Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_31 (REVISI)


__ADS_3

#PernikahanBedaUsia


Part 29


-----


Semua murid kelas tiga dari SMU Dirgantara telah bergerombol memenuhi papan pengumuman yang ada di lorong dekat dengan ruangan kepala sekolah. Mereka saling berdesak-desakan hanya untuk mengetahui hasil kelulusan. Mutiara dan Elvina ingin bergabung, tapi dicegah oleh Arif. Pria itu tidak ingin melihat kedua sahabatnya harus bersusah payah untuk melihat apakah mereka lulus atau tidak.


Arif memang dikenal sebagai cowok idola di sekolahnya. Selain ia tampan, dia juga merupakan ketua OSIS di SMU Dirgantara. Jadi banyak para gadis yang memujanya, hanya saja Arif tidak pernah mengindahkan mereka semua. Seperti yang kalian tahu, hati pria itu sudah mentok pada sosok gadis bernama Mutiara. Tapi sayangnya sekarang gadis itu sudah menjadi milik pria lain. Arif hanya bisa menerima dan berdoa semoga Mutiara selalu berbahagia bersama suaminya.


*EHEEM.....*


Semua gadis mulai menoleh ke arah sumber suara yang berdehem, mereka para gadis memberikan jalan pada Arif untuk melangkah menuju papan pengumuman dengan mudah. Sedangkan para cowok hanya bisa menggelengkan kepala saja. Mereka merasa sedikit iri pada Arif yang selalu mendapat perlakuan istimewa dari kaum hawa.


Arif dengan santai membaca satu persatu catatan yang terpampang pada papan pengumuman. Ia mulai menelusuri setiap baris daftar nama-nama yang ada. Arif tersenyum kecil kemudian meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih karena sudah memberikan jalan buat gue," cicitnya pada kaum hawa sebelum menghampiri kedua sahabatnya.


Mutiara dan Elvina hanya menggelengkan kepala, mereka bukannya kaget. Tapi heran dengan kelakuan para gadis yang masih saja dibuat klepek-klepek oleh Arif. Padahal sudah jelas bahwa pria itu selalu mengacuhkan mereka.


"Yuk kita ke kantin aja sekarang!" ajak Arif pada kedua sahabatnya.


"Terus gimana dengan hasil kelulusan kami?" tanya Mutiara.


"Nanti gue kasih tahu kalau udah sampai di kantin" jawab Arif dengan santai dan melenggang pergi begitu saja.


Mutiara dan Elvina terbengong, mereka saling menatap satu sama lainnya. Kemudian pergi mengejar Arif.


"Aww...sakit, " ringis Arif saat kepalanya dijitak oleh Elvina.


"Eh... Jadi cewek elo jangan galak-galak donk!Pantes aja nggak ada cowok yang berani mendekat sama elo," protes Arif.


Spontan saja mata Elvina melotot dengan sempurna. Apa yang dikatakan Arif memang benar. Selama ini tidak ada seorang pun cowok yang berani mendekati Elvina. Bukan karena dia galak, melainkan ulah kakaknya yang terlalu ketat dalam menjaganya.


Elvina masih ingat betul bagaimana proses PDKT nya dengan sang pujaan hati menjadi berantakan lantaran ulah sang Kakak.


Gilang dengan tidak tahu malunya sengaja mendatangi dan mengancam pujaan hati Elvina agar menjauhi sang adik. Jelas saja pria itu menjadi ciut dan mulai menjauhi Elvina.


Awalnya Elvina sangat marah tapi setelah tahu kenapa kakaknya sampai berbuat begitu, ia pun bisa memaklumi semuanya dengan baik. Walaupun terkesan cuek, Gilang sebagai kakak ternyata sangat memperdulikan adiknya. Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun bisa menyakiti hati Elvina.


"Resek banget sich elo!!" cuit Elvina mengerucutkan bibir.


Elvina segera mendaratkan bokongnya untuk duduk di samping Arif dan Mutiara.


Arif tertawa, merasa lucu dengan gaya cemberut Elvina yang terkesan jaim.


"Terus aja ketawanya!!" cibir Elvina semakin kesal saja.

__ADS_1


Arif menghentikan tawanya saat Mutiara mencubit lengannya, ia pun sebenarnya sudah tahu kenapa para cowok enggan berdekatan dengan Elvina. Tapi mau bagaimana lagi? Toh sifat Alvian Gilang Dirgantara memang begitu adanya. Bahkan dirinya juga sempat mendapat ancaman kecil untuk tidak terlalu dekat dengan sang istri tercinta.


"Udah dong acara berdebadnya! Apa kalian enggak capek ribut mulu? Entar jadi saling suka lhooo...." cicit Mutiara menengahi.


"Suka sama dia? Ogah gue!!" celetuk Elvina.


"Emang gue mau apa? Yang ada entar gue bakalan jadi bahan bulan-bulanan sama kakak elo yang sinting itu!!" ceplos Arif yang langsung mendapat sorotan tajam dari Mutiara.


Arif hanya bisa nyengir kuda, ia sadar sudah salah bicara.


"Elo mendingan bilang dech, bagaimana hasil kelulusan kita? Jangan suka bikin orang menjadi penasaran seperti ini!!" tukas Elvina.


"Iya...Ya...Bawel!! Kita semua lulus dengan hasil yang sangat memuaskan!! Dan pastinya seperti biasa... Mutiara yang berhasil menduduki nilai teratas untuk sekian kalinya," jawab Arif.


Elvina berlonjak kegirangan. Ia bahkan tanpa sadar sudah memeluk dan mencium pipi Arif.


"M-ma-ma-af... Gue nggak sengaja. Gue hanya nggak bisa menahan diri karena terlalu bahagia bisa lulus dengan nilai yang baik," jelas Elvina merasa sangat malu.


Pipi Elvina mulai memanas dan merona. Ia segera berlalu meninggalkan Arif dan Mutiara yang masih mematung. Tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Elvina barusan.


"Apa gue lagi mimpi ya? Gue barusan dapet rezeki nomplok," cicit Arif kemudian. Jantungnya pun berdegub dengan sangat kencang.


Mutiara tersadar dari lamunannya, ia merasa jika saat ini sudah ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati kedua sahabatnya itu. Ia ingin Elvina dan Arif menjalin hubungan lebih dari sekedar dari sahabat. Mutiara memikirkan bagaimana caranya, ia bisa membujuk Gilang agar tidak lagi mencampuri masalah percintaan adiknya lagi. Mutiara sangat berharap Elvina dan Arif bisa menjadi satu, dan menurutnya mereka sangat cocok.


πŸ”ΉπŸ”Ή


Di tempat lain, ada Gilang yang di dampingi oleh Kelvin melakukan sebuah pertemuan khusus dengan seorang Client dari Amerika. Dia tak lain adalah Mr. Steve yang datang seorang asisten pribadinya. Tadinya ada Clarissa, namun entah kenapa gadis itu tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk ikut bersama MR. Steve saat melihat adanya sosok Kelvin ada bersama Gilang. Mereka tampak dekat lagi seperti dulu, mungkinkah hubungan mereka sudah membaik?


Kelvin sudah tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia pasti tidak akan pernah membiarkan Gilang kembali merajut kasih dengan dirinya. Clarissa berpikir akan menyingkirkan Kelvin terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan rencananya.


"Bagaiamana Tuan Dirgantara? Apakah anda setuju dengan proposal yang diajukan perusahaan kami?" tanya Mr. Steve.


Gilang nampak berpikir. Ia tahu siapa lawan bicaranya saat ini. Ia merupakan salah satu pengusaha tersohor dari negera Amerika, Mr. Steve. Hanya saja... Gilang tidak terlalu menyukai cara berbisnis Mr. Steve yang akan menghalalkan segala macam cara demi meraih kesuksesan. Gilang tidak mau salah melangkah yang akhirnya akan berujung merugikan banyak pihak lain. Ia selalu ingat dengan pesan yang pernah dituturkan oleh sang nenek dan kedua orang tuanya, agar senantiasa melakukan kejujuran dalam melakukan hal apapun. Termasuk dalam berbisnis.


"Maaf Mr. Steve, apakah boleh kami meminta waktu agar bisa berbicara terlebih dahulu dengan pak Bayu Dirgantara. Biar bagaimanapun juga beliau tetap memegang utama kuasa perusahaan PT. Groub Agung Dirgantara," ucap Kelvin dengan sangat hati-hati. Ia tahu jika kakaknya tengah dalam keadaan gamang.


Mr. Steve hanya menganggukan kepala saja, ia tampak sedikit kecewa sebenarnya. Tapi apa boleh buat? Untuk mencapai kesepakatan kerja sama dengan PT. GAD bukanlah hal yang sangat mudah. Apalagi jika harus berurusan langsung dengan Bayu Dirgantara...Semua akan menjadi lebih sulit pastinya.


Bayu Dirgantara bukan-lah orang yang suka melakukan bisnis kotor. Ia pasti akan lebih memilih kehilangan tender besar ketimbang harus berada di Zona yang salah. Itu sebabnya sampai saat ini, perusahaan PT. GAD terkenal sebagai perusahaan yang bersih dan jujur.


Gilang dan Mr. Steve pada akhirnya sepakat untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini. Dan mereka akan melakukan pertemuan selanjutnya setelah tiga hari ke depan. Gilang bisa menghela nafas dengan lega, setidaknya ia memiliki waktu untuk memikirkan cara bagaimana memberikan penolakan secara halus. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menjalin kerja sama dengan orang yang licik dan kotor.


"Vin, kita harus memikirkan cara bagaimana bisa menolak kerja sama ini secara halus! Gue yakin papa pasti juga tidak ingin jika harus menjalin kerja sama dengan Mr. Steve!" ucap Gilang pada adiknya.


"Tapi kenapa kak?" Kelvin tidak mengerti.


"Dia adalah pengusaha yang sangat licik dan kotor. Gue tidak mau jika perusahaan kita harus berurusan dengan hal-hal yang berbau suatu kecurangan," jelas Gilang.

__ADS_1


Kelvin mengerti, ia berjanji akan mencari jalan tengah dari permasalahan yang sedang berlangsung.


"Clarissa...." guman Kelvin dalam hati.


Meskipun samar tapi ia yakin jika gadis itu tak lain adalah Clarissa. Tapi bagaimana mungkin ia bisa bersama dengan Mr. Steve? Apa mereka memiliki hubungan spesial? Kelvin akan menyelidiki hal itu. Toh ada juga yang harus segera ia selesaikan dengan wanita ular tersebut.


****


Sesuai janjinya, hari ini Mutiara dan Elvina akan pergi menemani sang mami mertua untuk shooping bersama. Mereka bertiga kini sudah ada dalam sebuah mall pusat perbelanjaan yang ada di kota jakarta. Bu Meisya tampak gembira sekali, ia selalu lupa diri jika sudah menyangkut hal yang berbau shooping. Bahkan barang yang sebenarnya tidak diperlukan pun terkadang ia beli. Termasuk hari ini. Ia memaksa menantunya untuk memilih pakaian tidur yang sebenarnya dianggap tidak perlu oleh Mutiara. Apalagi bentuk dan modelnya yang sangat tidak pantas untuk dikenakan. Sangat tipis dan kekurangan bahan.


"Sayang... ini namanya lingeria yang biasanya dipakai oleh para wanita untuk menggoda suaminya," bisik bu Meisya.


Mutiara menyipitkan mata, kemudian melotot tak percaya. Tanpa memakai pakaian seperti itu pun, suaminya seakan ingin menerkam dirinya setiap saat. Apalagi jika ia sampai memakai pakaian yang kekurangan bahan itu? Bisa-bisa...Gilang akan menghabisi dirinya setiap saat tanpa memberikan jeda waktu. Mutiara segera menggelengkan kepala, menepis segala pikiran kotor yang ada di otaknya.


"Mbak, kita ambil yang ini aja ya.." bu Meisya menyerahkan beberapa potong model lingeria.


Mutiara menoleh pada Elvina yang masih asyik melihat-lihat isi toko.


"Hupphhh...Sepertinya aku memang harus menurut saja untuk kali ini! Toh mami juga tidak akan tahu kalau aku tidak memakainya," guman Mutiara dalam hati.


Setelah membayar pada kasir, bu Meisya menggiring anak dan menantunya ke sebuah butik yang tidak asing bagi mereka. Butik itu tak lain adalah milik bu Meisya sendiri yang tengah dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Bu Meisya meminta para karyawannya untuk mengeluarkan beberapa model dress keluaran terbaru agar bisa dicoba langsung oleh Elvina dan Mutiara.


"Mi...apa ini tidak terlalu berlebihan??" cuit Mutiara.


Bu Meisya dan Elvina hanya tersenyum kecil.


"Sayang, kamu itu adalah istri dari Alvian Gilang Dirgantara, pengusaha muda yang banyak digandrungi para wanita! Jadi kamu harus tetap memiliki penampilan yang yang menarik agar suamimu tidak melirik wanita lain selain dirimu," ujar bu Meisya.


Mutiara lagi-lagi ia mengangguk. Mungkin benar, ia harus mulai belajar merawat dirinya agar suaminya tidak kecantol oleh wanita manapun.


Setelah capek berkeliling mall, bu Meisya mengajak Elvina dan Mutiara untuk makan di sebuah restaurant seafood kemudian lanjut ke salon. Hari ini mereka ingin memanjakan diri setelah lelah dengan segala aktivitas mereka.


Mutiara yang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya menjadi sangat terharu. Ia kembali mengingat dimana kehidupannya begitu sulit bersama sang ayah. Mereka harus berpikir bagaimana hari esok jika hari ini mereka makan enak. Tapi sekarang? Mutiara bahkan bisa makan di restorant mewah setiap harinya. Membeli pakaian dan berbelanja dengan sesuka hatinya. Semua itu sangat mudah ia dapatkan, hanya tinggal datang merayu suaminya maka ia akan mendapatkan apa yang ia mau.


"Mutiara, kita harus selalu ingat bahwa hidup manusia itu tak selamanya dibawah dan tak selamanya pula di atas. Jadi kamu harus tetap mawas diri dan tidak boleh menjadi sombong jika suatu hari nanti sedang berada di atas karena besar kemungkinan untuk kembali berada di bawah akan selalu datang,"


Mutiara mengingat nasihat sang ayah, ia tidak ingin menjadi takabur dengan keadaannya yang sekarang. Mungkin benar ia memiliki suami yang kaya raya dan sangat mencintainya. Tapi bagaimana jika suatu hari nanti Gilang menjadi bosan kepadanya? Pria itu bisa saja meninggalkan dirinya begitu saja.


Mutiara tidak bisa membayangkan hal itu. Ia tidak ingin menggantungkan hidupnya pada sang suami. Ia harus tetap bisa meraih semua cita-cita yang pernah ia rangkai di dalam hatinya. Mutiara ingin menjadi seorang dokter.


πŸ”Ή


πŸ”Ή


πŸ”Ή


**Author up lagi ya

__ADS_1


jangan lupa untuk like, koment dan berikan votenya


Terima kasih banyakπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™**


__ADS_2