
Berita kehamilan Hana sudah menyebar luas ke seluruh Mansion dan juga di perusahaan Dante.
Ucapan selamat atas kehamilan Hana terus mengalir. Membuat ibu hamil itu sangat bahagia karena banyak yang menyayanginya.
"Dom, berikan bonus untuk semua para pelayan dan semua karyawan di perusahaan. Juga naikkan gaji mereka 10 persen," titah Dante kepada Dom yang baru pulang bekerja.
Wajah lelah Dom telihat jelas, sepertinya di Mansion tersebut hanya dirinya saja yang bekerja keras.
"Aku juga akan menaikan gajimu tiga kali lipat, karena kamu sudah bekerja keras selama ini," ucap Dante sembari menepuk pundak Dom dengan pelan.
Dom tersenyum ceria, mendengar kabar bahagia tersebut. "Sering-sering saja Hana hamil agar aku sering naik gaji," batin Dom tersenyum tipis.
Dia pikir Hana kucing kali ya. 🤣
"Terima kasih, Dante," jawab Dom.
Dante mengangguk sebagai jawaban.
*
*
Di dalam kamar. Hana sedang Video Call dengan ibunya.
__ADS_1
"Mama sangat bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai cucu," ucap Kartika dari seberang sana.
Hana menatap wajah Kartika di layar ponselnya. Kedua matanya berkaca-kaca karena ia sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Mama sedang di mana?" tanya Hana ketiak baru menyadari jika ibunya berada di sebuah ruangan yang tampak asing baginya.
Kartika gelagapan namun ia segera mencari alasan yang tepat agar putrinya tidak curiga. Mama sedang menginap di rumah teman," jawab Kartika.
"Teman?" tanya Hana, tidak percaya.
"Iya, teman Mama ada yang sakit, dan Mama datang menjenguknya, kebetulan juga kamu menelepon," jawab Kartika.
"Benarkah? Bukankah di sana sudah malam hari?" tanya Hana lagi.
Tut ... Tut ... Tut ...
Sambungan Video Call tersebut terputus. Hana merasa heran, lalu segera menghubungi ibunya lagi, namun tidak tersambung.
Kartika menempelkan ponselnya di dada. Ia terpaksa harus berbohong kepada putrinya tentang masalah rumah tangganya.
"Maafkan, Mama," ucap Kartika kepada dirinya sendiri, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Jika waktunya sudah tepat, ia akan membicarakan masalahnya kepada putrinya. Hana sudah banyak menderita, dan ia tidak ingin membebani putrinya yang sudah bahagia bersama Dante.
__ADS_1
Kartika merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang tidak terlalu besar itu. Baru saja akan memejamkan kedua mata, namun terdengar gedoran pintu rukonya di lantai bawah.
"Sudah jam 11 malam, siapa yang menggedor pintu sekeras itu?" gumam Kartika sembari menatap jam dinding. Ia segera beranjak, dengan malas turun ke lantai bawah.
"Siapa?" tanya Kartika dengan suara keras.
Tidak ada jawaban.
"Mungkin orang gila," ucap Kartika, lalu kembali lagi menuju lantai tiga.
Sedangkan di luar ruko tersebut, ada seorang pria tergeletak di sana dengan keadaan mabuk.
Yap, siapa lagi kalau bukan Fernan. Pria yang seumuran dengan Dante itu merasa setres karena Kartika kekeuh ingin bercerai darinya.
Ia sudah mengusahakan segala cara untuk membujuk istrinya agar membatalkan proses perceraiannya.
Tapi, apa daya jika Kartika sudah sangat sakit hati dengan perlakukannya selama ini.
"Tika!" lirih Fernan, sembari berusaha bangkit dari atas lantai. Tapi, kepalanya terasa sangat berat, karena ia terlalu banyak minum.
***
Bestie, aku mohon banget sama kalian, kalau habis baca jangan lupa tinggal like, dan komentar.
__ADS_1
Terima kasih semua nya❤