Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Seperti buldoser


__ADS_3

Rasanya mual dan pusing hilang begitu saja ketika Gery memeluk dan menghirup aroma tubuh Allegra.


"Gery lepaskan aku," pinta Allegra ketika pria tersebut semakin erat memeluknya.


"Sebentar saja," ucap Gery sambil memejamkan kedua matanya, dan meletakkan dagunya di pundak Allegra. Rasanya sangat nyaman sekali.


"Perkerjaanku masih banyak," jawab Allegra melepas paksa tangan Gery yang melingkar di perutnya. Secepat kilat, ia segera keluar dari kamar tersebut.


Gery merasakan pusing dan mual kembali saat Allegra keluar dari kamarnya.


"Hoek!" Gery segera berlai menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


*


*


Sementara itu Dante yang baru bangun tidur, mendapatkan telepon dari Kepala Pelayan dari Jakarta.


Dante segera mengangkatnya barang kali ada hal yang penting.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Dante, terkejut ketika mendengar kabar dari Kepala Pelayan tersebut jika Marge kabur dari rumah dan menjual dua mobil mewahnya yang ada di rumah Jakarta.

__ADS_1


"Maaf, kami semua yang ada di sini tidak bisa menghentikannya, Mr."


"Tidak apa-apa. Aku yakin setelah ini, dia tidak akan pernah menampakkan wajahnya lagi," jawab Dante, lalu segera mematikan sambungan telepon tersebut.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Dua mobilnya yang bernilai 2 Miliyar telah habis di jual oleh mantan istrinya. Rasanya Dante ingin marah, tapi semua itu tidak akan mengembalikan mobilnya. Akhirnya dia bisa pasrah, lagi pula uang 2 Miliyar hanya seujung kuku jari kelingkingnya saja.


Jiwa misqinku meronta-ronta, Dad.🤣


Dante menoleh kesamping kiri di mana istrinya masih terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


Amarah yang baru saja hinggap di dadanya kini sudah terkikis, tergantikan dengan rasa bahagia dan tenang sat melihat wajah cantik sang istri yang masih terpejam. Ia memiringkan tubuhnya, salah satu tangannya terulur untuk mengusap pipi mulus selembut sutra itu.


Hana menggeliat lalu membuka kedua matanya, menatap Dante yang juga tengah menatapnya.


Hana menggeleng pelan, lalu menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya, mencari kenyamanan di sana.


"Hari ini aku ingin menjadi pemalas," ucap Hana sambil memejamkan kedua matanya lagi.


"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh tidur sepuasnya hari ini. Karena aku tahu, kamu pasti kelelahan karena tadi malam kamu sudah bekerja keras memuaskan aku," jawab Dante seraya mengusap punggung polos istrinya.


"Kamu seperti buldoser," ucap Hana, mencubit gemas perut suaminya yang seperti roti sobek. Tubuhnya terasa sangat lelah karena tadi malam tubuhnya di bolak-balik seperti tempe goreng oleh suaminya.

__ADS_1


Dante tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Iya, aku seperti buldoser yang kapan saja bisa menyerudukmu," jawab Dante, lalu mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Hana tersenyum dan tidak berselang lama dirinya mulai terlelap lagi.


Dante melepaskan pelukan istrinya dengan perlahan, dan turun dari atas tempat tidur dengan hati-hati agar istrinya tidak terganggu. Sebelum beranjak menuju kamar mandi, ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.


Dante segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Tidak berselang lama dirinya sudah selesai dengan ritual mandinya, lalu memakai pakaiannya.


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Dante segera membuka pintu tersebt, sebelum mengganggu tidur istrinya.


"Ada apa?!" tanya Dante dengan nada kesal kepada Gery yang berdiri di balik pintu itu.


"Dad, Mommy---"


"Aku sudah tahu," jawab Dante, ia menoleh kebelakang memastikan jika istrinya tidak terganggu, kemudian ia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan.


"Maaf," ucap Gery dengan penuh sesal dan juga tidak enak hati.


Dante menepuk pundak Gery berulang kali. "Kamu jangan mengecewakan Daddy, seperti yang di lakukan Mommy-mu," ucap Dante.


"Jadilah pria yang bertanggung jawab."

__ADS_1


***


Hari ini Crazy-up lagi. Jangan lupa sawerannya ya💃💃


__ADS_2