
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 111
Jantung Kelvin berdetak dengan sangat cepat, keringat dingin mulai membasahi beberapa anggota tubuhnya. Berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya membuat nyali Kelvin sedikit menciut. Entahlah kenapa bisa seperti itu. Padahal sejak awal sebelum meminta waktu orang tuanya untuk bicara, hati Kelvin sudah mantab ingin memberitahukan perihal Clarissa kepada mereka. Kelvin ingin mengutarakan keinginannya untuk menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya. Kelvin ingin memulai lembaran hidup yang baru bersama Clarissa, wanita yang kehadirannya pernah ia tolak dalam hatinya lantaran sebuah keadaan yang tidak memungkinkan.
“Kelvin, kenapa kamu malah diam saja? Katanya mau bicara, memangnya mau bicara soal apa?” cerca bu Meisya yang mulai merasa kesal dengan putranya yang sedari tadi hanya diam saja. Padahal saat bicara di telpon, nada suaranya terdengar begitu antusias dan semangat empat lima.
Kelvin memaksakan senyum di bibirnya untuk menutupi rasa gugupnya. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena tiba-tiba menciut di hadapan kedua orang tuanya. Kemana hilangnya keberanian itu. Bukankah ia sudah memikirkan semuanya matang-matang dan sudah saatnya bagi orang tuanya tahu perihal keinginannya untuk meminang Clarissa menjadi pendamping hidupnya.
Kelvin mengepalkan kedua tangannya yang saling bertautan satu sama lainnya. Menguatkan hati supaya mampu bersuara dengan penuh keyakinan jika hatinya mantab memilih sosok Clarissa. Tapi tetap saja bibirnya merasa kelu, jika mengingat bagaimana jejak Clarissa dalam ingatan keluarga besar Dirgantara.
Kelvin masih ingat dengan jelas bagaimana awal pertemuan Clarissa dengan keluarganya yang menyamar sebagai istri dari kakaknya. Bahkan wanita itu lah yang menjadi penyebab kakak iparnya sampai disekap oleh pria yang terobsesi dengan Clarissa karena menganggap Mutiara adalah dirinya.
Kelvin bahkan tidak tahu apakah kedua orang tuanya akan bisa menerima kehadiran Clarissa kembali atau tidak. Apalagi sebagai menantu mereka nantinya. Kelvin benar-benar dilanda rasa bimbang. Ia takut jika orang tuanya menentang keras niat baiknya pada Clarissa.
“Kelvin, apa yang ingin kamu bicarakan? Apa ini soal Clarissa?”
Jedaarrr....
Bagai tersambar petir disiang bolong. Kelvin sangat syok mendengar perkataan Papinya. Darimana beliau bisa tahu soal Clarissa. Apa kakaknya sudah bercerita. Tapi jelas itu tidak mungkin. Gilang bukan lah orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain termasuk urusan adik-adiknya. Gilang hanya akan memberikan nasihat belaka, setelahnya terserah pada masing- masing pribadi.
“Pa-pa-pi tahu darimana?” Kelvin bertambah gugup.
“Gelagatmu yang telah memberitahukannya pada kami” sela ibu Meisya.
Alis Kelvin saling bertaut, tidak mengerti dengan maksud yang diucapkan oleh ibu Meisya.
“Mami mu merasa aneh dengan sikapmu akhir-akhir ini, suka melihat ponsel lalu tersenyum sendiri. Apalagi setelah Gilang mengatakan jika kamu telah mengambil cuti dari kantor selama sepekan. Hal itu membuat mami mu semakin penasaran dan ingin tahu.” Pak Bayu menjelaskan.
Kelvin menghela nafas dengan berat, setelah nya ia pun tahu bagaimana kelanjutannya sampai kedua orang tuanya bisa tahu menahu soal Clarissa.
“Kelvin, mami tidak bermaksud untuk memata-mataimu kamu. Mami hanya takut jika kamu akan terluka lagi karena ulah perempuan yang tak bertanggung jawab seperti Shinta!” jelas bu Meisya.
__ADS_1
“Mami tidak salah, aku yang harusnya minta maaf! Awalnya saat bertemu dengan Clarissa, aku hanya ingin memberikan sebuah pembelajaran pada wanita itu karena sudah membuat hidup kita susah. Tapi setelah mengikutinya selama beberapa hari, hatiku yang malah ikut terjerat dalam perubahan hidupnya. Clarissa sudah bertaubat, dia menjadi sosok yang lebih baik dan ikhlas dengan apa yang terjadi di kehidupannya. Sangat berdosa jika aku tetap menghakiminya atas apa yang pernah ia lakukan pada keluarga kita. Allah saja Maha Pemaaf,” Kelvin menjeda perkataannya sejenak. Menatap kedua orang tuanya untuk melihat bagaimana reaksi mereka. Dan sepertinya mereka pun sependapat dengan dirinya untuk mau memaafkan akan kesalahan Clarissa.
“Aku memaafkan Clarissa dengan sepenuh jiwaku dan ingin membiarkan dia hidup dengan tenang tanpa ada dari bayang-bayang kita. Aku berusaha menjauh tapi hati ini tak bisa. Rasa yang pernah hadir sebelum timbul rasa benci kembali menyeruak memasuki relung hati ini. Perasaan yang sempat aku kubur ternyata muncul lagi dan itu bertambah kuat. Aku jatuh cinta pada Clarissa untuk yang kedua kalinya.” Lanjut Kelvin.
“Pi...Mi...apakah boleh Kelvin berjuang untuk mendapatkan hati wanita yang pernah menorehkan luka di hati kita semua, wanita yang pernah melahirkan salah satu dari cucu kalian?” tanya Kelvin penuh harap.
Pak Bayu dan ibu Meisya saling beradu pandang. Kemudian mengalihkan pandangan mereka pada Kelvin.
“Papi dan Mami tidak akan bisa melarang niat baik mu itu, Kelvin. Sebaliknya kami justru merasa bangga padamu karena telah bisa memaafkan dan mau memperjuangkan cinta dari seorang wanita yang pernah melukai hatimu.” Ucap pak Bayu yang mampu membuat hati Kelvin semakin terenyuh.
Benar kata orang jika kedua orang tuanya memiliki hati yang baik dan tulus serta bijaksana. Tidak pernah memandang orang dari statusnya ataupun kekayaannya.
“Papi...Mami...terima kasih banyak. Kelvin sudah bisa bernafas dengan lega sekarang, karena Papi dan Mami mau merestui niat Kelvin.” Ujar Kelvin sambil tersenyum lebar. Ia merasa bahagia dan bangga karena sudah terlahir dari orang tua seperti Pak Bayu dan bu Meisya.
💠💠💠
Namun tidak dengan Gilang dan Mutiara. Mereka malah asyik bergelung dibalik selimut yang nan tebal. Mata keduanya nampak tertutup rapat seolah mereka masih berada dalam belenggu mimpi yang indah. Bisa dibilang wajah polos mereka pun mampu menunjukan bahwa disana adanya rasa lelah akibat dari aktivitas panjang yang mereka lalui semalam.
Ya setelah terjadinya drama panjang yang cukup menguras air mata, membuat hubungan sepasang suami istri tersebut menjadi lebih lengket lagi. Dan mereka kembali memadu kasih setelah menenangkan anak-anak mereka yang sempat heboh dengan tangisan karena merasa diabaikan oleh kedua orang tua mereka.
Engh...
Mutiara menggeliat pelan, merasakan adanya sinar panas yang menyentuh kulitnya. Secara perlahan namun pasti, Mutiara membuka mata. Silau, tentunya itu yang dirasakan oleh kedua matanya. Mutiara menutup rapat matanya, lalu membukanya kembali.
“Pagi menjelang siang sayangku,” sambut Gilang ternyata ikut terbangun lantaran merasakan adanya suatu pergerakan dari tubuh istri tercintanya.
Mutiara tersenyum malu, menelungsup masuk ke dalam pelukan dada bidang suaminya.
“Ternyata kejadian sepekan ini telah mampu membuat istri seorang Alvian Gilang Dirgantara menjadi sosok yang agresif ya?” Gilang mulai menggoda istrinya. Ia pun sebenarnya masih merasa kaget dengan keagresifan dari istrinya semalam. Sangat jauh berbeda dari yang sudah-sudah.
__ADS_1
“Kak Gilang, jangan diingatkan lagi!” bisik Mutiara. Ia menjadi sangat malu jika harus mengingat bagaimana liarnya ia semalam. Ingin rasanya Mutiara tenggelam di dasar bumi sehingga tak ada orang yang bisa melihat seperti apa wajahnya yang kini sudah begitu memerah.
“Memangnya kenapa? Justru aku merasa sangat senang dan menyukai keagresifan istriku ini!”
“Kak Gilang...”
Gilang tertawa kecil. Senang rasanya ia bisa menggoda istrinya setiap saat ketika mereka sedang bersama. Mutiara nampak lebih menggemaskan dengan wajah yang malu-malu.
“Lebih baik sekarang kita mandi, sebelum anak-anak protes karena kita tidak kunjung keluar kamar.” Mutiara mengalihkan pembicaraan. Ia sangat malu jika harus mengingat bagaimana tingkahnya semalam. Memang benar adalah pahala bagi seorang istri yang mengajak suaminya untuk melakukan hubungan. Tapi tetap saja rasanya masih tabu bagi dirinya.
“Mau mandi bersama?” Gilang kembali menggoda.
Dengan cepat Mutiara menggelengkan kepala dan pergi berlalu membawa serta selimut untuk menutup tubuhnya yang polos.
Gilang hanya bisa terkekeh geli menyaksikan tingkah istrinya yang malu-malu kucing.
“Sudah ada empat orok masih aja suka malu-malu kucing,” cicitnya.
__ADS_1