
Dante dan Hana saat ini sudah berada di Rumah sakit terbaik di kota tersebut. Mereka menunggu antrean di depan Ruang praktek Dokter Obgyn. Setelah 20 menit menunggu akhirnya nama Hana di panggil perawat.
Di sinilah mereka, di dalam ruangan bernuansa putih. Hana berbaring di atas tempat tidur pasien untuk menjalani USG.
"Selamat untuk kalian Tuan dan Nyonya karena sebentar lagi di rumah kalian akan hadir bayi mungil," ucap Dokter sembari menggerakkan alat USG di permukaan perut Hana.
Hana dan Dante saling pandang, kemudian mereka tersenyum penuh kebahagiaan.
Dokter meminta pasangan suami istri itu melihat ke layar USG di mana ada titik kecil berwarna hitam terlihat jelas di sana.
"Itu dia calon bayi kalian. Ukurannya masih kecil," jelas dokter.
Jantung Dante berdetak tidak karuan. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Di usianya yang sudah kepala empat, ia masih di berikan kesempatan untuk mempunyai keturunan. Rasa syukur terus ia panjatkan kepada Tuhan.
Begitu pula dengan Hana yang merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Kini hidupnya terasa sangat sempurna, mempunyai suami yang sangat mencintainya dan saat ini dirinya sebentar lagi akan mempunyai bayi mungil yang akan membuat kehidupan rumah tangganya bersama Dante bertambah sempurna.
USG sudah selesai. Hana dan Dante bersiap untuk pulang ke Mansion, setelah selesai menyelesaikan administrasi dan mengambil vitamin hamil.
Cup
Dante mengecup pipi istrinya dengan penuh cinta ketika mereka berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Dante.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Hana.
"Karena kamu hamil secepat ini. Aku sungguh bahagia," jawab Dante lalu mengelus perut rata istrinya. Rasa hangat menjalar ke relung hatinya saat menyentuh perut istrinya itu.
"Ini semua karena Daddy sudah berkerja keras," jawab Hana, lalu memeluk lengan kekar suaminya.
Dante tersenyum lebar. Usahanya setiap siang dan malam ternyata membuahkan hasil secepat ini.
*
*
"Kamu kenapa?" tanya Allegra kepada Gery yang duduk merenung di ruang keluarga.
"Kamu merasa lucu tidak?" tanya Gery.
"Tidak," jawab Allegra.
"Aku belum selesai bicara." Gery mendengus kesal. "Kita sebentar lagi akan mempunyai bayi, bersamaan dengan mempunyai adik. Menurutku itu aneh," lanjut Gery.
__ADS_1
Ia masih tidak terima jika harus mempunyai adik di usianya yang sudah berumur 22 tahun.
"Apanya yang aneh? Ini hal yang wajar. Bukankah anggota baru yang hadir di setiap keluarga adalah sebuah keberkahan dan juga kebahagiaan," jawab Allegra.
Gery terdiam ketika mendengar jawaban Allegra yang sepenuhnya benar. Masalahnya, dirinya saja masih terkejut jika akan mempunyai anak.
"Jangan terlalu di pikirkan. Jalani saja seperti air yang mengalir. Kamu bisa menjalankan dua peran sekaligus, yaitu menjadi seorang Ayah, dan Kakak. Bukankah itu hal yang keren," ucap Allegra sambil tersenyum.
"Kamu benar sekali Alle," jawab Gery, mendongak menatap Allegra yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa kamu berdiri di sana? Sini duduk," ucap Gery, menepuk sisi kirinya yang kosong.
Allegra menggelang pelan, "Aku masih menjadi pelayan di sini, tidak pantas jika duduk dengan Anda Tuan Gery," jawab Allegra sembari menundukkan kepala, lalu beranjak dari sana dan menuju kebelakang untuk melanjutkan perkerjaanya yang tertunda.
"Hei! Bukankah Keluarga William tidak memperbolehkan semua Pelayan memanggil pemilik rumah dengan sebutan Tuan," ucap Gery kepada Allegra.
"Memang, tapi bukakah kamu di Indonesia, di panggil seperti itu?" jawab Allegra sekaligus bertanya.
"Iya juga sih," jawab Gery.
***
__ADS_1
Please banget, jangan lupa kasih like dan komentarnya❤