Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Butuh pelepasan


__ADS_3

Hana mengibaskan salah satu telapak tangannya di depan wajahnya ketika kedua matanya mengembun, lalu memeluk lengan kekar suaminya.


Dante menatap datar pada Allegra yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


Sedangkan Dom menggosok hidungnya berulang kali lalu menghela nafas panjang lalu menatap Allegra dengan tatapan tidak percaya.


Sebuah layar USG yang menempel di dinding bercat putih itu menampilkan sebuah janin yang ada di dalam perut Allegra. Keempat orang itu terkejut ketika melihat ada makhluk kecil di dalam perut Allegra.


Ya, Dom membawa Allegra ke rumah sakit untuk memastikan jika wanita itu memang sedang hamil.


“Usia kehamilannya masih sangat muda, di sarankan jangan terlalu banyak beraktivitas dan banyak pikiran,” jelas Dokter wanita sembari membereskan alat USG di bantu oleh perawatnya.


“Apakah Anda suaminya?” tanya Dokter kepada Dom.


“Bu-bukan,” jawab Dom dengan cepat.


“Lalu suaminya mana?” tanya Dokter lagi.


“Saya tidak mempunyai suami,” jawab Allegra jujur.


Dokter wanita yang memakai kaca mata itu pun mengangguk pelan. Ia sering mendapatkan pasien seperti itu. Bukan berarti hamil di luar nikah di sana di legalkan.


Pemeriksaan sudah selesai. Dante dan Hana kembali ke Mansion lebih dulu.


Sedangkan Dom dan Allegra masih di Rumah sakit untuk karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan terlebih dahulu, seperti administrasi dan mengambil vitamin untuk Allegra.

__ADS_1


***


“Dad.” Hana menggoyangkan lengan suaminya yang kini diam di tepian tempat tidur sembari melamun. Hana tahu, pasti suaminya saat ini sedang pusing memikirkan Gery dan juga Allegra.


“Ambilkan ponselku,” ucap Dante kepada istrinya. Wajah Dante saat ini terlihat sangat kusut. Sebagai orang tua pasti ia memikirkan tingkah laku putranya yang semakin menjadi. Hatinya sudah sangat kecewa kepada putranya.


“Kenapa sifat ibumu menurun kepadamu, Gery,” batin Dante.


Hana beranjak, mengambil ponsel suaminya yang ada di atas nakas, lalu memberikannya kepada Dante.


Dante membuka ponselnya dan menghubungi Gery malam itu juga. Ia harus segera menyelesaikan semua ini.


Gery yang baru saja memejamkan kedua matanya terkejut ketika mendengar ponselnya bergetar keras. Ia mengambil ponsel tersebut, alisnya mengerut saat melihat nama Dante tertera di layar ponselnya.


“Daddy,” gumam Gery, segera mengangkat telepon tersebut.


“Persiapkan dirimu! Sekarang ini juga berangkat ke Italia!” Dante berkata dengan sangat tegas dari ujung telepon sana.


“Dad, ada apa? Kenapa tiba-tiba?” tanya Gery.


“Jangan banyak tanya dan membantah, jika kamu masih ingin menjadi anakku!” terdengar suara Dante sangat marah kepadanya.


TUT!


Dante mematikan ponsel secara sepihak, membuat Gery menatap ponselnya dengan bingung.

__ADS_1


Kenapa ayahnya terdengar sangat marah kepadanya? Apakah dirinya melakukan kesalahan? Pikir Gery.


Kesalahanmu besar, Gery salut! 😡


Walaupun dirundung dengan kebingungan Gery segera bersiap, mengabaikan rasa pusing dan mual yang masih ia rasakan.


***


Dante mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dengan cemas.


“Daddy jangan terlalu cemas. Gery pasti mau bertanggung jawab kepada Allegra,” ucap Hana.


Dante mengusap pipi istrinya dengan lembut, lalu mengangguk pelan.


“Aku butuh pelepasan, agar kepalaku tidak pusing,” ucap Dante. Jari tangan yang tadinya mengusap pipi Hana kini beralih mengusap bibir istrinya dengan sensual.


Hana tahu apa yang diinginkan suaminya. Tidak perlu di suruh, ia segera beranjak dan duduk di atas pangkuan suaminya.


“Aku rindu Daddy,” bisik Hana dengan lembut, menggelitik indra pendengaran Dante.


“Lakukan,” ucap Dante dengan suara seraknya.


***


Hayoo siapa yang kemarin berperasangka buruk sama Daddy? Ngaku ... 🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa sawerannya bestie. ❤


__ADS_2