Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_50


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 50


***


Gerimis mengiringi sebuah pagi yang cerah membuat anak manusia enggan meninggalkan tempat dimana mereka menuju alam mimpi.


Gilang yang sudah membuka kedua matanya sedari tadi asyik memandangi wajah istrinya.


Cantik...


Hanya satu kata yang bisa ia lontarkan. Meskipun wajah Mutiara dalam keadaan sembab akibat menangis semalam, tetap saja itu tidak bisa menutupi kecantikan yang terpancar dari wajah istrinya itu.


"Dia seperti seorang bidadari. Tak hanya wajahnya yang cantik, namun hatinya pun juga cantik. Aku beruntung bisa memiliki dia sebagai seorang istri." Gilang berbicara dalam hati. Ia membelai wajah istrinya.


Mutiara menggeliat. Perlahan-lahan ia mulai membuka mata kemudian menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang ranum.


"Yank..." ucapnya.


"Maaf kalau aku sudah mengganggu tidurmu?" ujar Gilang.


Mutiara menggelengkan kepala lalu ngedusel ke dalam dekapan suaminya.


"Yank, hari ini aku mau kamu tetap di rumah aja ya!" pinta Mutiara.


"Memangnya kamu tidak ingin pergi ke sekolah?" tanya Gilang.


Mutiara menggelengkan kepalanya lagi.


"Aku masih takut, yank. Aku takut jika orang itu tiba-tiba muncul lagi," cuit Mutiara.


Gilang menarik nafas lalu menghembuskannya lagi. Ia bisa memahami rasa takut yang dialami oleh istrinya. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Mr. Steve karena memang kenyataannya wajah Mutiara sama persis dengan Clarissa. Justru yang Gilang cemaskan saat ini adalah kemarahan dari Mr. Steve, pria itu pasti merasa telah dipermainkan dan dikhianati oleh kekasihnya. Jika Mr. Steve tidak tahu yang sebenarnya, bukan hanya Clarissa yang terkena imbasnya saja. Akan tetapi juga Mutiara sendiri.


"Yank..." Mutiara mendongak.


"Hmm..."


"Kok ngelamun sih? Kamu lagi ada banyak pekerjaan ya?" lirih Mutiara.


"Enggak kok, aku hanya merasa kalau suamimu ini sudah gagal dalam menjaga istrinya!" ujar Gilang.


Mutiara diam. Ia tidak bermaksud membuat suaminya kembali merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya.


"Di sini kamu tidak salah, yank. Justru aku lah yang harusnya minta maaf karena tidak mau mendengar perintahmu!" cicit Mutiara.


Gilang tersenyum kecil. Ia memgusap pelan wajah Mutiara.


"Baiklah kalau begitu sebagai penebus kejadian kemaren, aku akan menemani mu seharian ini." Gilang mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Mutiara kembali bersedih lantaran kejadian kemaren.


"Makasih ya yank, kamu emang suami yang terbaik." Mutiara merasa senang.


***


Di tempat lain, Mr. Steve semakin meluap emosinya. Clarissa tidak kembali ke apartement. Ponselnya pun dimatikan. Wanita itu seolah sengaja menghindar dari Mr. Steve. Clarissa menghilang tanpa jejak.

__ADS_1


Mr. Steve mengumpat, ia tidak akan membiarkan Clarissa lepas begitu saja. Ia bersumpah akan membuat Clarissa kembali berlutut, hanya demi mendapatkan belas kasihnya.


Mr. Steve segera menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas nakas meja. Ia akan mencari Clarissa sampai ketemu. Wanita itu pasti tidak bisa pergi jauh dari kota Jakarta. Apalagi Clarissa tidak punya cukup nyali jika harus hidup tanpa kemewahan.


"Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan padamu j***** kecil!!" guman Mr. Steve.


Mr. Steve meninggalkan apartementnya dengan wajah dingin. Semua orang yang melihatnya menjadi ngeri sendiri. Mereka hanya bisa menunduk saat berada di dalam lift yang sama dengan Mr. Steve.


Raut wajah Mr. Steve saat ini sudah menunjukan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. Ia bisa menerkam mangsanya sewaktu-waktu.


Setelah Mr. Steve menghilang, seorang wanita muncul. Ia menghela nafas panjang.


"Syukur lah dia sudah pergi," ujar Wanita itu yang tak lain adalah Clarissa.


Clarissa melangkah menuju pintu apartement Mr. Steve. Untung saja ia mengetahui paswordnya, dengan cekatan Clarissa pun menekan tombol angka hingga pintu terbuka. Clarissa masuk ke dalam. Ia segera mengemasi semua pakaiannya dan pergi menjauh dari Mr. Steve.


Clarissa tidak mau kalau hidupnya sampai terjerat bersama Mr. Steve untuk selamanya. Ia juga ingin memiliki sebuah kehidupan yang normal untuk membangun keluarga kecil yang bahagia dan harmonis tentunya. Bukan malah menjadi wanita simpanan saja. Dan pastinya Clarissa ingin mewujudkan itu bersama mantan kekasihnya. Walaupun ia harus bersaing melawan saudari kembarnya sendiri.


"Gue harus cepat pergi dari sini! Kalau tidak, pria itu pasti akan menyiksa gue lagi!" guman Clarissa.


"Tapi sebelum itu, gue harus mengambil sesuatu terlebih dahulu untuk bertahan hidup selama gue belum berhasil menakhlukan Gilang kembali." Clarissa menyeringai. Ia tidak mau jika hidupnya akan terkatung-katung tanpa sebuah kepastian yang jelas.


***


Mutiara merasa sangat bahagia karena pada akhirnya ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama suaminya. Meskipun hanya dengan cara yang sangat sederhana. Tidak butuh tempat yang mewah ataupun romantis, karena kebahagiaan yang sesungguhnya ternyata ia bisa dapatkan di dalam rumah sendiri.


Seperti perkataan ayahnya dulu, uang dan kekayaan bukan lah sebuah penghantar dalam mencapai suatu kebahagiaan. Jika hati bersih dan dipenuhi rasa cinta yang tulus maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Uang bisa dicari akan tetapi menemukan orang yang tulus dalam mencintai itu yang sulit. Mutiara tidak akan pernah lupa dengan apa yang pernah ia dengar dari mulut ayahnya.


Mutiara benar-benar menikmati kebersamaan-nya dengan Gilang. Ia menunggui suaminya yang tengah memeriksa beberapa email yang dikirimkan oleh secretarisnya. Entah kenapa hari ini ia tidak merasa bosan sama sekali, walaupun Gilang tetap bekerja dari rumah. Mutiara malah asyik memandangi wajah suaminya yang dirasa sangat tampan jika sedang serius dalam bekerja.


"Apa aku begitu tampan sampai-sampai istriku terus memandangiku dari tadi?" Gilang menggoda Mutiara.


Ia tersenyum saat mendapati wajah istrinya bersemu merah. Gilang mengangkat tubuh Mutiara dan mendudukan Mutiara di atas pangkuannya.


"Ada apa...Hmm...?" Gilang menaik-turunkan kedua alis matanya.


Mutiara menggelengkan kepala. Ia malu karena kepergok oleh Gilang sedang memperhatikan wajahnya.


"Apa kamu merindukan aku?" goda Gilang lagi.


Mutiara tidak menjawab. Ia membuang muka untuk menutupi wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Mutiara memang merindukan suaminya, akan tetapi ia merasa malu jika harus berkata jujur pada Gilang.


Gilang terkekeh kecil. Menurutnya Mutiara semakin menggemaskan setelah berbadan dua. Mutiara lebih kelihatan cubby nya. Selain itu Mutiara juga semakin bertambah agresif saja. Gilang sendiri hampir tidak percaya karenanya.


"Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Gilang.


Mutiara bergeming. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Gendong..." pinta Mutiara dengan sikap manjanya.


Gilang tersenyum. Ia menggendong Mutiara ala bridal style. Gilang menyukai Mutiara yang manja sekaligus pemalu seperti saat ini.


***


Hari ini Kelvin yang ditemani oleh Radit melakukan pertemuan dengan PT. Kencana Abadi. Mereka ingin membahas ulang tentang kontrak kerja sama yang pernah dibicarakan pada pertemuan sebelumnya.

__ADS_1


Seperti saat pertemuan yang pertama kali, ada sebuah rasa canggung sekaligus penasaran di hati Kelvin. Ia masih merasa penasaran dengan Tyas. Kelvin yakin jika ia pernah bertemu dengan Tyas Ayu Wulandari, tapi Kelvin lupa dimana tempatnya?


Begitu pula dengan Tyas. Wanita itu terus menundukan kepala. Ia kurang nyaman dengan tatapan yang ditunjukan oleh Kelvin.


Radit menyadari perilaku mereka, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


"Eehemmm..." Radit berdehem, berusaha mencairkan suasana.


"Ehh...maaf..." Kelvin sedikit gugup.


"Mari kita langsung membahas tentang masalah kerja sama yang akan kita lakukan nanti!" ujar Kelvin kemudian.


"Oh...iya...baik lah" Tyas pun nampak gugup.


Tyas menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya lewat mulut. Lega...itu yang dirasakan oleh Tyas saat itu.


Radit dan Vita hanya bisa menahan tawa karena merasa aneh dengan tingkah laku yang ditunjukan oleh atasan mereka.


Tyas menyerahkan sebuah map berwarna kuning kemudian membuka laptopnya. Ia mulai menerangkan bagaimana perusahaannya akan menjalankan sebuah projek besar dan apa saja yang akan menjadi keuntungannya.


Kelvin memperhatikan dengan seksama. Ia mengagumi kelihaian Tyas dalam memberikan penjelasan.


Bukan sembarang wanita, pikir Kelvin.


Kelvin bisa melihat dengan jelas bahwa Tyas tidak hanya cantik dan elegant. Akan tetapi dia juga seorang wanita yang cerdas dalam hal berbisnis. Tidak mungkin jika Tyas sekedar seorang manager saja. Ia pasti memiliki jabatan khusus, hanya saja wanita itu berusaha menutupinya.


"Bagaimana, tuan Kelvin? Apa anda bersedia melanjutkan kerja sama kita?" tanya Tyas.


Kelvin menatap Radit, kemudian ia menganggukan kepala.


"Tidak buruk, baik lah kami bersedia menerima kerja sama ini dengan tangan terbuka. " Kelvin mengulurkan tangannya.


Tyas tersenyum. Ia membalas uluran tangan Kelvin. Keduanya berjabat tangan dan saling menatap satu sama lainnya.


"Terima kasih banyak, Tuan Kelvin."


"Sama-sama,"


Radit mendengus. Tidak kakaknya tidak adiknya kalau sudah jatuh cinta, mereka akan sama-sama lupa dengan sekitar. Ya begitu lah nasib jomblo...hanya bisa melihat jika ada sejoli yang saling terkena busur panah asmara.


***


Kembali lagi dengan Mr. Steve.


Pria itu terlihat frustasi. Ia tidak bisa menemukan keberadaan Clarissa. Entah kemana gadis itu bersembunyi? Clarissa tidak punya cukup uang, bagaimana wanita itu berani meninggalkan dirinya? Mungkinkah Clarissa sudah mendapatkan pria yang lebih segalanya dari dirinya.


Pria itu tidak bisa berhenti memikirkan Clarissa. Hatinya sudah terikat dengan wanita itu. Ia sudah sangat merindukan Clarissa, padahal baru sehari semalam tak bertemu.


Mr. Steve kembali ke apartementnya. Ia butuh beristirahat sejenak. Agar otaknya kembali jernih. Setelah itu, baru lah Mr. Steve akan mencari keberadaan kekasih kecilnya itu.


Mr. Steve mengerutkan kening. Ia melihat lemari pakaiannya sudah awut-awutan. Mr. Steve membuka lemari Clarissa. Ia terkejut sekali ketika mendapati lemari wanita itu sudah kosong.


Mr. Steve mengumpat kesal. Ia meratuki kebodohannya. Sekarang Clarissa benar-benar lolos darinya setelah berhasil mengambil uangnya.


"Dasar j***** kecil, berani-beraninya kau bermain denganku!! Aku bersumpah tidak akan pernah mengampunimu ketika aku berhasil menemukan keberadaanmu!!" maki Mr. Steve.

__ADS_1


Mr. Steve semakin murka. Ia sudah tidak dapat lagi mengendalikan emosinya. Dengan membabi buta Mr. Steve kembali mengacaukan seluruh isi yang ada di kamarnya.


__ADS_2