Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_28 (REVISI)


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


Part 26


πŸ”Ή


πŸ”Ή


Hari ini keluarga Gilang mendatangi beberapa tempat objek wisata. Mereka sangat berbahagia karena bisa menikmati keindahan liburan bersama keluarga. Dan ini semua pasti berkat Mutiara. Putra sulung dari keluarga Dirgantara telah kembali. Gilang yang sekarang sudah mulai mendekatkan diri dengan keluarga besarnya. Ia lebih mengerti apa pentingnya hubungan keluarga.


Pak Bayu dan bu Meisya merasa bersyukur karenanya. Mereka menganggap bahwa keputusan untuk menikahkan Gilang dengan Mutiara merupakan keputusan yang paling tepat. Buktinya...baru saja menikah sekitar 5 bulan yang lalu, Gilang sudah mengalami banyak perubahan dalam bersikap. Meskipun sebenarnya masih terlihat dingin dan cuek, tapi setidaknya ia bisa lebih menghargai keberadaan orang sekitarnya.


"Sekarang kita mau kemana lagi, mumpung masih sore?" seru Kelvin.


"Hmmm...Gimana kalau kita ke mall??" usul bu Meisya.


"Mami pengen banget shooping sepuasnya sama anak dan mantu mami yang cantik ini" tambah bu Meisya lagi.


"Kalau kalian para wanita shooping, kami para pria harus bagaimana?? Jangan bilang disuruh ngintilin sambil bawa barang hasil shooping kalian?" pak Bayu menyela.


Ia hafal betul kebiasaan istrinya kalau sedang shooping.


Bu Meisya hanya bisa nyengir kuda


"Papi tahu aja maunya mami" ucap bu Meisya sambil nyengir.


Semuanya tertawa, menyaksikan adegan langka yang terjadi pada pasangan yang sudah memasuki usia lanjut itu. Pak Bayu cemberut.


"Emmm...Gimana kalau kita mampir ke kebun teh peninggalan almarhum kakek sama nenek saja? Sekalian Gilang mau meninjau hasilnya, bukankah ini sudah waktunya panen?" kali ini Gilang memberikan usul.


"Aku mau"


"Gue mau"


Mutiara dan Elvina serempak.


"Gue setuju, gue juga udah kangen sama perkebunan teh milik almarhum kakek sama nenek" cuit Kelvin.


"Menurut papi itu lebih baik daripada shooping!! Ya kan Mi...?" pak Bayu tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Baiklah mami ikut aja kalau begitu" lirih bu Meisya tapi masih bisa didengar oleh semua penumpang mobil.


Mereka sepakat untuk pergi ke perkebunan milik almarhum orang tua bu Meisya, yakni milik keluarga Adi Pratama.


-----


Dua puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di perkebunan. Suasananya masih sangat asri. Banyak pekerja pemetik daun teh yang masih melakukan tugas masing-masing. Mutiara merasa sangat takjub, ini merupakan pertama kalinya ia bisa melihat keasrian pemandangan dari sebuah perkebunan teh. Hingga tanpa sadar membuat mulut gadis itu terbuka. Gilang yang berdiri disampingnya, tentu saja menyadari hal tersebut. Dengan tanpa ada rasa malu sedikitpun, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Gilang menyambar ***** Mutiara dengan cepat. Mutiara kaget, sampai-sampai kedua matanya membulat sempurna dan pipinya pun sudah memerah seperti udang rebus. Apalagi kedua mertua dan adik iparnya ikut melihat adegan ****** mereka. Tangan Mutiara refleks, ia mendorong mundur suaminya agar menghentikan kegilaannya. Mutiara menunduk malu.


"Dasar otak mesum! Tidak bisakah kamu melihat ini merupakan tempat umum" gerutu ibu Meisya.


"Emang apa salahnya? Toh Gilang hanya mencium istri sendiri!" cicit Gilang tanpa merasa bersalah.


"Emang tidak ada yang salah, tapi lihatlah wajah istrimu!! Wajahnya sudah menahan rasa malu karena perbuatan gilamu!!" sergah pak Bayu.


Gilang melirik istrinya, Mutiara masih saja menunduk dengan jari-jari yang memainkan ujung kaosnya.

__ADS_1


"Maaf yank...Aku tidak bisa mengontrol dirimu kalau harus berhadapan dengan bibirmu yang manis. Apalagi tadi dalam keadaan terbuka seperti itu" cuit Gilang pada Mutiara. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sedang Mutiara menganggukan kepalanya saja, jantung seakan berdebar ingin keluar dati tempatnya.


Elvina dan Kelvin mengangkat bahu mereka, kemudian mulai berjalan mengelilingi perkebunan. Begitu pula dengan yang lainnya


Gilang meraih tangan Mutiara dan menggandengnya erat seolah tidak ingin terpisah dari wanita yang sudah mencuri hatinya.


"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" cuit Gilang.


"Iya...Aku sangat menyukainya, udaranya sangat sejuk. Andai di kota ada tempat yang seperti ini? Aku pasti akan sering datang mengunjunginya" jawab Mutiara dengan mata yang berbinar.


"Kalau begitu kita akan sering kesini sebulan sekali di akhir pekannya, bagaimana?" usul Gilang.


"Apa kamu yakin yank? Terus bagaimana dengan pekerjaanmu nantinya??" tanya Mutiara.


"Aku kan bosnya...yank, jadi tidak akan ada masalah jika aku tidak pergi ke kantor" Gilang mengusap puncak kepala Mutiara kemudian mengecup pelipis istrinya.


Mutiara mengangguk, ia menyetujui usulan dari suaminya untuk pergi ke Bandung sebulan sekali tiap akhir pekannya.


Gilang dan Mutiata terus melangkahkan kaki mengitari perkebunan teh hingga setiap sudutnya. Dan tak lupa pula keduanya sesekali mengajak bicara dengan para pekerja.


Para pekerja sangat senang, mereka tidak menyangka jika bisa bertemu dengan pewaris dari pemilik perkebunan teh tempat mereka bekerja. Apalagi sikap Gilang dan istrinya yang terkesan sangat ramah.


------


Waktu pun silih berganti, matahari tenggelam sampai ujung langit dan sinar bulan mulai bersinar terang bersama ribuan bintang. Gilang dan Kelvin duduk termenung di halaman Villa. Keduanya tampak bungkam, enggan berbicara. Dalam hati mereka sebenarnya sangat merindukan suasana yang dulu. Dimana sebelum ada Clarissa yang datang menghancurkan hubungan persaudaraan mereka. Gilang berpikir, apa yang dikatakan oleh istrinya benar. Tak sepatutnya hubungan kakak beradik hancur hanya gara-gara wanita yang tidak layak untuk dicintai. Mungkin saat ini Clarissa sedang tertawa puas melihat dirinya menyimpan dendam yang begitu besar pada adik kandungnya sendiri.


"Kak Gilang"


Keduanya kompak.


"Kakak aja dulu yang bicara!" cicit Kelvin.


"Tidak!! Lebih baik elo dulu yang bicara!" balas Gilang.


"Kak Gilang aja dulu, kakak kan yang lebih tua!"


"Justru gue lebih tua, makanya gue minta elo untuk bicara dulu!!" seru Gilang dengan suara tinggi. Keduanya tampak diam kembali.


"Baiklah, gue akan bicara terlebih dahulu" Kelvin mengalah. Dia tahu seperti apa watak kakaknya.


"Gue tahu kalau kesalahan gue sulit untuk dimaafkan! Tapi gue benar-benar menyesal karena sudah mengkhianati kak Gilang!" Kelvin mulai bicara. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian dihembuskan lagi.


"Tapi sungguh kak...Bukan gue yang mulai. Wanita itu terus menggoda, dan gue pun sudah berusaha bertahan untuk tidak mengkhianati kakak. Tapi entah kenapa hari itu gue tidak bisa menolaknya" jelas Kelvin. Dia kembali mengingat kejadian dimana ia melepas keperjakaannya untuk seorang Clarissa.


"Hati dan otak gue terus mengatakan tidak... jangan! Tapi tubuh gue menerima setiap sentuhan yang ia berikan. Ada sebuah gejolak yang saling berlawanan sampai akhirnya gue dikalahkan oleh nafsu. Dan itu semua karena ulah dari Clarissa yang sudah memcampurkan obat perangsang ke dalam minunan gue" lanjut Kelvin.


Gilang hanya bisa terkekeh saja, menertawakan kebodohan yang sudah dilakukannya di masa lampau. Dia tidak pernah sekalipun berniat memberikan kesempatan pada saudaranya untuk memberikan penjelasan. Amarah dan rasa sakit hati sudah membakar jiwanya sehingga membuat dirinya menutup rapat-rapat kedua telinganya. Padahal jelas waktu itu Kelvin sering mendatanginya dan memohon ampun kepada dirinya.


"Kak..."


"Gue memang sudah dibuat bodoh karena cinta palsu dari wanita ****** itu! Bahkan gara-gara kejadian itu, gue sudah menghancurkan hidup gue sendiri! Dan akibatnya?" Gilang tertawa lirih, ia menengadahkan kepalanya ke atas.


"Gue udah melukai hati semua orang, terutama mami dan papi" ucapnya lagi.

__ADS_1


Gilang menoleh ke arah adiknya, ia pun memeluk Kelvin dengan damai.


"Maafin gue! Tolong maafkan atas semua kebodohan yang pernah gue lakukan waktu itu! Hanya karena seorang ******, gue sudah merusak hubungan persaudaraan kita" cuit Gilang.


"Kak Gilang tidak salah! Kita sama-sama korban, dan tidak seharusnya kita saling bermusuhan hanya gara-gara wanita itu" ucap Kelvin.


Keduanya saling berpelukan erat, mengeluarkan tangisan bahagia karena pada akhirnya masalah mereka terselesaikan. Dan itu semua hanya salah paham saja.


Mutiara dan Elvina yang melihat dari jauh, ikut bahagia. Rencana mereka untuk menyelesaikan kesalah-pahaman antara kakak beradik itu akhirnya berhasil juga.


"Makasih banyak ya Mutiara, akhirnya kak Gilang dan kak Kelvin bisa kembali rukun seperti dulu" ucap Elvina merasa haru.


"Ini sudah menjadi kewajiban seorang istri menyadarkan suaminya jika dia sudah melakukan kesalahan baik itu sadar maupun tidak" cicit Mutiara.


-----


Usai makan malam bersama keluarga, Gilang mengajak istrinya langsung ke kamar. Ia ingin berterima kasih pada Mutiara karena pernah meminta dirinya untuk berbicara dengan Kelvin dari hati ke hati, sebagai syarat agar dia mau melakukan perjalanan ke Bandung malam itu.


"Gilang... ini masih sore, masak iya kamu sudah ingin menggempur istrimu!" protes bu Meisya.


"Menggempur? Maksud mami apaan? Apa kak Gilang mau nyakitin Mutiara lagi?" Elvina bingung, ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan maminya.


"Ck...Dasar bocah!" Gilang hanya menggelengkan kepala menyaksikan kepolosan adiknya.


"Maklumi aja kak! Dia kan emang masih bocah" celetuk Kelvin, membuat kedua orang tua mereka saling melirik satu sama lainnya.


"Kalian berdua kompak, apa sudah berbaikan?" cuit pak Bayu.


"Hehehe iya Pi. Kesalah-pahaman diantara kami akhirnya bisa terselesaikan juga" jawab Kelvin.


"Dan itu semua berkat bantuan dari istri kecilku yang cantik ini!" Gilang menimpali.


"Makanya aku mau kasih dia hadiah" Gilang menaik-turunkan kedua alisnya.


"Itu bukan ngasih hadiah namanya, tapi minta jatah!" cibir bu Meisya.


Gilang garuk-garuk kepala. Ia sudah tahu kalau bakal begini jadinya. Papinya saja selalu dibuat kalah telak oleh sang mami kalau masalah berdebat.


"Udahlah Mi...biarkan mereka menghabiskan waktu bersama lebih banyak, syukur-syukur bisa segera kasih cucu buat kita" bela pak Bayu.


"Tuh dengerin kata papi, Gilang mau kasih mami cucu yang banyak! Emang nggak mau?" ucap Gilang penuh kemenangan.


Bu Meisya menggelengkan kepala. Dasar anak sama bapak, kalau masalah begitu langsung gercep alias gerak cepat. Kelvin tertawa kecil dan Elvina...bibirnya membulat membentuk huruf O lantaran baru paham kemana arah pembicaraan mereka.


Mutiara? Jangan ditanya lagi. Wajahnya saja sudah merah karena malu. Ia benar-benar ingin memukuli suaminya saat itu juga.


🍁


🍁🍁


🍁


Author udah Up lagi ya, jangan lupa buat kasih votenyaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Nah masalah Clarissa, sengaja belum dimunculin. Nanti pasti ada saatnya keluar untuk menguji kesabaran GilangπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


Sekian dan Salam dari Author ya


__ADS_2