Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_103


__ADS_3

💕💕💕


Tok...tok...tok...


Tok...tok...tok...


Tok...tok...tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Kelvin. Awalnya terdengar pelan namun perlahan ketukan itu berubah menjadi gedoran disusul dengan jeritan suara yang memanggil namanya.


Alih-alih membukakan pintu, Kelvin malah semakin meringkuk menutup rapat tubuhnya dengan selimut. Membenamkan wajah dibawah bantal.


"Akhh...berisik banget, sih! Nggak tahu apa, gue masih ngantuk banget!" gerutu Kelvin ketika gedoran pintu bertambah lebih kencang lagi.


Kelvin menekan bantal lebih dalam berharap tidak akan mendengar suara bising lagi.


Brak...brak...brak...


"Kelvin, sebaiknya kamu bangun dan buka pintunya sekarang juga! Kalau tidak mami akan panggil sopir dan tukang kebun supaya mendobrak pintunya! Memangnya kamu mau kalau mereka semua sampai tahu aib kamu saat tidur?!" gertak ibu Meisya dari luar kamar.


Dalam hitungan detik Kelvin membuka mata, beranjak dari tempat tidur lalu membukakan pintu dengan cepat.


"Mami apaan sih pagi-pagi udah bikin keributan aja, pakai acara ngancam segala lagi!" cicit Kelvin merasa kesal.


"Masih pagi?" bu Meisya memicingkan alis, kemudian menarik telinga Kelvin kuat-kuat seraya membawanya masuk ke dalam kamar kembali.


"Auww...sakit, Mi!" protes Kelvin, tangannya memegang tangan bu Meisya berharap sang mami segera melepaskan jeweran di telinganya yang sudah mulai terasa sekali perihnya.


"Biarin saja sakit yang penting kamu bisa membuka mata lebar-lebar! Lihat lah ke arah jam! Ini sudah jam berapa, masih pagi atau sudah siang?!" ujar bu Meisya menunjuk-nunjuk kearah jam dinding.


Kelvin melihat ke arah jam dinding, kedua bola matanya langsung membulat dengan sempurna. Seakan mau lepas dari tempatnya.


"Tadi Papi menelpon, katanya sudah berulang kali berusaha menghubungi ponselmu tapi nggak diangkat! Eh...nggak tahunya masih enak-enakan molor?!" tambah bu Meisya.


Kelvin hanya bisa nyengir kuda, menampilkan deretan giginya yang putih.

__ADS_1


"Sorry Mi, semalaman aku nggak bisa tidur? Jadinya bangun kesiangan deh!" jelas Kelvin.


Bu Meisya geleng-geleng kepala. Merasa heran dengan kebiasaan anak-anaknya yang suka begadang di malam hari. Entah apa yang mereka lakukan, sampai bisa menahan rasa katuk hingga menjelang pagi.


Hahahahaha


Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar dari arah pintu.


"Ternyata kebiasaan kak Kelvin nggak pernah berubah, ya? Masih suka tidur hanya dengan menggunakan boxer saja, gambarnya Micky mouse lagi!" ejek Elvina, pemilik suara tawa tadi.


Kelvin melotot, baru menyadari kondisinya masih naked. Rasa malu menjalar dalam dirinya, apalagi ada beberapa pelayan yang tengah menunduk karena merasa malu.


Buru-buru Kelvin masuk ke dalam kamar mandi, merutuki segala kebodohannya. Ini semua gara-gara maminya, kalau saja tidak memaksa untuk segera membuka pintu. Pasti mereka tidak akan melihat aib yang selama ini sengaja ia tutupi dari semua orang. Kecuali anggota keluarga yang memang sudah memgetahui kebiasaan buruknya sejak kecil.


Bu Meisya terkikik geli, merasa lucu akan kebiasaan dari anak keduanya itu. Entah dari siapa kebiasaan aneh itu menurun.


"Kelvin, mandinya buaruan! Papi bilang akan ada meeting besar antar pemegang saham?!" ucap bu Meisya kemudian meninggalkan kamar Kelvin. Begitu juga dengan Elvina, yang mengekor seperti anak itik yang mengikuti induknya kemanapun pergi sambil cekikikan.


Sedangkan beberapa pelayan yang tanpa sengaja melihat adegan langka tersebut merasa berbangga hati. Ternyata seperti itu ya bentuk lekuk tubuh dari anak majikannya yang tampan. Sangat sempurna sampai-sampai bisa membuat kaum hawa meneteskan air liur karena merasa terkagum-kagum.


💕💕💕


Berbagai cara sudah dilakukan oleh anak buahnya dan anak buah papanya dalam upaya pencarian keberadaan dimana Mutiara dan Elvina disekap. Tapi hasilnya sama sekali tidak ada. Mereka semua hampir putus asa. Sampai akhirnya sebuah pesan terlempar masuk ke dalam rumah melalui jendela kaca. Kelvin sempat melihat sosoknya, dia seorang wanita berhijab.


Saat penyelamatan pun, dia juga dibantu oleh seorang wanita berhijab. Bahkan sebelumnya wanita itu sudah menolong istri dan adiknya terlebih dahulu dari tindak pelecehan yang akan dilakukan oleh Radit. Apakah wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang sudah memberinya informasi waktu itu.


Lalu apa tujuannya. Dia sama sekali tidak meminta imbalan, bahkan langsung menghilang setelah misi penyelamatan Mutiara dan Elvina selesai. Tak ada jejak yang ditinggalkan setelah itu. Gilang pun juga tak menanyakan apapun tentang wanita itu. Akh...bodohnya Gilang. Apa wanita itu adalah ibu kandung Mutiara. Jika diperhatikan secara baik-baik, wajahnya hampir mirip. Hanya saja warna kulit dan usia yang membedakan.


Jika benar, apa yang harus Gilang lakukan. Mutiara sama sekali tidak tahu menahu soal adanya kebenaran ini. Yang istrinya tahu hanyalah dia masih memiliki seorang ibu yang sudah menelantarkan keluarganya demi mengikuti laki-laki kaya dan membawa serta saudara kembarnya untuk dihancurkan kehidupannya. Bukan membenci, tapi kecewa. Itu lah yang dirasakan oleh Mutiara saat ini.


Mutiara selalu berkata bahwa dia sangat merindukan ibunya, ingin sekali rasanya ia mendatangi dan memeluk ibunya dengan erat. Namun lagi-lagi hanya rasa kecewa yang Mutiara dapatkan ketika bersua dengan ibunya. Hanya luka yang ditorehkan oleh ibunya hingga membuat Mutiara selalu bersedih dan menumpahkan air mata setiap selesai berbincang dengan ibunya.


Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Gilang tidak rela jika sampai ada orang yang berani menyakiti istrinya. Meskipun itu adalah ibu kandung dari istrinya sendiri. Gilang sudah menempatkan beberapa penjagaan khusus di rumahnya. Melarang siapa pun yang masuk ke dalam rumahnya tanpa seizin darinya. Termasuk dari keluarga Dirgantara sekalipun.


Untungnya seluruh anggota keluarga Dirgantara mau mengerti. Mereka akan melapor kepada Gilang terlebih dahulu sebelum pergi berkunjung. Jika itu demi keselamatan Mutiara dan anak-anak kenapa tidak.

__ADS_1


"Sayang... " panggil Mutiara, membuyarkan lamunan Gilang.


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya nya kemudian sambil menyembulkan sedikit kepalanya dari balik luar pintu ruang kerja suaminya.


"Masuk-lah, sayang!" cicit Gilang.


Gilang tersenyum kecil, merasa gemas dengan tingkah istrinya yang selalu ragu-ragu untuk masuk ketika ia sedang berada di ruang kerjanya.


Mutiara masuk ke dalam dengan membawa secangkir kopi yang diminta oleh suaminya pada salah satu pelayannya.


"Kok kamu yang bawain kopinya, yang? Bukannya tadi aku nyuruh pelayan?" tanya Gilang.


"Memangnya kenapa kalau aku yang bawaain kopinya, nggak suka? Atau jangan-jangan kamu memang lebih suka dilayani sama mbak Sri ya, biar bisa berdekatan dengannya?" selidik Mutiara dengan curiga.


Gilang tergelak, merasa senang melihat wajah istrinya yang sedang cemburu.


"Kamu cemburu, yank?" ujarnya seraya berdiri menghampiri istri kecilnya.


Mutiara hanya mencebikan bibirnya, enggan menjawab pertanyaan receh suaminya. Entah mengapa ia tidak menyukai asisten barunya yang bernama Sri itu.


"Kalau kamu tak suka dengan asisten baru itu kenapa tidak kamu pecat saja, yank? Kamu kan nyonya rumah ini, jadi kamu punya hak penuh menentukan siapa saja yang boleh bekerja di rumah ini!" cicit Gilang memeluk erat istrinya dari belakang dan menghirup aroma rambutnya yang begitu memabukan.


Gilang memutar pelan tubuh Mutiara agar berhadapan dengannya. Kedua mata mereka saling bertemu, memancarkan rasa cinta yang begitu dalam. Tidak pernah dan tidak akan pernah ada rasa bosan bagi keduanya untuk memandang wajah satu sama lain. Meski nantinya akan lapuk dimakan oleh usia.


Gilang menundukan kepala. Menempelkan bibirnya pada bibir Mutiara yang seolah sudah menjadi candu sejati baginya. Menyesap kemudian mengobrak-abrik di dalamnya, seakan ingin mencari serta mendapatkan hal yang lebih manis lagi.


Gilang memang tak akan pernah puas jika itu sudah berhubungan dengan istrinya. Entah lah...Gilang sendiri tak bisa memahaminya hingga sekarang. Baginya Mutiara seperti magnet yang siap menariknya dengan kuat setiap saat.


Kegiatan panas keduanya terpaksa terhenti saat mulai terdengar suara tangisan dari anak-anaknya yang semakin nyata dan kencang.


Mutiara buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sudah acak-acakan karena ulah suaminya.


"Aku mau lihat anak-anak, mungkin sudah saatnya ganti popok dan minum susu?" cicit Mutiara.


Gilang mengangguk. Meskipun hatinya sedikit kecewa karena harus manahan hasratnya yang sudah berada diubun-ubun. Tetapi Gilang tetap berusaha memahami naluri Mutiara sebagai seorang ibu dari seorang putra dan empat bayi kembar. Tak jarang Gilang pun ikut andil dalam mengurus anak-anaknya. Menjadi kepala rumah tangga yang selalu siaga untuk keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2