
****
Di sini, di rumah besar keluarga Dirgantara tengah berkumpul sanak keluarga untuk jamuan acara makan malam. Setiap bulannya, keluarga mereka memang selalu mengadakan pertemuan untuk menjalin silahturahmi antar keluarga.
Pak Bayu dan bu Meisya merasa pertemuan kali ini sangatlah berbeda karena adanya sosok menantu yang melengkapi kebahagiaan keluarganya. Apalagi kedua putranya turut hadir dalam acara ini. Kebahagiaan kedua orang tua tersebut menjadi semakin lengkap.
"Mi...mami sedang memikirkan apa? Lihatlah tamu-tamu sudah pada berdatangan!" tanya pak Bayu.
Bu Meisya tersenyum manis.
"Tidak ada Pi... mami tidak sedang memikirkan apa-apa," ucapnya seraya mengusap geraham kokoh suaminya.
"Mami hanya bahagia karena sekarang anak-anak sudah berkumpul lagi dengan kita, dan ditambah pula dengan kehadiran Mutiara sebagai istri Gilang, mami benar-benar bahagia pi..." bu Meisya berkata lagi.
Pak Bayu merasa sependapat dengan istrinya. Sekarang ia bisa bernafas dengan lega karena anak-anaknya tumbuh menjadi lebih dewasa. Gilang kini sudah menikah dengan Mutiara, dia pun mampu menjalankan perusahaan keluarga dengan baik. Bahkan semenjak dalam kuasa Gilang, PT Group Agung Dirgantara menjadi lebih maju dan berkembang dengan sangat pesat. Hanya saja pak Bayu masih mencemaskan kepribadian Gilang yang suka arogant seenaknya sendiri. Pak Bayu berharap dengan adanya Mutiara disamping putra sulungnya, hidup Gilang akan segera berubah menjadi lebih baik dan bijaksana.
Kelvin, putra keduanya pun telah mampu menyelasaikan pendidikan S2 nya. Pak Bayu berniat menyerahkan tanggung jawab perusahaan yang ada di Bandung kepada putra keduanya itu. Namun sebelum itu, pak Bayu meminta pada Kelvin untuk masuk ke dalam perusahaan Gilang agar bisa belajar menjadi pemimpin yang baik.
Dan Elvina, si bungsu. Pak Bayu rasa beliau tidak perlu mengkhawatirkan anak gadisnya. Meskipun usinya masih remaja, justru Elvina lah yang mempunyai sifat kedewasaan yang lebih ketimbang kedua kakaknya. Ia selalu paham dengan situasi yang ada di sekitarnya. Elvina masih duduk di bangku SMU, sebentar lagi ia pun akan menghadapi ujian sekolah. Elvina tidak seperti kedua kakaknya yang bermimpi jadi seorang pembisnis layaknya sang papi. Ia memiliki sebuah cita-cita yang cukup sederhana yakni menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Pak Bayu dan bu Meisya awalnya merasa kaget dengan keinginan putri bungsunya. Tapi memang begitulah kenyataannya. Elvina selalu jatuh sakit jika otaknya terlalu dipaksakan untuk belajar dengan keras.
Sebagai orang tua yang baik, pak Bayu dan sang istri hanya bisa menyerahkan segala keputusan pada anak-anaknya. Mereka sendirilah yang akan menentukan seperti apa kehidupan mereka kelak.
.........
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Mereka semua kini menatap takjub pada pasangan suami istri yang baru memasuki kediaman keluarga Dirgantara. Sangat serasi dan cocok meski keduanya terpaut beda usia.
"Akhirnya kalian datang juga..." bu Meisya datang menghampiri anak dan menantunya.
"Maaf Mi... kami datang terlambat, harap dimaklumi kan sekarang ada istri yang butuh waktu untuk merias diri" ucap Gilang dengan santai.
Mutiara menoleh ke arah suaminya, kenapa jadi dirinya yang salah?
"Tapi mas"
"Tapi apa? Memang betul kan cewek pasti kalau dandan lama," Gilang memotong cepat perkataan istrinya.
Lagi-lagi Mutiara hanya mendengus kesal, ia selalu saja dibuat kalah telak oleh suaminya. Bu Meisya sebenarnya paham, tapi ia pura-pura tidak tahu saja.
"Dasar bocah gemblung, kamu pikir mami tidak tahu apa yang sedang kau lakukan" bathin bu Meisya mengajak menantunya bergabung dengan yang lain.
Gilang merasakan adanya keberadaan seseorang yang sedang mengawasinya, ia menoleh. Kedua tangannya mengepal kuat berusaha menahan amarah yang sudah memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
"Tahan! Gilang elo harus bisa menahannya!ingat disini ada keluarga elo dan ada pula istri elo...Mutiara" ucap Gilang dalam hati.
Orang tersebut datang menghampiri Gilang, meskipun rautnya terlihat sedikit ragu.
"Hallo kak" sapanya kemudian.
Gilang melengos, ia melangkah pergi menjauhi orang tersebut.
"Gue bisa paham kenapa kak Gilang masih marah kepada gue. Tapi gue berani sumpah, kalau ini semua bukan murni kesalahan gue seutuhnya. Wanita itu yang terus mengejar dan menggoda gue. Sampai akhirnya pertahanan gue runtuh dan mulai masuk perangkap cintanya," ucap pria itu berusaha menjelaskannya.
Gilang bergeming, sebenarnya ia pun tahu tentang hal itu. Ia tahu bahwa yang memulai semua itu bukanlah Kelvin melainkan wanita ular tersebut.
"Gue tahu kalau gue sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Gue sudah mengkhianati kakak gue sendiri, untuk itu selama bertahun-tahun ini gue terus menghukum diri gue sendiri. Gue tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun sebelum kakak menemukan seseorang yang bisa mencintai kakak dengan tulus" ucap pria itu yang tak lain adalah Kelvin.
Sejujurnya Gilang sedikit tersentuh mendengar pengakuan dari Kelvin. Ia tahunjika adiknya berkata benar. Namun karena egonya yang tinggi, ia berusaha tetap acuh tak acuh. Gilang melenggang pergi begitu saja.
Mutiara menatap sendu kepada punggung suaminya. Tanpa sengaja ia telah mendengarkan pembicaraan antara dua kakak beradik tersebut. Mutiara sekarang tahu kenapa Gilang bisa menjadi seperti sosok yang dingin dan angkuh, ini semua pasti karena dia merasa dikhianati oleh orang-orang yang dicintainya.
Mutiara menghampiri Kelvin.
"Kamu harus bersabar ya dan percayalah suatu saat mas Gilang pasti akan memaafkan dirimu" ucap Mutiara pada Kelvin.
Kelvin membalikan badan, ia sangat terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin wanita itu bisa ada disini?? Apakah dia dan kakaknya sudah...??
"El...el...el...lo" ucap Kelvin dengan terbata.
Kelvin masih tak percaya, ia membeku tanpa bisa bicara lagi. Lidahnya seakan terasa kelu.
"Dia istri kak Gilang? Tapi kenapa wajahnya bisa mirip dengan Clarissa?" Kelvin bertanya-tanya dalam hati.
Matanya masih tak berkedip menatap wajah ayu milik kakak iparnya.
"Ngapain kamu disitu? Bukannya tadi bilang mau ketemu sama mami!" tegur Gilang dengan tatapan nyalang.
Mutiara meringis, ia segera berlalu dari hadapan Kelvin.
"Kak Gilang...dia...??"
"Jangan bicara disini!" Gilang menyela.
Ia pergi menuju ke halaman belakang rumah. Kelvin paham, jadi ia pun mengikuti kakaknya.
***
Kelvin bisa mengerti dengan sikap kakaknya, untuk itu dia hanya bisa diam dan menerima kebencian Gilang. Ia sadar bahwa kesalahan yang pernah ia lakukan itu sangat sulit untuk dimaafkan. Kelvin hanya berharap suatu saat nanti sang kakak bersedia memaafkannya.
"Gue harap kali ini elo jangan pernah coba-coba untuk mendekati istri gue!" Gilang menatap dingin pada Kelvin.
__ADS_1
"Jadi kak Gilang balikan lagi sama wanita itu? Kenapa namanya Mutiara? Dia bahkan seperti tidak mengenalku, apa yang terjadi padanya?" Kelvin penasaran.
Gilang tertawa hambar, ia sudah bisa menebak jika Kelvin akan bereaksi seperti itu. Sama seperti dirinya dulu, yang mengira istrinya adalah wanita ular itu.
"Elo b*** atau hanya pura-pura b***?? Mana mungkin gue mau balikan sama wanita yang sudah mengkhianati gue," ucap Gilang.
Kelvin bingung, ia semakin tidak mengerti.
"Awalnya gue juga menyangka dia adalah Clarissa, itu sebabnya gue sempat menolak perjodohan itu! Tapi mami terus mendesak dan gue hanya bisa menuruti permintaannya" Gilang mulai bercerita.
"Setelah menikah dengannya gue masih curiga jika dia adalah Clarissa yang menyamar menjadi orang lain. Namun sikapnya yang lembut dan lugu menyadarkan gue bahwa dia bukanlah Clarissa, dia adalah Mutiara gadis cilik yang sering ikut dengan ayahnya, Pak Surya" Gilang menengadahkan wajahnya, rasa bersalahnya kembali muncul.
"Gue akhirnya meminta seseorang untuk menyelidiki latar belakang Mutiara dan Clarissa. Mereka memang orang yang berbeda tapi lahir dalam satu rahim... Clarissa dan Mutiara merupakan saudara kembar, tapi keduanya sudah lama terpisah karena orang tuanya bercerai" Gilang menatap Kelvin yang masih bergeming dengan pemikirannya sendiri.
"Apa Mutiara tahu soal Clarissa?" tanya Kelvin.
"Gue tidak tahu apakah Mutiara menyadari bahwa ia mempunyai saudara kembar atau tidak? Tapi yang jelas ia sama sekali tidak tahu tentang Clarissa! Jadi gue minta sama elo jangan sampai istri gue yang polos itu tahu tentang semua ini. Gue hanya tidak mau dia terluka" jawab Gilang.
Kini giliran Kelvin yang menatap sang kakak. Ia bisa merasakan adanya cinta dari sorot mata kakaknya. Mutiara berhasil melunakan dan menempati hati Gilang yang membatu.
"Gue berjanji tidak akan membocorkan perihal Clarissa pada siapa pun, terutama istri elo" cicit Kelvin.
Gilang menepuk bahu adiknya, ia memang belum sepenuhnya bisa memaafkan Kelvin. Tapi Gilang berjanji akan berusaha menurunkan egonya. Walaupun harus membutuhkan waktu yang lama.
"Terima kasih dan ingat...jangan coba-coba mendekati atau berusaha mengambil istri gue! karena kali ini gue tidak akan tinggal diam!" ancam Gilang dengan penuh menekanan.
"Iya gue tahu, lagi pula mana berani gue mendekati kakak ipar? Lihatlah mami sama papi terlihat sangat menyanyangi menantunya, mana tega gue merusak hubungan yang manis itu," ujar Kelvin.
Gilang mengedikan kedua bahunya, kemudian masuk kembali ke dalam rumah untuk bergabung dengan yang lainnya.
Kelvin tersenyum, ia bahagia karena setidaknya sang kakak sudah mau berbicara lagi dengan dirinya. Dan sisanya ia serahkan saja pada waktu.
**Hallo para reader Author up lagi ya
Maaf kalau masih ada typo bertebaran dimana-mana
Soal kenapa Author hanya sekali up??
Itu karena lagi revisi cerbung pertama yang author buat untuk jadi Novel๐๐
Tadinya mau di up disini aja, tapi setelah dipikir-pikir sebaiknya fokus sama yang ini dulu. Biar nggak berantakan๐๐๐
Jangan lupa buat kasih votenya ke author ya
soalnya novel itu lagi diikut sertakan lomba menulis novel Fiksi remaja
Terima kasih banyak
__ADS_1
salam dari Author๐๐๐๐**