
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 52
***
"Jangan pernah panggil aku yank dengan mulut kotormu itu!! Dasar wanita j*****!!" Gilang terlihat geram.
"Apa maksudmu?" Mutiara tidak mengerti.
Gilang mencengkeram kuat geraham Mutiara. Matanya menatap nyalang pada gadis itu. Mutiara bahkan sampai dibuat ketakutan olehnya. Ia hanya bisa menahan rasa sakitnya.
"Sebaiknya kamu berkata jujur, dimana dia? Katakan dimana istriku?!!" bentak Gilang.
Mutiara membulatkan mata. Ia tidak percaya, bagaimana mungkin Gilang bisa mengetahui bahwa dirinya bukanlah Mutiara yang sebenarnya. Melainkan Clarissa.
"A-a-pa mak-mak-sud-sud-mu?" Clarissa pura-pura tidak mengerti.
"Elo kira gue bodoh! Gue tahu seperti apa istri gue! Dan elo bukan lah istri gue, jadi sebaiknya katakan dimana Mutiara?!" Gilang memperkuat cengkeramannya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu? Aku Mutiara," Clarissa tidak mau mengaku.
Gilang semakin geram. Ia mencekik leher Clarissa kuat-kuat. Hampir saja wanita itu kehabisan nafas kalau saja bu Meisya dan pak Bayu tidak segera datang.
"Gilang... Apa yang kamu lakukan hah? Mutiara sedang hamil, kenapa kamu malah menyiksanya?!" bentak bu Meisya.
Clarissa membulatkan kedua matanya.
"Mutiara hamil?" bathinnya. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya.
"Mami tidak tahu apa-apa. Jadi jangan ikut campur!!" ujar Gilang.
*PLAK...
Bu Meisya menampar Gilang.
"Jangan ikut campur kamu bilang! Kamu menyakiti Mutiara, bagaimana mami tidak ikut campur!!" bu Meisya merasa kesal.
"Gilang, papi tidak pernah menyangka jika kamu akan berbuat kasar pada wanita! Papi benar-benar kecewa terhadapmu!!" tambah pak Bayu pula.
Gilang mendesah kasar. Gilang tidak bisa menyalahkan kedua orang-tuanya karena mereka tidak tahu apa-apa tentang wanita itu.
"Pi...Mi.. Kalian sudah salah sangka! Wanita itu..."
"Pi...Mi.. Lihatlah apa yang dilakukan Gilang padaku? Dia sangat marah karena alasan yang nggak jelas, dia cemburu pada adiknya sendiri." Clarissa menyela ucapan Gilang.
Bu Meisya dan pak Bayu hanya menggelengkan kepala. Mereka tak habis pikir dengan Gilang. Karena rasa cemburu, Gilang bahkan sampai hati menyiksa istrinya dengan kejam.
Sedangkan Gilang, dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya meludak. Tapi berusaha ia tahan, setidaknya untuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mutiara, sebaiknya kamu tinggal bersama kita! Kami tidak ingin kalau Gilang sampai melukaimu dan calon anak kamu!" ujar pak Bayu.
Clarissa mengangguk pelan. Untuk saat ini, mungkin tempat yang paling aman adalah rumah kedua orang tua Gilang. Setidaknya sampai ia bisa menemukan cara bagaimana melunakan hati Gilang.
Dan untuk Mutiara dan calon anaknya? Clarissa yakin, mereka akan baik-baik saja.
Gilang sangat marah. Ia tidak bisa berhenti mengutuk dirinya sendiri. Kenapa bisa kecolongan seperti ini? Sekarang Clarissa bisa lolos, bahkan kedua orang tuanya berada dipihak wanita itu. Sedangkan istrinya...
Gilang semakin risau. Dia mengkhawatirkan keadaan Mutiara.
"Aku harus kembali ke restaurant itu lagi, mungkin Mutiara masih berada di sana" ujarnya.
Gilang meraih kunci mobilnya. Ia bergegas pergi ke restaurant yang baru saja ia kunjungi bersama Mutiara. Gilang berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.
"Maaf tuan muda, tadi saya melihat tuan dan nyonya besar pergi bersama nona muda dengan raut kecewa. Apakah ada masalah?" tanya Heru.
Gilang menghela nafas panjang.
"Wanita yang pergi bersama kedua orang tuaku itu bukanlah istriku, melainkan wanita j***** yang tidak tahu malu!!" jawab Gilang dengan nada kesal.
Heru mengerti. Ia tahu siapa yang dimaksud wanita j***** oleh tuannya. Tapi dimanakah nona mudanya.
"Heru, kita pergi ke restaurant prancis yang baru saja aku kunjungi bersama Mutiara! Semoga saja Mutiara masih ada disana," ujar Gilang penuh harap.
"Baik, tuan muda. Saya akan mengambil kunci mobil terlebih dahulu," jawab Heru.
"Tidak perlu, kita bawa saja mobil pribadiku!" Gilang menyerahkan kunci mobilnya dan Heru menerimanya. Mereka pergi menuju garasi mobil bersama.
***
Clarissa semakin menyesal karena sudah menyia-nyiakan seorang Gilang di masa lalunya.
"Mutiara..." Elvina kaget melihat keadaan sahabatnya.
"Papi...Mami, apa yang terjadi dengan Mutiara?" tanya Elvina kemudian.
"Apalagi kalau bukan kerana kelakuan kakakmu Gilang!! Mami kira dia sudah berubah, tapi nyatanya malah makin parah." Bu Meisya sangat geram.
"Maksud mami?" tanya Kelvin tak mengerti.
Bu Meisya menghela nafas panjang.
"Gilang sudah berbuat kasar pada Mutiara hanya karena dia merasa cemburu kepadamu Kelvin" terang bu Meisya.
Elvina sangat marah. Ia sama sekali tidak menduga kalau kakaknya akan berbuat semacam ini kepada sahabatnya. Elvina memeluk Mutiara. Selama ini ia menyangka kakaknya sudah berubah dan Mutiara akan baik-baik saja hidup bersama dengan kakaknya. Tapi apa? Gilang belum berubah. Dia bahkan menyiksa Mutiara.
Dan Kelvin malah menautkan kedua aliasnya. Ia tidak percaya jika kakaknya sampai hati berbuat kasar terhadap wanita yang sangat dicintainya. Apalagi dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Untuk apa kakaknya cemburu terhadap Kelvin, sedangkan Gilang juga mengetahui bahwa Kelvin tidak terlalu dekat dengan kakak iparnya. Ada yang ganjil. Kelvin mengamati Mutiara dari ujung kepalanya hingga ke kaki.
Clarissa merasa sedikit was-was. Ia takut kalau seandainya pria itu juga akan mengenali siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Semoga dia tidak bisa mengenali gue," bathin Clarissa berujar.
"Mutiara, kamu pasti masih syok! Istirahat lah dulu di kamar bersama Elvina!" intruksi pak Bayu.
Clarissa bernafas lega. Akhirnya ada juga orang yang bisa menyelamatkan dirinya dari sorotan Kelvin. Clarissa mengikuti Elvina. Meskipun malas, tapi Clarissa tidak punya pilihan lain. Hanya dengan cara ini saja, Clarissa bisa selamat dari ancaman Gilang dan Kelvin.
Di kamar Elvina, Clarissa menjatuhkan diri di atas ranjang. Clarissa tidak pernah menyangka jika Gilang dapat mengenali siapa dirinya. Clarissa mengira dengan menyamar sebagai Mutiara, maka hidupnya akan berubah seperti apa yang diimpikan selama ini. Namun nyata nya tidak.
#Flashback
Clarissa merasa lapar. Ia pergi ke Restaurant Prancis untuk mengisi perutnya. Namun saat tiba di sana, Clarissa mendapat suguhan pemandangan yang membuat hatinya sakit. Clarissa melihat bagaimana perhatian Gilang terhadap saudari kembarnya. Clarissa merasa sangat iri.
"Harusnya gue yang berada di samping Gilang, bukan Mutiara!" lirih Clarissa.
Clarissa mencari meja, dimana ia bisa mengamati mereka dari dekat. Clarissa ingin tahu seberapa intim hubungan antara Gilang dan saudara kembarnya. Apakah benar jika ia sudah tidak memiliki peluang lagi untuk kembali di sisi pria itu.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Gilang. Dia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap gue. Gilang sangat mencintai Mutiara, gue bisa lihat dari pancaran matanya." Clarissa membathin.
Clarissa menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki tempat di hati Gilang. Akan tetapi itu tidak membuatnya menjadi patah semangat. Clarissa tetap ingin menggantikan posisi Mutiara, walaupun harus menyingkirkan saudara kembarnya sendiri.
Clarissa melihat Mutiara pergi ke toilet. Ia mengikuti Mutiara secara diam-diam agar Gilang tidak mengetahui.
Sampai di toilet, Clarissa mengamati sekeliling. Memastikan ada orang atau tidak. Saat dirasa aman, Clarissa masuk ke dalam toilet.
"Ka-ka-mu-mu..." Mutiara terkejut.
"Iya ini gue Intan," jawab Clarissa.
Mutiara bahagia. Ia memeluk saudara kembarnya. Melepas rasa rindu yang selama ini tersimpan di rongga hatinya.
"Aku sangat merindukan kamu Intan," ujar Mutiara.
Clarissa tersenyum kecil. Tanpa sepengetahuan dari Mutiara, Clarissa menyuntikan obat bius kepada saudari kembarnya.
"In-in-tan-nn...a-a-pa yang ka-ka-mu la-la-kukan?" Mutiara sedikit terbata.
"Maaf Mutiara, gue terpaksa lakukan ini! Gilang milik gue dan seharusnya gue pula yang menjadi istrinya! Bukan elo!!" jelas Clarissa.
Mutiara hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh saudarinya. Kepala Mutiara terasa berat dan pusing, tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan.
Clarissa tersenyum. Tak ingin berlama-lama ia segera menukar pakaian mereka.
"Maafin gue Mutiara, gue harus melakukan semua ini" cicit Clarissa.
Clarissa mengambil ponsel milik Mutiara. Dan mengetikan sesuatu pada seseorang lalu keluar meninggalkan toilet.
*Deg
Jantung Clarissa bergemuruh hebat. Ternyata Gilang sudah menunggu di depan toilet. Ada rasa takut di hati Clarissa. Namun ia berusaha tetap tenang, agar Gilang tidak curiga bahwa ia bukanlah Mutiara.
__ADS_1
Clarissa bisa bernafas lega karena dia pikir Gilang memang tidak mengenali dirinya. Akan tetapi dugaannya salah. Gilang bisa tahu bahwa wanita yang bersamanya bukanlah Mutiara melainkan Clarissa.