
"Aku tidak akan membiarkanmu melahirkan secara normal," ucap Dante setelah sambungan telepon dengan anak dan menantunya berakhir.
"Dad, setiap wanita yang akan melahirkan baik dengan normal atau operasi Caesar, mempunyai tahap rasa sakit tersendiri," jawab Hana, memberikan pengertian kepada suaminya.
"Aku akan mencari dokter dan rumah terbaik untuk menangimu dan memberikan perawatan terbaik," ucap Dante beranjak dari duduknya.
Hana menatap punggung suaminya. "Sudah kodratnya jika seorang wanita merasakan sakit saat akan melahirkan sang buah hati. Mau dengan metode secanggih apa pun," ucap Hana kepada suaminya.
Dante menghentikan langkah kakinya saat akan keluar dari kamarnya. Ia begitu resah dan sangat takut jika istrinya merasakan kesakitan seperti yang di ceritakan oleh Allegra.
Dante berjalan menuju ruang keluarga, mendudukkan diri di sofa super mewah. Tatapannya kosong, menghela nafas panjang guna mengurangi rasa resah di hatinya.
Dom yang baru pulang bekerja, mengernyit heran saat melihat Boss-nya terlihat melamun.
"Dante, kau kenapa? Bertengkar dengan Hana?" tanya Dom mencolek bahu Dante, karena pria tersebut tidak merespon pertanyaannya.
Dante sedikit tersentak kaget saat di colek oleh Dom. "Jangan mencolekku, Dom! Aku masih normal!" sahut Dante dengan nada ketus sembari mengusap bahunya yang baru saja di colek oleh asistennya itu.
"Cih! Aku juga masih normal!" sungut Dom. Merajuk seperti anak gadis yang marah kepada orang tuanya. Ia berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Dante memanggilnya.
__ADS_1
"Apa lagi?!" Dom berbalik, menatap sebal Dante.
"Aku takut, Dom," ucap Dante sambil menghembuskan nafas kasar.
Dom mendekati Dante, dan mendudukkan diri di samping Boss-nya itu.
"Seorang Dante mempunyai rasa takut? Apa yang membuatmu takut? Apa berhubungan dengan Hana?" tebak Dom.
Dante mengangguk sebagai jawaban. Lalu mencurahkan ketakutannya kepada Dom.
"Aku tidak tahu mengenai masalah ini, karena aku belum mempunyai istri," ucap Dom menipiskan bibirnya.
Mengeluarkan keluh kesahnya kepasa Dom, bukannya mendapatkan jalan keluarnya malahan sebaliknya, asistennya itu membuatnya kesal bukan kepalang.
"Aku menunggu bidadari yang ada di dalam perut istrimu," jawab Dom dengan datar, namun tatapan matanya seolah mengolok Dante.
"Stupid! Putriku belum lahir kenapa sudah kamu klaim! Dasar pedofilia!" umpat Dante lalu meninju lengan Dom dengan kuat.
Dom bukannya merasakan sakit, malahan tergelak keras, lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
*
*
"Dad!" seru Hana dari tengah tangga.
Dante yang masih duduk di ruang keluarga menoleh, dan segera menghampiri istrinya.
"Kenapa turun sendiri? Di mana kepala pelayan? Kenapa tidak bersamamu?" tanya Dante saat sudah di depan istrinya, lalu mengangkat tubuh Hana, dan membawanya ke ruang keluarga.
"Bibi sedang membereskan kamar, aku tidak apa-apa, lagi pula aku ini hamil bukan sakit," jawab Hana sembari menanyunkan bibirnya. Suaminya semakin overprotektif saat kehamilannya semakin membesar, begitu menjaganya seperti barang yang mudah pecah. Hana sebenarnya merasa senang karena dirinya di perlakukan seperti ratu oleh suaminya, namun Dante sedikit berlebihan.
"Kamu sedang mengandung, jadi tidak boleh pergi sendiri, walau ke kamar mandi harus di temani," ucap Dante, mendudukkan istrinya di sofa ruang keluarga.
"Iya, baiklah," jawab Hana tidak mau membantah.
"Besok Mama dan Papa akan datang ke sini," ucap Dante, sembari mengusap perut istrinya yang buncit dengan penuh kelembutan. Hati Dante selalu berdebar dan kebahagiaan membuncah di dalam dada, saat merasakan pergerakan bayinya.
"Dad, terima kasih," ucap Hana, lalu mengecup pipi suaminya dengan mesra.
__ADS_1
Dante tersenyum lalu balik mengecup bibir istrinya penuh cinta.