sampai rasa kantuk menghinggapi kedua matanya.


"Akhirnya aku bisa menikmati keindahan Kota Lombok lagi setelah beberapa tahun lamanya" lirih Gilang sambil menghirup dalam-dalam udara malam.

__ADS_1


Gilang mengingat kembali masa SMA-nya. Dimana ia dan para sahabatnya tengah menikmati liburan setelah menjalani tes pertengahan semester.


"Bagaimana kabar mereka sekarang ya...sejak aku memutuskan melanjutkan kuliah ke USA, aku tidak pernah mendengar kabar tentang mereka lagi?" gumannya kemudian.


Gilang menatap langit yang terlihat cerah. Ada banyak bintang yang bersinar hingga menambah keindahan malam.


Gilang tersenyum kecil dikala mengingat kembali masa-masa remajanya. Ia memang sudah terkenal dingin dan kaku sampai-sampai mendapat julukan pangeran es yang sulit dicairkan. Banyak teman gadis di sekolah Gilang yang mengejarnya, namun tidak satu pun dari mereka berhasil meluluhkan hati Gilang.


Gilang merasa saat itu cinta bukan segalanya. Ia terlalu berambisius untuk menjadi yang terbaik. Waktunya hanya dihabiskan untuk belajar dan belajar. Gilang tak pernah sekalipun menikmati masa-masa dimana layaknya anak remaja lainnya. Bisa dibilang Gilang tidak pandai dalam bergaul. Hidupnya sangat membosankan sampai pada akhirnya ada beberapa teman baru menghampiri Gilang ketika kenaikan kelas tiga. Gilang mulai membuka diri dan menerima pertemanan dengan orang lain.


Gilang tersenyum saat mengingat seperti apa teman-teman barunya itu. Mereka memiliki tingkah yang berbeda-beda tapi menyenangkan. Meskipun baru saling mengenal, tapi rasa solidaritasnya sangat tinggi. Gilang merasa beruntung bisa mengenal dan berteman dengan mereka walaupun hanya sebentar.


"Semoga saja kita bisa dipertemukan lagi," harap Gilang.


Gilang meninggalkan balcon, masuk kembali ke dalam kamar. Mutiara terlihat masih tetap pada posisinya. Gilang mengulas senyum, istrinya lanyaknya seorang putri yang tengah tertidur. Sangat cantik. Gilang mematikan lampu kemudian ikut masuk ke dalam selimut bersama Mutiara untuk menyambut mimpi yang indah.


***


Suasana pagi yang indah membuat Mutiara betah berlama-lama berada di balcon kamarnya, sambil menikmati pemandangan sekitar Kokomo Resort. Mutiara menarik nafas dalam-dalam, menghirup kesegaran udara pagi kemudian menghembuskan-nya lagi. Sangat sejuk rasanya.


"Morning istriku sayang..." Gilang melingkarkan tangannya pada perut Mutiara dan mengecup puncak kepalanya.


"Morning suamiku, kamu udah bangun?" balas Mutiara.


"Hmmm..." Gilang mengendus aroma buah pada rambut istrinya.


"Yank, apa kamu tidak merasa lapar?" tanya Gilang mengingat istrinya belum makan apa-apa sejak tiba di Lombok.


"Aku sebenarnya sudah merasa lapar sejak bangun tadi tapi pas lihat kamu tidur nyenyak, aku jadi nggak tega buat bangunin kamunya!" jawab Mutiara.


"Ya sudah kalau begitu aku akan pesan makanan biar diantar ke kamar," ujar Gilang.


Mutiara mengangguk sambil mengusap perutnya. "Kamu yang sabar ya nak, daddy-nya lagi pesen makanan" celotehnya kemudian.


Gilang tersenyum, kemudian berjongkok menghadap perut Mutiara. "Maafin Daddy ya nak? Gara-gara keenakan tidur, Daddy sampai telat memesankan makanan untuk mami" ucap Gilang seraya menciumi perut Mutiara.


"Iya Daddy, aku ngerti kok kalau Daddy lagi kecapekan." Mutiara bercoleteh menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Gilang berdiri lalu memeluk istrinya.


"Makasih ya yank, kamu udah mau jadi istri yang paling pengertian buat aku?" Gilang mengusap punggung Mutiara.


__ADS_2