Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Dua minggu lagi


__ADS_3

Kartika berada di sebuah Ruko yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Tanpa sepengetahuan Fernan—suaminya—ia mempunyai sebuah toko roti yang lumayan terkenal.


Kartika tersenyum senang ketika melihat pesan dari putrinya. Hana mengirikan foto pernikahannya kepada ibunya.


“Mama mulai sekarang berjuang sendiri seperti kamu, Sayang,” ucap Kartika sembari membelai foto putrinya yang terlihat di layar ponselnya.


Sedangkan Fernan saat ini sedang uring-uringan karena sejak tadi mencari keberadaan istrinya namun ia tidak menemukannya.


“Tuan, bukankah Nyonya sudah pergi,” ucap salah satu Asisten rumah tangganya.


“Pergi? Pergi kemana?” tanya Fernan.


“Saya tidak tahu, Tuan, saat saya tanya Nyonya tidak menjawab. Tapi, beliau membawa koper besar.”


Fernan mengusap wajahnya dengan kasar, ketika mendengar penjelasan itu. Ia mulai resah, apakah istrinya meninggalkannya?


*


*


“Aku tidak mau tahu! Kamu harus bisa menyembukan tanganku hari ini juga!” bentak Dante kepada Dokter yang sedang memeriksa kondisi tangannya.


“Apakah kamu pikir aku ini seorang pesulap?” kesal Dokter tersebut.


“Sabar, Dad.” Hana mengelus bahu suaminya agar tetap tenang.


“Bagaimana aku bisa sabar jika aku tidak meng--” Dante menghentikan ucapannya, lalu berdehem pelan.


“Meng-- apa?” tanya Dokter yang kini sudah selesai memeriksa tangan Dante.

__ADS_1


“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Dante.


“Baiklah, sudah selesai. Di perkirakan tanganmu akan sembuh dua minggu lagi,” ucap dokter tersebut sembari membereskan alat medisnya ke dalam tas.


“Hei, kenapa lama sekali?” omel Dante.


“Memangnya kamu pikir cideramu itu ringan?!” geram Dokter tersebut.


“Bersabarlah. Nanti juga sembuh. Jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu,” ucap Dokter itu sembari menatap Hana yang berdiri di dekat Dante.


“Hai, manis.” Dokter tersebut menggoda Hana.


Hana tersenyum menanggapinya, karena ia tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan oleh Dokter tersebut.


“Mau mati kau!” umpat Dante dengan kesal.


“Kenapa kamu marah?”


“Oh, my god! Kapan kalian menikah? Kenapa tidak mengundangku?


“Tadi pagi. Karena aku tidak ingin istriku di lihat banyak orang,” jawab Dante.


“Heum, selamat untuk pernikahanmu. Tapi, istrimu memang cantik, berwajah Asia, imut dan menggemaskan,” ucap Dokter tersebut mengakui kecantikan Hana.


“Jangan memujinya lagi!” Dante lalu mengusir dokter tersebut.


“Cih, posesif sekali! Jangan lupa di minum obatnya agar lekas sembuh dan bisa menunggang kuda,” ledek dokter tersebut ketika sudah berada di ambang pintu kamar mewah tersebut.


“Enyah kau!” maki Dante.

__ADS_1


Terdengar gelak tawa dari dokter yang sudah keluar dari kamarnya.


“Dengar kata dokter, jika Daddy tidak boleh banyak gerak dulu,” ucap Hana kepada suaminya.


Dante menghela nafas kasar. Dirinya kesal, kenapa tangannya harus sakit? Dan ia harus menahan selama dua minggu lagi? Rasanya kepalanya ingin pecah.


“Baiklah,” jawab Dante pasrah jika harus menahan hasratnya lebih dulu. Lagi pula masih banyak waktu.


“Sekarang istirahat,” ucap Hana sembari membantu suaminya merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


“Kenapa kamu memperlakukanku seperti pria tua? Aku bisa melakukannya sendiri! Ah, apa ini? Kenapa ada guling di sini!” Dante sangat kesal saat ini.


DUG!


Dante menendang guling tersebut hingga teronggok di atas lantai.


Emosi Dante sedang tidak stabil, Hana memahaminya.


“Mau aku bantu?” tawar Hana.


“Bantu apa?” tanya Dante ketus.


Kepalanya terasa berdenyut nyeri karena tidak bisa melampiaskan hasratnya.


“Emh ... itu ... anu yang begini,” jawab Hana sembari mengepalkan salah satu tangannya, lalu menaik turunkan tangannya.


Wajah Dante langsung berbinar kemudian mengangguk pelan.


****

__ADS_1


Kasihan Daddy Dante🤣🤣🙈


__ADS_2