
Kartika menyentuh perut putrinya lalu mengusapnya berulang kali dengan lembut. "Sakitnya sudah sering belum?" tanya Kartika, sembari memandang wajah putrinya yang terlihat pucat namun tetap tenang.
"Sakit tapi tidak sering," jawab Hana dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Memang seperti ini perjuangan seorang ibu, merasakan sakit yang luar biasa dan bertaruh nyawa untuk sang buah hati. Nikmati prosesnya ya," ucap Kartika, seraya mengambil tisu dari nakas lalu mengelapkannya di kening putrinya yang basah karena keringat.
Mendengar ucapan ibunya malah membuat hati Hana terasa sesak. Sebagai seorang anak tentu saja ia merasa berdosa, mengingat kesalahannya kepada orang tuanya
"Maafkan aku, Ma," ucap Hana, meneteskan air mata namun ia segera mengusapnya dengan punggung tangannya.
"Sudah, jangan menangis dan jangan meminta maaf. Mama dan Papa juga banyak salah sama kamu. Fokus pada proses persalinanmu, jangan pikirkan yang yang lainnya," ucap Kartika dengan lembut.
"Ma, mobilnya sudah siap, kita bawa Hana ke rumah sakit sekarang?" tanya Dante saat memasuki kamarnya.
"Semua keperluan Hana dab Baby-nya sudah siap semua?" tanya Kartika.
"Sudah. Hana, sudah menyiapkan semuanya beberapa hari yang lalu," jawab Dante, seraya berjalan menuju ruang ganti mengambil dua tas yang berisi pakaian Hana dan calon baby-nya.
__ADS_1
Kondisi Mansion mewah tersebut menjadi ramai, karena para pelayan dan pengawal berkumpul di ruang tengah saat mereka mendengar jika Hana akan melahirkan.
Dom dan Fernan juga di ruang tengah.
"Kenapa mereka lama sekali turunnya, aku jadi resah," ucap Dom sembari mengusap tengkuknya, berjalan mondar-mandir dan sesekali menatap ke arah tangga.
"Dom, kenapa kamu resah? Seharusnya aku yang resah karena cucuku akan lahir ke dunia," ucap Fernan kepada Dom.
"Memangnya kenapa kalau aku resah? Wajar 'kan?" jawab Dom datar dan tanpa ekspresi.
Dom hanya memutar kedua bola natanya dengan malas saat mendengar ocehan Fernan.
*
*
"Huh ... Huh ..." Hana menghembuskan nafasnya berulang kali saat merasakan kontraksi itu datang lagi, perutnya terasa kencang, kram dan sangat sakit.
__ADS_1
"Are you oke?" tanya Dante seraya menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, menatap istrinya dengan cemas.
"Iya, aku masih baik-baik saja," jawab Hana seraya mengangguk pelan, walau pun kenyataanya ia menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Operasi saja ya, aku tidak ingin melihatmu kesakitan seperti ini," ucap Dante berusaha untuk membujuk Hana untuk melahirkan buah hati mereka dengan metode operasi caesar, namun Hana selalu menolaknya.
"Tidak, Dad. Aku ingin menikmati proses demi proses saat akan melahirkan putri kita. Aku mohon percayalah kepadaku," ucap Hana, memegangi kedua tangan suaminya yang masih menangkup wajahnya.
"Percayalah jika aku akan mampu melewati semua ini." Hana memandang manik biru itu dengan tatapan memohon, dan meyakinkan suaminya.
Dante akhirnya mengalah dan mengangguk pelan. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Sweetie." Dante mengecup kening istrinya sekilas.
"Terima kasih, Dad," ucap Hana seraya mengulas senyum.
Kartika menyentuh dadanya saat melihat Dante begitu menyayangi putrinya. Dirinya menjadi baper. ☺
Dante menggendong Hana ala bridal style lalu keluar dari kamar dengan pelan dan hati-hati. Kartika dan satu pelayan mengikuti dari belakang sembari membawa tas dan keperluan yang lainnya.
__ADS_1