Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Alle, aku minta maaf


__ADS_3

Gery saat ini berada di ruang pribadi Dante. Ia duduk berseberangan dengan ayahnya.


"Aku lihat kondisimu sudah lebih baik dari kemarin," ucap Dante, menatap putranya yang sudah tidak sepucat kemarin.


"Iya, sudah mendapatkan obatnya," jawab Gery, tersenyum malu.


"Alle?" tebak Dante, dan diangguki oleh Gery.


"Dasar anak muda!" Dante terkekeh pelan sambil menggeleng berulang kali.


"Jadi aku mengajakmu ke sini karena ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu," ucap Dante.


"Mengenai Alle?" tanya Gery.


"Iya," jawab Dante.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya jika kamu harus menjadi pria yang bertanggung jawab dengan semua hal yang sudah kamu perbuat, kamu paham maksudku," ucap Dante, memajukan setengah badannya, ia melipat kedua tangannya di atas meja kerja, dan menatap Gery dengan tatapan tajam.


"Iya," jawab Gery diiringi dengan anggukan kepala.


"Untuk kali ini sudahi petualanganmu, dan mulailah berpikir untuk masa depanmu, juga anak dan istrimu," jelas Dante lagi menatap Gery dengan serius.


"Dad, aku--"


"Aku tidak ingin menerima bantahan Gery. Secepat mungkin kamu harus segera menikahi Allegra!" tegas Dante.

__ADS_1


Gery menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengangguk pelan.


"Setelah menikah, kamu boleh membawa Allegra ke Jakarta," ucap Dante.


Gery merasa bahagia saat mendengar perkataan ayahnya. Ia seperti mendapatkan angin segar, karena bisa membawa Allegra ke Jakarta.


"Benarkah?" Gery memastikannya lagi.


"Iya," jawab Dante tegas.


"Aku rasa cukup pembicaraan kita ini. Dan aku akan meminta Dom untuk mengurus pernikahan kalian," ucap Dante beranjak dari kursi kerjanya, diikuti oleh Gery.


*


*


"Kamu ternyata di sini?" Gery memasuki dapur, ia melihat Allegra sedang duduk di pojokan sembari memakan pizza dengan sangat rakus, bahkan kedua pipi wanita itu sampai menggembung.


Melihat Gery yang tiba-tiba muncul membuat Allegra hampir tersedak.


Gery mengambilkan segelas air putih untuk wanita hamil itu.


"Terima kasih," ucap Allegra lalu meminum segelas air putih itu sampai tandas.


"Ada apa?" tanya Allegra ketus saat Gery menatapnya tidak berkedip.

__ADS_1


"Kenapa nafsu makanmu sangat mengerikan?" tanya Gery.


Allegra mendengus kesal, dan menatap sebal pria yang berdiri di dekatnya itu.


"Tanyakan saja kepada anakmu!" jawab Allegra dengan nada kesal. Berat badannya meningkat drastis karena nafsu makannya tidak terkendali. Rasanya ia ingin menangis mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Gery, yang terdengar menghinanya.


Gery tersenyum saat mendengar jawaban dari Allegra.


"Dia sangat pintar. Dia membiarkanmu makan banyak tanpa mual sedikit pun, tapi dia justru menyiksaku, membuatku mual setiap hari," ucap Gery memandang perut Allegra yang masih rata, rasanya ia ingin menyentuh dan membelai perut itu, ia ingin merasakan kehadiran calon bayinya.


"Syukurlah kalau begitu! Karena dia tahu kalau ayahnya sangat jahat kepada ibunya!" ketus Allegra, beranjak dari dapur, namun gerakannya terhenti ketikan mendengar perkataan Gery.


"Alle, aku minta maaf," ucap Gery sangat tulus. Gery menjeda ucapannya sejenak, untuk menghirup udara segar lalu menghebuskannya perlahan.


"Aku akan menikahimu, secepatnya," lanjut Gery.


Allegra menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Dadanya berdebar tidak karuan saat mendengar ucapan Gery yang terdengar sangat tulus.


"Kamu mau 'kan memulai hubungan ini dari awal lagi?" tanya Gery kepada Allegra yang sejak tadi diam saja.


Allegra mendongak menatap Gery dengan kedua mata yang berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.


Gery tersenyum lalu menarik Allegra ke dalam perlukannya.


"Terima kasih," ucap Gery tulus.

__ADS_1


***


Jangan lupa sawerannya bestie❤💃


__ADS_2