Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
PERNIKAHANBEDAUSIA_75


__ADS_3

#PENIKAHAN_BEDA_USIA


PART 75


💓💓💓


Setibanya di resort, Mutiara langsung memanggil pelayan untuk membantunya membawa Gilang ke kamar dan meminta reseptionis supaya segera memanggilkan dokter. Mutiara benar-benar cemas karena Gilang terus mengingau. Entah apa yang sudah terjadi, sehingga membuat pria bertubuh atlentis itu bisa ketakutan dengan suasana pantai.


"Terima kasih, pak?" ucap Mutiara setelah mereka berada di kamar.


"Sama-sama nona, kalau begitu saya mohon undur diri?" jawab pelayan tersebut.


Mutiara mengangguk. Berjalan menghampiri suaminya.


"Rio, maafin aku? Maafin aku..." rancau Gilang.


Mutiara mengernyitkan keningnya. Ia seakan tidak asing dengan nama Rio.


"Maafkan aku, Rio? Gara-gara kecerobohanku, Raisa terseret ombak?" Rancau Gilang lagi.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" seru Mutiara.


"Maaf nona, saya mengantarkan dokter untuk tuan?"


"Ya terima kasih, dokter tolong periksa suami saya! Sejak tadi tubuhnya menggigil dan terus saja mengigau!" cemas Mutiara.


Dokter mulai melakukan pemeriksaannya. Kemudian memberikan sebuah suntikan untuk Gilang.

__ADS_1


"Suami anda tidak apa-apa, dia hanya mengalami suatu goncangan karena mengingat kejadian yang buruk! Saya sudah akan menyuntikan obat penenang, dia akan tertidur dalam waktu beberapa jam." Dokter menjelaskan.


Mutiara tersenyum lega. "Anda terlihat sangat lelah nona, sebaiknya anda juga beristirahat! Apalagi sekarang anda tengah hamil tua, anda tidak boleh kecapekan atau pun stress!" saran dokter.


"Baik dok, terima kasih banyak atas perhatiannya?"


Dokter tersenyum, "Kalau begitu saya mohon pamit," ucapnya kemudian.


Mutiara mengangguk kemudian mengantar sang dokter hingga ke ambang pintu.


"Sayang, anak mommy harus kuat ya di dalam! Maafkan mommy karena sudah membuat daddy sakit?" Mutiara mengusap perutnya dan kembali melangkah menghampiri suaminya.


Mutiara mulai melucuti pakaian Gilang, menggantikannya dengan pakaian yang bersih. Tak lupa ia juga menyelimuti Gilang hingga setengah badan. "Maaf yank, harusnya aku tidak egois? Gara-gara aku memaksa pergi ke pantai, kamu jadi begini." Lagi-lagi air mata Mutiara lolos begitu saja. Ia merasa menyesal karena sudah membuat suaminya sakit dan ia pun lega karena Gilang baik-baik saja. Mutiara mengecup kening Gilang kemudian ikut berbaring disampingnya.


💤💤💤💤


"Raisa, awas...!!"


Raisa Adi Winata, gadis remaja yang selalu menampilkan deretan gigi putihnya. Sifatnya yang ceria dan ramah membuat kaum adam tergila-gila padanya. Namun tidak untuk Gilang.


Saat itu Gilang baru berusia empat belas tahun. Karena memiliki IQ yang tinggi, Gilang berhasil duduk di bangku SMA. Ia termasuk anak yang pendiam. Tidak banyak memiliki teman. Namun Gilang juga bisa bersahabat dekat dengan Raisa, Rio, Mitta, Andre dan juga Randy. Menurut Gilang mereka asyik dan tidak neko-neko dalam hal bergaul. Persahabatan mereka awalnya berjalan baik-baik saja, bahkan terlihat begitu kompak sampai-sampai membuat orang sekitar merasa iri.


Akan tetapi ketika menjelang kelulusan, persahabatan mereka mulai renggang. Hal itu disebabkan karena Rio memiliki sebuah perasaan cinta kepada Raisa. Sedangkan Raisa sendiri hanya menganggap Rio sebagai sahabat saja. Rio berusaha menerima keputusan Raisa dengan ikhlas. Bahkan ia mendukung Raisa yang saat itu juga menyatakan secara terang-terangan bahwa ia mulai memiliki rasa untuk Gilang. Bagi Rio kebahagiaan Raisa adalah yang terpenting.


Gilang yang mengetahui hal itu tidak tahu harus berbuat apa. Jujur saja ia pun menganggap Raisa hanya sebagai sahabat saja. Gilang tidak mau mengenal cinta sebelum ia dapat menyelasaikan pendidikannya. Pelan-pelan Gilang memberikan pengertian pada Raisa, tapi gadis itu bersikukuh akan berjuang mendapatkan hati Gilang.


Gilang semakin bingung. Raisa termasuk gadis yang keras kepala. Ia akan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan apa yang dia mau. Dia bahkan berhasil membuat Rio agar mau membantunya. Gilang menjadi risih. Sedikit demi sedikit ia mulai menjauh dari sahabat-sahabatnya yang juga berniat menjomblangkan Raisa dengannya. Secara diam-diam Gilang pun mendaftarkan diri ke Columbia University yang ada di Amerika.


Raisa sangat marah ketika mengetahuinya. Ia mengancam akan bunuh diri apabila Gilang tidak mau menemuinya di pantai Ancol. Mau tak mau Gilang mengikuti permintaan Raisa.

__ADS_1


Gilang di dampingi oleh Andre dan Rio, menjumpai Raisa disana. Mereka berusaha bicara dari hati ke hati agar Raisa mau mengerti. Sayangnya itu tidak berhasil. Raisa bersikukuh ingin menjadi wanita yang dicintai oleh Gilang dan meminta Gilang membatalkan niatannya untuk melanjutkan kuliah di Columbia University.


Gilang menolak, kuliah di Columbia University sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Selain itu juga sudah menjadi tradisi bagi keluarganya. Raisa semakin sakit hati dan tidak terima dengan keputusan Gilang.


"Gilang, kamu benar-benar manusia berhati dingin yang tak berperasaan! Aku berharap suatu hari nanti kamu juga akan merasakan sakit yang sama bahkan lebih pedih dari ini karena tersakiti oleh perasaan cinta hingga membuatmu terjatuh!" Raisa mengeluarkan kata serapahnya. Gilang hanya bisa mengepalkan tangan. Apa salahnya jika ia tidak ingin menjalin suatu hubungan percintaan? Ia hanya ingin fokus dengan cita-cita yang sudah ia bangun sejak kecil. Apa itu salah.


Raisa akhirnya nekad mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya ke laut. Gilang, Rio dan Andre sudah berusaha menghalangi Raisa. Namun tidak berhasil lantaran Raisa menodongkan sebuah pisau ke lehernya. Tiba-tiba terjangan ombak besar datang menyambar tubuh Raisa hingga menghilang entah kemana. Gilang dan teman-temannya sudah mencarinya, bahkan Gilang juga sudah meminta bantuan papinya agar Raisa bisa ditemukan baik dalam keadaan bernyawa atau tidak, tapi hasilnya nihil. Tubuh Raisa seakan menghilang di telan oleh lautan.


Rio marah pada Gilang, ia memutuskan hubungan persahabatan mereka dan pergi menghilang tanpa jejak. Semenjak itu pula Gilang trauma dengan pantai. Dia pun juga tidak ingin memiliki hubungan persahabatan dengan siapa pun. Terkhusus kaum hawa. Gilang tidak lagi percaya adanya pertemanan yang tulus. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Clarissa.


Clarissa adalah gadis pertama yang mampu membuatnya merasakan cinta. Namun dia pula yang sudah membuatnya merasakan sakitnya akan pengkhianatan.


Kata serapah Raisa terjadi. Gara-gara pengkhianatan yang dilakukan oleh Clarissa, Gilang hancur. Dia tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Bagi Gilang semua wanita sama saja. Matrealistis, egois, penghianat dan tidak dapat dipegang omongannya.


💤💤💤💤


Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang belum bisa melupakan kejadian itu. Apa yang terjadi pada Raisa bukan lah sepenuhnya atas kesalahannya. Wanita itu yang terlalu egois dan berpikiran sempit.


Gilang menatap wajah teduh istrinya. Merasa bersalah karena telah membuatnya khawatir. Gilang menepuk pelan pipi Mutiara, berusaha membangunkannya.


"Yank bangun, ini sudah pagi!" ucapnya.


Mutiara melenguh kecil, membuka kedua matanya. Senyum kecil terukir dari bibirnya.


"Pagi sayang, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Mutiara.


Gilang menundukan kepala, mengecup bibir istrinya. "Maaf karena sudah membuatmu khawatir?"


Mutiara menggelengkan kepalanya. "Kamu pasti belum makan dari semalam, ayo bangun dan mandi! Setelah itu kita keluar untuk cari sarapan sebelum kamu bergabung dengan teman-teman SMA mu!" ajak Gilang.

__ADS_1


"Ok tapi kita mandi bareng ya?" Mutiara merengek manja. Gilang terkekeh kecil. Tingkah Mutiara semakin hari semakin menggemaskan saja. Ia beranjak bangun kemudian menggendong Mutiara ala bridal style membawanya ke kamar mandi melakukan ruinitas yang sering dilakukan oleh mereka di pagi hari. Hanya mandi bersama tidak lebih.


__ADS_2