
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 46
***
Setelah berkeliling menyusuri sepanjang jalanan kota selama kurang lebih hampir satu jam lamanya, mobil yang dikendarai oleh Gilang akhirnya berhenti di depan sebuah warung tenda berwarna orange yang bertuliskan Nasi Goreng Pak Maman.
Mereka langsung keluar dari mobil setelah Gilang berhasil memarkirkan mobilnya. Mutiara tampak bersemangat sekali. Ia segera menarik tangan suaminya agar Gilang berjalan lebih cepat. Mutiara sudah tidak sabar ingin mencoba nasi goreng buatan pak Maman yang terkenal enaknya.
Gilang hanya bisa menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi lewat mulut. Ini sudah yang kesekian kalinya Mutiara berhasil memaksakan kehendaknya pada Gilang supaya mau makan di pinggir jalan. Tentunya setelah melewati serangkaian perdebatan yang cukup panjang dan berujung dengan lelehan air mata Mutiara. Gilang terpaksa menuruti kemauan dari Mutiara.
Setelah mengatakan pesanan mereka, Mutiara mengajak Gilang duduk di tempat yang telah disediakan oleh penjualnya.
"Yank, kamu yakin mau makan disini?" tanya Gilang sekali lagi.
"Yakin yank...aku benar-benar lagi pengen makan nasi goreng pinggir jalan. Memangnya kenapa? Kamu keberatan? Ini maunya anak kita lho," jawab Mutiara sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Gilang hanya tersenyum. Jika Mutiara sudah berkata seperti itu, ia pun tidak bisa melarangnya lagi.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka akhirnya tiba. Mutiara langsung memakan nasi goreng yang ada di hadapannya dengan sangat rakus. Sehingga dalam waktu sekejab, nasi goreng nya sudah habis dilahap oleh Mutiara. Namun Mutiara masih belum merasa kenyang. Ia memesan kembali satu porsi nasi goreng.
Gilang bergedik ngeri melihat cara makan Mutiara yang seolah menunjukan bahwa ia belum makan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan nasi goreng Gilang saja belum habis saat Mutiara sudah menghabiskan dua porsi nasi goreng. Gilang sendiri merasa heran. Sejak hamil, Mutiara lebih sering merasa lapar dan porsi makannya pun semakin bertambah banyak.
"Kenyang juga akhirnya," guman Mutiara.
Gilang hanya bisa menggelengkan kepala nya saja.
"Apakah semua wanita hamil akan berlaku seperti ini ya?" ujarnya dalam hati.
Setelah puas menghabiskan dua porsi nasi goreng, Mutiara mengajak Gilang segera pulang ke rumah. Namun ketika perjalanan pulang ke rumah, Mutiara tiba-tiba meminta Gilang untuk menghentikan mobilnya. Mutiara melihat penjual es cendol dan ingin membelinya.
Awalnya Gilang menolak karena dianggap kurang sehat. Akan tetapi setelah melihat Mutiara yang terus merengek dan merajuk, akhirnya Gilang luluh juga dan menuruti kemauan dari istrinya lagi dan lagi.
Gilang hanya bisa menggelengkan kepala, saat mendengar istrinya memesan tiga porsi es cendol.
"Kamu yakin yank, bisa menghabiskan semua itu?" tanya Gilang.
"Yakin yank, apalagi rasanya sangat enak. Bisa jadi nanti aku malah minta nambah" jawab Mutiara sambil meminum es cendolnya dengan semangat.
Gilang tersenyum. Ia mengacak pelan rambut istrinya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka segera pulang karena waktu sudah menunjukan hampir maghrib.
Tiga puluh menit mereka telah tiba di rumah. Mutiara langsung turun dari mobil setelah Gilang berhasil memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Mutiara ingin segera menghabiskan es cendolnya yang masih tersisa dua porsi.
Sesampainya di dalam rumah, Mutiara celingukan mencari keberadaan seseorang. Ia tersenyum setelah mendapati keberadaan mbak Laras.
__ADS_1
"Mbak Laras, tolong masukan ini ke dalam wadah ya! Aku ingin langsung memakannya selagi masih dingin," pinta Mutiara.
"Baik nona muda," jawab mbak Laras.
Mbak Laras mengambil es cendolnya dan membawanya ke dapur untuk dipindahkan ke dalam wadah yang cukup besar. Kemudian diserahkannya kembali pada Mutiara.
Mutiara langsung mengambil alih es cendol dan melahapnya sampai habis.
"Sayang, tadi kamu sudah menghabiskan dua porsi nasi goreng dan satu porsi es cendol lho...Apa kamu tidak takut kekenyangan? Nanti sakit perut gimana?" ucap Gilang sedikit khawatir saat melihat istrinya masih ingin menghabiskan es cendol yang dibelinya tadi.
"Kamu tenang aja yank, perut aku akan baik-baik saja kok!" jawab Mutiara sambil menyendok terus es cendolnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau lansung ke kamar saja. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ujar Gilang kemudian.
Mutiara mengangguk saja. Ia masih asyik menikmati es cendolnya.
Semua pelayan yang ada di sana bergidik ngeri melihat cara Mutiara makan es cendol seperti tidak pernah makan sebelumnya.
Setelah menghabiskan es cendol, Mutiara segera pergi ke kamar untuk bergabung bersama suaminya.
*Ceklek....
Mutiara masuk ke dalam kamar namun ia tidak menemukan keberadaan suaminya. Mutiara mengecek kamar mandi, mungkin Gilang ada di sana. Akan tetapi nyatanya tidak. Mutiara melangkah menuju balcon berharap bisa menemukan suaminya. Sayangnya di sana pun juga tidak ada. Mutiara mendengus kesal, Gilang pasti ada di ruang kerjanya.
Mutiara akhirnya keluar dari kamar. Ia menyambangi Gilang di ruang kerjanya.
Gilang mendongak kemudian tersenyum kecil.
"Sudah habis es cendolnya?" tanya Gilang.
Mutiara hanya mengangguk,
"Yank aku ngantuk," ucapnya kemudian.
Gilang mengerti, ia mematikan laptop lalu menutupnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Mutiara jika hendak tidur minta ditemani oleh Gilang dan meminta Gilang agar mengusap perutnya sampai ia tertidur.
"Ayo ke kamar!" ajak Gilang.
"Gendong..." Mutiara merengek sambil merentangkan kedua tangannya.
Lagi-lagi Gilang tersenyum. Entah kenapa dia lebih suka dengan sikap Mutiara yang seperti ini. Cerewet dan manja.
Gilang menggendong Mutiara ala koala dan membawanya ke kamar mereka.
Setibanya di kamar, Gilang membaringkan Mutiara di atas ranjang dan kemudian ia pun ikut naik bergabung bersama istrinya. Tak butuh waktu yang lama, Gilang bisa mendengar dengkuran halus dari Mutiara.
__ADS_1
"Selamat malam istri kecilku, semoga kamu mimpi indah ya." Gilang mengecup kening Mutiara.
***
Mutiara terbangun saat merasakan ada yang mengelus-elus pipinya. Ia merenggangkan otot-ototnya lalu membuka kedua matanya secara perlahan. Mutiara tersenyum saat mendapati wajah tampan suaminya saat kedua matanya terbuka dengan sempurna.
"Sayang, ayo bangun! Katanya hari ini kamu mau berangkat sekolah?" ajak Gilang dengan lembut.
Mutiara hanya menganggukan kepalanya lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Mutiara segera keluar kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk pada tubuhnya. Ia lupa membawa serta seragam sekolahnya tadi.
Gilang yang melihat semua itu hanya bisa menelan salivanya sendiri. Masih pagi sudah disuguhi oleh pemandangan yang menggoda. Andaikan saja, ia tidak memikirkan waktu. Mungkin saat ini Gilang sudah menjadikan Mutiara sebagai santapan paginya.
"Kamu kenapa yank, ngeliatin aku sampai segitunya?" tanya Mutiara dengan polosnya.
"Gimana aku nggak ngeliatin kamu kalau pagi-pagi gini sudah kamu suguhi sama santapan yang empuk." Gilang memainkan kedua alisnya untuk menggoda Mutiara.
"Maaf yank, tadi aku lupa bawa seragam sekolah." Pipi Mutiara merona. Ia segera kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Gilang terkekeh kecil. Sikap Mutiara akan berubah menjadi menggemaskan saat merasa malu seperti itu.
***
Sesampainya di sekolah, Mutiara disambut heboh oleh para siswa SMU Dirgantara. Ini semua terjadi karena Gilang sengaja menurunkan istrinya tepat di halaman sekolahnya, sehingga menimbulkan gosib yang pro dan kontra mengenai dirinya. Mutiara yang akhir-akhir ini merasa sensitif lebih memilih untuk menyendiri di perpustakaan. Ia sangat malas jika harus meladeni gosip-gosip yang tidak jelas.
Sebagai seorang sahabat sekaligus adik ipar, Elvina cukup dibuat geram oleh gosib-gosib tak bermutu tentang Mutiara. Ingin rasanya Elvina menyumpal mulut sampah mereka dengan kain lap yang sangat kotor. Untung saja ada Arif yang selalu mengingatkan Elvina untuk selalu bersabar.
"Tanks ya Rif, elo udah ingetin gue untuk tetap bersabar. Kalau tidak mungkin gue bisa membuat suasana bertambah ruyam saja," ucap Elvina dengan tulus.
Arif hanya tersenyum kecil, tapi mampu membuat jantung Elvina berdetak dengan sangat cepat.
"Ya Allah...kenapa gue jadi begini ya kalau harus berhadapan dengan Arif? Apakah gue sudah mulai jatuh hati sama dia?" batin Elvina.
"Tidak...tidak...tidak...! Ini tidak boleh terjadi! Arif kan sukanya sama Mutiara, meskipun saat ini Mutiara sudah menjadi istrinya kak Gilang." Elvina masih bergelut dengan hatinya sendiri.
Berulang kali Elvina berusaha menampik perasaannya. Tapi tetap saja hatinya mengakui bahwa ia mulai mengagumi sosok dari seorang Arif. Elvina menggelengkan kepalanya.
"Vin, elo kenapa?" tanya Arif membuyarkan lamunan Elvina.
"Ekh...itu...tidak ada apa-apa kok," Elvina merasa gugup.
"Mendingan kita susul Mutiara di perpustakaan yuk! kasihan dia, pasti saat ini dia merasa syok dan sedih." Elvina mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya kamu benar Vin, sekarang ini pasti Mutiara sengaja menyendiri untuk menyembunyikan kesesihannya dari kita." Arif setuju dengan Elvina.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya pergi ke perpustakaan untuk menyusul Mutiara.