Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
My Hot Daddy


__ADS_3

“Dad, apakah Gery menghubungimu?” tanya Hana kepada suaminya yang duduk di balik meja kerja.


“Tidak ada sama sekali,” jawab Dante, meletakkan ponselnya lalu menepuk pahanya, mengisyaratkan kepada istrinya jika harus duduk di pangkuannya.


“Allegra terlihat sedih karena Gery tidak kunjung memberikan kabar, nomor ponselnya juga tidak aktif,” ucap Hana yang kini sudah duduk di atas pangkuan suaminya dengan posisi menyamping, kedua tangannya mengalung ke leher kokoh Dante.


“Dia sedang sibuk,” jawab Dante lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Apakah hari ini anak kita ini rewel?” tanya Dante mengelus perut rata istrinya dengan lembut.


“Dia sangat anteng hari ini, karena dia masih sangat kecil, Dad,” jawab Hana sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Kapan dia tumbuh besar? Aku sudah tidak sabar,” ucap Dante.


“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan tumbuh besar dan menggemaskan,” jawab Hana.


“Daddy ingin mempunyai anak perempuan atau laki-laki?” tanya Hana mengelus rahang tegas suaminya yang ditumbuhi jambang tipis.


“Sudah pernah aku bilang ‘kan kalau aku ingin punya banyak anak darimu,” jawab Dante tersenyum meringis saat melihat Hana melotot horor kepadanya.


“Apakah Daddy pikir, aku ini kucing yang setiap tahun selalu hamil anak kembar. Astaga!” keluh Hana, lalu mencubit gemas pipi suaminya.

__ADS_1


Dante semakin mengeratkan pelukannya sambil mengecupi wajah istrinya dengan gemas.


“Aku mencintaimu, Sweetie,” ucap Dante tulus.


“Hemm, aku tahu,” jawab Hana.


“Hanya seperti itu jawabanmu?” tanya Dante kesal.


“Baiklah, aku juga mencintaimu My Sugar Daddy,” jawab Hana, lalu mengecup bibir suaminya berulang kali.


“Hei, kenapa Sugar Daddy?” protes Dante tidak terima dengan julukan istrinya.


“Karena Daddy sudah tua, tapi masih terlihat tampan dan Hot,” jawab Hana, tertawa terbahak-bahak.


“Lalu apa? Papa gula? Daddy sexy, Daddy manis, atau Hot Daddy?” tanya Hana menaik turunkan alisnya, menggoda suaminya.


“Aku rasa yang terakhir itu bagus. Hot Daddy,” bisik Dante, membuat tubuh Hana merinding seketika.


“Baiklah, Hot Daddy, aku sangat-sangat mencintaimu, jadi bisakah saat ini kamu menciumku?” tanya Hana sambil memonyongkan bibirnya.


“Dengan senang hati,” jawab Dante, langsung mencaplok bibir istrinya dengan sangat ganas.

__ADS_1


“Hot Daddy ini akan membuatmu kepanasan,” bisik Dante di sela ciumannya itu.


“Aku tidak sabar merasakannya. Buat aku terbakar dengan api gairahmu, My Hot Daddy,” jawab Hana, lalu membalas ciuman suaminya yang semakin menuntut.


“Daddy, ahh ...” dessah Hana ketika kedua tangan suaminya meremass bukit kembarnya bersamaan, meninggalkan sensasi nikmat yang luar biasa.


“Kamu ingin di sini atau di kamar?” tanya Dante dengan suara seraknya, manik birunya menatap sang istri dengan penuh gairah.


“Di kamar,” bisik Hana, mengelus dada bidang suaminya dengan sesual.


Dante segera menggendong istrinya keluar dari ruangan tersebut, menuju kamar mereka.


Sampai di dalam kamar, pasangan suami istri itu saling melucuti pakaian masing-masing dengan tidak sabaran.


Hana merebahkan dirinya di atas tempat tidur lalu membuka kedua kakinya dengan lebar, mempersilahkan suaminya untuk menikmati tubuhnya sampai puas.


Dante tersenyum tipis, lalu segera mengungkung tubuh istrinya, melakukan foreplay beberapa menit sampai tubuh keduanya memanas, setelah itu barulah mereka bermain ke bagian inti.


“Nikmat sekali,” racau Dante disela aktivitasnya yang memabukkan itu.


***

__ADS_1


2 Bab lagi nanti malam ya. Emak mau rehat dulu. ❤


__ADS_2