Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Tentu saja pernah


__ADS_3

Hana dan Dante menatap tempat tidur yang seperti kapal pecah. Tempat tidur yang beberapa saat yang lalu menjadi arena pertempuran yang sangat dasyat.


"Aku akan membereskannya," ucap Hana salah tingkah, dan berjalan tertatih mendekati tempat tidur itu.


"Biar aku saja. Pakailah pakaianmu," cegah Dante kepada istrinya yang masih mengenakan jubah mandi, sedangkan dirinya hanya memakai Boxer berwarna hitam, memperlihatkan tubuh kekarnya.


"Oke." Hana segera menuju ruang ganti. Ia masih merasa malu, namun juga sangat bahagia karena dirinya sudah menjadi wanita seutuhnya.


Dante membereskan tempat tidur tersebut. Bibirnya melengkung tipis ketika melihat bercak darah di permukaan seprei berwarna abu itu. Sebuah bercak darah yang menjadi bukti bahwa dirinya lah pria pertama untuk istrinya.


Kemudian ia menarik seprei tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Dan memasukkan seprei yang kotor itu ke dalam laundry bag, ia akan mencucinya sendiri nanti.


"Sudah selesai, Dad?" tanya Hana ketika keluar dari ruang ganti menggunakan dress satin berwarna merah yang sangat kontras dengan kulitnya seputih salju.


Dante menoleh, terpesona dengan penampilan istrinya yang telihat sangat sexy menggoda.


"Sudah, kemarilah Sweetie." Dante mendudukkan diri di tepian tempat tidur lalu menepuk kedua pahanya, bertanda jika Hana harus duduk di pangkuannya.


Hana berjalan mendekat, mendudukkan diri di atas pangkuan suami, seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher Dante.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Hana.


"Hanya ingin memelukmu saja," jawab Dante memeluk tubuh istrinya dengan erat, dan menelusupkan tubuhnya di ceruk leher sang istri. "Terima kasih karena kamu menjaganya untukku," ucap Dante tulus dan bahagia.


Hana tersenyum, membelai rambut suaminya dengan lembut, seraya menelesupkan lima jari tangannya ke rambut yang tebal dan berwarna tembaga itu. Ia memiringkan kepalanya, saat Dante mulai mengendusi lehernya, menyesap leher jenjangnya yang putih hingga meninggalkan kissmark di sana.


Dante menjauhkan diri ketika sudah mendapatkan hal yang di inginkannya. Menodai leher istrinya yang putih itu.


"Ayo, tidur lagi," ajak Dante, mengangkat tubuh Hana dan merebahkannya di atas tempat tidur. Tubuh Hana yang kecil langsung hilang tidak terlihat di dalam dekapan Dante yang gagah perkasa.


"Tapi, sudah pagi Dad," tolak Hana, mengangkat tangan suaminya yang memeluk tubuhnya.


"Aku tidak sakit."


"Tapi ini sakit," jawab Dante sembari membelai lembah yang tertutup kain segitiga. "Aku tidak sabar ingin merasakannya lagi, jadi segera istirahat!"


"Ba-baik lah," jawab Hana terbata lalu segera memejamkan kedua matanya, dari pada ia di makan suaminya lagi.


*

__ADS_1


*


"Mereka belum turun," ucap Gery sembari menatap ke arah tangga.


"Namanya pengantin baru," jawab Allegra yang membantu menyiapkan sarapan di atas meja.


"Apa istimewanya pengantin baru?" tanya Gery.


Dom melirik jengah ke arah Gery. "Terasa biasa saja untuk penjahat kelam*n sepertimu. Tapi, istimewa bagi mereka berdua," jawab Dom.


"Jangan sok bijak!" ketus Gery.


Allegra menjauh dari ruang makan tersebut, karena tugasnya sudah selesai.


"Aku berkata apa adanya," jawab Dom datar.


"Dalam petualangan cintamu dan sudah meniduri banyak wanita apakah kamu pernah mendapatkan gadis yang masih suci?" tanya Dom dengan sinis.


Gery tidak menjawab, namun tatapan matanya ke arah Allegra yang berjalan menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Tentu saja pernah," jawab Gery pada akhirnya.


__ADS_2