
Dante menatap wanita yang terlihat cantik dan anggun meski usianya sudah tidak muda lagi. Wanita tersebut pernah hadir di dalam hidupnya.
"Marge?"
"Yes, Honey," jawab Marge sambil berjalan mendekati Dante dengan langkah kaki yang begitu menawan.
Sunggu tidak tahu malu sekali wanita tersebut karena telah memanggil Dante dengan sebutan 'Honey'.
Dom yang berada di belakang Dante berdehem pelan seolah memberikan peringatan kepada Dante agar tidak terpesona dengan wanita itu.
"Berhenti!" Dante berkata datar ketika Marge akan menyentuhnya.
"Oh, ayolah. Kamu semakin terlihat angkuh dari 15 tahun yang lalu," jawab Marge sambil tertawa pelan seolah mencibir Dante.
Dante tidak mendengarkan ucapan Marge. Ia memerintahkan Dom untuk mengurus semuanya. Ia sudah tidak memedulikan wanita yang sudah menjadi masa lalunya itu.
"Dante!" teriak Marge ketika di tahan oleh Dom, sedangkan Dante sendiri sudah beranjak dari sana menuju ruangannya yang letakknya di lantai paling atas.
"Lepaskan aku!" Marge menyentak tangan Dom yang mencekal pergelangan tangannya.
__ADS_1
Dom langsung mengangkat kedua tangannya sebatas pundak, sembari tertawa sinis melihat Marge yang sangat emosi.
"Setelah 15 tahun menghilang, Anda berani sekali menampakkan diri lagi di depan Dante," ucap Dom dengan datar dan dingin, wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
"Siapa kamu?! Jangan mencampuri urusan kami!" bentak Marge dengan nafas yang naik turun tidak beraturan, menujukkan jika dirinya sedang emosi.
Dom tersenyum iblis menatap Marga membuat Marga bergidik mengeri.
"Katakan berapa yang Anda mau? Aku tahu Anda datang menemui Dante karena membutuhkan uang bukan?" tanya Dom tenang namun terdengar sangat menakutkan.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya!" bohong Marge. Ia ingin meminta sejumlah uang kepada Dante sendiri dan tentu saja dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya selama ini dirinya menghilang selama 15 tahun itu berlibur keliling dunia, bersenang-senang dan menghabiskan uang yang dulu di berikan oleh Dante saat mereka resmi bercerai.
"Maaf, lebih baik Anda pergi!" tegas Dom lalu memanggil Security untuk mengusir Marge.
*
*
"Alle bagaimana menurutmu?" tanya Hana ketika melihat dasi yang menurutnya warna bagus dan cocok untuk Dante.
__ADS_1
"Ini sangat bagus, Hana," jawab Allegra.
"Hem baiklah aku pilih yang ini," ucap Hana. Allegra dengan sigap mengambilnya dan memberikannya kepada pelayan toko pakaian pria tersebut.
"Kalian kenapa hanya berdiri saja?" pilihlah pakaian yang kalian mau, bebas," ucap Hana kepada dua pengawal botak berdiri tegak bagai patung. Jika di perhatikan mereka mirip dengan tokoh kartun dari Negeri Jiran yang sangat populer di Indonesia.
Kedua pengawal itu saling pandang karena tidak mengerti dengan bahasa inggris yang di ucapkan oleh Hana.
Hana menghela nafas kasar, "Alle kamu saja yang menjelaskannya," ucap Hana. Allegra mengangguk dan segera menjelaskan kepada dua pengawal tersebut.
*
*
Dante tersenyum ketika melihat notifikasi di layar ponselnya, kemudian ia membuka aplikasi chating berwarna hijau, mengirimkan pesan singkat untuk istri tercinta.
"Sepertinya kamu sangat bersenang-senang hari ini."
Pesan sudah terkirim, namun masih centang dua abu bertanda jika belum di baca.
__ADS_1
Dante meletakkan ponselnya lagi ketika Dom memasuki ruangannya.
"Marge masih berada di Lobby, wanita itu sangat keras kepala," ucap Dom sembari menyerahkan berkas kepada Boss-nya itu.