Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Marge berulah


__ADS_3

Langit di Milan terlihat mendung pada pagi hari itu. Sama seperti dengan perasaan Hana yang mendung dan terluka ketika ada seorang wanita cantik dan sexy mencari suaminya di Mansion.


"Sweetie, dengarkan aku. Dia ibunya Gery, dan aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya." Dante berusaha untuk menjelaskan kepada istrinya.


Dante juga mengutuk Marge yang sudah berani datang ke Mansion untuk mencarinya. Mantan istrinya itu sudah sangat nekat.


Hana tidak menjawab ucapan suaminya. Ia beranjak dari duduknya, lalu menatap wanita itu dengan tatapan datar.


"Aku datang ke sini karena merindukan mantan suamiku," ucap Marge tanpa malu dan tidak merasa bersalah sama sekali.


Semakin kesal saja Hana ketika mendengar ucapan Marge.


"Hana, dia berbohong," ucap Dante mencegah istrinya yang akan menaiki anak tangga.


"Bohong? Mungkin Daddy yang berbohong!" jawab Hana sembari menyentak tangan Dante yang mencekalnya hingga terlepas, dan ia segera beranjak dari sana dengan perasaan kesal dan marah.


"DOM!" teriak Dante memanggil asisten pribadinya.


Dom yang masih berada di dalam kamar mandi sambil berendam dan mendengarkan musik tidak mendengar panggilan Dante.


Kemudian Dante memanggil pengawal untuk mengusir wanita tersebut.

__ADS_1


"Aku adalah ibunya Gery. Ibu kandungnya. Jadi kamu tidak berhak untuk mengusirku dari rumah ini!" ucap Marge ketika ada pengawal ingin menariknya keluar dari Mansion tersebut.


"Aku berhak! Karena kamu bukanlah siapa-siapa lagi bagiku!" bentak Dante dengan sangat emosi.


Seharusnya Marge sadar akan posisinya, namun sepertinya wanita rubah itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Berikan aku uang, maka aku akan pergi," ucap Marge.


"Tidak ada uang untukmu!" bentak Dante, seraya mengibaskan tangannya, memerintahkan pengawalnya untuk menyeret wanita itu keluar dari Mansion-nya.


*


*


"Tapi aku takut jika mereka masih saling mencintai dan akhirnya akan berbaikan kembali. Lalu aku di buang setelah tidak di butuhkan," ucap Hana disela tangisannya.


"Semua yang kamu ucapkan itu tidak akan terjadi, karena Dante sangat mencintaimu." Allegra menepuk pundak Hana berulang kali dengan lembut, berharap jika istri Boss-nya itu tenang.


Tok ... Tok ...


Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan. Allegra beranjak, membuka pintu kamar tersebut. Ternyata Dante yang ada di balik pintu tersebut.

__ADS_1


Allegra keluar dari kamar tersebut dan mempersilahkan Dante masuk, lalu menutup pintu kamar itu.


Dante menghela nafas ketika melihat istrinya menangis. Berjalan mendekat dengan perlahan, lalu duduk di samping Hana.


Hana menggeser duduknya, ia enggan berdekatan dengan suaminya. Hatinya masih marah, dan di selimuti emosi.


Jika sudah begini, Dante harus bersabar. Istrinya yang masih bocah, terkadang bersikap labil, dan ia yang harus banyak mengalah.


Resiko menikah dengan anak kecil, batin Dante.


"Hana, dengarkan aku. Aku dan Marge sudah tidak mempunyai hubungan apa pun lagi," ucap Dante menatap wajah istrinya yang terlihat memerah dari samping.


"Kenapa dia datang ke sini?" tanya Hana.


"Aku tidak tahu, Hana. Dia datang begitu saja," jawab Dante apa adanya.


"Bohong!" ucap Hana dengan perasaan dongkol.


"Sayang, percayalah. Aku tidak berbohong, aku sudah berkata jujur kepadamu," jawab Dante, sekuat tenaga meyakinkan istrinya.


Hana menoleh ke arah suaminya, menatap manik biru itu dengan dalam, menyelaminya, mencari tahu apakah ada kebohongan di sana. Dan yang ia temukan adalah sebuah kejujuran.

__ADS_1


***


Dukungannya mana bestie? Berikan Like, vote, komentar dan kopi. Terima kasih❤


__ADS_2