Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Ternyata pelakunya ...


__ADS_3

Hana menatap Allegra dengan sedih. Ia mengelus pundak wanita yang tengah bersedih dengan lembut.


"Kita sesama perempuan. Aku ikut merasakan dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Jadi, aku mohon berkata jujurlah, siapa ayah bayi ini." Hana berkata lembut dan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan wanita yang sedang rapuh saat ini.


Allegra yang sedang menangis sambil menundukkan kepala kini mengusap wajahnya dengan kasar, sekaligus menghapus air matanya, lalu menatap Hana dengan sendu. Ia sebenarnya ragu untuk mengungkapkan semua ini, tapi yang di katakan Hana benar jika perutnya semakin hari akan semakin membesar dan tidak akan bisa di tutupi.


"Hana, sebenarnya ..." Allegra menjeda ucapannya sejenak, ia menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya terasa tercekat, begitu sulit untuk berkata jujur.


"Iya, katakan Alle," ucap Hana tidak saar menunggu kelanjutan perkataan Allegra.


"Hana, apakah kamu akan marah kepadaku jika mengetahui semua ini?" tanya Allegra.


Hana terdiam untuk sesaat. Otaknya berpikir, ayah janin yang di kandung Allegra pasti orang terdekatnya. Tapi siapa? pikir Hana.


"Tidak, aku tidak akan marah Alle. Justru aku akan marah jika kamu tidak berkata jujur kepadaku," jawab Hana pada akhirnya, menatap wanita berparas bule itu dengan lekat.


Allegra mengangguk, lalu menghirup udara dengan dalam untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


"Gery," jawab Allegra pada akhirnya dengan kedua bibir yang bergetar, menahan isak tangisnya.


Hana membekap mulutnya yang terbuka lebar karena sangat terkejut. Pandangan mata Hana yang tadinya menatap Allegra kini beralih menatap nanar lantai marmer berwarna hitam mengilat itu. Ia seolah tidak percaya dengan semua ini.


"Alle ..."


"Aku yang salah. Saat itu aku sedang di masa tidak subur, dan aku pikir tidak akan hamil, tapi ternyata ... Hu hu hu." Allegra tidak melanjutkan ucapannya, ia menumpahkan tangisannya lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana ke depannya, ia takut menghadapi semua ini.


"Tunggu, jadi kamu melakukanya atas dasar suka sama suka?" tanya Hana, dan Allegra mengangguk lalu menggeleng pelan.


"Yang jelas Alle," ucap Hana.


Memang benar 'kan jika dirinya terpaksa melayani nafssu bejat Gery? Bahkan ia sampai takut jika berhadapan dengan pria tersebut.


"Ini tidak bisa di biarkan! Gery harus bertanggung jawab!" Hana beranjak namun di cegah oleh Allegra.


"Aku mohon jangan beri tahukan kepada Dante," pinta Allegra dengan nada memohon.

__ADS_1


Hana menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Maaf, Alle, aku tidak bisa menyembunyikan fakta ini. Gery harus bertanggung jawab atas janin yang kamu kandung," ucap Hana lalu segera keluar dari kamar tersebut, menuju lantai bawah mencari keberadaan suaminya.


"Sweetie, kamu dari mana? Sejak tadi aku mencarimu," seru Dante dari arah dapur.


Hana tersenyum melihat Dante, kemudian ia berjalan menghampiri Dante yang juga berjalan ke arahnya.


"Ada yang harus kita bicarakan," ucap Hana, menarik tangan suaminya.


"Ada apa?" Dante tersenyum dan berpikir apakah istrinya merindukan dirinya? Dan tidak tahan untuk bergoyang di atas ranjang?


Aduh, membayangkan betapa nikmatnya bercinta dengan sang istri sudah membuat si dede gumush menggeliat di bawah sana.


Maklum sudah satu minggu tidak di kasih jatah.๐Ÿ˜†


"Ini penting," jawab Hana, menarik tanga suaminya agar mengikutinya menuju lantai dua, ke kamar mereka.


Sampai di dalam kamar, Hana langsung mengunci pintu kamar, berbalik arah menatap suaminya yang tersenyum mesum ke arahnya.

__ADS_1


***


Bestie, jangan lupa berikan dukungannya ya. Like, komentar, gift dan voteโค๐Ÿ’‹


__ADS_2