Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_25 (REVISI)


__ADS_3

****


Di akhir pekan kali ini Gilang sudah berjanji kepada istrinya akan meluangkan waktu untuk berwisata bersama keluarganya. Mereka berniat akan pergi ke salah satu Villa milik keluarga Dirgantara yang ada di bandung. Jelas hal itu disambut baik oleh kedua orang tua dan adik-adik Gilang.


Apalagi selama ini mereka belum pernah sekalipun meluangkan waktu bersama dalam hal berlibur, karena adanya kesibukan masing-masing. Bu Meisya sangat berharap dengan melakukan liburan bersama seperti ini, keluarganya bisa menjadi lebih dekat lagi seperti yang dulu.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah siap semua?" tanya pak Bayu.


"Udah dong Pi...kami sudah siap dari tadi kali" Elvina sangat bersemangat.


"Terus gimana dengan Gilang dan Mutiara? kenapa mereka belum juga datang?" kali ini bu Meisya yang bertanya.


"Oh...mereka, Gilang sudah telephone ke papi tadi pagi. Katanya mereka sudah ada di Villa sekarang. Mereka sudah berangkat sejak semalam" jawab pak Bayu.


"Apa??" ucap bu Meisya, Kelvin dan Elvina serempak.


"Dasar anak itu, selalu saja berbuat sesuka hatinya!!" gerutu bu Meisya kesal terhadap putra sulungnya.


Begitu pula dengan Elvina yang hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Pak Bayu dan Kelvin tertawa kecil karena melihat tingkah dari kedua wanita tersebut.


🔹


🍁


🔹


Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB, namun sepasang anak manusia tersebut masih asyik bergelung dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Baik Gilang maupun Mutiara sama-sama enggan untuk membuka kedua mata mereka, mungkin efek lelah yang tertinggal setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.


Gilang sengaja mengajak istrinya untuk berangkat ke Bandung pada malam hari. Ia hanya ingin melakukan antisipasi agar tidak terjadi masalah yang akan menggangu liburan mereka bersama keluarga. Tentu saja pada awalnya, Mutiara merasa keberatan dengan usul gila suaminya. Selain berbahaya jika harus berkendara mobil di malam hari, ia sebenarnya juga sangat menginginkan berangkat bersama-sama dengan keluarga yang lain. Pastinya akan lebih seru dan mengasyikan.


Tapi bukan Gilang namanya, kalau tidak berhasil membujuk istrinya. Setelah melakukan perdebatan yang panjang akhirnya Mutiara mengalah. Gadis itu bersedia berangkat ke Bandung pada malam hari dengan sebuah syarat.


Ya...meskipun sulit, mau tak mau Gilang pun setuju dengan persyaratan yang diberikan oleh sang istri. Mereka pada akhirnya berangkat ke Bandung usai melakukan makan malam bersama dan tiba di Villa kira-kira pukul 11.30 WIB.


*UNGGH...


Mutiara berusaha menggeliat pelan, tapi sulit. Ia bisa merasakan bahwa badannya tidak bisa bergerak bebas karena adanya sesuatu yang tengah mengukungnya. Mutiara mengerjab-ngerjabkan mata lalu mulai membuka secara perlahan. Bibirnya menyungging, membentuk sebuah lengkungan yang manis ketika melihat suaminya tengah tertidur dalam posisi berhadapan dengan dirinya dan saat ini ia berada dalam dekapan sang suami. Pantas saja terasa sangat nyaman meskipun tidak bisa bergerak.


Mutiara mengulurkan tangan, mengusap geraham kokoh suaminya. Ia sangat bahagia karena bisa menikah dengan pria tersebut. Meskipun sifatnya sangat angkuh dan terkenal arogant, tapi tetap saja Gilang selalu memberikan perhatian yang berlebih sehingga membuat dirinya merasa spesial.


"Apakah aku segitu tampannya sampai-sampai gadis kecil ini terlihat sangat mengagumiku?" cuit Gilang tanpa berniat membuka kedua matanya sedikitpun.


Mutiara mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Gilang berhasil membuat dirinya percaya jika ia masih tertidur dengan pulas.


"Sejak kapan mas Gilang bangun?" selidik Mutiara.


"Hmmmm...sejak istriku berusaha menggerakan tubuhnya tapi tidak bisa" jawab Gilang mengeratkan pelukannya.


"Mas, apa kamu ingin membunuhku? Aku sama sekali tidak bisa bernafas" protes Mutiara saat merasakan tubuhnya semakin terjepit.


Gilang melonggarkan dekapannya, membiarkan Mutiara meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Mana mungkin aku bisa membunuh gadis kecilku, menyakitinya saja aku tidak bisa" ucap Gilang seraya memberikan kecupan-kecupan singkat di seluruh bagian wajah Mutiara.


"Dasar tukang gombal!!" cuit Mutiara, kemudian ngedusel ke dalam dada bidang suaminya.


"Jangan menggodaku seperti ini, kalau kamu tidak ingin menjadi santapanku di pagi hari" ucap Gilang saat merasakan sentuhan jari-jari istrinya bermain di atas dada bidangnya.

__ADS_1


Entah kenapa hanya dengan sedikit dari sentuhan Mutiara, mampu membuat Gilang menginginkan hal lebih. Bahkan selama ini ia sudah mati-matian menahan atau mencari pelampisan ke yang lain tapi usahanya gagal alias sia-sia.


Mutiara mendongakan kepala, kemudian menaikan tubuhnya ke atas agar sejajar dengan suaminya. Di lihatnya sorot mata dari lelaki itu.


"Emang mas Gilang benar-benar menginginkannya?" tanya Mutiara.


Meskipun Mutiara masih SMA, tapi dia anak jurusan IPA. Jadi bisa paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya, apalagi ia berniat kuliah di Fakultas kedokteran.


Gilang mengerutkan kening, ia sedikit heran dengan tingkah laku dari gadis kecilnya. Tidak seperti biasanya Mutiara yang selalu menghindar jika ia sedang berbicara tentang hal yang berbau intim.


"Aku pria normal, jadi bohong kalau tidak menginginkannya apalagi setiap malam harus bertemu dengan gadis yang menggemaskan sepertimu" cicit Gilang menoel hidung sang istri.


Mutiara tampak berpikir sejenak, ia paham jika di dalam suatu pernikahan pasti ada yang namanya kebutuhan biologis.


"Jangan terlalu dipikirkan! Aku tidak akan pernah menuntut hakku apabila kamu belum siap untuk melakukannya" ucap Gilang mengacak rambut istrinya.


"A-a-ku si-si-ap!" tukas Mutiara, Gilang menyipitkan matanya.


"Kamu yakin?" selidik Gilang yang tak ingin istrinya terpaksa melakukan sesuatu hanya karena sebuah tuntutan belaka.


Mutiara mengangguk pasti. Selama ini ia selalu menghindar atau menolak suaminya bukan hanya karena takut hamil disaat usianya masih muda. Melainkan ia takut setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Gilang akan mencampakan dirinya seperti wanita-wanita lainnya. Tapi sekarang sudah berbeda, Mutiara bisa merasakan bahwa suaminya tulus dalam hal mencintai dirinya. Meskipun tak pernah sekali pun terucap dari bibirnya.


Gilang menatap lekat pada Mutiara, ia berusaha mencari apakah istrinya benar-benar serius dengan perkataannya melalui pancaran sinar mata.


"Aku benar-benar sudah siap mas, karena aku merasa yakin jika mas Gilang akan melakukannya dengan cinta bukan sekedar nafsu saja" Mutiara memberi keyakinan pada sang suami.


Gilang bahagia, karena pada akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu selama ini datang juga. Gadis kecilnya telah siap memberikan seluruh jiwa dan raganya.


Gilang mengecup singkat kening Mutiara, keduanya bertatapan dan saling melemparkan senyuman.


Mulanya mereka ber****an dengan lembut, tapi lama-kelamaan berubah menjadi lebih menuntut.


"Apa kamu benar-benar yakin sudah siap untuk melakukannya?" Gilang ingin memastikannya sekali lagi.


Mutiara tidak menjawab, hanya anggukan kepala saja yang ia berikan. Wajahnya bersemu merah akibat perlakuan dari suaminya.


"Baiklah aku akan melakukannya dengan lembut" cicit Gilang kemudian.


Gilang membalikan badan hingga berada di atas Mutiara dengan kedua siku sebagai penopang agar tidak terlalu ******** tubuh mungil dari istrinya.


Keduanya pun mulai melakukan perg****an yang panjang, hingga meloloskan pakaian masing-masing tanpa sisa. (Author cukup sampai disini, sisanya bisa dibayangkan sendirinya)😁😁.


🔹


🍁


🔹


Gilang menatap istrinya yang masih tertidur pulas akibat olah raga yang baru saja mereka lakukan. Wajahnya tampak sangat lelah karena harus menghadapi dirinya yang tidak cukup sekali dalam melakukannya.


"Terima kasih dan maaf sudah membuatmu lelah seperti ini" ucap Gilang dengan pelan.


"I love you gadis kecilku" Gilang mengecup kening istrinya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai membersihkan diri, Gilang segera keluar dari kamar. Ia ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat istrinya merasa senang. Gilang akan membuatkan sarapan untuk Mutiara. Bukan sarapan juga sih...


Tapi bisa dibilang hampir jam makan siang.

__ADS_1


Gilang berjalan menuju dapur, disana sudah ada sosok wanita paruh baya yang sedang membersihkan rumah.


"Astagfirllah...Den... Den Gilang... kapan datang? simbok sampai kaget" cicit wanita itu sambil mengelus dadanya karena kaget.


Gilang terkekeh, merasa lucu dengan reaksi yang diberikan oleh wanita itu.


Mbok Darmi, ia seorang pelayan yang bertugas membersihkan Villa.


Mbok Darmi memang tidak tinggal di Villa, ia datang di pagi hari dan pulang setelah selesai melakukan tugasnya.


"Baru semalam mbok" jawab Gilang.


"Aduh...simbok belum masak apa-apa nih, bagaimana kalau nanti pada mau makan? Kan kata tuan sama nyonya kemungkinan tiba di Villa agak sorean" cicit mbok Darmi panik.


Gilang semakin terkekeh melihat reaksi dari pelayannya.


"Mbok nggak usah panik seperti itu dech! Mami...papi sama yang lainnya memang akan tiba di Villa agak sorean, Gilang sengaja berangkat duluan bareng istri aja" ucap Gilang kemudian.


Bibir mbok Darmi membulat membentuk O, ia bisa bernafas lega sekarang.


"Mbok, di dapur sudah ada kan bahan-bahan untuk memasak? Aku lagi pengen masak nih" cuit Gilang.


"Ada den...simbok baru belanja pagi ini, buat masak makan malam entar" jawab Mbok Darmi.


"Mau masak buat istri ya den? Istrinya pasti cantik, simbok jadi nggak sabar pengen tahu gadis mana yang bisa nakhlukin hatinya den Gilang" celoteh mbok Darmi.


Gilang menggelengkan kepala, ia sudah terbiasa dengan sikap mbok Darmi yang terkesan kepo itu.


***


Gilang mulai berkutat di dalam dapur setelah sekian lama tidak pernah melakukannya. Kira-kira sejak dia pergi belajar ke negara orang. Dengan piawai, Gilang mulai menyentuh peralatan dapur. Ia akan membuat nasi goreng sesuai resep yang pernah diajarkan oleh Almarhum neneknya.


Mbok Darmi tersenyum, akhirnya ia bisa melihat kembali sosok anak majikannya yang dulu. Meskipun tidak tinggal bersama, mbok Darmi pun sudah mendengar berita tentang perubahan yang terjadi anak sulung dari majikannya itu.


"Perlu bantuan den?" tanya Mbok Darmi.


"Oh boleh mbok, tolong siapkan dua piring dan buatkan satu gelas susu dan kopi ya. Sepertinya kami akan makan di balcon kamar" jawab Gilang.


Mbok Darmi pun mulai menyiapkan dua piring lalu membuatkan susu dan kopi.


Setelah dirasa matang, Gilang menuang nasi goreng yang ia buat ke dalam piring kemudian menaruhnya ke nampan.


"Makasih ya mbok, sudah mau membantu saya" cuit Gilang.


"Sama-sama den, ini kan sudah menjadi tugas simbok" jawab Mbok Darmi.


Gilang akhirnya pergi ke kamar dengan nampan yang sudah berisikan makanan serta minuman.


*


*


*


*


Author udah up lagi ya, jangan lupa untuk memberikan Vote nya🙏🙏🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2