
Dante bernafas lega karena satu masalah sudah ia selesaikan. Kini ia tinggal mengurus perusahaan yang kacau karena ulah Gery.
"Dasar anak itu." Dante berjalan menaiki lift apartement. Selama di Jakarta, ia terlihat seperti bule pengangguran kerjaanya hanya makan tidur dan jalan-jalan di keliling kota.🤣
Perusahaan yang di Jakarta ia percayakan kepada Asisten-nya, karena ia tidak bisa menetap di kota tersebut, dan akan kembali lagi ke Itali.
"Anda sudah kembali, Mr," tanya Bi Rumi yang sedang membereskan apartemen tersebut.
"Ya. Di mana dia?" tanya Dante, mengedarkan pandaangan di ruang tamu apartemennya. Tidak ada Hana di sana.
"Ada di kamar, Mr," jawab Bi Rumi, melanjutkan pekerjaanya lagi.
"Apakah dia masih marah denganku?" Dante bertanya bertanya pada dirinya sendiri sembari melangkah masuk ke dalam kamar. Dan bener saja Hana ada di dalam kamar, tertelungkup dia atas tempat tidur, sembari menggerakkan kedua kaki.
"Sweetie, kamu masih marah?" tanya Dante sembari melepaskan kemeja dan juga celana panjangnya, lalu meletakkan pakaiannya itu ke dalam loundry bag.
Ah, Sweetie? Terdengar sangat manis sekali. Panggilan sayang Dante kepada Hana.
Hana melirik sebal kepada Dante yang berjalan ke arahnya. Wajahnya bersemu merah ketika mengingat kejadian tadi pagi, saat mereka mandi bersama. Hana melihat sesuatu yang besar seperti belalai.
__ADS_1
Hana rasanya ingin menjedotkan kepalanya ke tembok, karena ingatan itu masih terus berputar di otaknya.
Mata dan otak sucinya sudah ternodai. Hiks ...
"Hei." Dante menaik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Hana. Mengusak-usakkan jambangnya yang tebal itu ke pipi Hana dengan gemas.
"Daddy, hentikan!" Hana berusaha untuk menjauh, namun Dante malah semakin mendekapnya dengan erat.
"Jawab dulu pertanyaanku. Apakah kamu masih marah dengan pria tua ini?" tanya Dante, yang kini menciumi pipi Hana yang memerah karena ulahnya. Kulit mulus seputih salju itu memerah karena terkena jambangnya yang kasar, jadi merasa bersalah.
"Ya, aku masih marah! Ah, mata suciku ternodai!" pekik Hana ketika melihat Dante hanya mengenakan boxer saja.
"Kenapa? Kamu mau melihatnya lagi?" tanya Dante yang sengaja menggoda Hana.
"Menyingkirlah!" kesal Hana, seraya mendudukkan badannya, lalu memukul pria tersebut dengan guling.
Kenapa pria itu menjadi sangat menyebalkan dan sangat narsis? Apakah ini sisi lain dari seorang Dante William? Pikir Hana.
"Baiklah. Gery sudah menandatangani surat perceraian kalian," ucap Dante yang kini duduk bersandar di headboard tempat tidur.
__ADS_1
"Semudah itu?" tanya Hana, karena terakhir kali bertemu dengan Gery, suaminya itu tidak akan menceraikannya.
"Ya," jawab Dante dengan singkat, menatap Hana dengan dalam.
"Apa yang Daddy katakan kepadanya?"
"Aku tidak mengatakan apa pun," bohong Dante.
"Hana, maafkan kesalahan Gery yang sudah perbuat selama ini," ucap Dante.
"Aku sudah memaafkannya. Namun, untuk melupakan semua yang sudah terjadi itu tidaklah mudah," jawab Hana.
Dante mengangguk, mengerti dengan perasaan Hana. Sebuah luka hati akan terus membekas sampai kapan pun.
Untuk sesaat mereka saling terdiam. Larut dalam pikirannya masing-masing. Hana sebentar lagi akan menyandang status janda muda. Ia harus menguatkan mentalnya, karena di Indonesia status Janda suka di pandang sebelah mata.
Sedangkan Dante, berpikir jika keputusan yang di ambilnya sudah tepat. Ingin menikahi Hana jika gadis tersebut sudah menjadi janda.
***
__ADS_1
Udah up 3 bab ya bestie. Aku mengiba, kasih Vote dong🥺🥺