Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Gery sudah tahu


__ADS_3

“Dom!”


“Shit!” umpat Dom, bergegas keluar dari kamar tanpa mengenakan pakaiannya, hanya Boxer saja melekat di tubuhnya.


“Ada apa?” tanya Dom dengan nada kesal kepada Dante yang berdiri di depan kamarnya.


“Apakah kamu mau tidur?” tanya Dante.


“Menurutmu? Ini sudah jam 3 pagi, Dante. Jangan menggangguku!” Dom sudah benar-benar kesal dengan Boss-nya ini yang memberikan pekerjaan tidak pernah mengenal waktu.


“Oh, baiklah. Silahkan tidur,” jawab Dante lalu berbalik badan, menuju arah tangga lagi.


“Hah?” Dom terbengong saja melihat tingkah Boss-nya yang seperti orang bodoh. Menatap Dante yang menaiki anak tangga satu persatu.


Masa bodo dengan sikap Dante. Dom segera memasuki kamarnya lagi dan segera mengistirahatkan tubuhnya.


“Sepertinya aku perlu berlibur,” ucap Dom sembari menatap langit-langit kamarnya.


Seketika itu, ia merindukan rumahnya.


*


*

__ADS_1


Dante memasuki kamarnya, ia melihat istrinya sudah terlelap karena kelelahan melayaninya. Tadinya ia ingin mengajak Dom untuk sekedar minum wine sembari membicarakan masalah Gery dan Allerga.


Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah Dom yang sudah terlihat letih.


Dante merebahkan dirinya di atas tempat tidur, lalu memeluk istrinya dari belakang. Ia tidak bisa tidur, memikirkan putranya yang sudah kelewat batas.


Satu hal yang saat ini ia sesalkan adalah membiarkan Gery hidup bebas sejak memasuki usia 17 tahun, tanpa pengawasan darinya.


“Huh!” Dante menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengecup leher istrinya dari belakang.


Tapi, ia ada rasa syukur karena selama satu tahun Gery menikah dengan Hana, putranya itu tidak pernah menyentuh Hana sedikit pun.


*


*


“Bukan urusan Mommy!” jawab Gery ketus.


“Tidak sopan sekali!” cibir Marge kepada putranya.


“Karena Mommy memang tidak pantas di hormati!” geram Gery kepada ibunya yang sudah 15 tahun meninggalkannya begitu saja, lalu datang lagi membawa sebuah masalah.


“Jangan kurang ajar! Kamu ada di dunia ini hidup dan bisa bernafas karena aku melahirkan kamu!” bentak Marge.

__ADS_1


“Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin di lahirkan dari rahim Mommy!” balas Gery yang begitu menohok di hati Marge.


“Apakah ini hasil didikan, Dante?” tanya Marge dengan geram.


“Apakah Mommy berkontribusi merawatku? Membiayai sekolahku, dan mendidikku?” balas Gery tidak mau kalah.


Marge diam tidak menjawab karena ia merasa salah.


“Seharusnya Mommy bersyukur karena Daddy mau menerimamu apa adanya. Dan merawatku seperti anaknya sendiri,” lanjut Gery menatap tajam Marge.


Marge mendongak terkejut ketika Gery mengatakan rahasia yang selama ini pendam.


Apakah Gery sudah mengetahui semuanya? Apakah Dante yang mengatakannya? Pikir Marge.


"Kenapa terkejut?" ucap Gery dengan nada sinis. Segera beranjak meninggalkan ibunya yang mematung di ruang tengah.


Gery menyeret kopernya yang berukuran sedang itu menuju garasi mobilnya.


Gery memijat pelipisnya. Rasa pusing dan mual masih begitu terasa. "Kenapa rasa mual ini tidak kunjung hilang?" ucap Gery sembery mengelus perutnya yang terasa sangat bergejolak. Rasanya ia mau muntah lagi.


"Hoekkk!" Gery menahan rasa mualnya itu, segera menghidupkan mesin mobil nya, kemudian melajukan mobilnya itu keluar dari area rumahnya, menuju Bandara di pagi hari itu.


Marge menggigit kuku ibu jarinya. Ia merasa resah dan juga khawatir, karena Gery sudah mengetahui kebenaran semua ini dan sudah di pastikan jika dirinya akan kesulitan untuk memeras keungan Dante.

__ADS_1


***


Emak mengiba dong kasih Vote-nya, dan dukungan lainnya. Terima kasih.❤


__ADS_2