Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_68


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 68


***


*Deg


Jantung Shinta berdegub kencang, ia seakan mendapat sengatan listrik. Kedua mata Shinta beradu dengan mata Kelvin.


"Jodoh sudah ada di depan mata, tapi dasarnya kamu aja yang suka ngulur-ngulur waktu! Entar kalau diserobot orang duluan baru nangis bombai," sindir bu Meisya lagi. Ia berharap Kelvin akan peka dengan perkataannya.


Sedangkan Kelvin hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hatinya memang mulai merasakan adanya suatu getaran jika ia berhadapan dengan Shinta. Namun Kelvin ragu apakah Shinta juga merasakan hal yang sama. Kelvin tidak ingin merasakan kekecewaan untuk yang kedua kalinya.


"Shinta, apa kamu sudah memiliki pacar?" tanya bu Meisya mewakili putranya. Shinta menggelengkan kepala kemudian menunduk karena malu. "Apa kamu mau jadi menantu tante?"


Shinta dan Kelvin menatap bu Meisya. Mereka tak percaya dengan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut wanita paruh baya tersebut. "Mami kalau ngomong jangan suka ngaco deh! Kelvin nggak mau kalau Shinta sampai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mami yang terkesan konyol itu!" tukas Kelvin dengan cepat.


Sejujurnya Kelvin juga ingin mengetahui jawaban Shinta. Tapi Kelvin lebih takut kalau Shinta akan menjauhi dirinya, gara-gara pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut maminya.


"Memangnya ada yang salah dengan pertanyaan mami? Mami kan hanya sekedar ingin tahu apakah Shinta mau menjadi menantu mami atau nggak?" ujar bu Meisya sambil mendelikan matanya. "Bagaimana Shinta, apa kamu bersedia?"


Shinta diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di liriknya Kelvin untuk sejenak, Shinta juga ingin tahu seperti apa reaksinya. "Shinta tidak tahu harus menjawab apa tante? Setiap gadis pasti akan mau dengan senang hati apabila dijadikan menantu oleh tante, tapi bagaimana dengan kak Kelvin sendiri? Apa dia mau kalau aku jadi istrinya?" jawab Shinta masih menundukan kepalanya.


"Pastinya aku mau lah," sahut Kelvin yang kelepasan karena tidak bisa menahan perasaannya sendiri.


Shinta membulatkan kedua matanya. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. Shinta akhirnya menatap dalam-dalam kedua mata Kelvin. Ia ingin mendapat jawaban atas perkataan yang terlontar dari Kelvin.


"Kau dengar itu Shinta? Sekarang bagaimana denganmu?" tanya bu Meisya lagi. Shinta tersenyum tipis, semakin menundukan kepalanya lantaran malu. "Iya tante, Shinta mau kok."


Kelvin yang tadinya juga menunduk kini mengangkat tegak kepalanya. Kelvin sangat bahagia, ia tak menyangka jika Shinta bersedia menjadi pendamping hidupnya. "Kamu serius, Shinta?" Kelvin ingin memastikannya sekali lagi.


Shinta menganguk pelan. Kelvin berlonjak bahagia. Hampir saja ia langsung memeluk Shinta kalau tidak diganggu oleh maminya.


"Shinta katakan pada kedua orang tuamu, besok malam kami akan datang melamarmu!" ucap bu Meisya pada Shinta.


"Apa tante, besok malam?" Shinta tak percaya.


"Iya, besok malam. Kenapa? Apa kamu keberatan?"


Shinta menggelengkan kepala. Ia antara percaya dan tidak. Besok keluarga Dirgantara yang terkenal dengan kejayaannya akan datang melamarnya.


Begitu pula dengan Kelvin. Ia pun masih belum percaya bahwa Shinta bersedia menjadikan dirinya sebagai pendamping hidup dari wanita itu.


***

__ADS_1


Di pagi yang cerah seharusnya menjadi semangat baru bagi setiap orang. Tapi tidak untuk dua sejoli yang masih asyik bergelung dibalik selimut yang tebal. Mereka masih terlelap dalam keadaan saling berpelukan.


Terdengar dering ponsel menyala beberapa kali memenuhi ruangan yang luas. Body ponsel pun bergerak menari di atas nakas meja samping tempat tidur. Akan tetapi tidak ada yang memperdulikan.


Senyap. Dering ponsel lenyap. Dengkur halus mulai menggema dari bawah selimut.


Sekali lagi ponsel berdering keras, meminta sang empunya mengangkat.


"Yank," Mutiara menepuk pipi Gilang


"Hmm..."


"Ponselmu berdering, cepat angkat lah! Berisik tau," Mutiara merasa terganggu. Ia akhirnya membalikan badan memunggungi suaminya.


Gilang meraih ponselnya dan menekan tombol merah. Kemudian merapatkan kembali tubuhnya dengan tubuh istrinya. Gilang masih ingin berlama-lama tidur sambil memeluk Mutiara.


Tok...tok...tok...


Tok...tok...tok...


Tok...tok...tok...


"Akhh...pagi-pagi sudah berisik sekali sih, tidak lihat apa kalau aku masih mengantuk!" Gilang mengeram frustasi. Ia melangkah turun dari tempat tidur dengan rasa jengkel. Sedangkan Mutiara duduk bersila sambil mengucek kedua matanya.


"Daddy...hua...a...a...a..."


"Azka, kenapa menangis?" kemarahan Gilang sontak menghilang saat melihat putra angkatnya dalam keadaan menangis.


"Mami...Azka mau mami..." bocah itu menunjuk-nunjuk ke dalam.


Gilang hanya meringis, merasa bersalah karena sudah membangunkan Mutiara saat tidur menemani Azka di kamarnya dan mengajaknya pindah ke kamar mereka. Akhir-akhir ini Azka memang sangat manja, ia tidak mau jauh-jauh dari Mutiara. Hampir tiap malam Mutiara selalu tidur di kamar bocah itu. Gilang sedikit frustasi karena selama istrinya menemani Azka, ia pun tidak bisa tidur dengan nyenyak. Itu sebabnya semalam saat Azka sudah terlelap, Gilang sengaja membangunkan Mutiara dan memintanya pindah kamar.


Azka masuk ke dalam, menghampiri Mutiara. "Mami...hiks...hiks...hiks..."


"Kenapa anak mami nangis?" tanya Mutiara meraih Azka dan mendudukannya di atas selimut yang masih membungkus tubuhnya. "Addy akal...hiks...hiks..."


Gilang membulatkan kedua mata, melotot ke arah putra angkatnya. Hingga membuat sang bocah tambah menangis. "Yank..." tegur Mutiara kemudian.


Gilang meringis kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Memangnya salahku apa? Aku kan cuma mau minta jatah sama istri, dasar bocah serakah! Masak iya dia mau mengusai istriku sendiri?" bathin Gilang merasa dongkol.


"Azka diam ya, jangan nangis! Nanti mami akan kasih hukumam buat daddy nya," Mutiara berusaha membujuk Azka.


Azka berhenti menangis lalu mengusap air matanya."Benelan ya Mi," ucapnya kemudian. Mutiara tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.


"Baru ada Azka, aku sudah terabaikan! Bagaimana nanti kalau yang ada di dalam perut sudah keluar, bisa-bisa istriku akan melupakan aku?" Gilang menggerutu, ia mendaratkan bokongnya pada sofa panjang sambil bersidekap tangan.

__ADS_1


"Sama anak sendiri aja cemburu, dasar suami posesif!" Mutiara menggerutu balik.


Gilang terdiam sejenak. Memikirkan cara bagaimana bisa mengusir Azka dari kamar, tanpa membuatnya menangis.


"Mami, ini kok melah? Digigit cemut ya?" tanya Azka polos. Kedua mata Mutiara terbelalak karena kaget. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya masih polos akibat ulah dari suaminya.


"Iya Azka sayang, mami digigitin semut. Azja keluar maen sama bik Laras ya, biar mami mandi? Kan kasihan maminya habis digigit semut," tukas Gilang dengan cepat. Berharap Azka mau menurutinya.


Azka menatap Mutiara dengan tatapan polosnya, seakan merasa kasihan pada maminya. "Ya udah deh, Azka main cama bik Laras. Mami mandi yang belsih ya?" Azka turun dari pangkuan, merentangkan kedua tangannya pada Gilang. "Anterin Azka cama bik Laras," pinta Azka.


Gilang mennggendong Azka, membawanya keluar dari kamar. "Laras..." panggilnya sambil berteriak.


Mutiara menggelengkan kepala, melihat tingkah suaminya yang seperti bocah saja.


"Tolong kamu ajak Azka maen ke taman ya!" perintah Gilang pada Laras yang baru muncul dari lantai bawah.


"Baik tuan muda," Laras mengambil alih Azka dari gendongan Gilang dan berlalu dengan cepat dari hadapan tuannya.


"Akh...senangnya bisa mengusir Azka sebentar, sekarang aku bisa melanjutkan aktivitas yang semalam." Gilang tersenyum, berbalik melihat ke dalam kamar.


"Hah...mana Mutiara?" Gilang masuk ke dalam kamar, mencari sosok istrinya. Terdengar suara gemericik air dari dalam mandi.


*Ceklek...


"Yank, kok dikunci? Aku mau masuk," ucap Gilang dengan suara tinggi. Tapi tidak ada jawaban. Gilang mendengus kesal, melangkahkan kaki menuju tempat tidur. "Huh..." Gilang menghempaskan badannya pada ranjang.


Dert...dert...dert...


Gilang meraih ponselnya.


"Hall...."


"Dasar anak kurang ajar, kenapa tidak angkat telephonenya?"


"Ini kan sudah diangkat, Mi." Gilang menjawab dengan asal.


"Maksud mami tadi pagi,"


"Oh...suruh siapa telephone pagi-pagi, ini kan weekend...ya Gilang masih tidur Mi."


"Huh...pagi-pagi apanya, ini saja sudah pukul sepuluh! Oh... ya mami cuma mau kasih tahu entar sore kamu ajak Mutiara sama Azka kemari! Soalnya malam nanti, kita akan datang melamar Shinta untuk Kelvin."


"Kelvin sudah move on, bagus lah kalau begitu! Aku sama Mutiara dan Azka pasti akan datang." Gilang langsung mematikan ponselnya saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Ia tidak perduli jika maminya akan memakinya sedemikian rupa dari seberang sana.


"Saatnya memberikan hukuman pada wanita kecilku, " lirih Gilang menyeringai menatap istrinya yang berbalut handuk. Mutiara sedikit merinding, ia tahu maksud dari tatapan dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2