
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 100
💕💕💕
Sebulan telah berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Kondisi Mutiara dan Elvina pun sudah membaik. Mereka selalu bersemangat dalam menjalani terapi agar saraf-saraf tubuhnya bisa berfungsi kembali.
Dan Gilang seharusnya bisa bernafas dengan lega. Tapi nyatanya tidak demikian. Justru sebaliknya, Gilang malah tidak bisa berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaannya.
Hampir setiap hari ia termenung memikirkan siapa wanita berkulit hitam dan berhijab itu. Jika dilihat-lihat dari segi wajah terutama pada mata dan bibirnya, wanita tersebut memiliki sedikit kemiripan dengan istrinya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!! " titahnya.
Tak lama kemudian muncul lah Radit dengan sebuah ponsel di tangannya.
"Maaf tuan, saya hanya ingin menunjukan ini pada tuan? " ucapnya.
Gilang menatap layar pada benda pipih tersebut, mengamati setiap gerakan yang terdapat di dalamnya. Kedua tangannya mulai mengepal, merasa marah dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Shiiitt...berani sekali dia mengancam istri dari seorang Alvian Gilang Dirgantara!" cicit Gilang yang berusaha mengontrol emosinya.
Mau tak mau Gilang harus pergi meninggalkan semua pekerjaannya yang sudah menumpuk akibat menemani Mutiara dalam melakukan terapinya.
Radit yang sudah mengerti akan tugasnya mulai menghubungi seseorang.
"Batalkan semua meeting hari ini dan cari alasan yang kuat agar klient bisa mengerti!" titahnya pada seseorang diseberang sana, kemudian berjalan mengekor di belakang Tuannya.
Â
__ADS_1
Â
Mutiara hanya berdiam diri dibalik tirai jendela kamarnya. Ia tengah memikirkan setiap ucapan yang baru saja ia dengar secara langsung dari mulut perempuan yang telah melahirkannya.
Ya baru saja ibu kandungnya datang mengiba padanya. Berkeluh kesah tentang keadaan Intan yang saat ini sedang berada di balik jeruji besi.
Apakah salah jika dirinya berusaja acuh tak acuh kepada saudari kembarnya yang pernah hampir saja merebut paksa posisinya sebagai istri dari suaminya.
Ya Intan memang lah saudara kembar yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya. Ingin sekali rasanya Mutiara mencari keberadaan Intan, hanya saja apa dayanya saat itu. Mutiara hanya lah gadis kecil yang hidupnya serba sederhana, sedang mencari saudaranya memerlukan biaya yang cukup besar. Pasalnya saat itu tanpa sengaja Mutiara pernah mendengar percakapan antara ayahnya dengan beberapa temannya yang mengatakan bahwa Ibunya telah membawa Intan ke luar negeri. Mutiara sangat sedih, karena harapannya untuk bisa bertemu dengan Intan sangat lah tipis mengingat bagaimana kondisi ayahnya waktu itu. Mutiara hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban dimana ia bisa dipertemukan kembali dengan saudara kembarnya.
Namun apa... takdir pun berkata lain dan kembali membuat Mutiara merasa kecewa. Ia dan Intan harus bertemu dalam situasi yang buruk. Intan menginginkan kembali mantan kekasihnya yang tak lain adalah suami dari Mutiara yang notabandnya adalah saudara kembarnya sendiri.
Mutiara juga tak menyangka sama sekali jika Intan yang dulunya selalu mengalah pada dirinya, kini berubah menjadi sosok yang egois. Intan ingin merebut paksa posisinya sebagai istri dari Alvian Gilang Dirgantara yang ternyata seorang pembisnis sukses dalam segala bidang.
Untuk memenuhi ambisinya, Intan bahkan sampai rela berbuat tak baik kepada Mutiara. Secara diam-diam ia ingin menukar posisinya dengan Mutiara. Untung saja Gilang menyadari akan hal itu. Kalau tidak, mungkin saat ini Mutiara masih berada dalam cengkeraman seorang pria yang berana Steve.
"Sayang... " seseorang datang membuyarkan lamunan Mutiara.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Gilang, suaminya.
"Aku baik-baik saja sayang, hanya saja entah kenapa tiba-tiba aku merindukan Intan? Seburuk apapun perbuatannya padaku tapi tetap saja dia saudaraku, kami pernah tumbuh dalam rahim yang sama dan sempat hidup bersama beberapa tahun!" Mutiara menggenggam jemari suaminya kemudian menatap lekat kedua matanya.
"Bolehkah aku menjenguknya di dalam bui sana?" tanya nya kemudian.
Gilang menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Mungkin ini memang sudah saatnya Mutiara tahu bahwa saudaranya itu telah bebas karena jaminan darinya.
"Sayang, sebenarnya aku sudah membebaskan Clarissa dengan sebuah syarat!" Gilang menjeda kalimatnya, untuk melihat bagaimana reaksi dari sang istri.
"Membebaskannya dengan sebuah syarat? Maksudnya?"
Gilang menggiring istrinya menuju tempat tidur lalu mendudukannya secara perlahan. Diraihnya tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya dan menghujani beberapa kecupan di wajahnya.
__ADS_1
"Saat itu Azka sedang sakit keras dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang, sedangkan kamu tengah hamil besar dan Kelvin sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Shinta! Aku tak mau semua orang menjadi cemas karena sakitnya Azka, itu sebabnya aku... "
"Kamu meminta Intan untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang bagi Azka dan sebagai imbalannya kamu membebaskan dia dari bui, benar?" sela Mutiara dan Gilang hanya menganggukan kepalanya saja.
Mutiara mendesah berat, mungkin ini lah yang terbaik baginya dan juga saudara kembarnya. Mutiara hanya bisa berharap jika Intan akan berubah menjadi lebih baik. Tetapi tunggu...
Bukankah wanita tadi, msksudnya ibu kandungnya mengatakan jika Intan sangat menderita di dalam penjara. Dan dia bahkan juga mengatakan jika dirinya terlalu egois sebagai saudara hingga tega membiarkan saudaranya tetap mendekam dibalik jeruji besi.
Ibu macam apa dirinya hingga tega mempermainkan hati anak-anaknya. Dia sengaja mendatangi Mutiara hanya untuk membuatnya merasa bersalah saja, sedangkan dia sendiri pun bahkan tidak tahu jika Intan sudah keluar dari penjara.
Mutiara merasa sedih, kenapa ia harus terlahir dari rahim wanita yang tidak memiliki perasaan sama sekali.
"Sudahlah sayang, jangan pernah kamu memikirkan tentang wanita itu lagi! Lebih baik kamu fokus saja dengan keluarga kecil kita saja, aku dan anak-anak!" cicit Gilang.
Mutiara mengangguk, kemudian pandangannya beradu dengan kedua mata Gilang. Kedua saling menatap satu sama lainnya. Ada sebuah kerinduan yang mendalam. Entah siapa yang memulainya terlebih dahulu tapi yang jelas saat ini mereka telah memadu kasih untuk menuntaskan kerinduan yang mereka tahan selama Mutiara dalam masa pemulihan.
----@@@
Hani merasa kesal, ternyata niatnya untuk mengelabuhi Mutiara dengan memakai penderitaan Intan yang kini berada di balik jeruji besi gagal dan tak menghasilkan apapun juga. Tadinya Hani sempat mengira bahwa Mutiara akan sedikit melunak hatinya dan bersedia memaafkan dirinya melalui Intan, saudara kembarnya.
Tapi nyatanya tidak. Mutiara sama sekali tidak perduli bahkan sangat acuh kepada dirinya. Hani memang salah karena saat itu ia lebih memilih Intan untuk dibawa bersamanya. Intan memang berbeda dengan Mutiara. Meskipun wajahnya bak pinang dibelah dua, akan tetapi sifatnya bertentangan. Mutiara penurut dan lembut sedang Intan, dia memang penurut namun terkadang suka membakang dan keras kepala.
"Akh...siapa kalian dan mau apa?" cicit Hani saat kedua tangannya dicekal oleh dua orang pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Hani berusaha memberontak agar terlepas dari kedua pria tersebut. Hanya saja tenaganya kalah jauh. Hani pun pasrah menurut, apalagi setelah salah satu orang itu menodongkan senjata tajam disamping salah satu pinggangnya.
"Diam dan menurut jika ingin nyawamu selamat!" ucap salah satu pria tersebut.
Hani hanya bisa diam tanpa melakukan perlawanan lagi ketika mereka membawanya untuk memasuki sebuah mobil merek Alphard.
"Aku sudah menurut, jadi tolong jauhkan pisau itu dari sana!" pinta Hani berharap mereka mau menurutinya.
__ADS_1
Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, pisau itu telah mendarat dengan mulus di tangannya hingga membentuk sebuah sayatan. Hani menjerit kesakitan, sedangkan kedua pria itu terbahak tanpa ada rasa welas sedikitpun.
Â