Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_115


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 115


 


 


 


⚜⚜⚜


 


Kehidupan manusia memang sukar untuk ditebak. Tak ada satu pun manusia yang mampu menebak peristiwa apa saja yang akan mereka lalui dimasa mendatang. Begitupun dengan Clarissa. Ia masih tak percaya jika hari ini ia bisa dipertemukan kembali dengan saudari kembarnya dan putra kandungnya. Tak hanya itu saja. Clarissa bahkan bisa berbincang dengan saudarinya tersebut. Mereka berbagi cerita baik rasa suka ataupun duka. Walaupun hanya sebentar namun cukup mampu mengobati rasa rindunya. Clarissa pulang dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Disepanjang jalan ia tersenyum sendiri mengingat hal manis tentang kebersamaan yang singkat tersebut. Sampai-sampai Clarissa tidak menyadari bahwa ia telah diikuti oleh seseorang hingga di depan rumahnya.


 


 


“Eheemmm...”


 


Clarissa berhenti melangkahkan kakinya. Menoleh melihat siapa yang sedang berdehem.


 


“Kau...” Clarissa terkejut.


 


“Hallo sayangku, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja tanpaku?” Orang itu mencerca Clarissa dengan beberapa pertanyaan.


 


Langkahnya terus maju ingin mendekati Clarissa. Namun sebaliknya. Clarissa melangkah mundur demi menjauhi pria tersebut.


 


“Apa yang kamu lakukan disini? Bukan kah kamu sudah kembali ke negara asalmu dan terakhir yang aku dengar kamu sudah hidup bahagia bersama dengan keluargamu?” cicit Clarissa dengan tubuh sedikit gemetar. Rasa takut mulai merasuki dirinya. Ingin sekali ia berteriak, tapi tak bisa. Suaranya seakan tercekat menghilang entah kemana. Clarissa hanya bisa berdoa berharap ada seseorang datang menolongnya.


 


 


“Hidup bahagia bersama keluargaku?” pria itu hanya terkekeh pelan. Tak ingin menimbulkan suara berisik yang berakibat membangunkan warga setempat.


“Setelah kejadian itu, apakah menurutmu aku bisa hidup bahagia? Apakah wanita itu mau memaafkan dan menerimaku kembali? Apakah keluarga besarku juga mau menerimaku seperti pandangan dunia?” lagi-lagi pria itu terkekeh tapi kali ini dengan pandangan yang berbeda. Mata pria itu mengisyaratkan adanya sebuah kemarahan yang begitu besar. Melihat itu semua Clarissa semakin ketakutan, apalagi ruang geraknya sudah terbatas. Tubuhnya kini sudah menempel pada sebuah kayu yang berbentuk pintu. Bisa saja Clarissa berbalik kemudian menggedor pintu meminta pertolongan ibunya. Tapi lagi-lagi tubuhnya tak bisa lantaran terasa lemas tak bertulang akibat rasa takut yang berlebihan.


 


“Mereka sama sekali tidak mau memaafkan kesalahan yang aku perbuat. Bagi mereka aku adalah pria bejat yang menjijikan karena sudah bertindak sebagai pedofil dan berani menculik istri dari salah satu pengusaha ternama di dunia. Bahkan orang tuaku dengan tega hati melimpahkan semua warisan mereka pada wanita yang menyandang sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Mereka memperlakukan aku seperti binatang peliharaan saja, mungkin lebih buruk dari binatang peliharaan. Hanya di depan media saj mereka tetap bersikap selanyaknya keluarga yang bahagia dan harmonis tapi di belakang...cuiiihhh...aku hanya seponggah sampah bagi mereka!” pria itu terus bercerita tentang kehidupannya yang telah berantakan akibat kesalahan fatal yang ia perbuat.


Andai waktu itu ia tidak pernah membawa Clarissa terbang ke Indonesia, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Bahkan mereka masih bisa bersama sebagai sepasang kekasih gelap. Tapi nasi telah menjadi bubur. Hidupnya hancur berantakan dan ia tak mau sendirian.


 


“Kamu tenang saja sayang! Aku tidak akan hancur sendirian. Ada kamu dan saudara kembarmu itu yang akan ikut bersamaku. Dengan begitu Alvian Gilang Dirgantara juga akan ikut hancur bersama kita semua!” Pria itu mencengkeram kuat dagu Clarissa. Rasa cinta yang dulunya membara kuat di hati pria tersebut, seolah musnah ditelan oleh kebencian yang mendalam.


 


“Tolong jangan pernah libatkan Mutiara dalam urusan kita, Tuan Steve? Dia sama sekali tidak bersalah. Ini semua murni kesalahanku, aku yang terlalu serakah karena ingin menempati posisinya!” Clarissa mengatubkan kedua tangannya, memohon supaya pria itu tidak mengganggu hidup saudarinya.


 


“Tapi sayang nya itu percuma. Suaminya telah ikut serta campur tangan dengan kehancuranku. So...dia pun harus ikut merasakan balasan yang setimpal melalui istrinya. Aku akan mengambil paksa Mutiara dari tangannya, dengan begitu dia akan hancur sehancur-hancurnya.” Steve menyeringai puas. Merasa yakin jika rencananya akan berhasil selama penyelinapannya ke Indonesia belum diketahui oleh keluarga Dirgantara.

__ADS_1


 


Clarissa menggeleng cepat kemudian mendorong kasar Tuan Steve.


“Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membunuhmu jika kamu berani mengusik hidup adikku!” Teriak Clarissa dengan kencang. Mendengar pria itu ingin menyakiti saudaranya, keberaniannya tiba-tiba muncul begitu saja hingga menimbulkan adanya sebuah kegaduhan. Dan membuat sebagian warga mulai bermunculan.


 


Kriek...


 


Pintu rumah Clarissa pun terbuka.


 


“Intan, kamu kenapa?” tanya bu Aisyah yan muncul dari dalam.


 


“Siapa pria itu?” tanya bu Aisyah lagi, menatap curiga pada pria yang berdiri tegap di hadapan putrinya.


 


“Di-di-a Mr- Ste-ve” Clarissa terbata.


 


Bu Aisyah membulatkan kedua bola matanya. Berjalan cepat hingga di depan Clarissa. Bersiap menjadi tameng untuk putrinya. Ia sudah pernah mendengar cerita tentang Mr. Steve yang terobsesi penuh dengan putrinya.


 


“Sebaiknya anda pergi dari sini, atau saya akan meminta warga supaya menghajarmu!” ancam bu Aisyah.


 


Clarissa dan ibunya bisa bernafas lega untuk sesaat. Tapi mereka tetap harus berhati-hati. Pria itu bisa muncul lagi kapan saja dan dimana saja. Dendam dan rasa benci telah membutakan mata hatinya. Tuan Steve bisa nekad berbuat apa saja demi menuntaskan hasrat balas dendamnya.


 


“Bu, aku sangat mengkhawatirkan keselamatan Mutiara? Tuan Steve berkata bahwa dia juga akan mengincarnya. Bagaimana ini, bu? Semua ini gara-gara aku! Kalau saja dulu aku tidak serakah, Mutiara pasti tidak akan terseret pula dalam masalah ini!” sesal Clarissa. Baru saja hubungannya dengan Mutiara membaik. Kini masalah datang kembali. Mungkin benar kata ibu palsunya, jika sebenarnya ia adalah sumber  masalah bagi orang sekitarnya.


 


“Intan, tenangkan dirimu! Semuanya akan baik-baik saja. Gilang pasti bisa menjaga dan melindungi adikmu!” bu Aisyah berusaha menenangkan hati Clarissa. Walaupun tidak bisa dipungkiri jika hatinya juga merasakan kegelisahan.


Sebab siang tadi saat hendak mengantarkan baju milik salah satu customer ia sempat bersua dengan Hani saudari kembarnya. Hani mengatakan jika Gilang sudah mengetahui perihal masa lalu mereka yang pernah bertukar tempat.


Hani mengatakan jika menantunya itu sangat murka dan tidak akan membiarkan dirinya bertemu dengan sang istri. Gilang akan menjauhkan Mutiara dari keluarganya, termasuk dari ibu yang sudah melahirkannya. Gilang tidak akan membiarkan istrinya terluka akibat kebodohan dari sang ibu yang mau bertukar tempat dengan Hani dan membiarkan hidup keluarganya tercerai berai begitu saja.


Bu Aisyah merasa sangat sedih. Namun dia bisa apa. Ini semua memang kesalahannya sehingga keluarganya harus terpisah. Kehidupan kedua putrinya menjadi sengsara dan terlunta-lunta. Beruntung Mutiara yang berada dalam pengasuhan ayahnya sehingga bisa menjadi bagian dari keluarga Dirgantara. Tapi Intan...


Bahkan putrinya itu harus mengalami pelecehan seksual saat remaja hingga menimbulkan efek trauma yang sangat dalam. Intan bahkan sudah tak mau mengenal lagi apa yang namanya cinta sejati. Intan tidak percaya dengan sosok makhluk berjenis pria.


Bu Aisyah hanya bisa berharap akan adanya suatu keajaiban nyata datang dari Sang Maha Pencipta alam semesta. Mengirimkan seorang pemuda baik yang bisa menerima dan mencintai Intan dengan setulus hati. Menerima Intan dalam kondisi apapun, termasuk masa lalunya yang begitu kelam.


 


 


 


 


⚜⚜⚜


 

__ADS_1


Di sisi lain ada sepasang suami istri tengah bercengkerama dan memadu kasih dibawah sinar rembulan. Mereka tak lain adalah Gilang dan Mutiara. Setelah berhasil menidurkan anak-anak mereka, Gilang dan Mutiara memilih bersantai ria di balkon kamar seraya menunggu rasa katuk datang menghampiri.


Keduanya nampak berbincang ringan, menikmati semilir angin malam dengan posisi saling berpelukan. Membuat iri bagi yang melihatnya.


 


Dert...dert...dert....


 


Getaran dari ponsel milik Gilang mulai mengganggu. Namun sengaja tidak diindahkan oleh sang empunya.


 


Dert...dert...dert...


 


Dert...dert...dert...


 


 


“Yank, itu ponselmu bunyi terus. Coba diangkat siapa tahu ada yang penting!” Mutiara mulai merasa terganggu.


Gilang berdecak kesal. Merasa tak suka jika kebersamaannya dengan sang istri terganggu.


 


“Hallo ada apa, kenapa malam-malam begini sampai menggangguku? Apa kau sengaja ingin cari mati?” tegur Gilang dengan nada kesalnya. Ingin rasanya ia menghajar sang asistent pribadinya tersebut.


 


“Maaf Tuan, saya tidak bermaksud mengganggu jam istirahat anda? Tapi saya hanya ingin memberikan sebuah kabar buruk yang kemungkinan besar bisa menjadi masalah untuk Tuan dan Nyonya Muda!” jawab Radit.


 


“Kabar apa?” tanya Gilang to the point.


 


“Ini kabar tentang Mr. Steve, Tuan. Dia telah melakukan pembantaian secara keji terhadap keluarganya sendiri dan berhasil melarikan diri. Menurut data penyelidikan dari kepolisian, besar kemungkinan saat ini yang menjadi tujuan dari Mr. Steve adalah negara Indonesia. Sepertinya Mr. Steve berencana ingin membalas dendam kepada Nyonya Clarissa dan kita semua!”


 


Gilang terdiam sesaat, menarik nafas dalam-dalam kemudian ia hembuskan kembali. Apa yang menjadi ketakutannya saat melepaskan Mr. Steve akhirnya terjadi juga. Pria itu sama sekali tidak jera dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupannya. Bahkan sepertinya kegilaan tersebut semakin menjadi. Sebagai bukti nyata, Mr. Steve sampai tega membantai serempak keluarganya sendiri. Gilang benar-benar tak habis pikir dengan perilaku Mr. Steve yang dianggap sudah sangat melampui batas kemanusiaan.


 


“Radit, tolong lakukan apa yang harus kamu lakukan! Jangan pernah biarkan pria bi*d*p itu mendapakan apa yang dia mau!” Titah Gilang kemudian mematikan panggilan secara sepihak.


Mutiara hanya mengusap pelan bahu suaminya. Berharap bisa menyalurkan sebuah ketenangan. Ia mengerti bahwa ada masalah yang cukup besar yang harus dihadapi oleh suaminya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2