
#PERNIKAHANBEDAUSIA
PART 43
------
Gugup dan panik, itulah yang dirasakan oleh Clarissa saat ini. Ia takut melihat amarah dari Kelvin. Padahal selama ia hidup bersama pria itu, Kelvin dikenal sebagai sosok yang paling sabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Clarissa belum pernah melihat kemarahan Kelvin yang sebenarnya. Apa mungkin begini sifat dari anggota keluarga Dirgantara. Mereka akan bersikap lembut dan baik pada siapa saja tapi akan terkesan menakutkan bagi orang-orang yang sudah melukai hati mereka.
Clarissa berpikir keras bagaimana caranya agar bisa kabur dari Kelvin. Ia tidak mungkin memberitahukan keberadaan bocah itu.
"Sekarang katakan dimana dia?" Kelvin menghentikan mobilnya di tepi jalan yang menurutnya cukup sepi.
Tangan Clarissa gemetar, ia menunduk takut melihat tatapan Kelvin yang terlihat tegas dan mengintimidasi. Clarissa tidak tahu harus menjawab apa? Ia benar-benar berada dalam masalah yang besar. Jika dia berkata jujur, Kelvin akan semakin murka. Namun sekarang dia pun juga sudah tidak bisa berkutik lagi.
"Di...di...dia... su...su...sudah...hh... a...a...aku...ku... be...be...beri...ri...rikan... pa...pa...pa...da ke...ke...lu...lu...ar...ar...ga... A...A...di...di...na...na...ta...ta" gugup Clarissa.
"Apa???" mata Kelvin membulat.
Kelvin mengeram kesal, berusaha menahan emosinya yang sudah berada di puncak ubun-ubun. Kelvin heran, entah terbuat dari apa hati Clarissa sehingga tega menjual darah dagingnya sendiri.
"Kelvin, maafin gue? Gue juga terpaksa melakukan hal itu. Gue butuh uang untuk melanjutkan hidup sedangkan elo...elo bahkan tidak pernah memberikan uang sepeser pun kepada gue," rengek Clarissa berharap Kelvin akan mengampuninya.
Tangan Kelvin mengepal kuat. Kalau saja Clarissa bukan seorang wanita, mungkin saat ini ia sudah menghajarnya habis-habisan.
"Elo itu benar-benar ular berkepala manusia ya! Tidak memiliki perasaan sama sekali!!" bentak Kelvin, ia memukul keras stir mobil untuk meluapkan kemarahannya.
Clarissa semakin menundukkan kepala. Ia sudah merasa ketakutan setengah mati.
Kelvin membuka pintu mobil. Ia segera turun dan menghampiri Clarissa.
"Turun!!" bentak Kelvin. Clarissa terkejut, ia semakin was-was saja.
Kelvin tidak sabar, ia menarik paksa tangan Clarissa hingga gadis itu merasa kesakitan.
"Kelvin, elo mau apa?" lirih Clarissa.
Kelvin sama sekali tidak menjawab. Ia menghempaskan Clarissa begitu saja hingga jatuh tersungkur ke jalanan. Kelvin masuk kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan Clarissa begitu saja.
"Kelvinn, elo nggak bisa tinggalin gue sendirian di sini! Kelvinn....Jangan tinggalin gue!!" teriak Clarissa saat mobil Kelvin melesat jauh meninggalkan dirinya.
Clarissa celingukan, ia menoleh ke kanan kemudian ke kiri. Sangat sepi. Clarissa mulai panik, ia semakin ketakutan karena tidak ada satu pun kendaraan yang lewat.
"Akhhhh...Kelvin, elo bener-bener keterlaluan!! Gini-gini gue pernah melahirkan anak elo!!" geram Clarissa.
Mau tak mau Clarissa harus berjalan kaki agar bisa menemukan taxi ataupun angkutan umum lainnya. Ia tidak bisa meminta bantuan dari Steve karena tas miliknya tertingga di mobil Kelvin.
****
Gilang sudah mendengarkan langsung pernyataan dari Radit mengenai Clarissa yang berusaha memaksa untuk masuk ke dalam perusahaannya. Ia segera mengajak Mutiara pulang. Gilang tidak mau ambil resiko jika sampai Mutiara bertemu dengan Clarissa. Menurut Gilang ini belum saatnya bagi mereka untuk saling bertemu.
__ADS_1
Gilang harus mengumpulkan beberapa bukti terlebih dahulu sebelum ia memberitahukan seperti apa watak dari saudara kembar istrinya. Gilang tidak ingin Mutiara terpedaya oleh kelakuan negatif Clarissa, apalagi Mutiara sangat menyanyang saudaranya itu.
"Yank...kok mendadak kamu ngajakin aku pulang sih? Bukannya kerjaan di kantor lagi banyak ya?" selidik Mutiara ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya yank, kerjaan kantor emang lagi banyak. Tapi aku nggak mau kalau sampai istriku yang cantik ini terlalu bosan karena harus menunggu lama di sana," jawab Gilang berbohong. Ia tidak mungkin memberitahukan alasan yang sebenarnya pada istrinya.
Mutiara menunduk. Lagi-lagi karena dirinya, Gilang harus rela meninggalkan pekerjaannya. Mutiara semakin merasa bersalah saja.
"Yank, kamu kenapa sedih begitu?" Gilang menyadari perubahan raut wajah istrinya.
"Aku sudah banyak nyusahin kamu ya, yank? Gara-gara aku sekarang kamu harus ninggalin pekerjaanmu, padahalkan lagi banyak." Mutiara masih menundukan kepala. Gilang menepikan mobilnya sesaat kemudian melepas seatbeltnya.
"Yank, kamu itu tidak pernah nyusahin aku sama sekali. Justru aku merasa senang karena bisa melakukan sesuatu untukmu." Gilang menangkup wajah Mutiara.
"Dan masalah pekerjaan, kamu tidak perlu cemas! Aku bisa mengerjakannya di rumah sambil menemani istriku yang cantik ini," ujar Gilang lagi. Ia mengecup kening Mutiara, berharap bisa mengembalikan semangat Mutiara yang terkadang pergi entah kemana?
Mutiara tersenyum. Ia merasa beruntung karena telah memiliki suami yang senantiasa siaga dalam segala hal. Mutiara yakin jika Gilang adalah jodoh terbaik yang sudah dikirim oleh Sang Maha Pencipta untuknya. Ia berjanji akan selalu menjaga kesetiaan hati dan tetap mendampingi Gilang sampai akhir nafasnya.
Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sehingga mereka bisa menikmati kebersamaan tiap detiknya. Walaupun sangat sederhana tapi setidaknya mampu membuat hati mereka merasa nyaman dan senang.
Setibanya di rumah Mutiara langsung menuju dapur, meminta pelayan untuk menyiapkan cemilan sore untuknya dan juga sang suami. Ia tahu setelah ini Gilang pasti akan sibuk dengan setumpuk berkas yang dibawanya dari kantor.
Sedangkan Gilang sendiri, ia pun langsung pergi ke kamarnya. Untung saja tadi ia sudah mandi di kantor, jadi tinggal mengganti pakaian saja. Gilang memilih kaos oblong dan celana pendek. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Gilang pergi ke balcon kamar sambil membawa laptop miliknya serta tumpukan berkas yang belum sempat ia kerjakan saat berada di kantor.
Tak lama kemudian Mutiara juga memasuki kamar. Ia hanya menggelengkan kepala saat mendapati pakaian kotor milik Gilang masih berceceran di ranjang.
Ia merasa kesal dengan kebiasaan buruk Gilang yang tidak bisa hidup dengan rapi. Jika diingatkan Gilang selalu menjawab, buat apa ada pelayan?? Itu sudah menjadi bagian dari tugas mereka.
Mutiara memunguti pakaian tersebut, kemudian menaruhnya di keranjang baju kotor.
*Tok...Tok...Tok...
"Masuk!" seru Mutiara.
Mbak Laras pun masuk dengan membawa nampan yang berisi cemilan dan minuman.
"Maaf nona muda...ini cemilan sama minuman yang nona pesan tadi," ujar Mbak Laras.
"Oh...makasih banyak mbak Laras. Tolong diantar ke balcon kamar aja ya, disana sudah ada Tuan!" balas Mutiara.
"Baik non..." mbak Laras melangkahkan kaki menuju balcon.
"Maaf tuan muda...saya disuruh oleh nona muda mengantarkan minuman dan cemilan sore untuk tuan," ucap mbak Laras dengan sopan.
"Terima kasih, kamu letakan saja disana!" balas Gilang tanpa melihat. Ia masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada di tangannya.
"Kalau begitu saya permisi tuan," pamit mbak Laras.
Mbak Laras berlalu meninggalkan balcon. Ia tersenyum kecil ketika berpas-pasan dengan Mutiara. Begitu pula sebaliknya dengan Mutiara, ia pun tersenyum lembut.
__ADS_1
Sungguh wanita yang berhati mulia, pikir mbak Laras.
****
Elvina kebingungan sendiri melihat kakak keduanya pulang dalam keadaan marah-marah. Hampir semua pelayan terkena imbasnya. Apapun yang mereka kerjakan selalu salah di mata Kelvin. Elvina ingin bertanya, tapi ia merasa takut.
Kelvin memang penyabar orangnya. Namun adakalanya juga, ia bisa menjadi singa buas. Jika ada orang yang berani membuat masalah dengannya.
Elvina berjalan mondar-mandir di depan kamar Kelvin. Hatinya diliputi rasa bimbang antara masuk atau tidak?? Ia cemas dengan keadaan Kelvin. Andai saja kedua orang-tuanya berada di rumah, mungkin Elvina tidak akan sepanik ini.
*Ceklek
Elvina mematung. Ia bergeming saat melihat Kelvin sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ngapain elo ada disini?" ketus Kelvin.
"Emm...apa kak Kelvin baik-baik saja?" tanya Elvina.
"Masuklah!" pinta Kelvin.
Elvina mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Kak, ini..." Elvina syok melihat kamar Kelvin yang sudah seperti kapal pecah.
"Sorry...gue hanya tidak tahu bagaimana caranya bisa mengontrol emosi gue," lirih Kelvin. Ia duduk di tepi ranjang.
"Kak Kelvin memangnya ada masalah apa? Kakak tahukan kalau aku bisa jadi pendengar yang baik buat kakak." Elvina ikut duduk di tepi ranjang. Ia mengusap bahu Kelvin.
Kelvin terdiam. Ia meremas tangannya sendiri berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Gue udah ketemu sama dia," ucap Kelvin, Elvina menoleh. Ia paham sekarang kenapa kakaknya bisa seperti ini.
"Dan dia juga sudah mengatakan dimana keberadaan Azka sekarang..."
"Itu kan kabar baik kak, tapi kenapa kak Kelvin marah?" Elvina menyela.
"Iya itu harusnya menjadi kabar baik buat gue. Tapi masalahnya sekarang gue nggak mungkin bisa mendapatkan Azka kembali. Wanita itu sudah menjualnya pada keluarga kaya," terang Kelvin.
"Apa kak?!" Elvina membulatkan kedua matanya.
"Wanita itu sudah menjual Azka? Tapi kenapa? Bukankah dia ibu kandungnya? Kenapa dia sampai hati melakukan hal keji seperti itu?" Elvina tak percaya.
Kelvin mendesah panjang. Ia sendiri masih tidak percaya jika Clarissa sampai hati melakukan hal semacam itu pada darah dagingnya.
"Selain dia wanita ular, dia juga seorang wanita yang gila akan adanya uang. Itu sebabnya dia sanggup melakukan apapun hanya untuk mendapatkan uang" tukas Kelvin semakin kesal. Ia kembali mengingat pertemuannya dengan Clarissa siang tadi.
"Kakak yang sabar ya...aku yakin kok, nanti pasti akan ada jalan keluar untuk mendapatkan Azka kembali." Elvina mengusap bahu Kelvin.
Kelvin menganggukan kepala. Ia tidak menyangka jika adik kesayangannya sudah semakin dewasa saja. Kelvin mengacak rambut Elvina hingga membuat gadis itu cemberut karena merasa kesal.
__ADS_1