
***
Cinta tak harus diungkapkan, cukup dengan adanya perhatian serta tindakan yang tulus. Percuma saja jika sering melontarkan kata cinta, namun nyatanya tidak ada sebuah pembuktian. Aku cukup bahagia bisa merasakan setiap perlakuan yang kau berikan. Memang tidak romantis tapi setidaknya itu tulus dari dalam hatimu. Aku bisa melihat semua itu dari pancaran sinar matamu...Ada rasa cinta di dalamnya.
Terima kasih karena kau sudah membiarkan aku masuk ke dalam relung hatimu, aku berjanji tidak akan melukai hatimu seperti dia melukai cintamu... (Mutiara)
Mutiara benar-benar bahagia karena sikap Gilang dari hari ke hari semakin melembut kepada dirinya. Tidak ada keangkuhan ataupun sifat dingin lagi yang melekat dalam diri suaminya. Hanya ada keromantisan di dalam hubungan mereka.
Gilang memang belum pernah melontarkan kata cinta dari bibirnya, tapi Mutiara tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya perhatian yang diberikan oleh suaminya lebih dari cukup, apalagi sifatnya yang semakin overprotektif dan terkesan posesif terhadap dirinya. Gilang akan selalu marah jika melihat Mutiara sedang mengobrol dengan seorang laki-laki selain dirinya. Termasuk dengan adiknya sendiri, Kelvin.
***
Tanpa sengaja Gilang memergoki Mutiara sedang makan siang bersama Kelvin dan Elvina di sebuah kafe yang berlokasi tidak jauh dari sekolahnya. Ia sangat marah dan langsung menghampiri mereka. Gilang menarik paksa istrinya kemudian membawa Mutiara pulang. Elvina hampir mengejar mereka, takut jika Gilang akan melukai sahabatnya. Tapi dicegah oleh Kelvin.
Kelvin sangat tahu bagaimana dengan kakaknya. Semarah-marahnya Gilang, dia tidak akan pernah bisa menyakiti orang yang dicintainya.
"Aku minta kamu jaga jarak dengan Kelvin! aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya!!" tegas Gilang saat mereka berada dalam mobil.
Pak Heru menyunggingkan senyuman, ia tahu bahwa tuannya tengah dilanda rasa cemburu yang teramat besar terhadap adiknya sendiri. Sedangkan Mutiara hanya membisu, sama sekali tak berniat menjawab. Ia menundukan kepala layaknya anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
Gilang mengeram kesal ketika mendapati istri kecilnya hanya menundukan kepalanya. Lagi-lagi dia sudah membuat gadisnya merasa takut kepada dirinya.
"Maaf..." lirih Gilang meraih tangan istri kecilnya.
"Sungguh...aku tidak bermaksud membuatmu takut seperti ini!? Aku hanya tidak bisa melihat istriku bersama dengan laki-laki lain meskipun itu adikku sendiri" jelas Gilang.
Mutiara mendongakan kepalanya, lalu menoleh ke arah suaminya.
"Aku yang harusnya minta maaf sama mas Gilang...Mas sudah sering kali mengatakan padaku untuk tidak terlalu dekat dengan pria manapun tapi aku malah tidak mendengarkannya" ucap Mutiara.
"Tadi Elvina ngajakin aku untuk makan siang bersama sambil nungguin mas Gilang datang, tapi aku beneran nggak tahu kalau bakalan ada Kelvin disana" cuit Mutiara lagi.
Gilang tersenyum.
"Aku percaya itu," lirihnya seraya mendekap tubuh mungil istrinya.
"Makasih banyak ya Mas," Mutiara senang karena suaminya tidak lagi marah.
*Kruk
Mutiara nyengir kuda, ia sadar bahwa cacing-cacing diperutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gilang hanya terkekeh, ia mengusap puncak rambut istri kecilnya kemudian meminta pak Heru untuk mencari kafe atau restaurant terdekat. Perutnya sendiri pun sebenarnya juga sudah merasa lapar. Itu sebabnya ia sengaja datang ke sekolah lebih awal untuk makan siang bersama Mutiara.
🔹
🍁
🔹
Sekarang Gilang dan Mutiara sudah berada di sebuah kedai bakso pinggir jalan. Saat hendak menuju restaurant favoritnya, tiba-tiba Mutiara melihat kedai yang berjualan bakso. Gilang tahu jika istrinya sangat menginginkan untuk bisa makan disana. Meskipun tidak berani mengatakannya, tapi mata Mutiara yang sudah menunjukannya. Gadis itu tidak bisa berhenti melihat ke arah kedai tersebut.
Tatapan semua orang mulai mengarah kepada mereka, para wanita terus berguman memuji sosok Gilang yang terlihat seperti seorang pangeran. Sedangkan para pria mengagumi kecantikan Mutiara.
__ADS_1
Gilang sendiri merasa risih, ia memang sudah terbiasa mendapat perhatian yang berlebih dari setiap kaum wanita. Akan tetapi ia tidak suka saat para lelaki tersebut melihat istrinya dengan cara seperti itu.
Ingin rasanya ia mencongkel mata mereka satu persatu.
"Mas kok nggak di makan baksonya? Mas pasti kurang nyaman ya disini?" cicit Mutiara
Gilang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Mas cuma seneng aja lihatin kamu makannya sampai lahap begitu" kilah Gilang, ia tidak tega jika harus berkata jujur pada istrinya.
"Maaf ya mas, soalnya tempat ini merupakan tempat favorit aku sama ayah. Dulu setelah ayah menerima gajinya, dia pasti ngajakin aku untuk makan disini! Rasanya enak banget, mas cobain dech!" ucap Mutiara sambil menyuapkan bakso ke dalam mulut suaminya.
Gilang ragu. Tapi demi sang istri akhirnya ia membuka mulutnya juga. Sangat enak... Gilang mengakui itu. Ini merupakan pertama kali baginya merasakan makanan yang namanya bakso. Ia segera melahap habis bakso yang ada di hadapannya. Mutiara senang karenanya.
"Enakkan mas?" cicit Mutiara lagi. Gilang hanya menganggukan kepalanya.
"Habis ini kamu ikut mas ke kantor ya, mas masih ada sedikit perkerjaan" ucap Gilang.
Mutiara sedikit berpikir,
"Kenapa? Kamu tidak mau?" selidik Gilang saat melihat raut tegang istrinya.
"Bukannya nggak mau mas. Aku kan harus belajar karena seminggu lagi ada ujian nasional" Mutiara menjawab dengan kepala menunduk.
"Oh...ya...kenapa mas bisa sampai lupa!" cicit Gilang
"Kalau begitu nanti mas antar kamu pulang terlebih dahulu baru balik ke kantor lagi" ucap Gilang mengacak rambut istrinya.
"Makasih ya mas..."
"Mas sudah nggak sabar lagi untuk menunggu kelulusanmu" lanjut Gilang lagi.
Mutiara mulai paham kemana arah pembicaraan suaminya, ia menunduk karena merasa malu.
🔹
🍁
🔹
Setelah mengantarkan istrinya pulang ke rumah, Gilang langsung kembali ke kantornya. Ia harus segera mempersiapkan berkas-berkas penting untuk meeting dengan seorang client penting dari Amerika.
"Risma, tolong kamu antarkan berkas-berkas yang harus saya pelajari untuk meeting dengan Mr. Smith ke ruangan saya!" intruksi Gilang pada secretarisnya setelah tiba di kantornya.
"Baik pak" jawab Risma.
"Maaf pak, di dalam ada istri anda yang sedang menunggu" ucap Risma lagi.
Gilang mengernyitkan dahinya. Mutiara? mana mungkin? Bukankah baru saja ia mengantarkan istrinya pulang ke rumah? Jadi bagaimana dia bisa berada disini sekarang?
Gilang merasa ada yang tidak beres, ia segera masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Hai sayang, aku sangat merindukanmu" seorang gadis berhambur memeluk Gilang.
"Mau apa elo kesini?" ucap Gilang dengan ketus. Ia mendorong gadis itu.
Gilang menatap sinis pada wanita itu, ia semakin jijik saja saat melihat penampilan dari gadis itu yang sengaja memperlihatkan bagian lekuk tubuhnya. Gadis itu mengenakan dress ketat yang super mini, dengan rambut tergerai panjang.
"Sayang, aku kesini karena aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukan aku sama sekali? Sudah bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu lho" cicit gadis itu bergelayut manja pada Gilang, tapi langsung ditepis oleh Gilang.
"Clarissa, jaga sikap elo! Gue sudah menikah, dan jangan pernah elo coba-coba merayu atau mendekati gue lagi!!" bentak Gilang.
Wanita yang bernama Clarissa syok, tidak mungkin Gilang sudah menikah
"Jadi lebih baik kamu kembali ke Amrik!Karena apapun yang ingin kamu lakukan akan percuma saja, gue sangat mencintai istri gue!!" lanjut Gilang dengan cepat.
Gilang sudah muak dengan kelakuan Clarissa yang tidak punya rasa malu. Gadis itu pikir setelah apa yang ia lakukan kepadanya dulu, Gilang akan bersedia untuk memaafkan dan menerimanya lagi? Itu tidak akan pernah terjadi.
"Kamu pasti bohongkan sayang? kamu tidak mungkin menikah dengan wanita manapun karena kamu masih sangat mencintaiku" Clarissa masih mencoba merayu Gilang.
"Aku tahu sayang, aku sudah menyelidikinya" lanjut Clarissa mulai mendekati Gilang dan memainkan dasinya.
Lagi-lagi Gilang menghempaskan tubuh Clarissa dan kali ini lebih keras hingga gadis itu jatuh terjerembab ke lantai.
"Mungkin masih ada yang kurang dalam penyelidikanmu gadis j*****!! Kau salah besar jika menganggap gue masih mencintai elo!! Asal elo tahu sekarang gue sudah menemukan gadis yang layak mendapatkan cinta dari gue seutuhnya, dan yang jelas itu bukan elo!!" Gilang menepuk pipi Clarissa, dengan sorot mata yang sinis.
"Sekarang sebaiknya elo pergi dari sini sebelum satpam disini mengusir elo secara paksa!!" tegas Gilang.
Clarissa berdiri, ia tidak menyangka jika laki-laki yang dulu sangat mencintainya akan sanggup berlaku kasar seperti itu.
"Aku tahu saat ini kamu marah sayang, tapi percayalah kalau itu tidak akan bertahan lama!! kau pasti akan meninggalkan istrimu itu dan masuk ke dalam pelukanku lagi" ucap Clarissa dengan percaya diri.
Gilang tidak perduli dengan ucapan Clarissa, ia bahkan sama sekali tidak memandang kepergian wanita itu.
Semua karyawan menatap aneh pada Clarissa, mereka bingung apa yang sedang terjadi. Tidak seperti biasanya, bos mereka akan berlaku kasar pada wanita itu. Bukankah dia merupakan istri kesayangan dari Gilang? terus mengapa bos mereka sampai membentak dan mengusirnya seperti itu. Dan pakaian serta riasan wajah yang dikenakan wanita itu? sangatlah berbeda dari biasanya. Bermacam-macam pertanyaan melintasi otak para karyawan Gilang.
Gilang sendiri menjadi sangat resah, apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Clarissa nekad datang ke Indonesia, ia pasti akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan keinginannya.
Gilang bukannya takut, tapi ia cemas dengan istrinya. Mutiara terlalu baik dan lugu. Pasti akan sangat mudah untuk memanupulasi keadaannya.
Gilang mengeluarkan ponselnya, kemudian ia segera menghubungi seseorang.
"Saya mau kamu siapkan beberapa orang untuk menjaga rumah dan pengawal untuk istri saya! Dan awasi semua gerak-gerik Clarissa, wanita ular itu benar-benar datang ke Indonesia!! Saya tidak mau dia melakukan perbuatan gila yang akan menyakiti istri saya!!" ucap Gilang pada seseorang yang ada di seberang sana.
..................
"Ingat...lakukan ini sebaik mungkin, jangan sampai istri saya tahu dan merasa curiga! Aku tidak mau kalau istri saya tahu jika dia masih memiliki saudara kembar yang masih hidup!!" tegas Gilang.
...............
Gilang menutup sambungan telephonenya. Hanya ini yang bisa ia lakukan, ia bersumpah akan selalu melindungi istrinya. Tidak ada seorang pun akan bisa menyakiti atau melukai Mutiara termasuk saudara kembarnya sendiri.
**Author up lagi ya, maaf agak telat
__ADS_1
Moodnya lagi kurang bagus
jangan lupa untuk kasih vote ya🙏🙏😘😘**