
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 54
***
Tatapan Gilang tidak bisa beralih dari pintu ruang UGD. Hatinya semakin resah karena sudah hampir satu jam lamanya, tapi dokter belum juga keluar dari ruangan tersebut. Gilang takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
Gilang tak henti menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa sudah gagal menjaga Mutiara. Tak seharusnya ia membawa Mutiara keluar rumah tanpa pengawalan sedikit pun. Apalagi sampai membiarkan dia pergi ke toilet sendirian.
Kelvin dan Heru menghela nafas panjang. Mereka bisa memahami bagaimana perasaan Gilang. Rasa cintanya untuk sang istri memang sangat besar, jadi sangat lah wajar jika Gilang begitu mengkhawatirkan kondisi Mutiara.
Pintu ruang UGD terbuka. Gilang langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya, dok?" tanya Gilang.
"Syukurlah berkat anda yang sudah membawanya tepat waktu, sekarang istri anda bisa kami selamatkan. Kondisinya pun stabil, hanya saja dia masih membutuhkan banyak istirahat. Apalagi saat ini dia sedang hamil." Dokter memberi penjelasan.
Gilang menghela nafas panjang. Ia merasa sedikit lega.
"Apa boleh saya melihat istri saya?" tanya Gilang lagi.
"Boleh, tapi tunggu setelah istri anda dipindahkan di ruang perawatan!" jawab dokter.
"Baik, terima kasih banyak dok" ucap Gilang.
Dokter tersenyum. Ia pergi berlalu meninggalkan ruangan UGD.
Gilang memerintahkan Heru untuk mengurus ruangan perawatan istrinya. Gilang ingin Mutiara dirawat di ruang perawatan VIP.
"Kelvin, aku minta kamu tetap awasi wanita j***** itu! Jangan biarkan dia tahu kalau kita sudah berhasil menemukan Mutiara!" ucap Gilang pada Kelvin.
"Kalau masalah dia, kakak tidak perlu khawatir! Aku sudah perintahkan seseorang agar tetap mengawasinya!" Kelvin menjawab dengan penuh keyakinan.
"Seseorang? Siapa?" Gilang penasaran.
"Nanti kakak juga tahu siapa orangnya," cicit Kelvin.
Gilang manggut-manggut. Ia harus percaya kepada Kelvin. Adiknya tidak mungkin akan menghianati dirinya lagi. Toh waktu itu bukan keinginan Kelvin yang berniat untuk berkhianat. Dia hanya dijebak oleh wanita yang tidak tahu malu itu.
***
Clarissa merasa senang. Ia tidak pernah menyangka jika tinggal di kediaman Dirgantara sangat lah nyaman. Apa pun yang ia butuhkan selalu terpenuhi dengan baik.
Orang tua Gilang bahkan memperlakukannya seperti seorang putri raja. Mereka selalu memberikan apa yang menjadi keinginan Clarissa tanpa protes sedikit pun. Clarissa bahagia untuk itu.
"Meskipun Gilang tidak mau menerima gue lagi, tapi masih ada kedua orang tua Gilang yang selalu manjain gue. Ya.. walaupun itu karena mereka menganggap gue adalah Mutiara, gue sama sekali tidak perduli." Saat ini Clarissa hanya ingin menikmati kenyaman fasilitas yang diberikan oleh keluarga Dirgantara.
Clarissa mulai iri dengan kehidupan yang didapat oleh Mutiara. Seharusnya dia yang memiliki semua ini, bukan saudaranya itu.
"Ini semua karena wanita tua itu! Seharusnya Mutiara yang ia bawa, kenapa harus gue sih?!" gerutunya kemudian.
Clarissa mengumpat, ia semakin membenci ibunya dan menganggap wanita yang melahirkannya sebagai penyebab kehancuran dalam hidupnya. Clarissa berniat akan membuat perhitungan dengan sang ibu setelah misinya berhasil.
Dan dari sudut yang tidak jauh dari tempat Clarissa bersantai ria, ternyata sudah ada sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh wanita itu.
"Nikmati saja dulu kebahagiaan yang ada, karena setelah itu kamu akan merasakan bagaimana akhir yang menyedihkan!" cicit orang itu.
Orang tersebut tersenyum sinis kemudian meninggalkan tempatnya untuk menginformasikan apa yang ia dapat hari ini.
***
__ADS_1
Seorang pria baru saja membuka kedua matanya. Ia baru sadarkan diri setelah pingsan selama beberapa jam. Pria itu merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia bisa melihat ada banyak luka lebam akibat pukulan yang diberikan oleh anak buah Radit.
"Alvian Gilang Dirgantara, kau sudah menyalakan api benderang perang dengan seorang Steve. Jadi jangan pernah salahkan aku jika setelah ini aku akan menghancurkan hidupmu!!" umpat pria itu.
Steve mengepalkan kedua tangannya. Ia melihat sekeliling. Ruangan kedap suara dan hanya ada satu pintu yang dijaga ketat oleh penjaga. Steve sadar bahwa akan sangat sulit baginya untuk lolos dari tempat terkutuk itu.
Gilang dan orang-orangnya tidak bisa dianggap remeh. Mereka bisa dibilang sangat tangguh dalam menghadapi lawan. Steve harus tetap berhati-hati jika ingin selamat.
*Krieekkk
Pintu terbuka.
Gilang yang di dampingi oleh Radit dan dua orang bodyguart memasuki ruangan tersebut.
"Bagaimana Mr. Steve? Apakah pelajaran yang diberikan oleh anak buahku sudah membuatmu jera?" selidik Gilang.
Mr. Steve terkekeh.
"Jera..? Hahaha...itu tidak akan pernah ada dalam kamus kehidupan seorang Steve!" ujarnya kemudian.
Gilang menggelengkan kepala. Pria yang cukup keras kepala. Gilang semakin tertarik untuk memberikan sebuah pelajaran khusus baginya.
"Kalian semua keluar lah! Dan tutup pintunya!!" Gilang memberikan instruksi.
"Tapi tuan..."
"Lakukan saja perintahku!!" Gilang merasa geram.
Radit menghela nafas panjang. Ia dan anak buahnya segera keluar dari ruangan tersebut.
"Apakah kau ingin mati Mr. Steve?!" bathin Radit. Ia tahu bagaimana sifat tuannya.
"Ternyata kamu punya nyali juga tuan Dirgantara? Aku kira kamu hanya bisa berlindung di bawah naungan anak buahmu" ledek Mr Steve.
Gilang mengepalkan tangan. Tapi tetap berusaha menahan. Ia menggulung kemejanya hingga ke siku.
"Anda beruntung Mr. Steve karena aku sudah berjanji kepada istriku agar tidak kembali ke jalanku yang dulu. Kalau tidak...aku sudah menghabisimu saat ini juga!" ujar Gilang dengan santai.
Mr. Steve menelan salivanya. Ia pernah dengar seperti apa Gilang di masa lalunya.
"Mari satu lawan satu! Jika kamu bisa mengalahkan aku maka kamu bisa keluar dari tempat ini, tapi sebaliknya jika kamu kalah maka kamu akan membusuk di sini." Tantang Gilang.
Mr. Steve ragu, akan tetapi dia tidak memiliki pilihan lainnya.
Perkelahian antara Gilang dan Mr. Steve di mulai dengan sengit. Keduanya saling adu kekuatan, memukul satu sama lainnya. Hingga salah satunya tumbang.
Mr. Steve sudah tidak memiliki tenaga lagi. Dia mengakui Gilang bukan lah lawan yang imbang baginya.
"Aku menyerah!" ucap Mr. Steve.
Gilang menyeringai puas.
"Itu lebih bagus. Sebenarnya apa yang terjadi pada istriku bukan murni kesalahanmu. Akan tetapi karena kau sudah membuatnya ketakutan sampai pada akhirnya dia memilih melukai dirinya sendiri, maka aku ingin sedikit memberi pelajaran kepadamu." Gilang menepuk pipi Mr. Steve.
Gilang meninggalkan Mr. Steve sendirian dalam kebisuan. Mr. Steve mengira nyawanya akan melayang di tangan pemuda itu, tapi ternyata Gilang masih mengampuninya.
"Aku melepaskanmu karena setelah ini ada orang yang lebih berhak memberimu pelajaran karena pengkhianatan yang sudah kau lakukan kepadanya" cuit Gilang sebelum pergi.
Mr. Steve membelalakan kedua matanya. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Gilang.
***
__ADS_1
Gilang menatap wajah pucat Mutiara yang tengah terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang menempel pada tangan kirinya. Gilang merasa lega karena Mutiara berhasil diselamatkan. Jika tidak, Gilang sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya nanti. Mutiara sudah menjadi separoh dari nyawanya. Gilang merasa bahwa ia tidak sanggup apabila harus hidup tanpa istrinya.
Sudah tiga jam Mutiara belum sadarkan diri. Meskipun dokter mengatakan bahwa keadaan Mutiara sudah stabil tetap saja kondisinya masih sangat lemah akibat mengeluarkan banyak darah. Gilang terus menjaga istrinya, ia tidak perduli jika ia belum makan sama sekali.
Puk...
Gilang menoleh ke belakang saat merasakan adanya tepukan pelan pada pundaknya.
"Elvina...kamu...?" Gilang terkejut.
"Kakak pikir aku tidak akan tahu kalau yang ada di rumah kita adalah bukan Mutiara melainkan Clarissa, saudara kembarnya Mutiara." Elvina tersenyum tipis,
"Bukankah aku sahabat Mutiara? Jadi mana mungkin aku tidak bisa mengenali sahabatku sendiri," lanjut Elvina.
Gilang terkekeh kecil. Sekarang ia tahu siapa yang dimaksud oleh Alvian. Gilang mengacak rambut adiknya.
"Istirahatlah kak, biar aku yang menjaga Mutiara!" tawar Elvina.
Gilang menggelengkan kepala.
"Aku ingin tetap di sini sampai Mutiara membuka kedua matanya," cicit Gilang.
"Tapi kak, kakak harus makan agar memiliki tenaga agar bisa menjaga Mutiara! Apa kakak mau jatuh sakit juga? Lalu siapa yang akan menjaga kalian?" bujuk Elvina.
Gilang setuju. Apa yang dikatakan Elvina benar. Dia memang harus menjaga kondisinya agar tidak drop. Masih ada banyak PR yang harus ia kerjakan setelah ini.
"Baiklah, kalau begitu aku titip Mutiara. Cepat beritahu aku jika dia sudah sadar!" cuit Gilang.
Elvina mengangguk. Gilang mengecup kening istrinya sebelum ia keluar dari ruangan perawatan Mutiara.
"Elo emang special Mutiara! Kak Gilang yang tadinya sudah mati rasa akan perempuan sekarang dia bertekuk lutut karena cintamu" ujar Elvina setelah kepergian Gilang.
Elvina sempat cemas ketika mendengar penjelasan dari Kelvin bahwa sebenarnya mantan kekasih kakaknya itu tak lain adalah saudara kembar dari Mutiara sendiri. Elvina takut jika Gilang akan goyah perasaannya setelah bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu. Apalagi dulu Gilang sangat mencintai wanita yang bernama Clarissa.
Namun setelah apa yang terjadi, Elvina merasa lega. Ia yakin bahwa cinta kakaknya untuk Mutiara begitu besar dan tulus.
***
Gilang duduk di kantin rumah sakit sendirian. Walaupun dengan penampilan yang sedikit berantakan tapi tidak membuat para wanita berhenti menatapnya. Mereka saling berbisik mengagumi ketampanan yang ada pada diri Gilang. Sungguh ciptaan Tuhan yang tidak bisa diabaikan oleh mereka para kaum hawa.
Gilang mulai risih dipandang seperti itu. Ia mempercepat makannya dan ingin segera kembali ke ruangan Mutiara.
Dert...Dert...Dert...
Ponsel Gilang bergetar. Setelah melihat siapa yang menelpon, akhirnya Gilang mematikan ponselnya.
"Dasar wanita j***** tidak tahu malu, berani-beraninya dia menghubungiku!" Gilang menggerutu.
Gilang sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanannya. Ia memilih kembali ke ruangan Mutiara, dengan begitu hatinya juga akan menjadi lebih baik.
Di lain sisi, Clarissa mengumpat tidak karuan. Ia merasa kesal karena sudah diabaikan oleh Gilang. Ternyata pria itu tidak mudah untuk ditakhlukan kembali. Clarissa mengira setelah Mutiara tidak ada, Gilang akan luluh dan menerimanya kembali. Tapi tidak demikian. Rasanya Clarissa semakin sulit untuk meraih hati mantan kekasihnya itu lagi.
"Kamu sedang memikirkan apa Mutiara?" tiba-tiba bu Meisya mengagetkan Clarissa.
"Tidak ada Mi.. Aku hanya kepikiran tentang Gilang. Apa dia baik-baik saja atau tidak?" Clarissa berkilah.
Bu Meisya tersenyum tipis. Ia mengusap puncak rambut wanita yang dianggap menantunya itu.
"Kamu memang istri yang baik, mami yakin Gilang akan menyesali perbuatannya karena sudah menyakiti istri sepertimu." Bu Meisya memeluk Clarissa. Tanpa terasa air matanya mulai berjatuhan.
"Maafkan aku Mi...aku tidak bermaksud membohongimu, tapi hanya dengan cara ini aku bisa kembali lagi dengan putramu Gilang" Clarissa membathin.
__ADS_1