
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 78
💤💤💤
Hati Gilang seakan tersayat oleh sembilu. Ia tak kuasa melihat istrinya yang terbaring di ranjang pesakitan, dengan peralatan medis yang menancab pada tubuhnya. Jika boleh meminta, Gilang hanya ingin melihat istrinya sembuh. Gilang rela apabila ia harus menggantikan posisi Mutiara asalkan istrinya itu tetap baik-baik saja. Gilang tidak tahu harus berbuat apa seandainya Mutiara benar-benar meninggalkannya. Apalagi sekarang ada empat bayi kembar yang masih sangat membutuhkan kehadiran mommy nya.
Gilang meraih tangan Mutiara, menggenggam lalu menempelkan ke pipinya. Ingatan demi ingatan tentang kenangan buruk maupun indah ketika bersama Mutiara melintas di benaknya. Gilang mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Mutiara. Ia begitu membenci sosok Mutiara. Namun seiring berjalannya waktu, hati Gilang berubah. Ia mulai mencintai Mutiara dan kian hari semakin besar. Kelembutan hati istrinya, telah mampu membuat sosok Gilang yang keras bagaikan batu kini melunak penuh dengan cinta dan kasih sayang. Gilang bahkan merasa seakan sudah bergantung pada istrinya itu. Moodnya akan menjadi baik dan lebih bersemangat jika Mutiara memberikan banyak perhatian dan kasih sayang. Tapi lain ceritanya kalau Mutiara sedang dalam mode ngambek atau marah. Gilang pasti akan uring-uringan tanpa sebab, hingga membuat sekelilingnya ikut merasakan imbasnya.
"Yank, kamu harus bangun! Aku dan anak-anak kita masih sangat membutuhkan kamu!" air mata Gilang mulai berjatuhan. Ia memang lemah tanpa istrinya.
Bu Meisya yang melihat dari kaca luar ruang ICU ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh putranya. Bu Meisya dan Radit sudah tiba di rumah sakit tempat Mutiara dirawat sejak satu jam yang lalu.
"Kenapa semua nya bisa jadi begini, apa yang terjadi sebenarnya?" lirih bu Meisya yang belum mengetahui cerita sepenuhnya. Ia hanya tahu kalau menantunya itu terjatuh dan perutnya terbentur sangat keras.
"Ini semua salah Vina, Mi. Vina sudah gagal menjaga Mutiara, padahal kakak sudah menitipkan Mutiara ketika.dia sedang menerima telephone dari pak Radit." Elvina masih merasa bersalah.
"Ini bukan kesalahan kamu, Vina! Kamu sendiri kan tahu, kalau ada segelintir orang yang sengaja mencari kesempatan agar bisa membully Mutiara lantaran statusnya yang dulu sebagai anak seorang sopir!" tukas Arif.
Bu Meisya menoleh, menatap Elvina dan Arif secara bergantian. Begitu pula dengan pak Radit. Mereka ingin penjelasan dengan apa yang sudah terjadi sesungguhnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya, apa ada orang yang berniat mencelakai nona Mutiara?" selidik Radit.
Elvina dan Arif bungkam. Mereka tidak tahu harus menceritakannya atau tidak. Sifat Radit tak jauh berbeda dari Gilang. Dia sangat tegas dan tidak akan segan-segan dalam memberikan pelajaran bagi siapa pun yang berani menyakiti keluarga Dirgantara.
"Itu benar Radit, ada dua orang wanita yang dengan sengaja ingin mencelakai istriku! Aku mau kamu cari tahu siapa mereka dan kasih pelajaran yang setimpal sampai-sampai mereka menginginkan kematian mereka sendiri!" ucap Gilang yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Gilang..." bu Meisya ingin berkata sesuatu tapi langsung dipotong oleh Gilang.
__ADS_1
"Sebaiknya mami tidak perlu ikut campur atau berusaha menolong mereka! Kecuali mami ingin melihat aku kembali dengan jalanku yang dulu, sebelum aku menikah dengan Mutiara!" sela Gilang dengan cepat, membuat bu Meisya terdiam tak ingin melanjutkan perkataannya.
Sedangkan Elvina dan Arif hanya mampu mematung tanpa bisa berucap sepatah kata pun. Mereka tahu apa yang sudah terlontar dari mulut Gilang, pasti akan terlaksana. Tidak seorang pun yang bisa mencegahnya atau pun menghalanginya. Mereka benar-benar kasihan terhadap nasib Gea dan Indri untuk selanjutnya.
"Nona Elvina, boleh kah saya tahu siapa nama kedua wanita yang sudah melukai nona Mutiara?" tanya Radit tanpa basa-basi.
"Na-na-ma-nya Ge-ge-a dan-dan In-In-dri," jawab Elvina dengan terbata.
Arif meraih tangan Elvina kemudian menggenggamnya dengan erat. Dingin, itu yang dirasakan olehnya. Arif mengerti bahwa tunangannya merasa takut, apalagi sikap Radit yang terlihat sangat dingin.
Bu Meisya menghela nafas panjang, percuma saja dia bicara. Toh baik Gilang maupun Radit tidak akan mau mendengarkannya. Hanya Mutiara saja yang mampu menghentikan kemarahan Gilang. Tapi saat ini menantunya bahkan tak bisa mencegahnya lantaran koma.
Bu Meisya memilih masuk ke dalam ruangan ICU. Ia ingin berbicara dengan menantunya. Bu Meisya yakin meskipun koma, tapi Mutiara pasti bisa mendengarkan keluh kesahnya. Bu Meisya tidak ingin Gilang melakukan kesalahan yang besar hingga menyakiti orang lain. Bu Meisya takut jika putranya akan menambah adanya deretan musuh yang kemungkinan suatu saat kembali untuk membalas dendam mereka. Dan itu pasti akan berdampak pula pada keselamatan keluarganya.
"Mutiara ini mami sayang, kamu bisa kan dengar suara mami? Kamu harus segera bangun sayang, kamu harus cegah suami kamu agar tidak melakukan hal bodoh! Mami takut kalau Gilang sampai nekad menyakiti orang lain disaat kemarahannya." Bu Meisya terisak pilu, merasa putus asa dengan Gilang yang tak mau mendengarkan ucapannya. Bu Meisya mengecup kening Mutiara, kemudian mengusap pelan pucuk kepalanya. Mengharapkan adanya suatu reaksi dari Mutiara, tapi tak kunjung ia dapatkan. Hati bu Meisya semakin pilu, ia tak sanggup melihat kondisi menantunya yang antara hidup dan mati. Bu Meisya pun akhirnya memutuskan keluar dari ruangan tersebut. Ia berdoa semoga ada keajaiban yang datang menghampiri Mutiara dan menantunya akan segera sadar dari komanya.
💤💤💤
Gilang berdiri menatap empat bayi yang masih berada dalam ruang inkubator dengan penjagaan oleh beberapa perawat. Seulas senyum terukir dari bibirnya. Gilang tak pernah penyangka jika dirinya sudah menjadi seorang ayah. Empat bayi mungil itu terlihat masih sangat merah, tapi Gilang sangat yakin mereka akan menjelma seperti dirinya dan Mutiara saat dewasa. Gilang berjanji akan menjadi sosok ayah yang patut dibanggakan. Ia akan terus berjuang demi kebahagiaan anak dan istrinya.
"Mereka terlihat sangat lucu dan menggemaskan sekali. Semoga saja saat dewasa mereka akan memiliki sifat seperti ibunya bukan seperti ayahnya yang tak punya hati!" sindir bu Meisya yang tiba-tiba muncul.
"Kalau mami mau membahas mengenai dua wanita itu, keputusanku tetap sama! Aku tidak akan melakukan hal-hal yang buruk jika mereka tidak memulainya terlebih dahulu!" tegas Gilang.
"Mami sendiri tahu seperti apa aku? Aku akan baik terhadap orang yang baik pula, tapi aku akan menjadi penghancur mereka apabila mereka berani menyakiti aku dan keluargaku!" Gilang pergi meninggalkan bu Meisya.
Sebenarnya Gilang sendiri masih ingin tetap berada disana, melihat anak-anaknya yang begitu menggemaskan. Namun Gilang malas jika harus berdebat dengan maminya mengenai Gea dan Indri.
Bu Meisya menggelengkan kepala. Sungguh keras hati anak sulungnya. Entah bagaimana lagi caranya ia bisa menasehati Gilang.
__ADS_1
Bu Meisya juga sangat marah dengan apa yang diperbuat oleh teman-teman Mutiara itu. Tapi cara Gilang memberikan mereka pelajaran sudah sangat keterlaluan. Bagi bu Meisya cukup memasukan kedua perempuan itu ke dalam penjara, bukan dengan menghancurkan seluruhnya keluarganya.
💤💤💤
Di tempat lain, ada Clarissa yang kondisinya sudah membaik sejak pasca operasi. Dia sudah diizinkan pulang oleh dokter. Heru yang diberi tugas oleh Radit dalam mengawasi Clarissa berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa dicurigai oleh Kelvin ataupun pak Bayu.
Dalam hati Heru sebenarnya ia merasa kasihan dengan nasib Clarissa. Dia hanya salah asuhan saja. Mungkin jika Clarissa dibesarkan oleh ayahnya, Heru merasa sangat yakin kalau Clarissa bisa tumbuh menjadi gadis yang baik seperti Mutiara. Hanya saja takdir tidak memihak kepadanya.
"Pak Heru, bolehkah aku melihat Azka untuk yang terakhir kalinya?" pinta Clarissa.
"Maaf nona, saya tidak mau ambil resiko? Anda pasti tahu apa yang bisa dilakukan oleh tuan Gilang jika dia sampai mengetahuinya?" tolak Heru.
"Kalau begitu cukup pak Heru yang tahu saja, aku berjanji tidak akan ada yang mengetahui hal ini! Lagi pula aku hanya ingin melihatnya dari jarak jauh saja, aku mohon?" ujar Clarissa sedikit memelas.
Heru merasa iba. Ia pun bisa melihat dengan jelas adanya sebuah kejujuran dari mata Clarissa. Ia akhirnya memberikan izin pada Clarissa. "Baik lah, tapi ingat jangan sampai ada yang melihatmu disini!"
Clarissa mengangguk. Ia sangat bahagia. Walaupun hanya dari jauh, setidaknya ia bisa melihat anaknya sebelum dia meninggalkan kota Jakarta. Clarissa ikhlas melihat putranya tumbuh dalam pengawasan Mutiara dan keluarga ayah kandungnya.
Clarissa ingin anaknya tumbuh menjadi sosok yang baik dan bertanggung jawab seperti almarhum ayah Clarissa dan Kelvin. Tidak seperti dirinya yang akan melakukan segala cara, agar mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
Clarissa memakai kerudung putih sebagai penutup kepala dan sebagian wajahnya. Ia berjalan menuju ruang VVIP dimana putranya dirawat dengan perasaan yang tak mampu digambarkan olehnya. Ini adalah kedua kalinya ia bisa melihat wajah Azka dari jauh. Clarissa ingin sekali datang memeluk anaknya. Namun ia merasa tidak pantas untuk itu.
Clarissa melihat Azka yang terbaring tidur di ranjang pesakitan dari celah jendela kaca. Di sana ada Kelvin yang tampak siaga dalam menjaganya. Clarissa tersenyum tipis. Andai waktu itu dia tidak lari, mungkin saat ini ia bisa berkumpul dan hidup bahagia bersama mereka. Sayangnya keegoisan telah membutakan mata hati Clarissa.
"Semoga kalian selalu hidup berbahagia," lirih Clarissa lalu segera pergi dari sana. Ia tidak mau kalau sampai Kelvin atau yang lain melihat keberadaannya.
Kelvin sebenarnya merasa ada yang mengawasi. Akan tetapi saat menoleh ke pintu ataupun jendela, ia tak melihat seorang pun ada disana.
"Mungkin ini hanya perasaanku saja," lirihnya kemudian.
__ADS_1