
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
#PART_108
☜☆☞
Clarissa merasa senang pada akhirnya ia diterima dan bisa bekerja di Queen Butik. Bukan hanya karena nama butiknya yang terkenal, tetapi juga pemiliknya. Selain cantik, pemilik Queen Butik juga memiliki sifat yang ramah, baik dan bersahabat. Clarissa bisa melihat semua itu dari bagaimana cara pemilik butik tersebut memperlakukan karyawannya. Tidak terlihat seperti antara bos dan karyawan, justru seperti saudara yang saling berjuang demi membesarkan nama butik. Clarissa sangat yakin bahwa dirinya pasti akan bisa membaur dengan mereka tanpa adanya kendala apapun.
Kelvin turut bahagia ketika melihat wajah calon wanitanya tampak berseri. Ia tahu bahwa Clarissa menyukai pekerjaan tersebut. Mungkin karena wanita itu pernah bermimpi untuk bisa memiliki sebuah butik sendiri, dengan desain yang sengaja digambar oleh tangannya sendiri.
Clsrissa memang tak sama dengan saudara kembarnya yang selalu unggul dalam pelajaran sekolah. Bahkan Clarissa sempat bercerita jika ia tidak suka dengan yang namanya pendidikan di sekolah. Clarissa lebih suka duduk di tempat yang asri sambil melueskan tangannya melalui gerakan tangan yang lincah menggambar desain pakaian ataupun menggambar sesuatu yang berada dalam angan dan fikirnya. Berbeda sekali dengan Mutiara yang nyatanya selalu berada di unggulan setiap mata pelajaran di sekolah. Istri dari kakaknya itu bisa dibilang wanita cerdas dalam berbagai prestasi. Baik dari segi pelajaran sekolah maupun seni dan kerajinan tangan.
“Terima kasih atas bantuanmu hari ini?” ucap Clarissa membelah keheningan yang terjadi diantara mereka.
Kelvin menoleh sesaat kemudian kembali fokus ke depan, memperhatikan jalanan yang padat karena banyaknya orang yang tengah berbondong-bondong kembali ke rumah masing-masing setelah seharian bekerja untuk menghidupi keluarganya.
“Kamu kira aku membantumu itu secara gratis?” sahut Kelvin yang sontak membuat Clarissa terkejut, bahkan sampai menjatuhkan tas selempangnya ke bawah.
“Maksudnya kamu meminta imbalan?” tanya Clarissa penuh dengan keheranan.
“Yahh betul sekali, kamu sendiri tahu kan bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang gratis!” jawab Kelvin tanpa ragu.
Clarissa mematung seketika, tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia mengira Kelvin menolongnya dengan ikhlas, tapi nyatanya ada pamrih juga. Memang benar apa yang terjadi di dunia ini pasti akan ada timbal baliknya. Mungkin hanya ada dua dari sepuluh orang yang memiliki ketulusan hati. Dan menurut Clarissa mereka tak lain adalah orang tuanya sendiri. Clarissa mencebikan bibirnya, hingga membuat Kelvin menjadi gemas karenanya.
“Kamu tenang saja, imbalannya tidak berat kok! Cukup traktir aku saat kamu menerima gaji pertamamu nanti!” jelas Kelvin sambil terkekeh, merasa puas karena sudah berhasil membuat Clarissa seperti dipermainkan olehnya.
“Huhhh...” Clarissa membuang nafas jauh-jauh kemudian mengambil tas selempangnya yang sempat tejatuh. Ekor matanya melirik ke arah Kelvin yang masih berbangga hati.
*Bugh...bugh...bugh...
“Aww...sakit, Clarissa apa yang kamu lakukan? Kamu nggak lihat aku lagi nyetir? Kamu mau kita berdua mati konyol, hah?” cicit Kelvin berusaha merebut tas milik Clarissa dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain masih memegang setir. Serangan dari wanita itu cukup membuat lengannya berasa agak nyeri.
“Kamu sendiri yang mati, aku mah ogah! Masih banyak yang harus aku lakukan untuk menebus segala dosa-dosaku di masa lalu!” sahut Clarissa kemudian berhenti memukuli Kelvin.
Wanita itu kembali terdiam sesaat. Dalam hatinya ia juga tidak rela jika nantinya Kelvin harus pergi terlebih dahulu sebelum dirinya. Entahlah perasaan semacam apa itu. Clarissa merasa bahwa cintanya hanya untuk Gilang, tapi kenapa sekarang justru ia merasa takut kehilangan akan sosok diri Kelvin.
__ADS_1
“Are you Ok?” tanya Kelvin cemas saat melihat perubahan mimik wajah Clarissa.
“Yes, aku baik-baik saja! Aku hanya merasa takut jika Sang Maha Pencipta tidak lagi memberikan kesempatan padaku untuk bertaubat?” sahut Clarissa.
Kelvin meraih tangan Clarissa kemudian menggenggamnya dengan erat. Ia tahu jika wanita itu kini tengah membutuhkan sebuah dukungan dari orang sekitar agar bisa menjadi orang yang lebih baik.
“Aku sangat sadar bahwa terlalu banyak dosa yang sudah aku lakukan di masa lalu, aku sudah terlalu banyak menyakiti hati orang! Tetapi sungguh aku ingin bertaubat. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik seperti kedua orangtuaku dan saudara kembarku!” Clarissa mulai mencurahkan isi hatinya. Berharap setelah ini rasa sesak yang ia pendam bisa menguap bersama setiap kata yang berhasil lolos dari bibirnya.
“Mung-mung-kin-kah ke-sem-patan itu akan a-a-da untuk orang se-per-ti-ku?” Clarissa sedikit terbata.
Kelvin tersenyum kecil. “Aku juga tidak tahu karena aku pun juga bukan orang yang baik! Aku pun sama pernah melakukan kesalahan!” ekor mata Kelvin melirik ke arah Clarissa yang menyimak baik setiap perkataannya.
“Tapi aku masih ingat betul bagaimana pesan yang mami selalu berikan pada anak-anaknya. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan baik itu kecil maupun besar, disengaja ataupun tidak! Namun jika dari diri kita mau dengan tulus untuk memperbaikinya dan menyesali setiap perbuatan kita, Allah pasti akan memaafkan kesalahan kita dan memberi jalan pada kita untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh!” lanjut Kelvin.
Clarissa meresapi setiap ucapan bijak yang terlontar dari Kelvin. Hatinya mulai merasakan ketenangan. Ia semakin yakin akan berusaha menjadi sosok pribadi yang lebih baik. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk dirinya sendiri. Clarissa lelah berada dalam jalur kemaksiatan. Tidak ada yang namanya hidup tenang, meskipun disekitarnya penuh dengan gelimang harta. Berbeda saat ia mulai memilih jalan yang benar. Hatinya menemukan kedamaian tersendiri, walau tak ada gelimang uang ataupun harta benda.
“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih? Dan untuk masalah traktiran, aku pasti akan mentraktirmu nanti saat gaji pertamaku sudah aku terima!” ucap Clarissa dengan tulus.
Kelvin mengangguk senang. Ini yang memang ia harapkan. Bisa bicara dari hati ke hati dengan wanita pilihan hatinya.
☜☆☞
Sedih, itu pasti. Mutiara sendiri tidak menyangka jika kejadian itu sampai berdampak parah pada keharmonisan rumah tangganya.
Gilang bukan lah tipe lelaki yang akan memperkeruh suasana dengan hal-hal sepele semacamnya. Tapi kenapa saat ini...
Mutiara mulai merasa cemas, pikiran-pikiran negative mulai bersarang di otaknya. Ia takut seandainya sang suami kembali menjadi sosok penjahat bagi wanita seperti dulu.
Mutiara benar-benar tidak sanggup jika harus membayangkan hal itu. Dulu ia mampu melalui semuanya dengan ikhlas karena memang tidak ada cinta diantara keduanya. Tapi sekarang...
Gilang adalah tumpuan hidupnya. Akan jadi apa dirinya jika sang suami benar-benar kembali seperti masa lalunya.
Mutiara berusaha menepis segala rasa ketakutan yang ada di hatinya. Ia harus percaya jika suaminya tidak akan lagi bebuat apapun yang bisa melukai hatinya. Mutiara sangat percaya akan kebesaran cinta yang dimiliki oleh Gilang untuknya. Sebab itu ia terus berusaha menghalau pikiran-pikiran jelek tentang suaminya.
Laras yang melihat semua itu menjadi prihatin. Ia kembali merasa bersalah karena sudah membuat wanita sebaik Mutiara harus bersedih akibat tindakan bodohnya. Andaikan waktu bisa di putar ulang. Laras pasti tidak akan pernah sudi membawa sepupunya masuk ke dalam rumah majikannya. Akh...betapa bodohnya dia saat itu. Hanya karena sebuah ancaman lantas merasa takut dan langsung memenuhi semua permintaan dari paman dan bibinya yang tak kalah jauh serakahnya dengan sang sepupu.
__ADS_1
“Ehem...”
Laras menoleh, melihat siapa yang berdehem kepadanya.
“Kang-kang He-he-ru...” Laras kaget dengan kehadiran sosok pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya saat ini.
“Akang sudah kembali?” Laras ragu. Dia hanya takut sedang berhalusinasi saja karena sudah begitu merindukan kekasihnya.
“Iya, ini akang sudah kembali neng cantik!”
Laras merasa sangat senang. Setidaknya ada seseorang yang bisa membantunya mengembalikan keceriaan dari Nyonya-nya.
“Tapi pekerjaan akang bagaimana?”
“Semua sudah beres dan akang yakin semua pun akan kembali bahagia! Dan tentang rencana kita untuk segera menikah, sebentar lagi pun akan bisa kita wujudkan dengan segera!” jelas Heru.
Laras memeluk kekasihnya dengan erat. Berharap apa yang dikatakan oleh Heru semua benar adanya. Semua berakhir bahagia tanpa ada yang tersakiti lagi.
Heru melepaskan pelukan Laras. Menatap wajah cantik yang akhir-akhir ini telah membuat hatinya merindu.
“Lalu kenapa kamu menatap nyonya Mutiara dengan tatapan sedih? Apakah terjadi sesuatu saat aku tidak ada?” tanya Heru.
Laras mengangguk. Isak tangisnya mulai terdengar. Mungkin semua orang berpikir bahwa ia wanita lebay atau bagaimana. Tapi nyatanya hatinya tetap merasa sakit ketika melihat kesedihan Mutiara.
“Ini semua salahku, aku yang sudah membawa malapetaka datang ke rumah ini” lirih Laras.
“Maksudnya?”
Laras menatap wajah kekasihnya dengan sendu. Tidak tahu harus dari mana ia mulai bercerita. Tiba-tiba seorang pelayan datang untuk menimbrung. Ia bercerita tentang kelancangan Sri yang secara terang-terangan berani menggoda Tuannya. Pelayan itu juga turut menyalahkan Laras yang sudah membawa sosok Sri datang ke rumah majikannya.
Laras hanya bisa diam saja tanpa mengelak. Dia sadar bahwa semua itu berawal dari kesalahan serta kebodohannya. Walaupun Mutiara sendiri pernah berkata, ini bukan salahnya. Tetapi tetap saja Laras merasa dia lah sumber kesedihan dari Mutiara.
“Cukup, Yul! Kamu tidak berhak menghakimi Laras seperti itu! Aku yakin Laras tidak berniat sama sekali merusak keharmonisan rumah tangga Tuan dan Nyonya!” Heru membela Laras. Ia tahu seberapa besar rasa sayang dan hormat Laras kepada Mutiara.
Pelayan yang bernama Yuli mencebikan bibirnya. Merasa kesal karena Heru masih saja membela Laras yang jelas-jelas terbukti membawa wanita ****** macam Sri masuk ke dalam rumah majikannya.
__ADS_1
“Kamu tenang saja Laras, aku akan mencari solusinya!” Heru menenangkan hati kekasihnya yang tengah dilanda rasa bersalah.
Laras mengangguk haru, bersyukur telah memiliki Heru sebagai kekasihnya.