
Dante melajukan mobilnya dengan cepatan sedang. Di dalam mobil tersebut hanya terjadi keheningan. Baik Dante atau pun Hana saling diam. Hana sibuk dengan segala pemikirannya, sedangkan Dante fokus menyetir.
"Kamu ingin makan sesuatu?" tanya Dante memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
"Hem?" Hana menoleh, menatap Ayah mertuanya. "Daddy lapar?"
"Ya, kita 'kan belum sarapan tadi pagi. Indonesian food saja," ucap Dante, membelokkan mobilnya ke restoran padang.
Dante dan Hana keluar dari mobil bersamaan, memasuki restoran tersebut lau memesan menu sarapan mereka.
"Makan yang banyak. Bukankah bersedih dan menangis memerlukan banyak tenaga," ucap Dante sekaligus menyindir menantunya.
"Ya, Daddy benar. Semuanya membutuhkan tenaga. Bahkan bersabar pun harus mengerahkan seluruh tenagaku," jawab Hana dengan nada lirih.
Sebenarnya tidak nafsu melihat menu makanan yang sudah tersaji di atas meja, tepat di hadapannya. Namun, ia butuh tenaga banyak untuk menghadapi Gery nantinya.
Dante menepuk pucuk kepala Hana berulang kali. "Lupakan sejenak masalahmu, sekarang makan dan isi perutmu sampai kenyang." Dante berkata lembut seraya menatap menantunya yang terlihat sendu.
__ADS_1
Hana menarik tangan Dante dalam genggamannya. "Daddy jangan terlalu baik kepadaku,' ucap Hana dengan perasaan yang tidak menentu.
Sebuah perasaan yang salah menurutnya, tidak seharusnya perasaan itu hadir di dalam hatinya.
Dante menarik tangannya yang di genggam oleh Hana. "Lalu aku harus bersikap bagaimana? Apakah aku harus bersikap kejam kepadamu, sama seperti Gery?" tanya Dante, mulai memakan sarapannya, tanpa memedulikan Hana yang terus menatapnya.
Bukan seperti itu. Aku hanya takut kebaikan Daddy membuat hatiku semakin merasa nyaman, dan pada akhirnya aku sendiri yang tersakiti dengan perasaan ini. Hana berkata di dalam hati.
Selesai sarapan bersama. Dante dan Hana melanjutkan perjalanannya lagi.
Hana menoleh, menyimak dengan baik semua perkataan ayah mertuanya. "Mungkin sudah menjadi takdirku," ucap Hana dengan pelan, memalingkan wajahnya, menatap jalanan kota yang terlihat ramai pada pagi hari itu.
Hening lagi. Dante dan Hana saling diam hingga tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Oh, ini adalah biang keladinya!!" Gery menyambut kedatangan Ayah dan istrinya dengan kemarahan.
"Apa maksudmu?" Hana bertanya dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Gery!" bentak Dante.
"Oh, kalian sudah sekongkol ya?! Apakah Daddy sudah mencicipi tubuhnya, sehingga daddy begitu takhluk kepadanya?!" Gery berkata dengan berapi-api.
Hati Hana mencelos mendengarnya, terasa sangat sakit bagaikan di sayat dengan ribuan belati. Serendah dan semurahan itukah dirinya di mata suaminya sendiri?
"Shut up!!" Dante membentak Gery kuat, kedua matanya melotot lebar, menandakan jika dirinya sangat emosi dengan perkataan putranya.
"See ... Bahkan Daddy sangat membelanya dari pada aku, putramu sendiri!" Gery seolah menantang ayahnya sendiri, mengibarkan bendera perang.
Dante mengepalkan kedua tangannya erat, dan menggertakkan rahangnya dengan kuat.
Sedangkan Gery menatap ayah dan istrinya dengan sengit dan penuh emosi.
***
Jangan lupa dukunagannya, like, vote, dan komentarnya.
__ADS_1