
Gery sudah sampai di rumah yang ada di Jakarta tepat jam 4 pagi. Tubuhnya terasa lemas dan perutnya terasa mual selama di perjalanan hingga saat ini.
“Bi, buatkan teh hangat,” ucap Gery kepada Bibi yang menyambut kedatangannya.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Bibi, lalu memapah Gery menuju sofa yang ada di ruang tamu.
“Hanya mual saja,” jawab Gery memejamkan kedua matanya lalu merebahkan dirinya di atas sofa.
Tubuhnya sangat lemas, bahkan kedua kakinya saja tidak mampu untuk menopang berat tubuhnya.
“Tuan--”
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” potong Gery dengan cepat.
“Baiklah, saya ke dapur dulu untuk membuatkan teh hangat,” jawab Bibi, seraya beranjak menuju dapur, tidak berselang lama ia kembali lagi ke ruang tamu membawa secangkir teh hangat.
“Silahkan di minum, Tuan. Mumpung masih hangat,” ucap Bibi sambi mengambil tas majikannya itu yang tergeletak di atas lantai.
Gery mendudukkan diri, lalu mengambil secangkir teh hangat itu dan menyesapnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Lumayan, rasa hangat bisa meredakan rasa mual dan menghangatkan perutnya.
“Ada apa, Bi?” tanya Gery kepada Kepala pelayan tersebut yang berdiri sambil terus menatapnya.
“Saya dengar Anda sudah menikah?” tanya Bibi dengan hati-hati.
Gery tersenyum lalu mengangguk.
“Pasti Hana yang sudah memberitahu,” tebak Gery, lalu Bibi menganggukkan kepala, membenarkan tebakan majikannya itu.
“Saya ucapkan selama untuk Tuan Gery, semoga pernikahannya awet dan selalu di limpahkan kebahagiaan, amin.” Doa tulusa dari Bibi yang sudah menganggap Gery sebagai putranya sendiri.
“Ehm ... saya juga ingin meminta maaf, mengenai Nyonya Marge yang menjual dua mobil mewah Mr. Dante. Kami semua yang ada di sini sudah berusaha untuk menghentikannya, namun tetap tidak bisa,” jelas Bibi dengan perasaan takut.
“Daddy sudah meng-ikhlaskannya, Bi. Beliau juga berpesan jika kalian semua jangan merasa bersalah,” jawab Gery, sambil tersenyum.
“Terima kasih, Tuan.” Bibi bernafas lega, lalu membungkukkan setengah badannya berulang kali, bertanda terima kasih.
Tadinya ia juga takut jika mendapat amukan dari Gery, namun dugaannya salah. Gery tidak memarahinya, justru malah sebaiknya, pemuda itu terlihat ramah, dan murah senyum.
__ADS_1
“Satu lagi. Istriku saat ini sedang hamil.” Dengan penuh kebahagiaan ia mengatakan kehamilan istrinya kepada wanita paruh baya yang sudah merawat dirinya sejak kecil.
“Selamat Tuan. Saya ikut berbahagia,” ucap Bibi tersenyum tulus, walau di dalam hatinya terkejut ketika mendengar istri Gery tengah hamil.
“Married by accident,” ucap Bibi namun hanya di dalam hati.
“Kalau begitu saya permisi, Tuan,” pamit Bibi segera membereskan pakaian majikannya yang masih berada di dalam tas yang ia bawa.
Gery mengambil ponselnya. Ia menatap jam yang tertera di ponselnya, ingin menelepon Allegra pasti istrinya itu sedang tidur pulas. Ia mengurungkan niatnya, lalu merebahkan diri di atas sofa, ia ingin istirahat sejenak paling tidak tubuhnya merasa lebih baik.
Sementara itu, Allegra sendiri tidak bisa tidur menunggu kabar dari suaminya.
“Seharusnya dia sudah sampai.” Allegra bergumam sembari menatap layar ponselnya.
“Aku sudah sangat merindukan dia.” Padahal mereka baru berpisah satu hari namun rasanya seperti satu tahun.
Allegra akhirnya tertidur pulas setelah lelah menunggu kabar suaminya yang tidak kunjung menghubunginya.
***
__ADS_1
Please banget, kalau habis baca tinggalkan jempol kalian. Satu jempol dari kalian sangat berarti untukku, jadi jangan sampai lupa. Terima kasih semuanya. Hari ini masih Crazy-up, semoga lancar jaya, amin.